Masih di atas gunung, Aya membuang bekas pembalutnya sembarangan ke semak-semak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TuanZx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14; Kegelapan Ciramai
Dateng beberapa pendaki yang nyamperin mereka.
Ternyata, pendaki-pendaki itu, pengen minjem kompor. Soalnya, kompor mereka rusak.
Yaudahlah, Ari pinjemin tuh kompor.
Sedangkan Aya, dia keasyikan rebahan, sampe ketiduran.
Gak lama kemudian, setelah makanan udah siap. Aya di bangunin sama Ari, buat makan dulu.
Setelah makan, Aya kenalan sama para pendaki yang tadi minjem kompor.
Sehabis itu, dia balik tidur lagi.
Dan di balik tidurnya, Aya mimpi.
Kemudian menurut pengakuannya, dia mimpi kayak lagi di dalem hutan. Dan di sekelilingnya itu, kabut tebal. Lalu, dari dalam kabut itu, keluar tangan.
Tangan itu keriput, kasar, terus megang pipinya Aya. Katanya, lebih ke ngelus pipinya gitu.
Aya coba buat teriak. Tapi gak bisa, dan tiba-tiba tangan yang lagi megang pipinya itu, nyekek lehernya. Dan ngelempar dia ke bawah, ke bawah jurang.
Rupanya, Aya itu lagi ada di pinggir jurang.
Ari yang ngeliat Aya tidur sambil teriak-teriak gitu, langsung berusaha buat ngebangunin dia.
Dan pada akhirnya, Aya bangun juga dan langsung dia kasih air minum.
Pendaki-pendaki yang tadi minjem kompor pun bingung, penasaran mereka.
Kenapa si Aya ini? Kesurupan apa gimana?
Aya di situ bilang, "Cuma mimpi mas,"
Kemudian setelah udah agak sadar, Aya nanya ke Ari, "Gua tidur lumayan lama ya?”
"Lama banget, bukan lumayan lama." kata Ari. "Mana nyenyak banget, sampe gak tega gua banguninnya. Ayo siap-siap."
"Siap-siap apa?”
"Ya turun... Udah sore ini sayang."
Salah satu dari pendaki-pendaki itu, nyaranin Ari buat, besok aja turunnya, udah sore.
Tapi Ari bilang gak bisa, karna mesti kejar bus dan besok udah mesti kerja lagi.
Yaudah mau gimana lagi? Pendaki-pendaki itu pun cuma bisa ngingetin mereka buat hati-hati. Jangan lupa senter, karna pasti kemaleman.
Terus setelah peralatan makan, peralatan masak udah di beresin dan di masukin ke dalam carrier, Ari sama Aya pun pamit ke pendaki-pendaki itu.
Selama perjalanan turun, Ari nanya ke Aya karna dia ngerasa kalo dirinya jadi lebih banyak diem.
Dan jawabannya, ya seperti yang kita tau, dia diem karena ngerasa lemes yang di sebabkan oleh efek haid yang menurut pengakuannya lebih kerasa sekarang daripada pas naik kemaren.
Kayak perutnya mulai keram dan nyeri, yang sama sekali gak dia rasain pas naik kemaren.
Karna gak kuat, Aya langsung duduk di tengah-tengah jalur.
Baru duduk sebentar, langsung di suruh geser sama Ari.
Karna, ada pendaki yang mau naik.
Gak lama kemudian, ada lagi pendaki-pendaki yang mau naik.
Dan di situ, Aya marah-marah. Dia bilang, "Udah nih? Gak ada yang mau naik lagi? Baru juga mau gerak, udah harus ngalah. Enak kayaknya kalo gak ada yang naik lagi. Langsung turun, gak ada yang ganggu."
"Ayo jalan... Keburu nanti ada yang mau naik lagi."
Semakin ke bawah, jalur yang mereka lalui pun semakin sulit.
Lorong-lorong sempit, pohon tumbang, tanah berbatu, dan di situ Aya ngomel-ngomel lagi. "Siapa yang bikin jalur ini ya? Gak ngotak banget milih jalur."
"Bukan orang yang bikin ini jalur, Ya."
"Terus?" kata Aya. "Setan?”
"Air," kata Ari. "Ini jalur air, makannya di larang buka tenda di Sangabuana. Karna rawan air bah!"
Sambil lanjut jalan lagi, Aya ngerasa kalo perutnya mulai keram lagi.
Beberapa kali dia terpeleset, karna gak merhatiin pijakan. Dan berkali-kali dia minta berhenti sama Ari, tapi Ari cuma bilang, "Nanti, nanti. Di Batu Linga."
Ketika mereka tiba di pos Batu Linga, hari udah mulai gelap.
Mereka berdua pun langsung istirahat di pos itu. Dan ngebongkar isi carriernya dan mulai masak air buat bikin kopi dan mie instan.
Waktu itu, mereka di kelilingin sama kabut tipis dan juga udah kedengeran serangga-serangga malam.
Di situ, Aya ketiduran lagi, dan nggak lama kemudian, ketika makanan udah jadi, Ari pun ngebangunin buat makan.
Tapi, sebelum makan, ada sesuatu yang pengen di kerjain sama si Aya.
Ngeliat Aya yang mulai jalan menjauh, Ari nanya. "Mau kemana?”
"Ganti popok. (Pembalut)"
Untungnya di pos itu lagi gak ada tenda atau pendaki lain. Jadinya agak gampang nyari tempat buat ganti pembalut.
Tapi, Aya gak berani buat jauh-jauh karena kabutnya udah mulai tebel.
Akhirnya dia mutusin buat ganti pembalut di balik pohon besar.
Dan dari sinilah kesalahan patal pun terjadi.
Pembalut bekas kemaren dan hari ini dia buang ke semak-semak.
Selesai ganti pembalut.
Dia pun balik lagi ke tempatnya Ari buat makan.
Pas lagi makan gitu, Aya ngerasa suasana jadi agak serem, "Apa jangan-jangan gara-gara pembalut kotor tadi?” katanya dalam hati.
Di situ Aya mulai kepikiran buat ngambil pembalut itu lagi terus di kubur. Tapi, karena ngeliat kabut yang semakin tebel, ya nggak jadi.
Terus dia bisa bilang ke Ari, "Gimana Ri... Udah gelap. Ngecamp semalam lagi, atau gimana?"
"Lanjut aja yuk... Biar sekalian capek."
Yaudah lah, Aya nurut aja tuh, dia enggak lagi rewel kayak biasanya.
Dia langsung ngeberesin peralatan makan dan ngeluarin head lamp.
Setelah semua udah beres, mereka pun lanjutin perjalanan turun.
Langkah mereka sekarang, jauh lebih pelan daripada langkah mereka tadi pas masih terang.
Dan ada sesuatu yang aneh.
Suasana, tiba-tiba hening... Banget.
Cuma kedengeran suara napas dan langkah kaki mereka berdua.
Suara-suara serangga malem yang tadi, udah nggak kedengeran lagi. Semenjak mereka ninggalin pos Batu Linga.
Aya sebenernya udah mulai khawatir, tapi dia gak mau ngasih tau Ari.
Dia cuma berharap kalo itu cuma perasaan dia aja.
Selama jalan itu, mereka masih di kelilingi sama kabut.
Aya sempet takut. Takut kalo mereka itu cuma muter-muter aja di tempat.
Dia terus berdo'a dalam hati, berharap semoga bisa papasan sama pendaki lain.
Satu-satunya hal yang bikin Aya agak tenang adalah, suara langkah kaki Ari di belakang.
Gak tau gimana jadinya kan kalo dia mesti ada di situasi itu sendirian.
Aya jalan tuh sambil nunduk. Sambil mikir, "Kok situasinya jadi kayak gini ya?“
Tapi dia juga mikir, "Gak mungkin lah penghuni gunung Ciramai itu marah cuma karena kesalahan gitu doang."
Meskipun sebelumnya dia belum pernah ninggalin sampah apapun di gunung.
Aya terus berusaha buat positif thinking. Tapi pikirannya pun buyar, gara-gara dia nyium sesuatu. Yaitu...
Wangi kembang Kamboja.
masa cuma dari tali pocong bisa kaya...
kalo mau kaya ya usaha, kerja, dagang jangan yang aneh2 dech