Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perahu yang Tak Berlabuh
Pagi berikutnya terasa lebih berat dari biasanya. Udara di Karangwangi lembab, bercampur bau garam dan asap kayu bakar dari rumah-rumah tetangga. Banda berdiri di dermaga kecil di belakang rumah, memeriksa perahu layar sederhana milik ayahnya yang sudah lama tidak dipakai. Layarnya robek di beberapa tempat, tapi masih cukup kuat untuk perjalanan singkat ke pulau kecil di utara Laut Banda.
Jatayu duduk di ujung dermaga, kakinya menggantung di atas air. Goloknya tergeletak di pangkuan, tapi matanya tidak lepas dari laut. Sejak pengakuan semalam, ia lebih pendiam—bukan dingin seperti dulu, tapi seperti seseorang yang sedang menahan badai di dalam dada.
Bayu datang membawa keranjang anyaman berisi nasi bungkus, ikan asin, dan air minum. Wajahnya masih pucat, tapi matanya penuh tekad.
“Aku ikut,” katanya tegas sebelum Banda sempat bicara.
Banda menggeleng. “Tidak, Yu. Ini terlalu berbahaya. Kalau werewolf datang lagi—”
“Kalau werewolf datang lagi, desa ini juga tidak aman,” potong Bayu. “Aku tidak mau tinggal di sini sendirian sambil nunggu kabar buruk. Lagipula… aku sudah lihat kau bikin air muncul dari tanah. Aku tidak takut lagi. Aku cuma takut kalau kau pergi tanpa aku.”
Jatayu menoleh sekilas, tapi tidak berkomentar. Ia hanya bangkit dan naik ke perahu tanpa kata.
Ibu Sari muncul terakhir, membawa kain biru tua yang sudah Banda lipat rapi semalam. Ia menyelipkannya ke dalam tas kain Banda.
“Jangan lupa siapa kau sekarang,” katanya pelan. “Bukan hanya anak nelayan. Tapi juga anak Garini. Lindungi dirimu… dan dia.”
Banda memeluk ibu angkatnya erat. Untuk pertama kalinya, ia merasakan betapa rapuhnya pelukan itu—seperti pelukan seseorang yang tahu mungkin tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat.
“Pulanglah secepat mungkin, Nak.”
Banda mengangguk, tapi hatinya berat.
Mereka bertiga berlayar saat matahari baru naik setinggi pohon kelapa. Angin selatan cukup kencang, mendorong perahu kecil itu meluncur cepat ke utara. Laut Banda terlihat tenang di permukaan, tapi Banda tahu itu hanya ilusi—ombak di bawahnya berdenyut seperti nadi yang hidup.
Sepanjang perjalanan, tidak banyak bicara. Bayu sibuk mengatur layar dan mengemudi, sesekali melirik Jatayu dengan campuran kagum dan curiga. Jatayu duduk di haluan, memandang horizon, rambutnya berkibar ditiup angin.
Banda duduk di tengah, tangannya menyentuh air sesekali. Setiap kali jarinya menyentuh permukaan, ombak kecil mengikuti gerakannya—seperti anjing setia yang menggoyang ekor. Ia mencoba mengendalikannya, tapi setiap usaha membuat dadanya sesak, seperti ada tali yang menarik jiwanya ke dasar laut.
“Jangan paksa,” kata Jatayu tiba-tiba, tanpa menoleh. “Kekuatan itu bukan mainan. Semakin kau pakai tanpa kendali, semakin cepat kutukan merayap.”
Banda menarik tangan. “Kau bilang kutukan itu bilang salah satu dari kita harus mati. Apa artinya sebenarnya?”
Jatayu akhirnya menoleh. Matanya kuning keemasan terpantul cahaya matahari, membuatnya terlihat seperti patung api yang hidup.
“Kutukan Naga Tanah diciptakan setelah perang empat raja. Dia iri karena Naga Laut dan Phoenix pernah bersatu—membuat keseimbangan yang tidak bisa dia ganggu. Jadi dia mengutuk garis keturunan campuran: selama darah itu hidup, kekuatannya akan bangkit, tapi hanya satu yang boleh bertahan. Yang lain harus dikorbankan. Itu sebabnya Garini memilih mati daripada membiarkan kutukan berlanjut.”
Banda menatap air. “Dan aku… aku adalah kelanjutannya.”
“Ya. Dan sekarang kutukan tahu kau sudah bangkit. Itu sebabnya werewolf semakin agresif. Mereka bukan cuma pemburu—mereka adalah eksekutor kutukan.”
Bayu mendengus dari belakang. “Jadi kita lagi lari dari takdir? Atau lagi cari cara mematahkan takdir itu?”
Jatayu tersenyum tipis—senyum yang jarang. “Kita cari tahu dulu apakah takdir itu benar-benar tak bisa dipatahkan.”
Perahu terus melaju. Saat matahari hampir tenggelam, pulau kecil mulai terlihat di horizon: bentuknya seperti batu karang raksasa yang muncul dari laut, dikelilingi pantai berpasir putih dan tebing curam. Di puncaknya, reruntuhan kuil tua terlihat samar—tiang-tiang batu yang sudah ditumbuhi lumut dan akar beringin.
Mereka mendarat di teluk kecil yang tersembunyi. Bayu mengikat perahu ke batu karang, sementara Banda dan Jatayu naik ke pantai.
Begitu kaki Banda menyentuh pasir, tanah bergetar pelan. Bukan gempa—lebih seperti napas dalam yang terbangun. Dari reruntuhan kuil di atas, suara samar terdengar: seperti bisikan angin yang membentuk kata-kata.
“Kembalilah… Raja Laut…”
Jatayu menegang. “Itu bukan angin.”
Mereka naik menyusuri jalur batu yang sudah rusak. Di sepanjang jalan, ukiran kuno terlihat di dinding tebing: naga melingkar di sekitar burung api, sisik dan bulu menyatu dalam pola yang sama dengan kain biru Banda.
Di depan pintu kuil yang setengah runtuh, mereka berhenti.
Di dalam, cahaya samar berasal dari kristal besar yang tertanam di altar—kristal berwarna biru kehijauan, seperti air laut yang membeku. Di sekitarnya, ada tiga batu kecil yang sudah retak: satu berwarna merah (Phoenix), satu abu-abu (tanah), dan satu putih (cahaya). Hanya batu biru yang masih utuh.
Banda mendekat. Saat tangannya hampir menyentuh kristal, visi datang tiba-tiba.
Ia melihat Garini—wanita dengan rambut hitam panjang dan mata api—berdiri di altar yang sama, memegang bayi kecil. Di sampingnya, seorang pria berpostur tinggi dengan mata biru gelap—ayahnya. Mereka berciuman di bawah cahaya kristal, tapi tiba-tiba api dan air bertabrakan: api Garini menyala liar, air dari kristal membentuk ombak yang menelan mereka berdua.
Lalu visi berganti: Jatayu muda berdiri di depan Garini yang sekarat, golok di tangan, tapi tangannya gemetar. Garini berbisik: “Jangan bunuh dia… lindungi dia… sampai waktunya tiba.”
Versi berakhir. Banda tersentak mundur, napasnya tersengal.
Jatayu menangkap lengannya. “Apa yang kau lihat?”
Banda menatapnya. “Aku melihat kau… saat kau memutuskan tidak membunuhku. Kau menyelamatkanku, Jatayu. Bukan karena ragu—karena janji pada Garini.”
Jatayu melepaskan tangannya pelan. Matanya berkaca-kaca lagi.
“Aku gagal sebagai pembunuh. Dan sekarang… aku mungkin gagal sebagai pelindung juga.”
Bayu yang berdiri di pintu kuil tiba-tiba berteriak. “Ada perahu lain! Dari selatan! Banyak!”
Mereka berlari ke luar. Di kejauhan, tiga perahu layar hitam mendekat cepat. Di haluan perahu terdepan, sosok tinggi berbulu abu-abu berdiri—Si Abu-abu, alpha tertua, matanya merah menyala seperti bara neraka.
Jatayu menggenggam goloknya. “Mereka sudah tahu kita di sini.”
Banda menatap kristal di altar. “Kita belum selesai. Kristal ini… mungkin kunci untuk memahami kutukan.”
Bayu memucat. “Kita bertarung?”
Jatayu menatap Banda. “Kau siap menerima kekuatanmu sepenuhnya? Karena kalau kau ambil kristal itu sekarang… kau tidak akan bisa kembali jadi manusia biasa.”
Banda menatap laut, lalu Jatayu.
“Aku sudah tidak pernah jadi manusia biasa sejak kau datang.”
Ia melangkah ke altar, tangannya menyentuh kristal biru.
Cahaya meledak.
Air laut naik dari segala arah, membentuk dinding pelindung di sekitar kuil. Tapi di dalam dirinya, sesuatu bangun sepenuhnya—raungan naga yang bukan suara, tapi getaran di tulang.
Dan di kejauhan, Si Abu-abu meraung balik—bukan raungan binatang, tapi suara yang penuh dendam pribadi.
“Garini… warisanmu akan berakhir di sini!”