NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Hujan Badai

Pagi itu udara dingin menusuk sampai ke tulang, kabut masih rendah ketika rombongan berkumpul di halaman pondok.

Ransel tersusun rapi, sepatu gunung sudah terpasang rapi.

Pintu masuk Cemoro Sewu menyambut mereka dengan udara yang jauh lebih dingin dari pondok pesantren. Kabut tipis menggantung rendah, menyelimuti deretan pohon pinus yang menjulang seperti barisan panjang. Langkah-langkah para santri beradu dengan kerikil, menciptakan irama khas pendakian.

Sebelum melangkah lebih jauh, Gus Hafiz berdiri di depan rombongan.

"Kita luruskan niat," ucapnya tenang namun tegas, "Ingat, kita bukan sekedar naik gunung, tetapi kita sedang melihat kesempurnaan Sang Khaliq. Alam ini bukan milik manusia, kita hanya tamu yang sedang belajar rendah hati."

Semua terdiam. Beberapa santri menunduk, yang lain terlihat merapatkan jaket. Doa Safar dilantunkan bersama. suara aamiin menggema pelan, larut bersama kabut.

Anisa mengenggam erat tapi ransel. Menarik udara bebas yang menyegarkan, entah kenapa, dadanya terasa ringan, berbeda dari hari-hati di ndalem yang penuh tekanan. Gunung Lawu terasa jujur, tak menuntut kepatuhan palsu.

Kaki mereka mulai melangkah kompak, jalur Cemoro masih bersahabat, tanah padat, akar-akar pohon muncul seperti ukuran alam. Sesekali terdengar tawa kecil, gurauan ringan yang segera diredam oleh mudabbiroh, bukan dilarang bersenang-senang, hanya diingatkan agar tak lalai dan tetap fokus.

"Subhanallah..." lirih seorang santriwati, saat sinar matahari menembus celah pinus, mantul di embun.

Anisa ikut mendongak, untuk sesaat, ia lupa segalanya, tentang ndalem, tentang statusnya, Tentang Gus Hafiz dan aturannya yang menyebalkan.

Napas mulai ngos-ngosan. Pos tiga Lawu terlihat lebih lapang. Angin gunung berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Mereka memutuskan berhenti di pos tiga, untuk istirahat solat dan makan.

Gus Hafiz kembali meminta santri untuk menyiapkan perlengkapan salat.

"Silahkan siapkan tempat untuk salat, untuk santri putri, segera ambil wudu," ujarnya.

Rombongan langsung bergerak, beberapa santri membentangkan alas, sementara Anisa berjalan menuju sumber air, karena antrean masih panjang, Anisa menunggu sambil duduk di bawah pohon.

Hakim yang melihat itu pun mendekat, Mudabbir itu tersenyum manis.

Sikapnya santai namun jelas perhatian.

"Ini buat wudu" ujarnya, Anisa menoleh, membalas senyum Hakim.

"Makasih... Kak." jawabnya tanpa beban.

Anisa mengangguk sopan. Hakim mulai membukakan tutup botol dan menjadikan botol seperti padasan.

Anisa mulai berwudu, dengan bantuan Hakim.

Tanpa merek sadari dari sebelah kanan, sepasang mata tajam memperhatikan mereka.

Salam berjamaah berjalan khusyuk. Gus Hafiz menjadi imam, Suaranya tenang, ayat-ayat yang ia lantunkan mengalir mantap.

Tapi di balik ketenangan itu, pikirannya sesekali tersesat pada senyum Anisa, pada sebotol air yang mengucur kan isinya dari tangan Mudabbir.

Selesai salat, mereka bersiap makan, Anisa mencari tempat nyaman untuk makan, dan lagi lagi...

Hakim.

Pria itu, menghampiri duduk tepat di sebelah Anisa, dan ke tiga sahabatnya.

"Lauknya kebanyakan, di aku. Kamu makan ya," katanya santai.

Anisa tak menolak. Ia hanya mengangguk kecil, lalu makan dengan lahap. Seolah itu hal biasa, tapi dia lupa jika ada sepasang mata yang mengawasi.

Darah Gus Hafiz berdesir laju, rahangnya mengeras, ia ingin menegur, ingin menarik anisa duduk di sebelahnya, tapi lagi-lagi ia dibenturkan oleh perjanjian. Pernikahannya masih dirahasiakan. Gus Hafiz kehilangan haknya saat di depan umum.

Untuk menghentikan tindak Hakim, Gus Hafiz memberikan peringatan secara umum.

"Kita ini sedang dalam kegiatan pendidikan, bukan sedang rekreasi bebas, atau ajang mencari jodoh, jadi harus tahu batasan antara pria dan wanita."

Sunyi.

Semua kepala menoleh.

Dan tanpa perlu disebut nama, arah pandangan itu jatuh ke arah Anisa dan Hakim.

Anisa membeku, sepontan sendok di tangannya berhenti di udara, dadanya mengencang. Ia tahu teguran itu untuknya.

Tanpa berkata apa-apa, Anisa menunduk, menyelesaikan suapan terakhir dengan cepat. Lalu melipat bungkus makanannya. Ia berdiri dan menjauh dari kerumunan.

Langkahnya membawanya ke bawah sebuah pohon, Ia duduk sendiri menyandarkan punggung, lalu mengeluarkan ponselnya. Layarnya menyala, tapi matanya tak benar-benar melihat apa pun.

Anisa metasa tak nyaman

Bukan karena Hakim, bukan karena santri lain, melainkan satu tatapan yang sejak tadi membuat Anisa merasa tertekan.

Di kejauhan, bisik-bisik kembali lahir.

"Tatapan Gus Hafiz, kok beda ya ke Anisa?"

ujar salah satu santriwati.

"Iya, biasanya beliau paling dingin sama perempuan. Ustadzah Sarah aja yang cantiknya kebangetan dicuekin." ceplos Mila.

"Iya, tapi ke Anisa itu beda, protektif banget..."

Anisa menggenggam ponselnya lebih erat.

Untuk pertama kalinya dia muncak, keindahan gunung tak lagi menenangkan, tapi terasa lebih berisik.

Setelah istirahat dirasa cukup, mereka melanjutkan perjalanan. Sendan itu akhirnya menyambut mereka menjelang sore.

Kabut turun perlahan, Rombongan bermalam di sana sesuai dengan yang sudah direncanakan. Menunggu fajar untuk menyambut sunrise Lawu besok pagi.

"Ayo, mulai dirikan tenda sebelum gelap." instruksi Gus Hafiz terdengar tenang.

Anisa berdiri dengan ransel masih menggantung di punggungnya, ia baru saja hendak membuka gesper, ketika tiba-tiba beban di punggungnya menghilang.

Ternyata Gus Hafiz sudah berada di belakangnya, satu tangan menopang ransel Anisa, satu tangan lagi membantu melepaskan dengan cepat.

"Gus... saya bisa sendiri." ujarnya.

Gus Hafiz tak menjawab, ia letakkan ransel itu perlahan. Lalu membuka resletingnya mengeluarkan tenda berwarna gelap.

"Di sana tanahnya agak miring, lebih amah dirikan tenda di sini," jelas Gus Hafiz lagi.

Anisa mematung, saat lokasi yang ditunjuk itu, bersebelahan dengan tenda Gus Hafiz.

"Kenapa harus di sini, ini berlebihan, Gus." protes Anisa mulai gerah, dengan sikap Gus Hafiz yang Anisa nilai, sik berkuasa.

Tangan Gus Hafiz berhenti bergerak, ia menoleh menatap Anisa lurus, tanpa marah, tanpa meninggikan suara.

"Kamu lupa, saya di sini, bukan hanya sebagai ustadz yang bertanggung jawab menjagamu, ucapnya rendah, tapi cukup jelas.

" Tapi lebih besar dari itu, Anisa. Ada gelar suami di pundakku."

Kalimat itu jatuh tepat di dada Anisa.

Tangannya yang menggenggam tali ransel perlahan melemah, ia melepasnya begitu saja, seolah semua tenaga mendadak luruh.

Anisa hanya berdiri kaki menatap tanah.

Ketegangan itu terpotong ketika Ustadzah Sarah mendekat.

"Gus Hafiz," panggil Ustadzah Sarah dengan suara sopan dan lemah lembutnya.

Gus Hafiz menoleh.

"Nggih Ustadzah..." sahut Gus Hafiz, lebih sopan.

"Boleh minta tolong dirikan tenda kami...? pasalnya susah masuk."

Gus Hafiz berdiri. mengibaskan tanah dari telapak tangannya.

"Ngapunten Ustadzah," jawabannya sopan.

"Mohon minta bantuan santri putra saja, saya harus menyelesaikan yang ini dulu, kalau nunggu saya, takutnya keburu gelap." jelas Gus Hafiz menolak secara halus.

Ustadzah Sarah melirik ke arah tenda yang hampir selesai, lalu tatapannya berpindah pada Anisa.

"Oh... baik, Gus." sahutnya lalu berlalu tanpa bertanya lebih jauh.

Gus Hafiz kembali berjongkok mengencangkan tali tenda Anisa.

"Masuk..." katanya singkat.

"Angin malam di sendang lebih dingin."

Anisa menoleh.

"Aku masih ingin menikmati suasana malam." ujar Anisa, sambil menatap gemerlap bintang.

"Istri kecil keras kepala," gumam Gus Hafiz.

Anisa menoleh menatap Gus Hafiz yang masuk ke dalam tenda, dan tak lama keluar membawa jaket parasut anti angin.

"Pakai ini." ujarnya.

Anisa menyipit, menatap jaket yang Gus Hafiz sodorkan ke arahnya.

"Ndak usah, ini aja cukup." Anisa membalik badan lalu masuk ke dalam tenda, meninggalkan Gus Hafiz yang terpaku.

Malam di Lawu tak pernah benar-benar sunyi.

Angin berdesir panjang, menggesek dedaunan pinus, menimbulkan bunyi seperti langkah kaki yang tertahan.

Anisa terbangun.

Jantungnya berdegup cepat saat matanya menangkap bayangan hitam melintas di balik kain tenda. Sekilas. Cepat. Tapi cukup membuat bulu kuduknya berdiri.

Ia menahan napas.

Mendengarkan.

Gesrek…dari balik tenda.

Anisa menutup mulutnya sendiri. Tangannya dingin, kakinya gemetar. Dalam kondisi seperti itu, semua keberanian, semua sikap keras kepalanya lenyap.

Yang tersisa hanya rasa takut.

Tanpa berpikir panjang, Anisa meraih jaketnya, membuka resleting tenda perlahan, lalu berlari menembus dingin. Kakinya membawanya ke satu-satunya tempat yang terasa aman saat ini.

Tenda Gus Hafiz.

Ia masuk begitu saja.

Gus Hafiz tersentak bangun, refleks duduk tegak. Tangannya sudah siap meraih senter sebelum matanya menangkap sosok Anisa yang pucat dan gemetar.

“Kamu ngapain di sini?” suaranya ditahan rendah, terkejut tapi tetap terkontrol.

“Orang bisa salah paham.”

Anisa berdiri kaku di ambang tenda. Matanya berkaca-kaca, suaranya nyaris tak terdengar.

“Aku takut, Gus… kalau ndak boleh, aku kembali ke tenda.”

Gus Hafiz terdiam.

Matanya menatap Anisa lama, bukan sebagai ustadz, bukan sebagai pengawas rombongan. Tapi sebagai laki-laki yang tahu betul siapa gadis di depannya.

Dia istriku.

Dan ini bukan kota. Ini gunung. Tengah malam. Ia menarik napas pelan, seakan menimbang langit dan bumi dalam satu tarikan.

“Ya sudah,” ucapnya akhirnya.

“Tidurlah di sini. Tapi sebelum subuh, kamu harus sudah keluar dari tenda, Mas.”

Anisa mengangguk cepat.

Tak ada bantahan. Tak ada sindiran.

Ia berbaring membelakangi Gus Hafiz, menjaga jarak. Tubuhnya masih gemetar. Beberapa menit kemudian, napasnya mulai teratur, ia tertidur karena lelah dan takut yang terkuras.

Sementara Gus Hafiz tetap terjaga.

Matanya menatap langit-langit tenda. Doa-doa pendek berdesakan di dadanya. Ia bukan taku pada setan atau hantu penunggu gunung, ia takut pada dirinya sendiri, yang tak bisa menahan nafsu. Ia sadar betul batasan itu. Sadar akan risiko yang ia ambil.

Namun ketika angin mendadak berubah ganas,

Hujan turun.

Bukan rintik.

Melainkan badai.

Tenda bergetar. Suhu turun drastis. Anisa tampak menggigil. Bahunya bergetar tak terkendali, napasnya tersengal kecil.

Gus Hafiz menoleh. Wajah Anisa pucat, bibirnya kebiruan.

“Anisa…” panggilnya pelan.

"Eeem... dingin Gus... kayaknya aku mau mati." ocehnya.

Membuat Gus Hafiz makin khawatir.

Itu rasakan yang keluar dari bibir Anisa. Anisa setengah sadar, tubuhnya kaku oleh dingin.

Gus Hafiz menelan ludah.

Tangannya terangkat, lalu berhenti di udara, ragu. Tapi hujan tak memberi waktu untuk memikirkan tentang moral.

Dengan hati-hati, ia menarik Anisa mendekat. Bukan pelukan penuh. Bukan pelukan yang menuntut.

Hanya perlindungan.

Lengannya melingkar, jaketnya menutup tubuh Anisa, kepalanya ia sandarkan di dadanya. Ia menahan diri sekuat tenaga, memejamkan mata sambil terus berzikir lirih.

“Ya Allah… jaga niat hamba…”

Hujan semakin deras.

Dan lelah akhirnya menang.

Tanpa sadar, Gus Hafiz ikut terlelap.

Subuh datang dengan kegaduhan kecil.

Ustadzah Sarah mondar-mandir, wajahnya cemas.

“Anisa ke mana?”

Nama itu dipanggil. Tak ada jawaban.

Ustadz Maulana mendekati tenda Gus Hafiz. Mengetuk pelan. Ingin meminta bantuan mencari Anisa.

“Gus Hafiz?”

Sunyi.

Hatinya tak enak. Ustadz Maulana menarik resleting tenda milik Gus Hafiz perlahan.

Ustadz Maulana terdiam kaku, lalu kembali menutup resleting tenda itu dengan cepat.

Ustadz Maulana masih berdiri di depan tenda Gus Hafiz, saat Ustadzah Sarah mendekat ke tenda Gus Hafiz.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Zizi Pedi: makasi kk🥰
total 1 replies
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!