Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Malam minggu di Jakarta biasanya identik dengan lampu-lampu kota yang romantis dan waktu berkualitas bagi pasangan suami istri. Namun, bagi Hana Ayunindya, malam ini tak lebih dari sebuah panggung eksekusi publik.
Restoran mewah bergaya klasik Eropa dengan lampu gantung kristal yang berkilauan itu menjadi saksi bisu betapa kerdilnya posisi Hana di mata keluarga besar Mahendra.
Hana duduk di sana, mengenakan gaun sutra berwarna krem yang elegan, namun wajahnya tampak sepucat kain yang ia kenakan. Di sekeliling meja bundar yang besar itu, ia dikepung oleh sepupu-sepupu Arlan dan bibi-bibinya. Suasana yang seharusnya hangat dengan obrolan keluarga justru berubah menjadi medan pertempuran mental yang menyesakkan.
Suara denting pisau dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal seolah menjadi musik latar bagi sidang tidak resmi yang sedang berlangsung. Di sebelah kiri Hana, Tante Ratna sedang sibuk menyuapi cucunya yang berusia dua tahun dengan penuh kasih sayang.
"Hana, kamu harus coba diet nanas muda, katanya bagus untuk membersihkan rahim dan meningkatkan kesuburan," ujar Tante Ratna tanpa mengalihkan pandangan dari cucunya. Nadanya terdengar seperti memberi saran, namun matanya yang melirik tajam ke arah perut Hana memberikan kesan sebaliknya. "Ibu mertuamu bilang kamu sudah ke dokter di Singapura, tapi ya... kalau belum rezeki memang susah, ya?"
Hana hanya mampu tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mirip dengan ringisan menahan sakit. "Iya, Tante. Sedang diusahakan," jawabnya singkat.
"Atau mungkin Hana terlalu sibuk di rumah? Arlan, kamu harus ajak dia liburan ke Swiss atau Jepang. Tapi ya..." sahut Tante Melinda dari ujung meja, sambil menyesap wine merahnya dengan anggun. "Kalau sudah lima tahun tanpa hasil, mungkin memang rahimnya butuh 'istirahat'. Mungkin benar kata orang, keluarga ini butuh 'darah baru' agar silsilah Mahendra tidak terputus."
Kata-kata 'darah baru' dilemparkan ke tengah meja dengan begitu santai, seolah-olah mereka sedang mendiskusikan rencana renovasi rumah, bukan nasib seorang wanita yang masih berstatus istri sah.
Hana menunduk, menusuk-nusuk daging steaknya yang kini terasa seperti karet. Lidahnya kelu. Ia melirik Arlan yang duduk di sampingnya, berharap - dengan sisa-sisa harapan yang hampir habis - bahwa suaminya itu akan membelanya.
Bahwa Arlan akan mengatakan sesuatu seperti, "Tolong jangan bicara begitu, Hana adalah segalanya bagiku dengan atau tanpa anak."
Namun, apa yang Hana lihat justru lebih menghancurkan daripada ucapan para bibinya. Arlan tidak mendengarkan. Pandangannya terpaku pada layar ponsel di bawah meja. Sebuah senyum tipis yang jarang ia berikan pada Hana dalam setahun terakhir terukir di bibirnya.
Hana sempat melihat sekilas saat layar itu menyala, sebuah pesan WhatsApp dari nama Maura lengkap dengan emotikon hati merah di sampingnya.
Rasa mual yang tadi pagi ia rasakan di kamar mandi kembali muncul, namun kali ini bukan karena hormon, melainkan karena rasa muak yang luar biasa.
"Eh, Arlan! Ibu dengar kamu sudah bertemu lagi dengan Maura, ya?" Suara Ibu Mira tiba-tiba meninggi, memecah kebisingan kecil di meja itu. Ia sengaja membuat seluruh anggota keluarga besar terdiam dan menoleh.
Arlan mendongak, sedikit terkejut namun segera memperbaiki posisi duduknya. "Iya, Bu. Kemarin sempat makan siang bareng."
"Dia wanita yang sangat hebat, ya? Masih muda, cerdas, manajer pemasaran pula," Ibu Mira melanjutkan dengan nada bangga yang berlebihan, seolah Maura adalah piala yang sedang ia pamerkan. "Ibu yakin, dengan Maura, tahun depan keluarga Mahendra pasti sudah punya anggota baru. Cucu laki-laki yang gagah seperti kamu, Arlan."
Seketika, sunyi senyap menyergap meja itu. Semua mata tertuju pada Hana. Ada tatapan kasihan yang merendahkan dari para sepupu, ada tatapan ejekan dari para tante, dan ada penghakiman dingin dari sang ibu mertua.
Hana merasa seolah-olah ia sedang berdiri tanpa busana di tengah pengadilan terbuka. Ia adalah satu-satunya orang asing di sebuah pesta keluarga yang merayakan kehancurannya sendiri.
Arlan, pria yang selama lima tahun ini ia layani dengan penuh cinta, hanya menjawab singkat tanpa sedikit pun melirik ke arah istrinya yang sedang menahan tangis. "Iya Bu, doakan saja semuanya lancar. Maura sangat bersemangat soal ini."
Hana merasa jantungnya seakan diremas oleh tangan yang tak terlihat. Lancar? Apa yang lancar? Pernikahan kedua suaminya? Kehamilan wanita lain?
"Hana," panggil Ibu Mira, suaranya kini melunak namun mengandung ancaman yang tersembunyi. "Kamu jangan tersinggung, ya. Ini semua demi Arlan. Kamu juga kan yang bilang ingin melihat Arlan bahagia? Maura itu anak yang baik. Dia bilang dia tidak masalah berbagi kamar mandi atau dapur denganmu, asal Arlan tetap bisa memberikan perhatian padanya."
Hana tidak tahan lagi. Ia meletakkan serbetnya di atas meja dengan tangan yang bergetar hebat. "Maaf, sepertinya saya harus ke toilet sebentar," ucapnya dengan suara serak.
Ia berdiri dan berjalan secepat mungkin menuju kamar mandi restoran. Begitu sampai di depan wastafel yang dingin, ia menyalakan keran air dengan volume maksimal, berharap suara air bisa meredam isak tangis yang meledak dari dadanya.
Ia menatap wajahnya di cermin besar yang mewah itu. Di mana Hana yang ceria lima tahun lalu? Di mana Hana yang percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya?
Ia mengambil ponselnya, hendak menghubungi satu-satunya sahabat yang ia miliki, namun ia teringat kartu nama yang diberikan pria asing di taman waktu itu. Adrian Gavriel. Entah mengapa, ia merasa perlu melihat kartu itu. Ia tidak menghubungi pria itu, namun kata-kata Adrian seolah menjadi satu-satunya pegangan baginya saat ini.
"Menangis tidak akan mengubah pengkhianatan menjadi kesetiaan."
Hana menyeka air matanya dengan kasar. Ia tidak bisa hancur di sini. Jika ia keluar dengan mata merah, itu hanya akan memberi kemenangan lebih besar bagi Ibu Mira dan rencana Maura. Ia memperbaiki riasannya, menutupi jejak kesedihan dengan bedak tipis dan lipstik yang lebih cerah.
Saat ia keluar dari kamar mandi, ia tidak sengaja berpapasan dengan Arlan yang sedang berdiri di lorong, tampak sedang menelepon seseorang dengan nada suara yang sangat lembut, nada yang sudah lama tidak Hana dengar.
"Iya, Sayang. Sebentar lagi selesai. Aku akan mampir ke apartemenmu membawa martabak kesukaanmu. Jangan tidur dulu, ya?"
Hana terpaku di tempatnya berdiri. Dunia seolah berhenti. Arlan menyebut Maura dengan sebutan 'Sayang' di belakangnya, saat ia masih berstatus istri sah di meja depan. Pengkhianatan itu kini bukan lagi sekadar wacana poligami, tapi sudah menjadi luka terbuka yang disiram cuka.
Arlan menyadari kehadiran Hana. Ia segera mematikan ponselnya, wajahnya kembali mengeras dan dingin. "Kau lama sekali di dalam. Ibu dan yang lain sudah mau pulang."
Hana menatap mata suaminya dalam-dalam. "Apa kau bahagia, Mas?"
Arlan mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Bahagia dengan 'darah baru' itu? Bahagia dengan martabak yang akan kau bawa untuknya setelah ini?"
Wajah Arlan memerah karena terkejut rahasianya ketahuan, namun egonya lebih besar daripada rasa bersalahnya. "Kau menguntitku? Dengar Hana, kau yang setuju untuk belajar ikhlas. Jangan mulai menjadi istri yang posesif dan menyebalkan. Maura sedang tidak enak badan, tentu saja aku harus memperhatikannya."
Arlan berjalan melewati Hana begitu saja, menyenggol bahu istrinya tanpa rasa bersalah. Hana berdiri mematung di lorong yang sunyi itu. Ia baru menyadari bahwa dalam perjamuan ini, ia bukanlah tamu kehormatan. Ia adalah hidangan utama yang sedang dicabik-cabik oleh orang-orang yang ia cintai.
Malam itu, di dalam mobil saat perjalanan pulang yang membisu, Hana membuat sebuah keputusan di dalam hatinya. Ia akan melihat drama ini sampai babak terakhir. Ia akan membiarkan Maura masuk ke rumahnya.
Bukan karena ia ikhlas, bukan karena ia menyerah, tapi karena ia ingin melihat seberapa jauh Arlan akan jatuh dalam dosanya sendiri sebelum akhirnya ia menarik diri dan membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar "istri yang gagal".
Hana menatap jalanan malam yang basah karena sisa hujan. Di sudut matanya, ia melihat gedung perkantoran mewah tempat Adrian mungkin bekerja. Sebuah pikiran gila terlintas. Mungkin sudah saatnya aku berhenti menjadi ratu di istana yang sudah runtuh, dan mulai menjadi pejuang di duniaku sendiri.
...----------------...
Next Episod**e**....
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.