NovelToon NovelToon
REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Mode Iblis sang Penguasa Mahendra

​Asap tebal mengepul dari aula utama Istana Schönbrunn. Suara teriakan para tamu undangan yang panik bercampur dengan dentuman tembakan yang memecah kesunyian malam di Wina. Di tengah kekacauan itu, Devan Mahendra berdiri tegak seperti iblis yang merangkak keluar dari neraka.

​Topeng elang yang ia kenakan sudah terbelah dua, memperlihatkan sorot mata hitam yang kini berkilat merah karena murka. Di tangannya, sebuah pistol masih mengeluarkan asap kecil.

​"Di mana dia?" suara Devan terdengar rendah, namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

​Dua pengawal Keluarga Grey yang mencoba menghadangnya tergeletak di lantai dengan kaki patah. Devan tidak membunuh mereka—ia ingin mereka tetap hidup untuk merasakan siksaan jika tidak memberikan jawaban.

​"T-Tuan... kami tidak tahu! Lorong rahasia itu hanya bisa diakses oleh Baron dan orang kepercayaannya!" rintih salah satu pengawal.

​Devan mencengkeram kerah baju pria itu dan mengangkatnya dengan satu tangan. "Jika dalam tiga detik kau tidak memberitahuku ke mana lorong itu bermuara, aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi. Satu... dua..."

​"Ke hutan belakang! Hutan di balik labirin!" teriak pengawal itu ketakutan.

​Devan menghempaskan pria itu ke lantai dan berlari menembus kobaran api yang mulai menjalar di tirai-tirai beludru istana. Pikirannya hanya dipenuhi satu nama: Clarissa.

​Jika terjadi sesuatu padamu, aku akan meratakan seluruh Eropa ini dengan tanganku sendiri, Clarissa! batin Devan geram.

​Sementara itu, Clarissa mengerang saat kesadarannya perlahan kembali. Kepalanya terasa sangat berat, dan rasa pahit dari cairan obat bius masih tertinggal di pangkal lidahnya. Saat matanya terbuka, ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di istana.

​Ia berada di dalam sebuah kabin pesawat jet pribadi yang sedang melaju kencang di atas landasan pacu yang gelap. Tangannya terikat oleh borgol magnetik ke kursi pesawat.

​"Kau sudah bangun, keponakanku tersayang?"

​Suara itu membuat bulu kuduk Clarissa berdiri. Ia menoleh dan melihat seorang pria tua duduk di kursi seberangnya, menyesap segelas wine merah dengan tenang. Wajahnya tampak sedikit lebih tua dari ingatan Clarissa, dengan beberapa kerutan tambahan, namun matanya tetap sama—mata yang dulu sering menatapnya dengan penuh kasih sayang palsu.

​"Paman... Handoko," desis Clarissa. Suaranya serak. "Jadi benar... kau masih hidup."

​Handoko Wijaya tersenyum, sebuah senyuman yang kini terlihat begitu mengerikan di mata Clarissa. "Mati dalam kecelakaan pesawat itu membosankan, Clarissa. Menjadi hantu jauh lebih menyenangkan. Aku bisa membangun kembali Naga Hitam tanpa gangguan dari ayahmu yang terlalu lemah dan moralis itu."

​"Kau membunuh ayahku? Kau membunuh saudaramu sendiri?!" Clarissa meronta, namun borgol magnetik itu justru mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuatnya tersentak kembali ke kursi.

​"Jangan kasar begitu. Ayahmu tidak mati karena aku. Dia mati karena kebodohannya sendiri yang percaya bahwa dunia bisnis bisa dijalankan dengan tangan bersih," Handoko berdiri, mendekati Clarissa dan mengusap rambut gadis itu. "Dan kau... kau adalah karya terindah dari proyek yang ayahmu mulai. Memindahkan jiwa ke tubuh yang lebih muda dan lincah? Itu adalah kunci untuk keabadian kekuasaan Wijaya."

​"Aku bukan karyamu! Aku adalah manusia!" teriak Clarissa.

​"Kau adalah kunci, Clarissa. Di dalam nadimu, ada kode akses ke brankas global Wijaya yang hanya bisa dibuka dengan sinkronisasi biometrik antara kau dan aku. Tanpa kau, aku hanya hantu dengan harta yang terkunci. Tapi denganmu... kita akan menguasai dunia."

​Pesawat mulai lepas landas, menanjak membelah langit malam Austria. Clarissa menatap keluar jendela dengan putus asa. Di bawah sana, ia melihat kilatan lampu sirine polisi dan api yang membara di istana.

​Devan... tolong aku...

​Di landasan pacu yang tersembunyi di pinggiran Wina, sebuah helikopter tempur Mahendra Group mendarat dengan kasar. Devan melompat keluar bahkan sebelum baling-balingnya berhenti berputar.

​"Tuan! Pesawat jet pribadi milik perusahaan cangkang Naga Hitam baru saja lepas landas! Tujuan mereka adalah pangkalan udara rahasia di Pegunungan Alpen!" lapor sekretarisnya melalui headset.

​"Siapkan unit pengejar! Aktifkan rudal pengunci jika perlu!" perintah Devan.

​"Tapi Tuan, Nona Clarissa ada di dalam pesawat itu! Jika kita menembaknya—"

​"Aku tidak menyuruhmu meledakkannya, bodoh! Tembak sayap kirinya atau paksa mereka mendarat!" Devan masuk ke kursi pilot helikopter. "Aku sendiri yang akan mengejar mereka."

​Helikopter itu melesat ke langit, mengejar jet pribadi yang sudah terlihat seperti titik kecil di kejauhan. Devan memacu mesin helikopternya hingga batas maksimal. Matanya terkunci pada radar.

​"Clarissa, bertahanlah. Aku datang," gumam Devan.

​Di dalam pesawat, Clarissa menyadari bahwa Paman Handoko sedang lengah saat pesawat mengalami turbulensi hebat akibat pengejaran di belakang.

​"Apa yang terjadi?!" teriak Handoko pada pilot.

​"Tuan! Ada helikopter Mahendra yang mengejar kita! Mereka mencoba melakukan manuver bunuh diri untuk menghalangi jalur terbang kita!"

​Clarissa melihat kesempatan. Meskipun tangannya terborgol, kakinya bebas. Ia ingat teknik yang diajarkan Devan. Saat pesawat berguncang lagi, Clarissa menendang meja kecil di depannya hingga botol wine pecah dan pecahannya meluncur ke arahnya.

​Dengan gerakan akrobatik yang menyakitkan, ia menjepit potongan kaca itu dengan jari kakinya, lalu membawanya ke tangannya. Ia mulai menggesekkan kaca itu ke kabel kecil yang menghubungkan borgol magnetiknya.

​Sedikit lagi... ayolah, Lestari, pinjamkan aku kekuatanmu!

​BZZZT!

​Kabel itu terputus, menciptakan percikan api. Borgolnya terlepas.

​Tepat saat itu, pintu kokpit pesawat terbuka dan Bram masuk dengan wajah pucat. "Tuan! Devan Mahendra sudah berada tepat di atas kita! Dia mencoba melakukan rappelling ke pintu darurat!"

​"Apa?! Dia gila?!" Handoko berdiri panik.

​BRAAK!

​Suara benturan keras terdengar di atap pesawat. Clarissa tahu itu dia. Pria gila yang selalu muncul di saat paling mustahil.

​"Paman," Clarissa berdiri, menodongkan pecahan kaca ke arah Handoko. "Permainan hantumu sudah berakhir."

​"Kau... kau berani melawanku?" Handoko mencoba meraih pistolnya, namun sebuah ledakan kecil terjadi di pintu darurat pesawat.

​Pintu itu terlepas, tertiup oleh tekanan udara yang luar biasa. Di tengah pusaran angin yang kencang, sesosok pria dengan tali pengaman muncul. Devan Mahendra melompat masuk ke dalam kabin pesawat, rambutnya berantakan, dan wajahnya dipenuhi luka gores.

​Ia melepaskan tembakan ke arah pengawal Handoko sebelum mereka sempat beraksi.

​"Lepaskan dia, atau aku akan membuat pesawat ini menjadi kuburanmu, Handoko!" teriak Devan di tengah deru angin yang memekik.

​Handoko menarik Clarissa dan menjadikannya tameng, menodongkan pistol ke pelipis gadis itu. "Mundur, Mahendra! Atau kepalanya akan hancur sebelum kau sempat menyentuhnya!"

​Devan berhenti melangkah. Jantungnya terasa seperti berhenti berdetak melihat Clarissa terancam. "Jangan... jangan sakiti dia."

​Clarissa menatap Devan. Di tengah badai angin itu, ia melihat cinta, kemarahan, dan ketakutan yang murni di mata Devan. Ia tersenyum tipis.

​"Devan! Jangan khawatirkan aku! Tembak saja!" teriak Clarissa.

​"Diam kau!" Handoko mempererat cekikannya.

​Namun, Handoko lupa satu hal. Clarissa bukan lagi hanya seorang CEO yang pintar bicara. Ia adalah seorang petarung yang sudah dilatih oleh Devan sendiri.

​Clarissa menyikut rusuk Handoko dengan kekuatan penuh, lalu menginjak kaki pria tua itu. Saat Handoko merintih, Clarissa memutar tubuhnya dan memberikan tendangan memutar tepat ke wajah pamannya.

​BUGH!

​Handoko tersungkur. Devan tidak membuang waktu. Ia menerjang maju dan melepaskan sebuah pukulan telak ke rahang Handoko hingga pria itu pingsan seketika.

​Devan segera menarik Clarissa ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seolah takut gadis itu akan menguap menjadi asap.

​"Kau bodoh! Kau hampir mati!" umpat Devan di tengah tangisnya yang tertahan.

​Clarissa tertawa di dalam pelukan Devan, meskipun tubuhnya gemetar karena adrenalin. "Aku tahu kau pasti datang. Lagipula, aku belum sempat membalas dendam soal 'mandi air hangat' itu, kan?"

​Devan melepaskan pelukannya, menatap Clarissa dengan pandangan yang dalam dan penuh damba. Di tengah pesawat yang sedang oleng dan badai angin, ia mencium bibir Clarissa dengan rasa posesif yang tidak tertahankan.

​"Aku mencintaimu, Clarissa. Jangan pernah tinggalkan aku lagi," bisik Devan.

​"Aku juga mencintaimu, Iblis Posesif," balas Clarissa.

​Namun, pesawat semakin kehilangan ketinggian. "Tuan! Kita harus keluar sekarang! Pesawat akan jatuh ke lereng Alpen!" teriak pilot Mahendra yang sudah mengambil alih kokpit.

​Devan menyambar satu parasut yang tersisa. Ia melingkarkan lengannya ke pinggang Clarissa, mengunci mereka berdua dalam satu sabuk pengaman.

​"Kau siap untuk kencan ekstrem kedua, Ratu?" tanya Devan dengan seringai nakalnya.

​Clarissa merangkul leher Devan erat. "Selama bersamamu, bawa aku ke neraka sekalipun aku siap."

​Mereka melompat keluar dari pesawat, terjun bebas ke dalam kegelapan malam Alpen, tepat sebelum pesawat jet itu meledak di puncak gunung, menciptakan kembang api raksasa yang menandai berakhirnya masa lalu yang kelam.

1
Mommy Ayu
masak iya secepat itu bakal terungkap siapa lestari sebenarnya
Mommy Ayu
sepertinya insting Devan lebih tajam dari pada mantan suami Clarissa
Mommy Ayu
aku mampir Thor ..
Leebit
hehe.. nggak apa-apa.. makasih ya udah berkunjung ke novel ku, masih juga untuk komentarnya😁
shabiru Al
apa anak kecil yang dcoret itu adalah pria dengan wajah yang terbakar ? bara... adik dari clarissa... ? benar2 membingungkan,, dan organisasi naga hitam,, apa sebelumnya lestari membuat perjanjian ya...
shabiru Al
hadeuh perebutan harta dan kekuasaan yang bikin pusing
shabiru Al
dan laki2 misterius itu adalah anak yang wajahnya dcoret dala foto lama,, ya kaan
shabiru Al
ceritanya bagus,, sayang belum bisa ngasih poin,, ntar ya thor besok ta kasih vote
shabiru Al
nah ini baru ceweknya badas gak menye menye gak selalu berlindung d bawah ketiak laki2
Leebit
Makasih.. jangan hanya mampir, singgah juga boleh, hehe😁😊
shabiru Al
mampir ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!