Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Di koridor rumah sakit rahasia yang sunyi, aroma antiseptik terasa begitu mencekam.
Christian berdiri seketika saat pintu ruang tindakan terbuka.
Papa Adrian keluar dengan wajah yang sangat berat, ia melepaskan masker bedahnya dan menghela napas panjang.
Dimana sebuah helaan napas yang membuat jantung Christian nyaris berhenti.
"Pa, bagaimana? Zahra selamat, kan? Zahra nggak apa-apa kan, Pa?" cecar Christian dengan suara gemetar.
Papa Adrian menatap putranya, lalu beralih pada Bibi Renggo yang sedang menggenggam erat tangannya sendiri hingga buku jarinya memutih.
"Duduklah, Chris. Bibi, mari duduk. Ada banyak hal yang harus Papa bicarakan mengenai kondisi fisik gadis ini," ucap Papa Adrian dengan nada rendah yang profesional namun penuh keprihatinan.
Setelah mereka duduk, Papa Adrian membuka map hasil rontgen dan pemeriksaan fisik.
Ia menunjuk beberapa titik di foto Rontgen milik Zahra.
"Zahra adalah mukjizat karena dia masih bisa bertahan sampai detik ini. Papa menemukan luka yang sangat fatal di bagian kepala. Ada sebuah paku yang menancap cukup dalam di tempurung kepalanya," ujar Papa Adrian.
Christian terperangah, tangannya menutup mulut karena ngeri.
"Kemungkinan besar paku itu berasal dari kayu yang digunakan untuk memukulnya. Akhsan mungkin tidak sadar jika ada paku di kayu itu saat ia meluapkan kemarahannya di gudang. Paku itu nyaris mengenai saraf motoriknya," lanjut Papa Adrian.
"Selain itu, ada luka memar hebat di bagian dada, seolah dia dihantam benda tumpul berkali-kali."
Bibi Renggo terisak hebat, menutupi wajahnya dengan daster.
"Di kaki, infeksinya sudah masuk ke tahap yang berbahaya karena luka terbuka yang dibiarkan tanpa pengobatan dan terkena air kotor serta debu gudang. Dan punggungnya..." Papa Adrian terdiam sejenak.
"Luka bakar di punggungnya cukup luas, ia harus menjalani cangkok kulit di kemudian hari."
Papa Adrian kemudian menunjukkan foto wajah Zahra yang diambil sebelum dibalut perban.
"Di wajahnya ada tanda silang (X) yang tercetak di pipinya. Sepertinya terkena mata cincin yang digunakan saat seseorang menamparnya dengan kekuatan penuh. Luka ini akan meninggalkan bekas permanen jika tidak dioperasi plastik."
Christian mengepalkan tinjunya hingga gemetar. Deskripsi luka itu seperti peta penyiksaan yang sistematis.
Setiap luka menceritakan betapa biadabnya perlakuan Akhsan terhadap istrinya sendiri.
"Sekarang, tugas kita adalah menunggu Zahra sadar. Trauma fisiknya sangat berat, tapi trauma psikisnya mungkin jauh lebih dalam," pungkas Papa Adrian.
"Saat dia bangun nanti, kita harus mengikuti apa pun yang dia mau. Kita tidak bisa memaksanya kembali ke kehidupan lamanya."
Christian menatap jendela ruang ICU tempat Zahra terbaring dengan berbagai alat bantu hidup.
"Dia tidak akan pernah kembali ke sana, Pa. Baginya, Zahra sudah mati di kuburan itu. Di sini, dia akan lahir sebagai orang baru."
Ia tidak hanya ingin menyembuhkan Zahra, ia ingin menghancurkan siapa pun yang telah membuat tanda "X" di wajah cantik wanita yang dicintainya itu.
Di kediaman utama Hermawan, duka yang baru saja dipentaskan di pemakaman seolah menguap begitu saja.
Ibu Gea yang juga ibu kandung Sisil duduk dengan senyum tertahan di ruang tamu yang mewah.
"Papa Hermawan, demi menjaga hubungan baik keluarga kita dan menghargai kenangan almarhumah Gea, saya rasa ada baiknya Akhsan menikahi Sisil sesegera mungkin," ucap Ibu Gea dengan nada membujuk.
Papa Hermawan mengangguk mantap. "Saya setuju. Akhsan butuh pendamping untuk bangkit dari tragedi ini."
Malam itu juga, di balik pintu tertutup tanpa tamu undangan, sebuah pertunangan kilat dilangsungkan.
Mama Hermawan memeluk Ibu Sisil dengan erat, seolah mereka baru saja memenangkan sebuah trofi besar.
Cincin berlian kini melingkar di jari Sisil, sementara Akhsan hanya berdiri kaku dengan mata kosong.
Namun, kebahagiaan palsu itu hancur saat bel rumah berbunyi nyaring. Dua orang petugas kepolisian masuk dengan wajah serius.
"Pak Akhsan, ada hal penting yang harus kami sampaikan terkait kasus kecelakaan tempo hari," ujar salah satu polisi.
Akhsan mendongakkan kepalanya dengan suaranya dingin dan parau.
"Kalau Anda mencari pembunuh Gea, dia sudah mati terbakar tadi pagi. Kasus selesai."
Polisi itu saling berpandangan dengan heran saat mendengar perkataan dari Akhsan.
"Maksud Anda nona Zahra? Kenapa Anda menganggap dia pembunuhnya?"
"Dia yang menyabotase mobil itu!" bentak Akhsan.
"Justru itu tujuan kami ke sini, Pak," potong polisi itu dengan tegas.
"Hasil investigasi mendalam dari tim forensik dan saksi mata menunjukkan bahwa kecelakaan itu murni karena truk yang ugal-ugalan menabrak mobil Anda dari arah berlawanan. Mobil Anda bersih, normal, dan tidak ada sabotase apa pun pada rem maupun mesin."
Lantai yang dipijak Akhsan seolah bergoyang.
"Apa? Tidak mungkin?"
"Bahkan hasil rekaman CCTV lingkungan menunjukkan adik Anda, Nona Zahra, berada di rumah sepanjang hari saat kejadian. Satu lagi, Pak," polisi itu menatap tajam ke arah Akhsan.
"Kebakaran di rumah Anda tadi pagi bukan kecelakaan. Kami menemukan sisa bensin di area pintu dan ventilasi. Seseorang sengaja membakar rumah itu. Kami sedang melacak pelakunya."
Akhsan langsung linglung. Kepalanya berdenyut hebat, bayangan wajah Zahra yang berteriak 'Aku bukan pembunuh' kini menghujam jantungnya seperti belati.
Di sudut ruangan, Sisil gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi mendengar tentang bensin dan pelaku yang sedang dicari.
Ia segera merapat pada ibunya, mencoba menyembunyikan ketakutannya.
Setelah itu petugas polisi berpamitan kepada Akhsan.
Akhsan seperti orang yang linglung dan masuk ke kamarnya.
Sementara itu di i rumah sakit rahasia, di bawah temaram lampu ruangan, kelopak mata Zahra bergerak perlahan.
Saat ia membuka mata, sosok pertama yang ia lihat adalah Christian yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh luka.
"Christian, kenapa kamu menyelamatkan aku? A-aku sudah lelah, Chris. Biarkan aku mati saja."
Christian menggenggam tangan Zahra dengan erat, menyalurkan kekuatan.
"Kamu tidak boleh mati, Zahra. Tidak sebelum mereka merasakan penderitaan yang sama dengan yang kamu rasakan."
Christian membimbing Zahra untuk duduk, lalu ia memberikan sebuah cermin kecil.
Dengan tangan gemetar, Zahra melihat wajahnya sendiri.
Di pipinya yang pucat, terdapat bekas luka berbentuk tanda X yang merah dan mengerikan hasil tamparan cincin Akhsan.
"TIDAK!! WAJAHKU!" Zahra menjerit pilu, ia melemparkan cermin itu hingga pecah berkeping-keping.
Christian segera memeluknya, menahan tubuh Zahra yang terguncang hebat karena tangis.
"Dengarkan aku, Zahra. Kita akan ke Korea. Ayahku punya kolega terbaik di sana. Kita akan melakukan operasi plastik. Kamu akan kembali cantik dengan identitas baru."
Zahra terisak di dada Christian, namun perlahan tangisnya mereda.
Matanya yang dulu penuh kelembutan kini berubah menjadi dingin dan tajam seperti es.
Ia teringat setiap makian Akhsan, setiap tamparan Papanya, dan pengkhianatan keluarganya.
Zahra mendongak, menatap Christian dengan tekad yang bulat.
"Aku mau operasi itu, Chris. Aku akan menghapus identitas Zahra yang lemah."
Zahra terdiam sejenak, jarinya meraba luka berbentuk X di pipinya.
"Tapi Chris, tolong sisakan tanda X ini. Jangan hilangkan," desis Zahra dengan suara yang tenang namun mengerikan.
"Aku ingin tanda ini tetap ada sebagai pengingat bahwa setiap kali aku bercermin, aku akan ingat siapa yang harus aku hancurkan."
Suasana di kamar perawatan itu mendadak hangat saat pintu terbuka perlahan.
Christian menoleh dan tersenyum tipis melihat siapa yang datang.
Seorang gadis muda dengan wajah cantik dan teduh masuk bersama Papa Adrian.
Zahra tertegun, matanya yang sembap menatap gadis itu dengan tidak percaya.
"Indri?" bisik Zahra lirih.
Indri adalah satu-satunya sahabat yang ia miliki di kampus, tempat ia berkeluh kesah tanpa pernah mengungkap identitas aslinya sebagai istri Akhsan.
Indri mendekat dengan mata berkaca-kaca, ia segera duduk di tepi ranjang Zahra.
"Ra, maafkan aku. Sebenarnya aku adalah adik kandung Mas Christian, dan Dokter Adrian ini adalah papaku juga."
Zahra terdiam, mencoba mencerna kenyataan itu.
"Aku merahasiakan identitas keluargaku di kampus karena aku takut kamu tidak mau berteman denganku kalau tahu aku anak pemilik rumah sakit. Aku ingin berteman tulus denganmu, Ra," lanjut Indri sambil memegang tangan Zahra yang dingin.
Mendengar pengakuan tulus itu, pertahanan Zahra runtuh.
Ia menghambur ke pelukan Indri, menangis sesenggukan di bahu sahabatnya. Isak tangisnya mewakili segala rasa sakit, pengkhianatan, dan kehancuran yang ia alami sendirian selama ini.
Indri mengusap punggung Zahra yang terbalut perban, ikut merasakan kepedihan yang luar biasa itu.
Papa Adrian berdeham pelan, menatap Zahra dengan tatapan seorang ayah yang melindungi.
"Zahra, dengarkan Papa. Di sini, kamu aman. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu lagi."
Ia meletakkan sebuah paspor baru di atas meja nakas.
Paspor dengan identitas yang sudah disiapkan dengan sangat rapi.
"Malam ini, kita semua berangkat ke Korea. Fasilitas medis di sana sudah siap untuk memulihkanmu sepenuhnya Dan satu hal lagi, mulai detik ini, lupakan nama Zahra Adistia. Nama itu sudah mati terbakar di gudang itu."
Zahra menatap Papa Adrian dengan sisa-sisa air mata di pipinya.
"Nama kamu sekarang adalah Aruna Adrian," ucap Papa Adrian meresmikan identitas barunya.
"Kamu adalah putriku, adik dari Christian dan Indri. Kita akan kembali ke sini suatu saat nanti bukan sebagai korban, tapi sebagai pemilik takdir yang baru."
Zahra terdiam sesaat setelah mendengar perkataan dari Papa Adrian.
Nama itu terasa asing namun memberinya kekuatan baru.
Aruna, yang berarti fajar. Ia akan menjadi fajar yang menyingsing setelah malam yang paling gelap dan berdarah dalam hidupnya.
"Terima kasih, Pa." ucap Aruna dengan suara yang jauh lebih stabil.
Ia melirik ke arah Christian yang mengangguk mantap.
Dendam itu tidak hilang, ia hanya menyimpannya rapat-rapat di bawah nama barunya.
Di Korea nanti, ia tidak hanya akan memperbaiki wajahnya, tapi juga mengasah taringnya untuk meruntuhkan kesombongan keluarga Hermawan dan pria bernama Akhsan.