NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PESAN MISTERIUS

Hari-hari berikutnya dijalani Deya seperti biasa, ia mulia terbiasa dengan adanya Siska dan sesekali dia juga memergoki mang Dadang yang turut mengawasinya dari kejuahan. Meski ada beberapa moment orang-orang yang pernah menganggunya sempat kembali namun sebelum itu terjadi Siska juga mang Dadang siap pasang badan untuk Deya.

Sedangkan komunikasinya dengan sang suami sudah beberapa minggu ini tak saling berkabar, setiap malam Deya mendoakan agar selamat juga sehat selalu membersamai Rico, namun beberapa saat kemudian jengkel juga kesal menyelimutinya, karena Rico sudah berani mengabaikannya.

Sampai saat ini Rico belum mengatahui bahwa Deya pernah di ganggu oleh dua orang itu. Yang laki-laki itu tahu hanya meminta orang untuk mengawasi Deya dari jauh.

Hari ini adalah hari libur, Deya berencana untuk mengunjungi Dira di toko fotocopy annya. Ia juga ingin mengecek stok yang sudah beberapa bulan ini di serahkan sepenuhnya pada Dira. Sesekali ia juga ingin melayani pengunjung yang datang ke tokonya.

Pagi itu, ia mematut dirinya di depan cermin, pakaian one set menjadi pilihannya. Sebagai penutup kepala ia memilih pasmina dengan warna soft. Saat di rasa sudah pas segera ia melangkahkan kakinya keluar kamar. Namun langkahnya terhenti saat sebuah notif dari nomor yang tidak dikenal mengiriminya pesan.

“Dasar, perempuan munafik.”

Sebuah pesan singkat yang cukup membuat dada Deya berdesir, namun setelah itu ia abaikan. Dia rasa itu adalah orang yang salah kirim. Pikirnya positif dan bersiap berangkat ke toko.

***

Deya yang baru saja tiba di depan toko fotocopy annya. Langsung membelalakkan mata dengan orang-orang yang beramai ke tokonya.

“Ini ada apa ?” Lirihnya dan melangkahkan kaki ke dalam toko tersebut.

“Mbak Deee, Syukur datang hari ini mbak. Sibuk banget tau nggak sih ini.” Tutur Dira yang sudah kewalahan.

“Ramai-ramai ini pada kenapa sih Dir ?” Deya tak paham akan situasi ini.

“Iya ini mbak, ada yang mau cetak foto, print tugas, fotocopy, jilid buku bereksemplar-eksemplar. Aah entahlah mbak pusing saya.” Jelas Dira yang sibuk kesana kemari.

“Aku bantu Dir.” Tawarnya dan mulai berbaur dengan keramaian itu.

Deya dan Dira begitu fokus mendengarkan permintaan orang-orang yang datang ke tokonya. Hingga tak menyadari keberadaan Siska yang kini duduk manis di depan toko dengan segelas es kopi di tangannya.

Beberapa saat berlalu, kini toko sudah mulai lenggang. Baik Deya ataupun Dira kini sama-sama menghela nafas lega. Di edarkannya pandangan Deya pada seorang yang sibuk dengan ponselnya.

Siska yang juga tengah melihat ke arah Deya pun ikut tersenyum dan melambaikan tangan. Deya memberi isyarat pada Siska untuk mendekat.

“Kamu dari kapan disitu ?” Tanya Deya dengan gemas.

“Dari pas mbak De sibuk.” Jawabnya jujur.

“Trus kamu nggak ada niat bantuin gitu ?” Tanya Deya dengan nada bercanda.

“Nggak ada, kan bukan kerjaan saya.”

Deya mencebikkan bibirnya, “Iya juga sih.” Lirihnya pada diri sendiri. “Tau dari mana kamu tau kalau aku ke toko ?”

“Kan saya harus ikutin mbak De kemanapun, saya kan juga ngawasin rumah selama den Rico belum balik.”

Deya dan Dira mengangguk tanda paham, sementara Siska melanjutkan bermain dengan ponselnya. Ketiganya tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing. Hingga suatu notif yang berasal dari ponsel Deya memecahkan keheningan.

“Dasar, perempuan perusak. Perempuan munafik.”

“Ini siapa sih, tiba-tiba kirim pesan dan ngata-ngatain,” Gerutu Deya yang hampir menghapus pesan tersebut.

Tangan Siska telah lebih dulu mengehentikan dan perempuan itu mengecek pemilik kontak tersebut. Sejenak Siska berfikir, dan mengambil kesimpulan jika ancaman ini memang ditujukan pada Deya.

“Hapus dan blokir saja mbak De. Orang iseng kayaknya atau mungkin salah kontak.” Tutur Siska setelah menyalin kontak tersebut.

Deya hanya mengangguk paham dan menuruti perintah Siska. “Siska, sejak kapan kamu berkerja untuk keluarga mertua ku ?” Deya membuka percakapan kembali.

“Sejak non Ana di ancam sama seperti yang mbak De alami.” Jawab Siska.

“Lalu sekarang kamu awasin aku, Diana siapa yang ngawasin ?” Deya kembali bertanya.

“Non Ana sudah bisa melindungi dirinya sendiri mbak, beberapa bulan setelah dia di ancam dan diikuti. Tuan Handoko langsung mendaftarkannya untuk ikut bela diri. Karena non Ana sangat tidak suka diawasi meskipun dari jauh, hal itulah yang membuatnya pernah masuk rumah sakit dan dirawat beberapa hari. Ia jatuh dan hampir saja ditabrak kembali, hingga beberapa bagian tubuhnya mengalami luka yang cukup parah.” Penjelasan Siska kembali membuat Deya bergidik ngeri.

“Kok ngeri yah Sis, kenapa sih sama orang-orang ini. Aku nggak tahu akan seperti ini keluarga Rico.” Tutur Deya yang menampakkan wajah gelisah.

“Saya yakin, baik tuan Handoko ataupun den Rico tidak ada yang menginginkan kejadian ini. Apalagi menimpa mbak Deya yang baru saja masuk ke keluarga mereka. Tapi ini semua adalah resiko yang harus mereka bayar mbak.” Jelasnya Siska kembali.

“Maksudnya ?” Dira bertanya dengan penasaran.

“Iya melihat kesuksesan bisnis keluarganya, membuat beberapa orang iri apalagi saingan-saingan tuan Handoko. Mereka tak segan-segan untuk melakukan apa saja untuk menjatuhkan saingan bisnisnya.”

Mendengar penjelasan Siska membuat Dira mengangguk paham, sementara Deya hanya diam membisu sembari mengingat pengirim pesan itu. Siapa yang menjadi perusak siapa, fikirnya.

***

Sore menjelang Magrib, Deya memutuskan untuk pulang. Sepanjang jalan pulang dia masih saja mengingat isi pesan yang di terimanya.

“Aku emang ngerusak siapa ?” Ia bertanya pada diri sendiri.

Sedangkan Siska masih setia berada dibelakangnya, hingga motor itu memasuki halaman rumah dan Siska juga memilih untuk berbalik arah keluar dari area perumahan.

Seperti biasa, Deya mulai membersihkan diri dan siap-siap untuk Magriban, dibukanya kembali ponsel yang beberapa saat lalu kembali dia terima sebuah pesan misterius itu. Namun di abaikannya kembali. Dilihatnya tumpukan pesan untuk Rico yang beberapa hari ini tak terkirim apalagi terbaca. Desah nafas pelan terdengar dari dirinya.

Malam ini ia lebih memilih untuk berleha-leha di kamar, tidak mempedulikan makan malam yang sudah disiapkan oleh bi Tum untukknya. Yang di inginkannya hanyalah istirahat dan tidur sebentar sebelum besok kembali bekerja.

Dalam lelapnya, beberapa tumpukkan pesan yang dikirim untuk sang suami mulai terkirim dan perlahan-lahan pesan itu di baca Rico. Kaget bukan main Rico dibuatnya, setelah mendapatkan jaringan dia juga mendapati puluhan notif pesan dan beberapa panggilan yang tidak terjawab. Dibacanya satu per satu, ia kembali terkaget, karena hampir semua orang terdekatnya memberi tahu kejadian yang menimpa Deya istrinya. Tangannya yang gemetar berusaha melakukan panggilan video dengan Deya. Sementara perempuan itu tengah bergelung dengan alam mimpinya.

“De, angkat dong sayang.” Lirihnya yang seketika langusng tertiup angin. Beberapa kali ia melakukan panggilan itu hingga wajah manis seseorang tampak di layar ponselnya.

“Hmmm,.” Suara lemah dari seberang dengan mata yang masih tertutup.

“De.” Panggil Rico dengan nada khasnya.

Deya menyadari siapa yang sedang melakukan panggilan video dengannya seketika membuka mata dan memberi ekspresi yang kesal, jengkel dan rindu berpadu menjadi satu.

Rico hanya bisa memandang dari balik layar dengan raut wajah yang begitu sangat menahan rindu. “Gigi Singa sedang mode on.” Ucapnya dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!