Kehidupan Zenaya berubah menyenangkan saat Reagen, teman satu kelas yang disukainya sejak dulu, tiba-tiba meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya.
Ia pikir, Reagen adalah pria terbaik yang datang mengisi hidupnya. Namun, ternyata tidak demikian.
Bagi Reagen, perasaan Zenaya tak lebih dari seonggok sampah tak berarti. Dia dengan tega mempermainkan hati Zenaya dan menginjak-injak harga dirinya dalam sebuah pertaruhan konyol.
Luka yang diberikan Reagen membuat Zenaya berbalik membencinya. Rasa trauma yang diberikan pria itu membuat Zenaya bersumpah untuk tak pernah lagi membuka hatinya pada seorang pria mana pun.
Lalu, apa jadinya bila Zenaya tiba-tiba dipertemukan kembali dengan Reagen setelah 10 tahun berpisah? Terlebih, sebuah peristiwa pahit membuat dirinya terpaksa harus menerima pinangan pria itu, demi menjaga nama baik keluarga.
(REVISI BERTAHAP)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Luka Terdalam.
Hari sudah mulai gelap saat Zenaya masih setia mengurung dirinya di kamar. Dengan tangan gemetaran dan wajah pucat pasi Zenaya sesekali menghapus kasar bibirnya sambil berharap jejak-jejak yang ditinggalkan Reagen di sana dapat terhapus.
"Zen, sayang!" Lagi-lagi suara panggilan sang ibu terdengar. Sejak tiba di rumah, wanita itu memang menyadari tingkah aneh Zenaya dan kini sedang berusaha mencari tahu.
Zenaya lantas menggigit bibirnya agar suara isak tangis yang keluar mampu teredam.
"Aku ingin sendiri, Ma!" teriak gadis itu setelahnya dengan suara parau.
Mendnegar teriakan sang putri, Amanda justru semakin khawatir akan apa yang telah terjadi. Mungkinkah gadis itu berpapasan dan bertengkar dengan Reagan? Karena kebetulan waktu antara kepergian Reagen dari rumah dan kepulangan Zenaya tidak terpaut jauh.
Amanda terdiam. Zenaya dan Reagen telah sama-sama dewasa, dan sebagai orang tua, ia harus mulai membatasi diri untuk tidak ikut campur dalam urusan mereka.
"Katakan jika kamu butuh sesuatu, Sayang, Mama akan selalu ada untukmu," lirih Amanda yang terpaksa pergi meninggalkan kamar Zenaya guna membiarkan sang anak menenangkan diri.
Zenaya kembali menangis. Ia ingin sekali menceritakan semuanya pada sang ibu. Namun, hatinya menolak keras untuk melakukan itu.
Zenaya tidak mau membuat orang tuanya khawatir dengan mengatakan, bahwa ia baru saja dilecehkan oleh seorang pria. Apa lagi pria tersebut merupakan orang yang mereka kenal baik.
Gadis itu hanya bisa memanggil-manggil sang ibu sembari mencengkeram kuat dadanya yang terasa sakit.
...***...
Reagen baru saja keluar dari dalam mobil dan naik langsung ke unit apartemennya menggunakan lift khusus. Lift tersebut merupakan akses khusus yang dibuat langsung menuju unitnya. Setelah pulih total ia memang memutuskan untuk tinggal sendirian di sebuah apartemen mewah. Letaknya berada di tengah-tengah antara kantor dan rumah sakit keluarga Zenaya.
Pria itu membuka jas kerjanya dan melempar jas tersebut ke atas sofa kecil, sebelum kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Ia berdiri di depan wastafel, memandang tajam dirinya sendiri melalui pantulan cermin yang ada di sana. Bayang-bayang kejadian tadi tentu masih terekam jelas diingatan Reagen.
Reagen tidak memungkiri penyesalan yang hadir dalam benaknya, tetapi saat mengingat sorot mata yang ditunjukkan gadis itu pada David, membuat kemarahan menguar kembali dalam dirinya.
Namun, hati Reagen mendadak pilu. Zenaya tidak pernah sekalipun menatapnya selembut itu, selain kebencian yang selalu ditujukan padanya.
"Sial! Sial! Sial!" Demi melampiaskan emosinya, Reagen dengan spontan meninju cermin hingga terluka. Pria itu sama sekali tidak memerdulikan darah yang mulai mengucur dari tangannya.
...***...
Grace terkesiap ketika mendapati bibir Zenaya terluka dan sedikit membengkak. Wanita itu semula ingin merayakan kepulangan sang sahabat bersama David yang kini telah menjadi berita di rumah sakit mereka. Namun, ketika mendapati keondisi Zenaya, Grace sontak melupakan hal tersebut. Dengan sedikit pemaksaan ia pun mendesak Zenaya untuk menceritakan apa yang terjadi padanya.
"Apa yang terjadi Zen? Apa David melukaimu?" tanya Grace dengan nada tak sabaran.
Zenaya menggeleng pelan. Tanpa perlu didesak dua kali, ia pun menceritakan hal yang sebenarnya pada Grace.
Mendengar penjelasan Zenaya, Grace tentu saja berang. Kilat kemarahan terpancar jelas di matanya.
"Brengsek!" umpat wanita itu. "Kamu tahu, suamiku baru saja menandatangani kerjasama dengan Walker Group? Sekarang juga aku akan memintanya untuk membatalkan kerjasama itu!"
"Tidak perlu sampai begitu, Grace. Jangan sangkut pautkan pekerjaan mereka dengan hal kecil ini." Sergah Zenaya tak enak hati. Vian, suami Grace, sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal ini.
Grace memandang Zenaya tajam. "Hal kecil kamu bilang? Dia sudah melecehkanmu, Zen! Pria itu harus diberi pelajaran. Masih banyak perusahaan yang mau menggunakan hotel suamiku, kamu tidak perlu khawatir."
Zenaya memijat pelipisnya. "Grace, please ...," ucap gadis itu lirih.
Grace sontak menenangkan diri dengan mengambil napas dalam-dalam lalu menatap sahabatnya perihatin. Begitu banyak beban tak kasat mata yang kini dipikul Zenaya semenjak kehadiran Reagen.
...***...
Hari ini suasana ruang meeting terasa sangat panas dan mencekam. Ada saja kesalahan-kesalahan kecil di mata Reagen pada presentasi karyawannya. Semua anggota rapat pun tak luput dari kemarahan pria itu. Bahkan, seorang office boy yang hanya mengantarkan minuman saja sampai terkena bentakannya hanya karena tidak meletakkan cangkir kopi dengan benar.
Dalam waktu setengah jam rapat sudah dibubarkan tanpa hasil. Sean sendiri tidak berani mengatakan apa-apa saat Reagen memintanya untuk membatalkan seluruh jadwal hari ini.
Suasana hatinya sangat buruk. Noah yang merupakan COO Walker Group, langsung menyuruh sang adik untuk pulang dan menenangkan diri setelah mendengar kekacauan rapat tersebut.
Jabatan sang adik memang lebih tinggi darinya. Noah sebenarnya malah tak ingin bekerja di sana karena sudah memiliki perusahaan kecil sendiri yang dibangun bersama sang istri dengan susah payah. Namun, bujukan sang ayah membuat pria itu luluh juga. Kini perusahaan kecilnya dikelola penuh oleh Krystal.
"Pulanglah. Aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti ini, tapi lebih baik kamu tenangkan diri dulu." Noah dengan lembut memberi saran sembari menepuk punggung adiknya.
"Maafkan aku." Reagen memijat pelipisnya yang kini mulai terasa sakit. Ia pun menuruti saran Noah untuk pulang ke apartemennya.
...***...
"Sidang ditunda satu minggu lagi!" Ketukan palu hakim menggema memenuhi ruang sidang.
Bryan dan kliennya berdiri dari kursi pesakitan. "Minggu depan adalah sidang terakhir, mudah-mudahan hasilnya tak jauh berbeda dengan apa yang kita harapkan," ujar sang klien pada Bryan seraya menepuk pundaknya.
Bryan mengangguk hormat. Ia pun mempersilakan klien pentingnya itu untuk pergi duluan, begitu pula dengan anggota tim pengacara lain.
Kasus yang ia tangani sekarang sebenarnya cukup rumit. Kliennya merupakan seorang mantan anggota dewan yang terlibat korupsi pada proyek besar pemerintahan. Bryan yang bernaung di bawah firma hukum terkenal diminta untuk menangani kasus tersebut. Semula ia menolak keras, tetapi atasannya terus memaksa. Alhasil, bersama ketiga belas pengacara lain dari berbagai firma hukum, Bryan berusaha membuat sang mantan anggota dewan mendapatkan hukuman seringan mungkin.
Bryan keluar dari ruang sidang dengan wajah kusut. Raut kelelahan terpancar dari wajah tampannya. Maklum saja, sudah satu minggu ia kurang tidur hanya demi menyelesaikan kasus ini.
Saat tiba di tempat parkir, pria itu terkejut mendapati Reagen sudah bersandar di body mobilnya. Reagen memang sempat menanyakan di mana posisinya melalui pesan singkat.
"Ada apa, Rey? Kamu tidak bekerja?" tanya Bryan begitu melihat wajah sahabatnya sedikit murung.
"Kamu sendiri? Kantong matamu terlihat sangat menakutkan." Reagen melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum sinis.
Bryan mengangkat bahunya sambil menghela napas. Jika sudah begini bisa dipastikan mereka akan menghabiskan waktu sepanjang malam di klub.
Meski mereka sering berkunjung ke klub malam, Reagen dan Bryan tidak pernah tertarik sedikit pun untuk bermain wanita. Dulu Bryan memang pernah melakukannya sesekali, tetapi Reagen tidak demikian. Pria itu menjunjung tinggi kesucian dalam sebuah pernikahan, dan ia tidak ingin sang istri kelak menerima tubuhnya yang sudah ternoda.
"Ini masih sore, bagaimana kalau kita makan dulu?" tanya Bryan yang duduk di kursi kemudi. Mereka pergi menggunakan mobil pria itu, sedangkan mobil Reagen tetap terparkir di sana dan sudah menyuruh Sean untuk mengambil mobilnya untuk dibawa pulang ke apartemen.
"Ok." Jawab Reagen singkat. Mereka pun pergi dari sana menuju restoran cepat saji yang letaknya tak jauh dari gedung pengadilan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note:
COO adalah singkatan dari Chief Operating Officer. Adalah bagian dari pimpinan yang memiliki tugas membuat kebijakan perusahaan pada bagian operasional, Chief Operating Officer (COO) sering juga disebut tangan kedua dari CEO.