Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuil
Kuil berdiri megah di puncak tangga batu putih, seolah memisahkan dunia fana dan dunia yang lebih suci. Pilar-pilarnya menjulang tinggi, diukir motif anggur dan burung merpati. Kain sutra berwarna gading dan emas melilit di antaranya, berkibar pelan tertiup angin pagi. Lonceng-lonceng kecil tergantung di ujung kain, suara nyaringnya halus, seperti bisikan doa yang tak pernah benar-benar berhenti.
Aroma dupa dan bunga segar sudah tercium bahkan sebelum kereta-kereta berhenti sepenuhnya.
Kereta utama keluarga Marquess tiba lebih dulu. Roda kayunya berhenti dengan bunyi pelan di atas batu. Seorang pelayan segera membukakan pintu, menunduk dalam-dalam.
Marquess turun dengan langkah tenang dan terukur. Mantel resminya bergerak ringan saat ia menapaki tanah. Lilith menyusul di belakangnya. Gaun biru pucatnya menangkap cahaya matahari, benang peraknya berkilau lembut. Ia tidak perlu melakukan banyak hal, kehadirannya sendiri sudah cukup menarik perhatian.
Bisikan mulai berdesir seperti angin yang menyapu rerumputan.
“Putri Marquess terlihat mempesona.”
“Dia yang akan duduk dekat Putri Isabella, bukan?”
“Lihat cara dia berjalan… sangat terlatih.”
Beberapa kepala menoleh, bukan hanya untuk melihat Lilith, tetapi untuk memastikan siapa lagi yang datang bersama keluarga itu.
Kereta kedua berhenti beberapa saat kemudian. Tak ada pelayan yang langsung bergerak. Pintu tetap tertutup selama satu detik yang terasa terlalu panjang. Lalu pintu itu terbuka dari dalam.
Elenna turun sendiri.
Gaun kremnya sederhana dibandingkan kilau busana para bangsawan lain. Tidak ada sulaman emas, tidak ada batu kristal. Hanya kain bersih yang dijaga rapi. Ia merapikan lipatan roknya dengan satu gerakan kecil, lalu mendongak menatap tangga panjang menuju kuil.
Tangga itu tampak lebih tinggi dari biasanya.
Di atas sana, para bangsawan telah berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Tawa ringan, suara sepatu di atas batu, dan denting cangkir porselen dari pelataran bercampur menjadi satu.
Elenna menarik napas.
Hari ini bukan tentang dirinya, hari lain pun bukan.
Di pelataran kuil, Lilith berjalan di sisi Marquess. Senyumnya halus, tidak terlalu lebar, tidak terlalu kaku. Ia menyesuaikan langkah dengan ayahnya tanpa terlihat berusaha. Setiap anggukan kepala, setiap tatapan mata, seolah sudah dipelajari bertahun-tahun.
Tak lama kemudian, rombongan kerajaan tiba.
Deretan prajurit dengan seragam putih-perak membuka jalan. Semua percakapan mereda. Kain-kain sutra berhenti berkibar seolah ikut menahan napas.
Putri Isabella melangkah turun dari keretanya dengan anggun. Gaun putih keperakannya memantulkan cahaya seperti permukaan danau. Rambutnya ditata sederhana namun sempurna. Wajahnya tenang, bukan dingin, tetapi terbiasa dilihat dan dinilai.
Semua orang menunduk.
“Tuan Putri,” sapa Marquess dengan hormat.
Isabella mengangguk kecil. Gerakannya minim, tetapi cukup untuk menunjukkan pengakuan. Tatapannya beralih pada Lilith.
“Lilith. Kau terlihat sesuai dengan suasana hari ini.”
Lilith menunduk sedikit lebih dalam. “Terima kasih, Putri. Merupakan sebuah kehormatan bagi saya dapat hadir."
Nada mereka ringan. Hampir bersahabat. Namun, udara di sekitar mereka terasa lebih padat. Setiap kata ditimbang, setiap jeda dicatat.
Beberapa langkah di belakang, Elenna berdiri tanpa suara. Ia tidak mencoba mendekat. Tidak pula menjauh, kehadirannya bahkan tidak dibutuhkan di sini.
Ketika Isabella mengangkat pandangan, mata mereka sempat bertemu. Hanya satu detik. Namun, cukup lama untuk menyampaikan sesuatu yang tak terucap.
Lonceng besar berdentang tiga kali. Upacara dimulai. Pendeta agung melangkah ke tengah altar. Jubah putihnya menyapu lantai batu. Suaranya berat dan dalam, menggema di antara pilar, menyatu dengan desir angin.
Doa-doa dipanjatkan untuk kedamaian kerajaan, kesuburan tanah, kemurnian hati para bangsawan. Kata-katanya ritmis, hampir seperti nyanyian. Asap dupa naik perlahan, membentuk spiral tipis di udara sebelum menghilang.
Cahaya matahari menyelinap di antara celah pilar, menciptakan garis-garis terang di atas lantai. Debu kecil berkilau di dalamnya.
Setelah doa utama, tibalah ritual persembahan bunga. Satu per satu keluarga bangsawan maju. Ada yang membawa anggrek langka, ada yang memilih mawar merah tua, ada pula yang menyusun bunga liar dengan sentuhan artistik.
Ketika giliran keluarga Marquess tiba, Lilith melangkah maju. Rangkaian bunganya memikat mata. Mawar putih tersusun rapi, diikat pita emas tipis. Di sela-selanya terselip kristal kecil yang memantulkan cahaya seperti embun pagi.
Elenna memperhatikan. Itu bukan lily. Ia sudah tahu jawabannya sejak pagi. Namun, melihatnya kini tetap meninggalkan bekas kecil di dadanya, bukan luka besar, hanya goresan tipis yang terasa saat disentuh.
Pendeta menerima persembahan itu dengan senyum formal.
“Semoga keluarga Marquess selalu berada dalam lindungan cahaya.”
Lilith menunduk anggun.
Saat ia kembali, beberapa bangsawan memuji tanpa ragu.
“Pilihan bunga yang sangat elegan.”
“Tidak berlebihan, tapi tetap berkelas.”
Lilith tersenyum. “Terima kasih.”
Elenna berdiri diam.
Tangannya kosong.
Ia tidak membawa apa pun. Tidak ada yang memintanya. Tidak ada yang mengingatkannya. Seolah perannya memang tidak termasuk dalam ritual yang mewakili keluarga.
Setelah upacara utama, para tamu bergerak menuju halaman samping kuil. Rumput hijau terpangkas rapi, meja-meja panjang ditata di bawah karpet merah. Teh hangat mengepul dari teko perak. Kue-kue kecil berlapis gula tertata indah.
Suasana menjadi lebih cair.
Tawa terdengar lebih lepas. Beberapa bangsawan muda berkelompok, membicarakan perburuan musim semi dan pesta dansa berikutnya.
Isabella berdiri di bawah kanopi, dikelilingi beberapa bangsawan muda. Lilith ada di sisinya. Posisi itu tidak kebetulan.
“Lady Lilith,” ujar Isabella pelan, “aku mendengar banyak hal tentang keluarga Anda akhir-akhir ini.”
Lilith tertawa kecil. Ringan, tetapi erkontrol. “Semoga bukan gosip yang buruk.”
Isabella tersenyum tipis. “Tergantung dari sudut mana melihatnya.”
Percakapan itu terdengar sopan. Namun di baliknya ada ujian kecil, tentang reputasi, tentang pengaruh, tentang siapa yang pantas berdiri di sisi takhta.
Beberapa langkah dari sana, Elenna berdiri sendiri. Bisikan mulai terdengar lagi.
“Itukah putri lainnya?”
“Yang tidak pernah diperkenalkan secara resmi?”
“Anak dari—”
Kalimat terputus saat mereka sadar ia cukup dekat untuk mendengar.
Elenna menegakkan bahunya. Gerakannya kecil, tapi tegas.
Ia mengambil secangkir teh sendiri. Uap hangat menyentuh wajahnya. Tidak ada yang menawarinya. Tidak ada yang mengajaknya berbincang.
Namun, ia berdiri dengan tenang, seolah kesendirian itu pilihan, bukan hukuman.
Dari kejauhan, Isabella kembali meliriknya.
“Dia tidak banyak berbicara,” komentar Isabella pelan pada Lilith.
Lilith mengikuti arah pandang itu. “Adikku memang lebih suka menyendiri.”
“Seorang bangsawan tidak bisa selalu menyendiri.”
Lilith tersenyum samar. “Tidak semua orang dilahirkan untuk berdiri di tengah keramaian, tuan putri
Kalimat itu terdengar lembut. Namun, di dalamnya ada garis batas yang jelas, halus, tapi tajam.
Isabella mengangguk perlahan. Tidak membantah. Tidak menyetujui.
Lonceng kuil kembali berbunyi, kali ini lebih panjang, menandakan tahap akhir festival: ritual pemberkatan air suci.
Para bangsawan mulai bergerak lagi, membentuk barisan menuju kolam marmer di sisi altar. Permukaan airnya tenang, memantulkan langit biru pucat.
Elenna menatapnya sebentar. Pantulan wajahnya terlihat samar, terpecah oleh riak kecil angin.
Hari masih panjang, dan di balik doa-doa dan senyum sopan, ia bisa merasakan sesuatu yang lebih dalam bergerak pelan bahwa hari ini belum selesai mengujinya.