Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Cahaya lembayung memenuhi langit di sore hari. Sinarnya masuk lewat jendela di rumah kecil, menambah kesunyian yang semakin terasa berat bagi Kirana. Gita terlelap setelah kelelahan menggambar, Kirana masih duduk di ruang tamu dengan laptop tua di pangkuannya. Layar menampilkan deretan surel lamaran kerja yang telah ia kirim dalam dua minggu terakhir.
Satu per satu Kirana buka kembali. Tidak ada balasan. Tidak ada undangan wawancara.
Kirana menghela napas panjang, lalu menutup laptop itu perlahan, seakan takut suara kliknya membangunkan harapan yang sudah setengah mati.
“Mungkin memang karena aku cuma lulusan SMA,” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Di usia segini, siapa juga yang mau nerima?”
Berbeda dengan Kinanti yang lulusan sarjana, Kirana hanya Tamatan SMA. Bukan dia tidak pintar, tetapi keuangan keluarganya tidak mampu membiayai dua orang untuk kuliah. Jadi, setelah lulus sekolah, Kirana bekerja jadi buruh pabrik. Di sana lah dia kenal dengan Rafka dan saling jatuh cinta.
“Apa yang harus aku lakukan agar bisa punya penghasilan?” gumam Kirana berpikir keras.
Kirana menatap pantulan dirinya di kaca lemari, wajah yang masih muda dan cantik, tetapi jelas ada lelah. Mata yang dulu selalu penuh keyakinan, kini menyimpan banyak keraguan.
Enam tahun menjadi ibu rumah tangga membuat Kirana terasing dari dunia luar. Ia terbiasa mengatur keuangan rumah, memasak, mengurus anak, namun dirinya tidak terbiasa di pasar tenaga kerja.
Tangan Kirana terulur ke leher, menyentuh sebuah kalung emas tipis yang sejak tadi terasa berat menggantung di sana. Kalung itu hadiah dari Rafka, lima tahun lalu. Dibeli dari hasil lembur pertamanya sebagai mandor. Dulu, kalung itu simbol cinta dan perjuangan bersama. Kini, ia hanya terlihat seperti modal terakhir.
“Apa aku harus jual ini?” bisiknya lirih. “Buat modal usaha kecil-kecilan?”
Dadanya terasa perih. Bukan karena nilai emasnya, tetapi karena makna yang harus ia lepaskan.
Kirana menyadari kalau dirinya tidak boleh bergantung lagi pada siapa pun, terutama pada suami yang kini telah mengkhianatinya.
Kirana bangkit menuju dapur. Di ruangan itulah dia selalu merasa paling hidup. Tangannya lincah, pikirannya jernih. Ia ingat betul bagaimana setiap masakan buatannya selalu habis ketika ada acara keluarga. Tetangga memuji, mertua memamerkan, bahkan Bu RT sering minta resep darinya.
“Aku memang bukan wanita kantoran,” pikirnya. “Tapi aku bisa masak.”
Malam itu, Kirana membuka ponsel dan mulai mencari. “Makanan viral,” ketiknya. Satu per satu tren kuliner muncul di layar, ada rice bowl, ayam geprek sambal matah, seblak frozen, dessert box.
Matanya berhenti pada satu gambar.
“Makanan rumahan, tapi kekinian,” gumam Kirana. “Ini bisa dijual.”
Ada sesuatu yang menyala kecil di dada Kirana, yaitu sebuah harapan.
Sementara itu di tempat lain, Kinanti merebahkan diri di atas ranjang sempit kamar sewaan mereka. Lampu temaram memantulkan bayangan tubuhnya di dinding. Rafka berada di sisinya, napasnya belum sepenuhnya stabil, wajahnya terlihat lelah sekaligus lengah.
Kinanti menggeser tubuh, mendekat. Jemarinya mengusap pipi Rafka dengan gerakan lambat, penuh kepemilikan. Senyumnya kecil, tapi matanya tajam.
“Mas,” panggilnya manja, suaranya sengaja dibuat lembut. “Gimana kalau hari Sabtu kita nginep di sini?”
Rafka membuka mata, refleks menggeleng. “Enggak bisa.”
“Kenapa?” Kinanti memiringkan kepala, pura-pura polos.
“Aku enggak boleh tidur di luar,” jawab Rafka cepat. “Kirana pasti curiga. Dia akhir-akhir ini banyak mikir.”
Kinanti mendengus pelan. “Kirana ... Kirana lagi.”
Wanita itu bangkit sedikit, lalu bersandar di dada Rafka. “Aku cemburu, Mas,” bisiknya. “Kamu tiap hari sama dia. Sementara aku ....”
Kalimatnya menggantung. Kinanti menunduk, bahunya turun. “Aku sendirian tiap malam. Dingin. Sepi.”
Rafka terdiam. Rasa bersalah merayap di dadanya, bukan pada Kirana, melainkan pada Kinanti. Ia mengusap punggung wanita itu, mencoba menenangkan.
“Ini sementara, Kin,” ujarnya. “Aku harus hati-hati.”
“Hati-hati atau pengecut?” Kinanti mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah. Tidak lagi manja, melainkan menekan. “Kamu takut sama istrimu, Mas?”
Rafka tersentak. “Bukan begitu.”
“Kalau bukan, buktikan,” desak Kinanti lembut tapi berbahaya. “Aku cuma minta satu malam. Masa itu saja enggak bisa?”
Rafka memejamkan mata. Dalam kepalanya, wajah Kirana muncul sekilas, diam, dingin, dan penuh tanya. Lalu bayangan Kinanti yang hangat, memuja, juga menuntut.
Dua dunia. Dua tekanan.
Rafka menatap Kinanti dalam. Untuk pertama kalinya, rasa bersalah itu tenggelam dikalahkan oleh kebutuhan untuk merasa diinginkan tanpa syarat.
“Aku usahakan,” ucap Rafka akhirnya.
Senyum Kinanti mengembang. Ia tahu satu celah sudah terbuka.
“Peluk aku lebih lama,” pinta Kinanti. “Aku benci saat kamu cepat-cepat pergi.”
Rafka menuruti. Tangannya menelusuri punggung Kinanti dengan tekanan yang tidak lagi ragu. Ia menunduk, wajahnya tenggelam di rambut Kinanti, menghirup aroma yang selalu membuatnya lupa alasan untuk berhenti.
Di balik mata terpejamnya, Kinanti tersenyum. Rafka memilih tenggelam bersamanya. Kinanti tahu selama bisa membuat Rafka lupa pulang, cepat atau lambat, pria itu akan berhenti merasa bersalah.
Keesokan paginya, Kirana terbangun lebih awal dari biasanya. Ada daftar panjang di kepalanya. Ia mencatat harga bahan, menghitung modal, memikirkan kemasan. Bahkan sebelum matahari benar-benar naik, dapurnya sudah sibuk.
Kirana mencoba resep demi resep. Ada yang gagal. Ada yang terlalu asin. Namun ia tidak menyerah. Setiap kesalahan ia catat, setiap keberhasilan ia simpan.
Ketika Gita bangun, aroma masakan sudah memenuhi rumah.
“Ma, masak apa?” tanya anak itu menguap.
Kirana tersenyum. “Coba-coba, Sayang.”
Gita mencicipi sedikit. Matanya langsung berbinar. “Enak!”
Satu kata itu hampir membuat Kirana menangis.
“Kalau anakku saja suka, batinnya, orang lain pasti juga.”
Hari itu, Kirana memutuskan sesuatu. Ia melepas kalung emas dari lehernya dan memasukkannya ke dalam dompet kecil. Tangannya sempat gemetar.
“Maaf,” bisiknya pada benda itu. “Aku butuh berdiri di kakiku sendiri.”
Sore harinya, Rafka pulang. Ia melihat dapur berantakan dan wajah Kirana tampak lelah.
“Sayang, kamu lagi ngapain?” tanya Rafka.
“Masak,” jawab Kirana singkat.
“Banyak banget.”
“Aku mau coba jualan.”
Rafka terdiam sejenak. “Jualan?”
“Iya. Aku enggak bisa terus nunggu panggilan kerja yang enggak datang,” ucap Kirana tanpa menatapnya. “Aku butuh uang.”
Kalimat itu membuat Rafka tidak nyaman. “Aku kan masih kasih nafkah tiap bulan.”
Kirana berhenti mengaduk. Menoleh. Tatapannya tenang, tapi menusuk.
“Aku butuh uangku sendiri, Mas.”
Tidak ada teriakan. Tidak ada emosi meledak. Justru ketenangan itulah yang membuat Rafka merasa terancam.
Rafka mengangguk pelan. “Terserah kamu.”
Di antara mereka sebuah jarak tak kasatmata mulai mengeras, berubah menjadi tembok yang suatu hari akan runtuh dengan cara paling menyakitkan.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏