Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.Penjaga Warnet
Setelah keluar dari kelas, siang itu seperti biasanya Rani mengendarai motornya. Wajahnya ditutupi helm dan tangannya mengotak-atik HP-nya di atas motor.
“Ran?” Elyra menepuk Rani dari belakang tubuhnya. Rani terhentak kaget.
“Eh, Ran, ke mana, Ran?” latahnya. Elyra menggelengkan kepalanya dan duduk di atas motor yang berada di samping Rani.
“Ke warnet, gak?” tanya Rani. Elyra menggelengkan kepalanya pelan.
“Enggak deh, aku disuruh langsung pulang sekarang.” Rani menghela napas kasar.
“Oke, oke. Posesif amat si laki lo, neng. Kalau ada waktu, ngapel lah ke warnet. Kasian aku yang selalu duduk menjomblo di kursi tunggu.” Rani menyalakan motornya dan tancap gas.
Rani memang bekerja pada Elyra, menjaga warnet milik Elyra dan hasilnya dia gunakan untuk jajan, top up, dan beli bensin. Ya, minimal saat ini Rani tidak lagi bergantung pada kedua orang tuanya.
Rani melaju di keramaian kota. Rani tak tertarik pada prestasi akademis atau juga mengumpulkan piagam atau piala seperti Elyra. Dia lebih suka mengumpulkan uang. Dia adalah keturunan tuan kepiting yang ada di animasi spons itu.
“Haruskah aku berlari mengejar kamu, bila ku sayang padamu...” Rani bernyanyi diiringi siulan dari bibirnya di sebuah lampu merah.
Sebuah mobil Pajero di sampingnya ikut berhenti. Rani menatap lurus ke depan, tak tahu bila di sampingnya sang wali kelas sedang memperhatikannya dari dalam mobil.
Lampu hijau kembali menyala. Rani langsung mengoper gigi motornya ke gigi tiga, melepaskan koplingnya, dan digas dengan kecepatan penuh seperti di sirkuit saat lampu menyala dan siap bertempur.
Adimas yang berada di mobilnya melongo tak percaya, hingga suara klakson di belakang mobilnya membuyarkan lamunannya.
“Aduh, PR ini,” ucapnya sembari melajukan motor. Rani sampai di depan sebuah warnet yang masih tertutup. Dia mematikan sepeda motornya dan memutar-mutar gantungan kunci motornya sambil bersiul riang.
“Yuhu, Neng Rani sendiri aja. Udah lama gak lihat Neng Elyra. Lagi olimpiade lagi?” tanya seorang tukang nasi balap di samping warnet itu.
“Iya, Bu. Biasalah orang sibuk. Beda sama aku, ya, sukanya sok sibuk, hehe.” Rani nyengir kuda. Tukang nasi balap yang sudah terbiasa dengan celotehan Rani hanya menggeleng pelan.
“Bu, aku pesan satu bungkus ekstra telur dadar dan sambalnya yang banyak. Porsinya seperti biasa ya, Bu.”
Rani masuk ke dalam warnet itu, dan beberapa pengunjung juga berdatangan.
Tempat itu memang cukup strategis untuk usaha warnet karena tidak jauh dari sebuah universitas swasta dan banyak kosan juga di sana. Jadi, banyak mahasiswa atau mahasiswi yang belum memiliki laptop memilih jalur warnet.
“Ran, kok mouse gue gak jalan, ya?” ucap seorang pengunjung. Rani mendekat dan menghela napas.
“Tuh, diem aja,” ucapnya lagi, hingga gelak tawa akhirnya terdengar bersahutan di sana.
“Gua lapar dan pemadam kelaparan belum kasih-kasih makan. Jadi, gak usah banyak ulah. Tuh tikus di kursi pemerintah yang hobinya jalan-jalan ke luar negeri. Ya iyalah, tikus itu mana bisa jalan. Gibas, nih!” ucapnya sangar. Mahasiswa dari jurusan ekonomi itu tertawa mendengar celotehan Rani.
Meski dia kasar, namun Rani juga bukan tipe manusia baperan. Jadi, meski mereka bercanda, tak pernah mereka pakai hati.
Rani kembali duduk di tempatnya. Wajahnya yang biasa saja, katanya, menatap layar monitor, memeriksa CCTV, takut ya ada yang aneh-aneh. Tapi ternyata aman. Seorang pria muda yang usianya lebih tua dari Rani datang membawa piring dan teh hangat jumbo.
“Pesanannya, Neng,” ucap pria itu. Rani nyengir melihat asupan sore itu akhirnya tiba.
“Asyiik, makacih, Abaauungng...” Rani nyengir lagi dan langsung menyantap makanannya. Bila ada pengunjung, dia berhenti dulu dan melayani.
Warnet itu memiliki tiga lantai. Lantai satu dan dua digunakan untuk warnet. Lantai satu untuk para bocil dan mereka yang hanya ingin mabar, dan lantai dua digunakan lebih privat bagi mereka yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan jauh lebih tenang. Sedangkan lantai tiga adalah gudang gudang alat bekas dan berbagai barang rusak yang berasal dari warnet itu.
“Permisi,” seorang wanita cantik berhijab tampak masuk bersama seorang bocah laki-laki berusia delapan tahun.
“Neng Lyranya gak ada?” tanya wanita itu.
“Enggak, Teh. Lyra lagi fokus sama bisnis barunya. Kenapa, ya?” tanya Rani. Dia menatap bocah itu yang sejak tadi menatap dirinya tanpa berkedip.
“Emm, gini. Kemarin itu saya lupa bayar Wi-Fi. Saya bisa titip uangnya di sini?” ucap wanita itu lagi. Rani mengangguk.
“Boleh, Teh. Jalur mana, ya? Takut sudah dijatuhi sanksi pemutusan, biar saya sambungkan lagi.”
Wanita itu menggeleng dan menyerahkan amplop tebal pada Rani.
“Saya sudah tulis surat di dalam amplop itu. Ucapkan terima kasih juga pada Elyra, ya, Neng.” Rani mengangkat alisnya.
“Baik, Teh.” Rani memasukkan amplop itu ke dalam lacinya dan memfoto dulu, sebelum akhirnya dikirimkan melalui chat pada Elyra.
Tak ada balasan dari Elyra. Sudah biasa sekali bagi Rani. Dia kembali fokus pada pekerjaannya. Sesekali dia juga memperbaiki barang-barang yang rusak, merakit radio jadul, atau juga merakit TV tabung berukuran 10 inci.
Ting!
Suara bel terdengar dari atas pintu warnet itu. Seorang pria tampan dengan wajah teduh. Matanya menatap sekeliling hingga jatuh pada Rani yang tengah fokus memasukkan skrup.
“Di atas ruang VIP, sejam 5k. Di bawah normal harga 3k, tapi dua jam lagi mau tutup. Jadi usahakan tugasnya cepat diselesaikan ya, Kak,” ucap Rani.
Wajahnya terangkat setelah memasukkan skrup dan langsung nyengir kuda.
“Eh, Mas Adimas. Mau jemput calon istri, ya?” goda Rani. Adimas menggelengkan kepalanya dan sejenak melihat hasil rakitan Rani.
“Saya guru kamu, bisa lebih sopan?” ucap Adimas. Rani menggelengkan kepalanya cepat.
“Salah besar itu. Sekarang kita sebagai pembeli dan penjual layanan. Jadi, tidak sebagai guru dan murid.”
Adimas terkekeh dan mengambil benda di atas meja yang tadi dijaga hati-hati oleh Rani.
“TV tabung?” tanya Adimas. Seorang pengunjung yang baru turun dari lantai dua tampak tertawa.
“Eh, udah sampai, Dim?” Arya, mahasiswa S2 yang entah apa jurusannya dan di mana rumahnya itu turun dengan langkah keren. Tentu saja, Arya adalah salah satu pelanggan Rani yang memiliki sifat baik dan wajah yang mencerminkan calon menantu idaman.
“Hati-hati, Mas. Ini kalau jatuh bisa gawat,” Rani berusaha mengambil TV tabung itu pelan-pelan.
“Iya, Dim, baiknya taruh aja. Itu di bawahnya ada CCTV-nya dan sensor di belakang tabungnya,” ucap Arya meminta Adimas lebih hati-hati.
“CCTV?” Adimas menatap ke bawah. Benar, ada CCTV kecil di sana. Dan di bagian yang mirip tabung itu menyimpan sensor wajah dan suara.
“Ada bakat, ya?” ucap Adimas. Rani nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Iya dong. Apalagi saya juga punya bakat jadi istri baik hati, tidak sombong, dan pandai menabung, plus memiliki keimutan dan kesabaran seluas samudra. Mas Adimas berkenan jadikan saya istri, kan? Penawaran eksklusif dan sangat terbatas, Mas.”
Arya tertawa mendengar gombalan Rani.
“Woy, sejak kapan pinter menggombal?” Arya mengacak-acak rambut Rani.
“Sejak tadi pagi, iya kan, Mas, hehe.”
Kembali Rani nyengir. Adimas hanya menggeleng.
“Sudah malam, tutup saja. Belajar yang benar, belajar ngomong yang sopan juga kalau sama orang tua. Tutup, nih. Di bawah ada 25 kursi, di atas saya samakan. Tidur lah,” ucap Adimas menyerahkan uang lembaran kertas merah pada Rani.
“Gak bisa, Mas.” Rani menyerahkan uang itu lagi.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang