Ava Seraphina Frederick (20) memiliki segalanya kekayaan, kekuasaan, dan nama besar keluarga mafia. Namun bagi Ava, semua itu hanyalah jeruji emas yang membuatnya hampa.
Hidupnya runtuh ketika dokter memvonis usianya tinggal dua tahun. Dalam putus asa, Ava membuat keputusan nekat, ia harus punya anak sebelum mati.
Satu malam di bawah pengaruh alkohol mengubah segalanya. Ava tidur dengan Edgar, yang tanpa Ava tahu adalah suami sepupunya sendiri.
Saat mengetahui ia hamil kembar, Ava memilih pergi. Ia meninggalkan keluarganya, kehidupannya dan juga ayah dari bayinya.
Tujuh tahun berlalu, Ava hidup tenang bersama dengan kedua anaknya. Dan vonis dokter ternyata salah.
“Mama, di mana Papa?” tanya Lily.
“Papa sudah meninggal!” sahut Luca.
Ketika takdir membawanya bertemu kembali dengan Edgar dan menuntut kembali benihnya, apakah Ava akan jujur atau memilih kabur lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Sinar matahari pagi yang lembut memaksa Ava membuka mata. Rasa sakit menyengat dari setiap sendi dan ototnya menjadi pengakuan bisu atas kebrutalan malam yang tak terbayangkan. Kepalanya terasa dipukul palu godam, sensasi khas setelah ia memaksa diri melawan intoleransi alkoholnya.
"Sial, sakit sekali." Ava mengerang pelan. Ia tidak ingat detailnya, hanya samar-samar terasa sakit yang menusuk di awal, diikuti gelombang kenikmatan yang menenggelamkan kesadarannya sepenuhnya.
Ava telah mencapai tujuannya, benih telah tertanam, walau dengan metode yang sungguh di luar kendali dan perencanaan.
Saat Ava mencoba bergerak, ia merasakan kehangatan yang mencekik di pinggangnya. Sesuatu yang berat dan kokoh melingkari tubuhnya.
Ava mendongak, matanya yang setengah sadar melebar sempurna saat melihat siapa yang menjadi bantalnya semalam.
“Edgar?” gumamnya dengan mata membelalak.
Pria itu tidur pulas dengan napas teratur dan tenang. Wajahnya yang tampak keras di siang hari kini terlihat lebih santai, namun tetap memancarkan aura dominasi yang kuat.
“Ini tidak mungkin!” desis Ava. Pria di sebelahnya ini adalah pria yang menanam benihnya. Suami dari sepupunya sendiri, Ivy.
Bukan rasa bersalah karena tidur dengan suami orang yang menghantamnya, melainkan kekecewaan yang pahit.
Kenapa harus Edgar? Pria yang paling terlarang, yang akan menciptakan komplikasi tak berujung jika rencananya terbongkar. Sekaligus pria yang terikat secara hukum dengan keluarga Fredrick.
Ava mengumpat dalam hati pada alkohol dan takdir sialan yang selalu senang mempermainkannya.
Otaknya yang cerdas kembali berfungsi penuh. Dengan cepat memproses situasi dan menyusun strategi.
Dengan hati-hati, Ava mengangkat lengan Edgar yang berat dari pinggangnya. Ia melompat turun dari tempat tidur yang berantakan itu, kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin.
Seluruh tubuhnya sakit, terutama bagian sensitifnya. Tapi ia abaikan rasa sakit itu. Misi utamanya kini adalah melarikan diri tanpa jejak.
Ava menyambar gaunnya yang tergeletak di lantai dan memakainya dengan tergesa-gesa.
Sambil merapikan rambutnya yang kusut di depan cermin, ia melihat bekas-bekas malam yang panas itu.
"Buas sekali kau Edgar!" gumam Ava.
Pria itu sudah berjanji akan memakannya sampai habis dan ia menepati janji itu.
"Aku harus segera pergi." Ava menemukan tas kecilnya di atas meja meja. Setelah mengorek isinya, Ava mengambil buku cek.
Ava menulis dengan cepat lalu meletakkan cek itu di atas bantal, tepat di samping kepala Edgar.
“Ini adalah transaksi bisnis. Aku tidak akan menuntut mu dan kuharap kau juga melupakan malam ini,” lirihnya.
Ava berjanji tidak akan pernah minum alkohol lagi. Ia menyesali kebodohan yang ia lakukan di bawah pengaruh minuman keras.
Kenapa harus Edgar? Kenapa bukan pria asing yang mudah dilupakan?
*
*
Edgar membuka matanya tak lama setelah pintu apartemennya tertutup. Ia sudah terjaga sejak Ava keluar apartemennya. Ya, pria itu memilih berpura-pura tidur, mengamati setiap gerakan Ava yang tergesa-gesa.
Ia menoleh ke sampingnya. Tempat tidur sudah kosong, hanya menyisakan dingin dan kenangan panas semalam. Namun, matanya langsung tertuju pada selembar kertas di atas bantal. Jari-jarinya yang kuat meremas kertas berharga itu hingga hancur, mengubahnya menjadi robekan kecil tak berarti.
Wajahnya yang tampan menggelap, digelayuti kemarahan yang membara.
“Berani-beraninya dia meninggalkanku setelah mengambil segalanya lalu memintaku melupakan semuanya!”
Meskipun Ava adalah wanita yang ia incar dan dambakan, tindakan gadis itu merusak rasa harga dirinya. Ava memperlakukannya seperti objek bahkan seperti pria bayaran.
“Awas saja kau, Ava Seraphina!” seru Edgar lalu bangkit dari ranjang.
Edgar berjalan ke kamar mandi, menyalakan shower dan membiarkan air dingin membasahi tubuhnya. Malam panas yang terjadi terus terngiang, memicu sensasi yang tak bisa ia lupakan.
Saat membersihkan diri, sebuah pikiran konyol muncul di benaknya.
Bagaimana kalau Ava hamil?
Namun, Edgar langsung menepisnya dengan senyum pahit. “Omong kosong! Aku mandul dan dokter sudah memastikan itu.”
Edgar menatap dirinya di cermin, mencoba meyakinkan diri bahwa keajaiban itu mustahil. Ava tidak mungkin hamil. Ia hanya mendapatkan satu malam yang tak terlupakan, bukan keturunan.
Tapi, di balik semua kemarahan dan penolakannya, ada rasa bangga dan puas yang tak terbantahkan. Edward mendapati bercak merah samar di sprei putih, bukti keperawanan Ava.
“Dia milikku. Setidaknya untuk satu malam.”
Rasa bangga itu mengalahkan rasa marah. Edgar memutuskan. Ia tidak akan membiarkan Ava memperlakukannya seperti sampah sekali pakai.
Begitu selesai mandi dan mengenakan pakaiannya, Edgar menghubungi Jeremy.
“Siapkan semua dokumen. Hari ini aku akan menemui keluarga Ava.”
Sebelum itu, Edgar harus menyelesaikan urusan rumah tangganya dulu. Hubungannya dengan Ivy harus berakhir. Tidak ada lagi pernikahan di atas kertas.
“Aku akan menjadikan Ava satu-satunya wanita dalam hidupku,” tekad Edgar dengan penuh keyakinan.