*merried for revenge
bukan ajang perlombaan ini hanya sekedar balas dendam , balas dendam antar saudara yang tak kunjung padam.
liyan menatap nanar HP yang baru saja di banting hingga berserakan di lantai. emosi nya memuncak dan tak terkendali karena sang kekasih meninggalkan liyan demi memilih bertunangan dengan musuh bebuyutannya.
"5 tahun kita pacaran kau malah memilih laki laki sialan itu karena dia di pewaris. " umpat nya tertahan di antara rahang yang sudah mengeras
"brengsek!! "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
..
..
Aku akan menikah!"
Narumi Zheya, perempuan cantik berusia 27 tahun itu, membeku. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut atasannya terasa seperti hantaman keras. Namun, hanya butuh sekian detik bagi ekspresi kagetnya untuk kembali mendingin, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Maaf, Pak. Kita sedang bekerja. Bisakah kita membahas masalah ini nanti saja?" ujarnya formal. Ia membungkuk singkat, lalu beranjak ingin meninggalkan ruangan CEO yang sebenarnya adalah ruangan kekasihnya sendiri.
"Kita harus bicara sekarang!" Pria itu menyambar lengan Zheya, menahan langkahnya.
"Lagipula tidak ada orang lain di sini," lanjut pria itu pada sekretaris sekaligus kekasih yang telah lama mendampinginya.
Zheya tetap memasang wajah datar, sekuat tenaga menutupi luka yang mendadak menganga di hatinya. Ia bingung harus bereaksi seperti apa.
"Apalagi yang ingin kamu bicarakan, Leon?!" desisnya tanpa ekspresi. "Bukankah semuanya sudah jelas?" tambahnya penuh penekanan, diakhiri tawa hambar yang menyakitkan.
Zheya bukanlah perempuan lemah yang akan langsung tumpah air matanya saat tersakiti. Ia sangat realistis dan ahli dalam mengendalikan emosi.
"Aku bisa jelaskan, Zhe... ini pilihan orang tuaku, dan aku terpaksa menerimanya," Leon berusaha meraih simpati, mencoba mengurai kerumitan situasinya.
"Terus?" Mata Zheya menyipit, menatap Leon seolah kabar itu hanyalah angin lalu.
"Kamu tahu aku mencintaimu... tapi aku tidak bisa menolak mereka!"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Leon! Bukankah ini artinya kita berakhir?" Zheya menyentakkan tangannya hingga terlepas dari cengkraman Leon.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Aku paham," pungkasnya dingin sebelum melangkah keluar, meninggalkan ruangan bertuliskan Leon Huang.
Pria keturunan Tionghoa itu hanya bisa menatap nanar punggung Zheya yang perlahan menghilang di balik pintu.
Malam ini, Zheya memilih pulang dengan berjalan kaki menyusuri trotoar yang mulai sepi. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri, ditemani dinginnya angin malam yang menusuk kulit. Sesekali, decakan kecil lolos dari bibirnya, merutuki nasib.
Sesampainya di apartemen, ia langsung merebahkan tubuh ke ranjang empuknya, mencoba melepas lelah yang luar biasa.
"Sepertinya aku harus mandi," gumamnya.
Ia berharap guyuran air dingin bisa ikut menyegarkan pikirannya. Selesai mandi, Zheya memilih untuk langsung meringkuk di tempat tidur. Perutnya yang kosong tak lagi ia pedulikan.
Tiba-tiba, air mata menetes tanpa bisa ia bendung lagi. Ia merasa sangat lelah dengan hidupnya yang selalu begini. Dia sebatang kara, tak punya siapa pun untuk berbagi keluh kesah. Di saat seperti ini, ia sangat merindukan pelukan ibunya yang telah tiada.
"Bu... kenapa ini terasa sangat sakit?" tangisnya pecah saat menatap foto di pelukannya.
Mengingat kembali dua tahun yang telah ia lalui bersama Leon, rasanya sangat menyesakkan. Bohong jika Zheya baik-baik saja mendengar kekasihnya akan menikahi wanita lain. Meski Leon pernah menjadikannya ratu, pria itu tak pernah sekalipun memperkenalkannya pada keluarga besar. Harusnya sejak dulu Zheya sadar bahwa ia tak cukup penting di hidup Leon.
Selama ini, ia merasa mereka seperti langit dan bumi. Sesayang apa pun ia pada Leon, Zheya tak pernah berani bermimpi untuk menikahinya. Sebab baginya, sadar diri itu jauh lebih penting daripada percaya diri.
Zheya tahu hal ini akan terjadi. Dan dugaannya benar—pada akhirnya, dialah yang tersingkirkan.
"Sialan!"
Laki-laki itu menatap nyalang ponselnya yang sudah hancur berkeping-keping di lantai kantor. Rahangnya mengeras, emosinya meledak tak terkendali.
"Heh... lima tahun bersamaku, dan akhirnya kau memilih laki-laki sialan itu hanya karena dia seorang pewaris?!" Ia menyambar figura berisi foto wanita yang tengah tersenyum bersamanya, lalu membantingnya hingga kaca berserakan.
"Brengsek!" Umpatan demi umpatan terus terlontar. Wajah tampan bak aktor China itu menegang, menatap tajam ke depan seolah musuhnya ada di sana.
"Astaga, Pak Bos... apa yang terjadi?" Khen, asisten sekaligus tangan kanannya, masuk dan tertegun melihat kekacauan itu.
Pria yang tengah kalut itu hanya memberi tatapan tajam sebagai jawaban. Alih-alih takut, Khen justru merasa prihatin melihat kondisi bosnya.
"Apa yang terjadi padamu, Liyan?" tanya Khen lagi, kali ini bicara sebagai seorang sahabat.
"Gue marah, Khen!" jawab pria bernama Liyan itu dengan napas memburu.
"Lu nggak pernah se-emosi ini. Ada apa?"
Khen menatap heran. Liyan yang biasanya tenang kini benar-benar kehilangan kendali.
"Kali ini Leon keterlaluan..."
"Lu tau kan apa yang harus lu lakukan?!" perintah Liyan dingin sambil berjalan menuju sofa di sudut ruangan.
"Apa yang dia lakukan kali ini?" tanya Khen penasaran.
Mereka bersahabat sejak kecil, namun hubungan dengan pihak sana mulai memburuk sejak delapan tahun lalu.
"Dia merebut Margaret."
"Apa?!" Khen seolah tak percaya.
"Dua minggu lagi mereka menikah!"
Khen mulai paham sekarang. Pantas saja Liyan seperti orang kesetanan.
"Ckk... bahkan yang lima tahun kalah sama yang namanya 'pewaris'," celetuk Khen, yang langsung mendapat tatapan sinis dari Liyan.
Liyan Huang. Bahkan nama belakang mereka sama dengan si brengsek Leon itu. Dendam yang membara benar-benar menghancurkan Liyan saat ini. Demi membalas dendam pada Liyan, Leon rela mengorbankan perasaan kekasih cantiknya yang berwajah dingin itu—Zheya.
Padahal mereka masih saudara. Leon adalah anak dari kakak ayah Liyan. Meski Liyan lahir tiga bulan lebih dulu, tetap saja Leon yang ditunjuk sebagai pewaris oleh kakek mereka.
Karena itulah Liyan membangun kerajaannya sendiri. Ia tak sudi menjadi bawahan sepupunya. Sejak umur 15 tahun, ia sudah bergelut di dunia bisnis dan memiliki saham sendiri hasil didikan keras ayahnya. Berkat kerja keras itu, Liyan berhasil menjadi pebisnis sukses yang ambisius sekaligus misterius.
Liyan sangat pandai memanipulasi keadaan hingga orang-orang mengira dia bukan siapa-siapa. Padahal kenyataannya, ia memiliki banyak properti, saham di mana-mana, bahkan rumah sakit nomor satu di negara ini adalah miliknya.
"Harusnya lu kasih lihat aja betapa kayanya seorang Liyan Huang... nggak bakal Adeline memilih Leon," ujar Khen kesal. "Di mana-mana wanita memang mata duitan."
"Hmp?" Liyan mengernyit melihat Khen yang justru tampak lebih emosi darinya.
"Kenapa?" Khen memutar bola mata malas.
"Lu yang kelihatan lebih kesal daripada gue?"
"Ayolah, Yan... gue ini khawatir sama lu, lagian gue juga muak sama kelakuan si Leon!" Khen menatap sahabatnya itu, lalu sebuah tendangan kecil mendarat di kaki Liyan untuk mencairkan suasana.
...----------------...
***Sadar diri itu memang menyakitkan, dan itulah yang dirasakan Zheya saat ini. Terima kasih sudah membaca perjuangan Zheya. Dukungan kalian sangat berarti buat aku***!"
Gimana menurut kalian bab pembuka ini? Kesal sama Leon atau malah penasaran sama Liyan? Yuk, tulis teori kalian di kolom komentar ya! Jangan lupa tinggalkan jejak dengan vote/like-nya!"