Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, bahkan saat orang tua pemuda itu tidak setuju, mampukah mereka bersatu memperjuangkan cinta mereka. baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpisah
Dewa menatap Ana tidak Rela, gadis itu tersenyum tidak perduli.
"Kalau sudah sampai kabari." ucap Dewa dengan nada lemas.
"Ngapain ngabari, emang siapa mas Dewa, lagian kontrak kita sudah selesai ya." balas Ana santai.
"Enak saja, masih empat tahun, bedanya hanya gak tinggal dirumah, kamu kan pacarku, harus ngabari, kalau gak aku datangi kerumah." jawab Dewa penuh keyakinan.
"Emang berani, kita gak serius pacarannya mas, gak usah lebay, kalau gak mau diceburkan ke kolam aku juga ogah jadi pacar mas Dewa." ucap Ana mengingat kan.
"Siapa bilang gak serius, kamu kan sudah Nerima, gak perduli lah, berarti ya tetap kamu pacar aku, jangan lama pulangnya, nanti aku cariin kost, jadi kamu datang tinggal nempatin." ucap Dewa menepuk kepala Ana pelan, membuat Ana terpaku.
"Astaga, sudah berasa jadi bocah aku, pake ditepuk segala kepala aku, nih juga kepala yang ditepuk kok dada ku yang dah dig dug." gumam Ana pelan.
"Iya bawel ah, sudah sana pulang, nanti momi mas Dewa tantrum, makan beling gimana." ucap Ana galak. Dewa terkekeh.
"Gak lah, nunggu kamu pergi dulu, baru aku balik, kemana sopirnya, kenapa lama?" tanya Dewa celingukan.
"Nungguin satu penumpang, belum datang katanya, sebentar lagi, makanya mas Dewa pulang aja." balas Ana.
"Ngusir Mulu, mau selingkuh loe, " ucap Dewa kesal, karena Ana tidak peka, tidak tahu apa kalau Dewa itu masih tidak rela ditinggal, entahlah, baru kali ini Dewa merasa begitu.
"Ngambekan," terlihat sopir datang bersama seorang ibu-ibu.
"Pak, antar pacar saya sampai depan rumah, takut hilang nanti, jangan sampai lecet." peringat Dewa memberikan beberapa lembar uang warna merah, Ana melongo mendengarnya.
"Siap, tapi ini ongkosnya kebanyakan," ucap sang sopir.
"Tidak papa buat bapak," ucap Dewa, membuat Ana cemberut, bapak itu mengucap kan terimakasih berulang-ulang.
"Dah naik," Dewa kembali mengusap kepala Ana lembut, sungguh ia tidak rela Ana pergi, Ana hanya mengangguk patuh, tidak bisa berkata-kata mendapat perlakuan manis dari Dewa. Mata sendu itu menatap mobil sejuta umat itu pergi dari hadapannya, seketika ada yang juga ikut hilang dari dirinya, Dewa menghela nafas.
"Astaga, kok jadi murahan sekali hati ini, bajingan bener dah kok agak aneh gini, jadi pengen ikut, astaga, gue susuli aja apa ya, hadeh." gumam Dewa sembari masuk kedalam mobilnya, mobil itu terus meluncur mengarah kerumah Aldo, Dewa mendengus kesal ternyata disana juga sudah ada dua curut lainnya.
"Pak ketua, wajahnya butek amat, lagi gak punya duit atau lagi ditinggal cem-ceman nya nih" goda Aldo yang selalu usil, Dewa tidak menyahut dan langsung duduk menyandarkan punggungnya disofa.
"Nyokap datang." jawab Dewa singkat.
"Hah..!" kompak mereka kaget, Dewa hanya melirik malas.
"Trus, botol Yakult gimana?," tanya mereka juga kompakan.
"Ya diusir lah," jawab Dewa kembali.
"Hah!" lagi-lagi mereka kompak.
"Astaga, bisa gak kalian gak kompakan." ucap Dewa kesal telinganya sampai pengang mendengar suara teman-temannya.
"Kasian pasti ia takut, nyokap loe kan galak." ucap Aldi dengan wajah melas.
"HoOh, terus gimana?" tanya Aldo ingin tahu, pasti seru kan pertemuan antara nyokap nya Dewa dan Ana, seperti di sinetron ikan terbang, orang kaya menindas orang miskin. Itu lah yang ada dipikiran Aldo.
"Kayak gak tahu si pendek aja, mana bisa ia ditindas, mukanya aja biasa aja walau nyokap mengusir, kek nya malah senang, emang hari ini waktunya tuh bocah pulang, gue habis ngantar naik travel, tau gak nyokap malah tekor tiga milyar." ucap Dewa santai tanpa beban.
"Hah!!.." teriak mereka kembali serempak, reflek Dewa menggeplak kepala Aldo yang berada didekatnya.
"Asyu..!, sakit bego," teriak Aldo mengusap belakang kepalanya.
"Lagian kalau gak teriak kenapa sih kalian, sakit telinga gue, bisa budeg lama-lama disini." gantian Dewa ngegas ngomongnya.
"Itu, maksudnya apa tekor tiga milyar," tanya Cristian langsung.
"Momi aja kebawa emosi ngusir Ana, pake nawari tiga milyar, orang bocahnya anteng aja, gak ngomong apa-apa."
"Trus.." sela Aldo sebelum Dewa selesai ngomong.
"Ya di iya in lah, kayak gak tahu ikan buntal saja, ia kan selalu pinter kalau masalah membalik omongan, jadi malah gue kompori lah, Mayan buat modal kawin lari ma tuh bocah kalau momi gak setuju aku nikah ma Ana." ucap Dewa keceplosan.
"Apa?!, jadi kalian pacaran." teriak Aldo reflek berdiri dari duduknya.
"Beneran loe dah jadian sama botol Yakult, gila loe jadi selama ini loe bohongi kita, udah naruh tuh bocah dirumah loe, loe embat pula." sela Cristian kesal.
"Gila loe Wa, pasti loe paksa, gak yakin gue tuh bocah mau jadi pacar loe kalau gak loe paksa." tuduh Aldi.
"Emang gue sejelek itu, sampai Ana nolak." jawab Dewa membela diri.
"Wajah loe emang gak jelek, kelakuan loe yang gak masuk kriteria seorang Kirana yang ajaib itu." jawab Cristian.
"Ya emang, gue paksa, mau gue ceburin kedalam kolam kalau gak mau jadi pacar gue, gak taunya ternyata ia gak bisa berenang, dan trauma sama kolam renang jadi mau terima gue." jawab Dewa jujur.
"Anjir nih bocah kelakuan kek dajal, mana ada ngajak pacaran kek gitu, gak berkelas dan gak modal kayak orang kere aja." sahut Aldo gemas.
"Ya karena kalau gak kayak gitu mana mau tuh botol Yakult sama Dewa, bego loe." celetuk Aldi.
"Jadi, kalian beneran pacaran, maksud gue yang beneran, serius, gak main-main, kan loe baru putus sama Oliv, cinta gak loe sama Ana maksudnya." tanya Cristian yang masih penasaran. Dewa mengangkat bahunya.
"Entahlah, yang jelas, sekarang gue merasa kehilangan." jawab Dewa lesu. Ketiganya saling pandang.
"Kayaknya pepatah Jawa jaman dulu memang benar. Witeng tresno jalaran Soko kulino.(cinta datang karena terbiasa), nah teman kita ini kayaknya gitu, karena terbiasa sering bersama tuh botol Yakult." ucap Aldo sok bijak.
"Kaya tuh botol Yakult, tiga milyar Cok, bisa kelar kuliah S2." sahut Aldi.
"Rezeki, tuh bocah, karena dibegoin ma Dewa itu mah, hahaha.." ejek Aldo tergelak.
"Bener loe, sekarang Dewa juga kena karmanya, jatuh cinta sama tuh bocah, salah sasaran kek ya cinta nya, dulu bilang gak mau sama cewek pendek." ledek Aldi semakin ngakak.
"Iya betul, Dewa pernah bilang gitu, mau nya yang tinggi bak model, biar seimbang, lha sekarang malah dapat bogel." sela Cristian yang langsung dapat hantaman bantal sofa dari Dewa, mereka semakin tergelak, dan terus mengolok olok Dewa, sedangkan Dewa hanya pasrah, mau bagaimana lagi, mana bisa menang satu lawan tiga, tahu gitu ia tidak akan bercerita, tapi mau bagaimana lagi walau pun somplak, mereka lah temannya, saat susah mau pun senang.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰