menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 Arloji Tanpa Jarum di Jalan Braga
Denyut di pergelangan tangan Saka kini bukan lagi sekadar peringatan; itu adalah detak jantung kedua yang menuntut jawaban. Setelah pertemuan dengan Luna, Saka menyadari bahwa hidupnya sebagai siswa SMA hanyalah sebuah kamuflase. Di bawah permukaan kota yang tampak normal, ada perang dingin yang memperebutkan setiap detik sejarah.
Sesuai instruksi Luna, Saka memacu motor tuanya menuju kawasan Jalan Braga. Di antara deretan bangunan kolonial yang artistik, ia mencari sebuah tempat yang tidak terdaftar di peta digital mana pun. Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu kayu jati tua dengan papan nama kecil yang hampir pudar: “Tempus Fugit – Reparasi Waktu.”
Saat Saka melangkah masuk, aroma minyak mesin, kayu tua, dan debu yang membeku menyambutnya. Ratusan jam dinding memenuhi ruangan, namun anehnya, tidak ada satu pun yang mengeluarkan bunyi tik-tok. Semuanya sunyi, seolah waktu di dalam toko ini sedang menahan napas.
"Koin perak yang menarik," suara parau seorang pria tua muncul dari balik tumpukan onderdil jam.
Seorang pria dengan jenggot putih panjang dan kacamata pembesar yang menempel di matanya muncul. Ia dikenal sebagai Ki Ganda, sang kurator alat-alat kronos.
"Luna yang mengirimku," ucap Saka sambil menunjukkan koin perak dan luka parut di tangannya.
Ki Ganda terdiam sejenak, lalu memberikan isyarat agar Saka mendekat. "Luka itu... itu bukan sekadar tanda. Itu adalah Chronometer biologis. Kamu telah menyatu dengan aliran waktu. Tapi tanpa alat fokus, kekuatan itu akan membakar jiwamu dalam tiga bulan."
Ki Ganda merogoh sebuah kotak besi dari bawah meja dan mengeluarkan sebuah arloji saku perak tanpa jarum. Permukaannya polos, hanya ada kaca kristal yang jernih.
"Ini disebut 'The Void Watch'," jelas Ki Ganda. "Alat ini tidak menunjukkan waktu saat ini, tapi menunjukkan 'keretakan' di sekitarmu. Jika kaca ini memerah, artinya ada parasit waktu yang sedang mengubah sejarah dalam radius seratus meter. Dan jika jarum bayangan muncul, itu artinya ajalku atau ajal orang yang kau cintai sedang mendekat."
Saka menerima arloji itu. Begitu jarinya menyentuh permukaan perak tersebut, sebuah gelombang kejut mengalir ke otaknya. Ia melihat kilasan-kilasan masa depan yang mengerikan: Anita yang terkurung dalam tabung kaca, gedung-gedung tinggi yang runtuh ke masa lalu, dan seorang pria bertopeng logam yang memegang jantung waktu.
"Siapa pria bertopeng itu, Ki?" tanya Saka dengan napas memburu.
"Dia adalah The Eraser," jawab Ki Ganda dengan nada getir. "Pemimpin para Parasit. Dia ingin menghapus seluruh sejarah manusia agar dia bisa menulis ulang dunia sesuai keinginannya. Dan targetnya saat ini adalah sekolahmu."
Seketika, arloji di tangan Saka bergetar hebat. Permukaannya yang polos tiba-tiba memancarkan warna merah darah yang pekat.
"Dia sudah di sana, Saka! Di festival budaya sekolahmu!" teriak Ki Ganda.
Saka langsung berlari keluar toko. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Anita. Hari ini adalah festival budaya di sekolah, tempat di mana Anita sedang bertugas sebagai panitia di aula utama.
SMA Garuda, 14.00 WIB
Suasana sekolah sangat ramai. Musik bergema dan stand makanan berjejer di lapangan. Namun, di mata Saka, semuanya tampak mengerikan. Melalui The Void Watch, ia bisa melihat bahwa beberapa orang di kerumunan itu memiliki bayangan yang tidak sesuai dengan gerakan tubuh mereka. Mereka adalah para pengejar dari masa depan.
Saka menemukan Anita di aula, sedang mengatur dekorasi panggung.
"Saka! Kamu ke mana aja? Aku cariin dari tadi," ujar Anita sambil menghampirinya.
Saka tidak menjawab. Matanya tertuju pada seorang pria tinggi yang berdiri di balkon aula, mengenakan jubah hitam dengan topeng perak mengkilap. The Eraser.
Pria itu mengangkat tangannya, dan tiba-tiba, semua orang di aula membeku. Suara musik berhenti di nada yang melengking. Hanya Saka dan pria bertopeng itu yang tetap bergerak dalam keheningan yang mencekam.
"Saka... sang anomali," suara The Eraser bergema, bukan melalui telinga, tapi langsung di dalam kepala Saka. "Berikan gadis itu kepadaku, dan aku akan mengembalikanmu ke masa depanmu yang asli. Kamu bisa hidup kaya, tanpa luka, dan tanpa harus menjadi penjaga waktu yang terkutuk ini."
Saka melangkah maju, berdiri tepat di depan Anita yang mematung. Ia menggenggam The Void Watch dengan erat hingga tangannya berdarah.
"Aku sudah pernah mati sekali di masa depan yang kau janjikan itu," tantang Saka. "Dan aku tidak berencana untuk mati dua kali dengan cara yang sama."
Saka menekan tombol di samping arloji sakunya. Seketika, jarum bayangan muncul di permukaan jam, berputar liar ke arah berlawanan. Energi biru meledak dari tubuh Saka, menciptakan zona waktu mandiri yang menabrak aura kegelapan milik The Eraser.
"Akan kupastikan detak jantungmu berhenti di detik ini juga!" teriak Saka sambil menerjang ke arah balkon.
Pertarungan besar pertama antara Sang Penjaga dan Sang Penghapus baru saja dimulai.