NovelToon NovelToon
REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Merawat Iblis Manja

​Dinding putih rumah sakit VIP Mahendra Medical Center saksinya. Setelah drama baku tembak dan aksi heroik di bawah guyuran hujan, Devan Mahendra—sang penguasa bisnis yang biasanya tampak seperti patung marmer tak terkalahkan—kini terbaring dengan bahu diperban.

​Namun, bukan luka tembaknya yang membuat suasana tegang, melainkan bibir pria itu yang mengerucut sekitar dua sentimeter sejak pagi tadi.

​"Aku tidak mau makan itu," gumam Devan sambil memalingkan muka dari sendok bubur yang disodorkan Clarissa.

​Clarissa menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya yang sudah setipis kulit bawang. "Devan, ini bubur organik premium. Kau baru saja kehilangan banyak darah, bukan kehilangan akal sehat. Buka mulutmu!"

​"Rasanya seperti kertas basah," keluh Devan. Ia melirik Clarissa dengan tatapan memelas yang dibuat-buat. "Kalau kau yang memasaknya, mungkin aku akan makan. Atau setidaknya, suapi aku dengan... cara yang lebih manis?"

​Clarissa mendengus keras, meletakkan mangkuk bubur itu dengan denting nyaring ke meja samping tempat tidur. "Cara yang manis? Kau mau aku menyuapimu sambil menari balet? Dengar ya, Tuan Mahendra yang Terhormat, aku menyelamatkan nyawamu semalam bukan agar kau bisa bertingkah seperti bayi besar di sini!"

​Devan tiba-tiba meraih pergelangan tangan Clarissa. Meskipun tubuhnya masih lemah, genggamannya tetap terasa posesif. Ia menarik Clarissa hingga gadis itu terpaksa membungkuk di atas ranjangnya.

​"Kau menyelamatkanku karena kau mencintaiku, kan?" bisik Devan, suaranya kembali rendah dan menggoda, membuat bulu kuduk Clarissa berdiri. "Ngaku saja, Ratu Naga. Kau hampir menangis darah saat melihatku tertembak."

​Wajah Clarissa memerah seketika. "Itu... itu karena aku tidak mau dituduh sebagai tersangka pembunuhan CEO! Jangan kegeeran!"

​"Oh, benarkah?" Devan menyeringai nakal. "Tapi detak jantungmu yang terdeteksi di gelang GPS-ku tadi malam bilang kalau kau sangat... sangat panik karena takut kehilangan calon suamimu."

​"Kau—! Kau masih sempat-sempatnya mengecek GPS dalam kondisi sekarat?!" Clarissa ingin sekali mencubit luka di bahu Devan, tapi tentu saja ia tidak sekejam itu.

​Tiba-tiba, pintu kamar rawat terbuka tanpa diketuk. Sekretaris pribadi Devan masuk dengan wajah panik, membawa tumpukan tablet dan dokumen.

​"Tuan Devan! Gawat! Dewan komisaris sedang berkumpul di ruang rapat lantai satu! Mereka mendengar kabar bahwa Anda terluka parah dan berniat melakukan pemungutan suara untuk melengserkan Anda dari jabatan CEO siang ini juga!"

​Devan menghela napas, aura manjanya menghilang dalam sekejap, digantikan oleh aura dingin yang mematikan. Ia mencoba duduk tegak, namun luka di bahunya membuatnya meringis kecil.

​"Mereka benar-benar burung bangkai," desis Devan. "Siapkan kursi roda. Aku akan turun ke sana."

​"Jangan gila!" Clarissa menahan bahu Devan. "Kau baru saja keluar dari ruang operasi beberapa jam yang lalu. Jahitanmu bisa lepas!"

​"Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil Mahendra Group, Clarissa. Itu satu-satunya kekuatanku untuk melindungimu dan ibumu," ucap Devan serius.

​Clarissa menatap Devan sejenak, lalu ia tersenyum licik—senyuman khas Clarissa Wijaya yang membuat siapa pun yang melihatnya harus waspada.

​"Kau tetap di sini, Devan. Biarkan aku yang turun."

​Devan mengerutkan kening. "Kau? Mereka bahkan tidak tahu kau siapa selain 'Lestari si pelayan'. Mereka akan menertawakanmu."

​Clarissa merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu ia mengambil jas hitam milik Devan yang tergantung di lemari, menyampirkannya di bahunya sendiri. "Mereka mungkin tidak kenal Lestari. Tapi mereka akan segera berkenalan dengan calon Nyonya Mahendra yang baru saja menghancurkan jaringan keuangan Naga Hitam dalam satu malam."

​Clarissa menoleh ke sekretaris Devan. "Siapkan mikrofon dan sambungkan kamera ruang rapat ke layar televisi di kamar ini. Aku ingin Tuanmu menonton pertunjukan dari ranjangnya."

​Ruang rapat dewan komisaris Mahendra Group dipenuhi oleh pria-pria tua berjas mahal yang sedang berdebat panas.

​"Devan terlalu tidak stabil! Dia membawa wanita tidak jelas masuk ke urusan perusahaan dan sekarang dia tertembak dalam insiden yang memalukan!" teriak salah satu komisaris paling senior, Pak Broto.

​"Setuju! Kita butuh pemimpin yang waras, bukan pria yang mabuk asmara dengan seorang pelayan!" tambah yang lain.

​BRAAK!

​Pintu ruang rapat terbuka lebar. Clarissa melangkah masuk dengan gaya angkuh yang luar biasa. Sepatu hak tingginya berbunyi tuk, tuk, tuk di atas lantai marmer, menciptakan irama yang mengintimidasi.

​"Maaf saya terlambat, Bapak-bapak yang Terhormat. Saya dengar sedang ada pesta burung bangkai di sini?" ucap Clarissa sambil berjalan santai menuju kursi utama di ujung meja.

​Pak Broto berdiri dengan wajah merah padam. "Siapa kau?! Beraninya seorang pelayan masuk ke ruang suci ini! Penjaga! Usir dia!"

​Clarissa tidak bergeming. Ia menarik kursi utama, duduk di sana dengan kaki menyilang, dan menatap Pak Broto dengan pandangan menghina. "Duduklah, Pak Broto. Atau saya harus membacakan laporan penggelapan dana proyek pelabuhan di Surabaya yang Anda lakukan tiga tahun lalu? Saya punya salinan aslinya di sini."

​Suasana ruangan seketika hening. Pak Broto perlahan duduk kembali, keringat dingin mulai membasahi dahinya.

​"Nama saya adalah Lestari, tunangan resmi Devan Mahendra. Dan mulai hari ini, saya memegang mandat penuh dari CEO untuk menangani segala urusan operasional selama masa pemulihannya," Clarissa melempar sebuah dokumen bermaterai ke tengah meja—dokumen yang sebenarnya ia buat sendiri dengan memalsukan tanda tangan Devan (keahlian lamanya).

​"Mandat? Kami tidak bisa menerima ini! Kau tidak punya kualifikasi!" seru komisaris lain.

​Clarissa menyeringai. Ia membuka tabletnya dan memproyeksikan data ke layar besar di depan ruangan. "Dalam 24 jam terakhir, saat kalian sibuk bergosip, saya telah memulihkan 90% likuiditas Mahendra Group yang sempat dibekukan oleh Naga Hitam. Saya juga telah mengamankan kontrak baru dengan perusahaan logistik Jerman yang selama ini kalian incar tapi gagal kalian dapatkan."

​Clarissa berdiri, mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "Jadi, pilihannya sederhana. Kalian mendukung saya dan Devan, atau saya akan merilis data busuk kalian satu per satu ke pihak berwajib sore ini juga. Bagaimana?"

​Para komisaris itu saling pandang. Mereka melihat aura penguasa yang begitu kuat dari gadis yang tadinya mereka remehkan. Tidak ada lagi jejak pelayan di sana. Di depan mereka berdiri seorang pemangsa.

​"Kami... kami setuju untuk menunda pemungutan suara," gumam Pak Broto pasrah.

​Di kamar rumah sakit, Devan menonton seluruh kejadian itu melalui layar televisi. Ia tertawa pelan, matanya berbinar bangga. "Wanita itu... benar-benar iblis cantik."

​Tak lama kemudian, Clarissa kembali ke kamar dengan wajah kemenangan. Ia melempar jas Devan ke kursi dan kembali mengambil mangkuk bubur.

​"Nah, sudah selesai. Sekarang, buka mulutmu dan makan bubur ini sebelum aku berubah pikiran dan memecatmu dari perusahanmu sendiri," ancam Clarissa dengan nada bercanda.

​Devan tersenyum manis—kali ini senyum tulus yang sangat tampan. Ia membuka mulutnya dan menerima suapan bubur dari Clarissa. "Kau sangat seksi saat mengancam orang-orang tua itu, Sayang."

​"Diam dan kunyah!" balas Clarissa, meski sudut bibirnya tak tahan untuk ikut tersenyum.

​Namun, di tengah kemesraan itu, Devan menarik tangan Clarissa dan mencium telapak tangannya. "Terima kasih, Clarissa. Bukan hanya untuk perusahaan, tapi karena kau sudah kembali ke sisiku."

​Clarissa tertegun. Ia menatap mata Devan yang dalam. "Jangan pikir ini gratis, Devan. Kau berutang penjelasan padaku tentang semua rahasia yang masih kau simpan. Termasuk siapa sebenarnya pria bermuka terbakar itu bagimu."

​Wajah Devan sedikit berubah, namun ia mengangguk. "Setelah aku sembuh, aku akan menceritakan segalanya. Termasuk rahasia tentang kenapa ayahmu memilihku untuk menjagamu."

​Di luar jendela, sesosok bayangan berpakaian hitam terlihat memantau dari gedung seberang menggunakan sensor termal. Ia berbicara ke arah radio panggilnya.

​"Target utama masih hidup. Sang Ratu telah mengambil alih kendali. Mulai Fase Pembersihan sekarang."

1
Mommy Ayu
sepertinya insting Devan lebih tajam dari pada mantan suami Clarissa
Mommy Ayu
aku mampir Thor ..
Leebit
hehe.. nggak apa-apa.. makasih ya udah berkunjung ke novel ku, masih juga untuk komentarnya😁
shabiru Al
apa anak kecil yang dcoret itu adalah pria dengan wajah yang terbakar ? bara... adik dari clarissa... ? benar2 membingungkan,, dan organisasi naga hitam,, apa sebelumnya lestari membuat perjanjian ya...
shabiru Al
hadeuh perebutan harta dan kekuasaan yang bikin pusing
shabiru Al
dan laki2 misterius itu adalah anak yang wajahnya dcoret dala foto lama,, ya kaan
shabiru Al
ceritanya bagus,, sayang belum bisa ngasih poin,, ntar ya thor besok ta kasih vote
shabiru Al
nah ini baru ceweknya badas gak menye menye gak selalu berlindung d bawah ketiak laki2
Leebit
Makasih.. jangan hanya mampir, singgah juga boleh, hehe😁😊
shabiru Al
mampir ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!