ON GOING | UPDATE SETIAP HARI
Hari dimana seharusnya Ayra Rayana bertemu klien pertamanya justru membuat dia terjatuh ke dalam kehidupan klien pertamanya itu. Regana Satya terpaksa menarik Ayra dalam kehidupannya tanpa rencana dan terjadi secara tiba-tiba.
"Bagaimana Pak Rega? Proposal ini apakah sudah sesuai?"
"Sepertinya kamu harus mengganti semuanya" Ucap Rega
"ganti jadi proposal pernikahan sepertinya cocok" Lanjut Rega
"cancel aja pak makasih!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azrinamanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka lama
Sebulan berlalu sejak malam Ayra menandatangani dokumen restrukturisasi itu.
Masalah audit selesai. Klien Lumière Studio resmi mencabut ancaman pemutusan kontrak. Sistem internal Kala Visual Lab mulai tertata ulang. Divisi legal diperkuat. Timeline kini tidak lagi hanya bergantung pada diskusi lisan.
Secara profesional, badai itu sudah lewat. Namun ada satu hal yang belum kembali seperti semula.
Rega masih memegang kendali operasional.
Dan Ayra... tetap di rumah.
Awalnya itu keputusan bersama. Rega ingin memastikan semua sistem stabil tanpa tekanan emosional pada Ayra. Ia bilang,
"Fokus kamu sekarang istirahat dan lihat dari jauh dulu. Jangan masuk ke pusaran sebelum semuanya benar-benar kokoh."
Ayra mengiyakan.
Sebagai founder, ia tetap terlibat dalam keputusan kreatif. Ia masih ikut meeting daring. Masih meninjau konsep. Tapi ia tidak lagi duduk di meja negosiasi. Tidak lagi menjadi tameng pertama.
Hari-harinya berubah.
Pagi ia bangun lebih lambat. Membuat sarapan. Sesekali membuka laptop di ruang makan. Sore menunggu kabar perkembangan dari kantor.
Ia berusaha meyakinkan diri bahwa ini sementara. Namun semakin hari, ada sesuatu yang terasa mengganjal.
...***...
Suatu sore, ketika Rega pulang lebih larut dari biasanya, Ayra menyambutnya dengan senyum tipis.
"Capek?" tanyanya lembut.
"Lumayan. Ada pembahasan tambahan soal distribusi konten campaign," jawab Rega sambil melepas jasnya.
Ayra mengangguk.
Ia ingin bertanya lebih jauh. Ingin masuk ke detail seperti dulu. Tapi entah kenapa, ia merasa seperti tamu dalam perusahaannya sendiri.
"Kamu nggak ikut call tadi?" tanya Rega.
"Nggak. Kamu bilang nggak perlu, kan?"
Rega terdiam sebentar. "Iya... karena sudah teknis."
Teknis.
Dulu, Ayra yang memimpin teknis. Ia tersenyum kecil, tapi dadanya terasa sedikit sesak.
...***...
Beberapa hari kemudian, Ayra memutuskan datang ke kantor tanpa memberi tahu siapa pun.
Ia rindu aroma ruangan kreatif. Rindu suara diskusi tim. Rindu papan moodboard besar yang penuh sketsa.
Begitu pintu lift terbuka di lantai kantor Kala Visual Lab, beberapa staf terlihat terkejut.
"Eh, Kak Ayra!"
Ayra tersenyum hangat. "Kangen nggak?"
Mereka tertawa kecil.
Namun di ruang meeting utama, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Rega sedang duduk berhadapan dengan seorang perempuan.
Perempuan itu berambut panjang lurus, berpakaian formal elegan, dengan ekspresi percaya diri yang tenang.
Ayra mengenal wajah itu.
Nadin.
Nama yang pernah muncul di awal pernikahan mereka. Nama yang sempat membuatnya cemburu, meski Rega sudah menjelaskan bahwa Nadin hanya rekan profesional.
Tapi cara mereka duduk sekarang...
Terlalu akrab untuk sekadar rekan baru.
Rega terlihat terkejut saat menyadari Ayra berdiri di pintu.
"Ayra?"
Nadin menoleh. Matanya sedikit melebar, lalu tersenyum tipis.
"Eh Ayra. Halo kita ketemu lagi!"
Nada itu halus. Sopan. Tapi entah kenapa terasa seperti menyimpan sesuatu.
Ayra melangkah masuk dengan tenang. "Iya. Halo."
Rega berdiri. "Aku mau jelasin-"
"Meeting dulu aja," potong Ayra lembut. "Aku tunggu di ruanganku."
Ruanganku.
Ia sengaja mengucapkannya.
Di dalam ruangan founder yang sudah lama tidak ia duduki, Ayra menutup pintu perlahan.
Tangannya dingin.
Kenapa Nadin ada di sini?
Bukankah Lumière Studio sudah berjalan dengan perusahaan mitra lain yang ditunjuk Rega sebagai pengelola eksternal? Bukankah Rega bilang Nadin bukan bagian dari proyek ini?
Beberapa menit kemudian, pintu diketuk.
Rega masuk.
"Aku bisa jelasin," katanya pelan.
Ayra menatapnya tanpa ekspresi.
"Silahkan."
Rega menarik napas. "Nadin bukan klien."
Ayra terdiam.
Ia sudah menebaknya.
"Dia partner lama aku," lanjut Rega.
"Sebelum aku bangun perusahaan sekarang. Kami pernah kerja bareng... cukup lama."
"Cukup lama?" ulang Ayra pelan.
Rega menunduk sesaat. "Iya."
Keheningan menggantung.
"Kerja bareng aja?" tanya Ayra akhirnya.
Pertanyaan itu tidak tinggi nadanya. Tapi tajam.
Rega menatapnya.
"Dia... masa lalu aku."
Kalimat itu jatuh pelan, tapi terasa seperti batu besar.
Ayra tidak kaget. Yang membuatnya sakit bukan fakta itu. Tapi kenyataan bahwa ia baru tahu sekarang.
"Kenapa aku nggak pernah tahu?" suaranya tetap tenang, meski jantungnya berdebar tak beraturan.
"Aku pikir itu nggak relevan lagi."
"Karena sudah selesai?"
"Iya."
Ayra tertawa kecil, hambar.
"Lucu ya. Kamu bisa transparan soal audit kontrak, tapi nggak soal masa lalu yang masih duduk di meja meeting! dan parahnya di kantor aku ga!!"
Rega mendekat. "Aku nggak ada apa-apa lagi sama dia."
"Tapi pernah ada."
Rega terdiam.
Dan diamnya lebih jujur daripada jawaban apa pun.
Ayra pergi berlalu meninggalkan Rega yang masih terdiam dengan ucapan Ayra tadi.
...***...
Malam itu di rumah, suasana berbeda. Tidak ada teras. Tidak ada buah. Tidak ada tawa ringan. Ayra berdiri di dapur, menatap wastafel kosong.
"Seindah apa?" tanyanya tiba-tiba.
Rega yang duduk di meja makan mengangkat wajah. "Apa?"
"Masa lalu kamu sama dia."
Rega menelan ludah.
"Indah," jawabnya jujur.
Kejujuran itu menyakitkan. Ayra menutup matanya sebentar.
"Kenapa selesai?"
"Karena kami beda arah."
Jawaban sederhana.
"Tapi kalau beda arah aja... bukan karena salah atau sakit... berarti kalau arahnya sama lagi?"
Rega langsung berdiri. "Ayra, jangan gitu."
"Kenapa? Aku cuma lagi belajar percaya, kan?" Suaranya mulai bergetar.
Rega mendekat, mencoba memegang tangannya, tapi Ayra mundur.
"Kamu bilang kamu jagain mimpiku. Tapi kamu nggak jaga perasaanku."
Rega terdiam.
"Aku di rumah satu bulan. Ngerasa kayak kehilangan peran. Dan ternyata kamu kerja bareng perempuan yang pernah jadi bagian paling indah hidupmu."
"Itu dulu," tegas Rega.
"Tapi kamu nggak pernah bilang."
Keheningan lagi. Dan kali ini lebih berat dari audit mana pun.
...***...
Beberapa hari berikutnya, hubungan mereka menegang.
Bukan pertengkaran besar. Tapi jarak kecil yang terasa.
Rega tetap profesional di kantor. Nadin hanya terlibat sebagai konsultan distribusi jaringan lama yang memang dibutuhkan untuk mempercepat campaign Lumière Studio.
Secara bisnis, kehadirannya masuk akal. Secara hati... tidak sesederhana itu.
Suatu sore, Nadin sendiri yang mendatangi Ayra di kantor.
"Aku minta waktu lima menit," katanya tenang.
Ayra menatapnya dingin tapi sopan. "Silahkan."
"Aku tahu kamu nggak nyaman."
Ayra tersenyum tipis. "Wajar."
Nadin mengangguk. "Aku dan Rega pernah punya cerita. Tapi itu benar-benar selesai. Aku yang memilih pergi duluan."
Kalimat itu membuat Ayra mengangkat alis.
"Dan sekarang?" tanya Ayra.
"Sekarang aku cuma profesional."
Ayra menatapnya lama.
"Kamu tahu nggak," katanya pelan,
"yang paling bikin sakit itu bukan masa lalunya. Tapi fakta bahwa aku nggak dikasih kesempatan buat siap."
Nadin terdiam.
"Kalau kamu memang cuma profesional, jaga batasnya."
Nadin mengangguk pelan. "Aku nggak tertarik mengulang yang sudah selesai."
Jawaban yang tegas.
Tapi tetap saja, rasa tidak nyaman tidak hilang begitu saja.
...***...
Malamnya, Ayra duduk di sisi ranjang, memandangi Rega yang sedang membuka laptop.
"Aku capek," katanya pelan.
Rega langsung menutup layar. "Capek apa?"
"Capek jadi kuat terus."
Rega mendekat.
"Aku nggak minta kamu hapus masa lalu. Aku cuma minta dilibatkan."
Rega mengangguk perlahan.
"Maaf aya.... Aku salah." katanya menyesal
Ayra menatapnya.
"Aku pikir dengan nggak cerita, aku justru melindungi kamu dari overthinking."
"Rahasia nggak pernah melindungi," jawab Ayra lirih.
"Itu cuma nunda ledakan."
Rega memeluknya.
"Aku pilih kamu," bisiknya.
Ayra memejamkan mata. Ia tahu itu. Tapi memilih setiap hari... adalah keputusan yang harus terus dibuktikan.
Dan kali ini, ujian mereka bukan soal bisnis. Bukan soal audit. Tapi soal masa lalu yang tiba-tiba muncul di tengah proses mereka belajar percaya.
Ayra tidak tahu bagaimana akhir cerita ini. Tapi satu hal ia tahu pasti. Cinta bukan cuma tentang berbagi kendali perusahaan.
Tapi juga tentang berani membuka luka lama... dan memastikan tidak ada ruang bagi bayangan untuk mengambil tempat yang sudah menjadi miliknya.