Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.
Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.
[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Kursi Sultan dan Bidadari Panggung
Raka berjalan perlahan menuju pintu pemeriksaan tiket, namun pikirannya melayang jauh meninggalkan keriuhan Stadion GBK, menuju ke selatan Jakarta. Tepatnya ke hadiah properti gila yang baru saja mendarat di pangkuannya.
The Sultan Residence - Pondok Indah Bukit Golf.
Bagi warga Jakarta, nama itu bukan sekadar alamat. Itu adalah mantra. Itu adalah garis batas tegas yang memisahkan antara "orang kaya" dan "konglomerat lama".
Raka tahu betul reputasi tempat itu. Dikembangkan di atas lahan berkontur bukit langka di jantung Jakarta Selatan, kompleks ini adalah anomali. Di saat Jakarta sesak dengan beton dan polusi, The Sultan Residence menawarkan oase hijau yang mustahil. Bagian belakang villa menyandar pada bukit buatan yang rimbun, sementara bagian depannya menghadap langsung ke hamparan rumput lapangan golf 18-hole yang terawat.
Pagi hari di sana konon diselimuti kabut tipis seolah berada di Puncak Pass. Siang hari, penghuninya bisa menyesap Earl Grey tea di balkon sambil memandang cakrawala gedung pencakar langit SCBD dari kejauhan. Dan malam hari? Malam hari adalah pertunjukan lampu kota yang gemerlap, dinikmati dari keheningan privasi yang absolut.
Bisa dibilang, di seluruh Jakarta bahkan mungkin Indonesia tidak ada real estat yang lebih prestisius dari ini.
Lebih gila lagi, Villa Nomor 1 yang kini menjadi milik Raka bukan sekadar rumah. Itu adalah masterpiece. Bangunan tiga lantai dengan arsitektur tropis modern, dilengkapi private lift, kolam renang infinity yang menggantung di tepi bukit, dan sistem Smart Home berbasis AI yang mungkin lebih pintar daripada dosen pembimbing skripsi Raka.
Tetangga kanan-kirinya? Kalau bukan menteri, pasti CEO unicorn, atau mungkin diplomat asing.
"Gila..." Raka menggelengkan kepala, tertawa kecil. "Kemarin gue masih mikir gimana caranya bayar iuran sampah kostan 20 ribu perak. Sekarang? Gue tetanggaan sama orang yang mobilnya lebih mahal dari harga diri gue."
Tempat seperti itu, bagi Raka versi lama, adalah zona terlarang. Lewat depannya saja mungkin satpamnya sudah menatap curiga. Tapi sekarang? Sertifikat Hak Milik (SHM) atas nama Raka Adiyaksa sudah tersimpan aman di sistem.
Ini terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi terlalu indah untuk disebut kenyataan.
Tiba-tiba, langkah Raka terhenti.
Sebuah sensasi aneh menjalar dari ujung kaki, merambat naik ke tulang belakang, hingga meledak pelan di batang otaknya.
Krak... Kretek...
Terdengar bunyi halus persendiannya yang bergeser.
Itu bukan rasa sakit. Itu adalah... kenikmatan murni. Rasanya seperti baru saja dipijat oleh sepuluh terapis profesional secara bersamaan setelah lari maraton, lalu disiram air es yang menyegarkan.
Skill [Transformasi Fisik Adonis] mulai bekerja.
Otot-otot di lengan dan kakinya terasa memadat, mengencang di balik kemeja kusamnya. Rasa pegal akibat berdiri berjam-jam mengantre tiket lenyap seketika, digantikan oleh lonjakan energi yang membuatnya merasa bisa membelah beton dengan tangan kosong.
Pandangannya menajam. Dia bisa melihat detail serat kain pada baju orang di depannya. Dia bisa mendengar percakapan samar dari jarak sepuluh meter.
"Jadi ini rasanya punya 'Cheat Code' di dunia nyata?" Raka menyeringai, meremas kepalan tangannya. Terasa solid. Kuat.
Sambil menikmati tubuh barunya, Raka melirik ponsel. Notifikasi m-banking masih terus bermunculan dengan ritme yang menghipnotis.
Tring! (Rp 250 masuk) Tring! (Rp 250 masuk)
Raka menatap angka itu dengan tatapan lapar. Dia membayangkan, jika dia diam saja selama 10 detik, dia dapat Rp 2.500. Cukup buat bayar parkir. Satu menit diam? Rp 15.000. Cukup buat beli Nasi Padang lauk rendang. Satu jam diam? Rp 900.000. Cukup buat... well, cukup buat mentraktir satu asrama makan.
"Kalau gini caranya, gue tidur siang aja udah lebih produktif daripada manajer gue dulu," gumamnya geli. "Emang bener kata orang, yang kaya makin kaya, yang miskin makin... ah sudahlah."
Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan euforia yang nyaris membuatnya gila, Raka melangkah mantap menuju gerbang pemeriksaan. Dia mengeluarkan dua tiket fisik VVIP dari sakunya.
Petugas pemeriksa tiket, seorang wanita muda dengan seragam rapi, menatap Raka sebentar. Penampilan Raka yang "biasa saja" kemeja kusam, jeans pudar, sepatu kets yang agak dekil sedikit kontras dengan pemegang tiket VVIP lain yang rata-rata wangi uang dan bermerek dari ujung rambut sampai kaki.
"Tiket VVIP ya, Mas?" tanya petugas itu, sedikit ragu.
Raka tersenyum tipis, menyodorkan tiketnya. "Dua orang. Tapi saya masuk sendiri."
Petugas itu memindai barcode. Bip. Valid. Matanya membelalak sedikit, lalu sikapnya berubah drastis menjadi sangat sopan. "Silakan, Pak. Lewat jalur merah di sebelah kanan. Selamat menikmati konser."
Raka mengangguk dan melenggang masuk.
Di dalam stadion, atmosfernya gila. Ribuan manusia memadati tribun dan area festival. Lautan lightstick berwarna ungu neon mulai dinyalakan, menciptakan galaksi buatan yang berkedip-kedip. Suara musik latar berdentum di dada.
Ini konser Vania Winata.
Raka berjalan mencari tempat duduknya di area VVIP, baris paling depan yang berhadapan langsung dengan panggung utama. Dia bukan cuma suka lagunya. Raka respect sama Vania.
Gadis itu fenomena. Ditemukan umur 16 tahun saat menyanyi iseng di lomba agustusan sekolah, videonya viral, lalu ditarik label besar. Debut album pertamanya langsung meledak, menyapu bersih semua tangga lagu dari Spotify sampai YouTube Trending.
Sekarang usianya 18 tahun. Dalam dua tahun, dia sudah bertransformasi dari siswi SMA polos menjadi Diva Nasional.
Tapi bukan itu yang bikin Raka kagum. Raka pernah baca artikel investigasi di Twitter. Vania diam-diam menyumbangkan hampir 70% penghasilan tahun pertamanya untuk membangun sekolah-sekolah rusak di pedalaman Nusa Tenggara Timur. Tanpa konferensi pers. Tanpa pamer di Instagram Story. Justru orang lain yang membocorkannya.
"Cantik, suara bagus, hati malaikat," batin Raka. "Beda banget sama ular berbisa kayak Tiara."
Mengingat Tiara, Raka akhirnya menemukan kursinya. Row A, Seat 12 & 13.
Posisi "Sultan". Tepat di tengah, pandangan lurus ke panggung tanpa halangan. Kursinya bukan kursi plastik lipat, tapi kursi busa empuk dengan sandaran tangan lebar.
Raka duduk di kursi nomor 12. Dia menatap kursi nomor 13 di sebelahnya. Kursi kosong yang harganya 3,5 juta rupiah.
Tanpa ragu, Raka melepaskan tas ransel bututnya dan meletakkannya di atas kursi nomor 13. Dia menepuk-nepuk tas itu seolah itu adalah benda berharga.
Lalu, dengan gaya santai yang memancing emosi, Raka menyilangkan kaki, merentangkan tangan kirinya menguasai sandaran kursi nomor 13, dan bersandar nyaman.
Aksi ini, tentu saja, menjadi tontonan di area VVIP.
Di sekelilingnya adalah para influencer, anak pejabat, dan "Crazy Rich" Jaksel yang datang dengan pasangan atau geng mereka. Melihat seorang cowok berpenampilan "rakyat jelata" duduk sendirian dan membiarkan satu kursi VVIP hanya untuk menaruh tas butut, adalah sebuah penistaan terhadap nilai uang.
Bisik-bisik mulai terdengar dari baris belakang.
"Eh, liat tuh cowok di depan," bisik seorang cewek dengan riasan tebal dan tas Gucci di pangkuannya. "Gila, dia beli dua tiket VVIP cuma buat naro tas ransel?"
"Anjir, itu tas apaan? Limited edition?" sahut temannya sambil menyipitkan mata. "Kok kayak tas pembagian diklat PNS?"
"Hush! Jangan gitu. Siapa tau dia intel nyamar. Atau anak tambang yang lagi low profile."
"Tapi gila sih flexing-nya. Jiwa miskin gue meronta-ronta liat tiket 3 juta dipakein tas doang."
Raka, dengan pendengaran barunya yang super sensitif, mendengar semua itu. Dia menahan tawa. Silakan berasumsi. Kalian nggak tau kalau tas butut ini isinya botol minum tupperware sama jas hujan.
"Bro," tiba-tiba seorang cowok di sebelahnya, yang memakai kemeja batik sutra, menegur ramah. "Temennya nggak dateng?"
Raka menoleh, tersenyum santai. "Nggak. Lagi sakit perut katanya. Jadi ya udah, tas saya aja yang duduk. Biar lega."
Si cowok batik melongo, lalu mengacungkan jempol canggung. "Sultan mah bebas, Bro. Sadis."
Raka kembali menatap panggung. Dia merasa puas. Sangat puas.
Tiba-tiba, lampu stadion padam total. Gelap gulita.
Teriakan histeris puluhan ribu penonton memecah malam. "VANIA!!! VANIA!!! VANIA!!!"
Suara gemuruh itu seperti ombak yang menghantam karang.
DUAR!!
Kembang api meluncur dari empat sudut panggung, meledak menjadi hujan emas di udara. Musik intro orkestra yang megah mulai mengalun, membangun ketegangan. Layar LED raksasa menyala, menampilkan siluet seorang gadis.
Lift hidrolik di tengah panggung perlahan naik. Asap dry ice mengepul dramatis.
Dan di sanalah dia.
Vania Winata.
Saat lampu sorot utama menghantam sosoknya, Raka merasa napasnya tercekat.
Dia mengenakan gaun putih panjang berbahan sutra yang memeluk tubuh rampingnya dengan sempurna. Bagian roknya semi-transparan, memberikan siluet kaki jenjang yang indah tanpa terlihat vulgar. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, bergerak lembut tertiup angin buatan dari blower panggung.
Wajahnya... astaga. Di layar LED raksasa, wajah itu diperbesar ribuan kali lipat, dan Raka tidak bisa menemukan satu cela pun. Kulit putih porselen, hidung mancung yang elegan, dan mata bulat yang bersinar seperti bintang.
Dia tersenyum, dan rasanya satu stadion meleleh.
"Selamat malam, Jakarta!" sapanya. Suaranya bening, renyah, namun bertenaga.
"KYAAAAA!!!!"
Raka ikut tersenyum. Pesona gadis ini benar-benar di level yang berbeda. Bukan cuma cantik, tapi dia punya aura. Aura bintang yang membuat orang tidak bisa memalingkan wajah.
Vania mulai mengangkat mikrofonnya. Musik berubah lembut. Lagu pembuka: "Cinta dalam Diam".
Saat nada pertama keluar dari bibirnya, Raka memejamkan mata sejenak, membiarkan suara emas itu membasuh kekesalan dan amarahnya seharian ini.
Namun, saat dia membuka mata lagi, pandangannya terkunci pada sosok Vania yang berjalan mendekati bibir panggung, tepat di depan area tempat Raka duduk.
Skill pasif [Radar Bidadari] miliknya tiba-tiba berkedip aktif.
Sebuah panel status transparan berwarna merah muda muncul di atas kepala sang penyanyi, mengambang di udara.
[Target Terdeteksi: Vania Winata]
Usia: 18 Tahun
Nilai Wajah: 98/100 (Kategori: Dewi Nasional)
Nilai Bentuk Tubuh: 96/100 (Kategori: Golden Ratio)
Status: Murni / Single
Mood Saat Ini: Lelah tapi Bahagia.
Kesan: "Menyembunyikan kesepian di balik sorotan lampu."
"Wow..." Raka melongo, hampir menjatuhkan rahangnya. "Sistem ini... transparan banget?"
Nilai 98? Itu angka yang hampir mustahil. Raka iseng melirik cewek-cewek influencer di sekitarnya. Rata-rata hanya memiliki skor 70-80 di mata sistem. Tiara? Mungkin kalau di-scan sekarang cuma dapet 65 karena minus akhlak.
Vania adalah spesimen sempurna.
Dan malam ini, di kursi VVIP dengan tas butut di sebelahnya, Raka merasa takdir baru saja mempertemukan dua garis hidup yang seharusnya tidak bersinggungan.