Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana Adipati Agung
Butler Kelwin segera memberi perintah kepada pelayan untuk menemani Erica ke kamar tamu, membantu Beatrice membereskan barang-barangnya.
Sementara itu, Beatrice dan Estevan berjalan menuju ruang makan. Kebetulan, waktu makan malam hampir tiba dan hidangan-hidangan di atas meja masih panas. Beatrice tertegun melihat meja yang dipenuhi berbagai jenis makanan yang begitu mewah, beragam lauk-pauk yang disajikan.
Meski makanan di rumahnya sendiri juga selalu lezat dan kaya rasa, tidak ada yang sebanyak ini. Bahkan meja makan di sini jauh lebih panjang, dengan kursi empuk yang membuat siapa pun betah berlama-lama menikmati hidangan.
"Jika ada yang kamu inginkan, tinggal katakan saja. Pelayan di belakang akan segera mengambilkan," kata Estevan dengan nada santai.
Beatrice menggelengkan kepala, mencoba mengatasi rasa kagumnya. "Tidak apa-apa. Apakah kamu terbiasa makan sendirian?" tanyanya, sedikit penasaran.
Estevan mengangguk, wajahnya tampak sedikit sendu. "Ya. Ayahku sering berada di ibu kota dan jarang kembali ke Grand Duchy setelah ibuku meninggal dunia."
Beatrice mengingat dengan jelas kisah itu. Dalam buku aslinya, ibu Estevan meninggal di tangan monster, bersamaan dengan ayahnya—kakek Estevan. Keduanya tewas mengenaskan.
Estevan, yang saat itu masih muda, terpaksa menggantikan ayahnya, Davinchi De Carlitos, sebagai Grand Duke. Setelah itu, Davinchi menyerahkan segala urusan Istana Adipati Agung kepada Estevan dan kembali ke ibu kota. Konon, setelah kehilangan istrinya, Davinchi tidak pernah lagi menikah.
Beatrice menatap Estevan dengan empati. "Kamu pasti cukup kesepian," katanya dengan suara lembut, seolah merasakan kesendirian yang dialami pria itu.
Estevan menatapnya dengan senyum tipis. "Bukankah ada kamu sekarang?"
Beatrice tersenyum malu, wajahnya memerah. Setelah menikah dan tinggal di sini, dia tahu bahwa Estevan tidak akan lagi kesepian.
Setelah makan malam, Estevan tidak berniat mengajak Beatrice berjalan-jalan di taman untuk mencerna makanan. Beatrice masih belum sepenuhnya pulih dari sakitnya, jadi keduanya memilih untuk pergi ke kamar tamu, mengobrol ringan di tempat tidur.
Estevan membiarkan Beatrice duduk di pangkuannya, sebuah kebiasaan yang membuatnya nyaman. Dengan lembut, ia mulai memelintir beberapa helai rambut almond blonde milik gadis itu.
"Evan, apakah ada orang yang bekerja di kuil untuk menyembah dewa dan mengajak orang lain untuk berdoa?"
Estevan sedikit terkejut, namun menjawab dengan tenang, "Ya, ada. Mereka disebut Holy Priest. Beberapa imam suci memiliki kekuatan ilahi yang cukup besar, sehingga mereka dihormati. Bahkan Kaisar pun bersikap sopan kepada mereka."
"Sangat kuat?" tanya Beatrice lagi, masih penasaran.
"Lumayan. Tugas mereka adalah menjaga kuil dan mengajak orang untuk menyembah Dewa Kehidupan," jawab Estevan, matanya tidak lepas dari Beatrice.
"Apakah para imam ini memakai jubah putih bersih yang khas?" Beatrice melanjutkan, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Estevan mengerutkan kening, merasa ada yang tidak biasa. "Tidak. Mereka mengenakan jubah putih gading dengan lambang kuil di bagian depan. Kenapa kamu bertanya tentang ini?"
Beatrice tampak ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Aku bermimpi tentang kuil yang sangat megah. Ada patung besar di tengahnya, dan seorang pria berjubah putih sedang bersimpuh, sepertinya sedang berdoa. Rambutnya juga sebahu, berwarna perak atau putih."
"Berjubah putih?" Estevan bertanya, wajahnya sedikit berubah. "Ada simbol apa di pakaiannya?"
Beatrice terdiam sejenak, mencoba mengingat dengan lebih jelas. "Ada simbol matahari di punggung jubahnya. Warna emas?" tanyanya dengan ragu.
Estevan tidak langsung memberikan jawaban, namun ekspresinya mulai berubah. Ada ketidaknyamanan yang tampaknya terpendam. Ia mungkin bisa menebak siapa yang sedang Beatrice bicarakan.
Di seluruh kuil Kekaisaran Carlos, hanya ada satu orang yang mengenakan ciri-ciri seperti itu. Sayangnya, pria itu juga berada di ibu kota. Estevan tidak pernah bisa melupakan pertemuannya dengan pria tersebut. Terakhir kali mereka bertemu, pria itu mengatakan beberapa hal yang membuat Estevan merasa sangat tidak nyaman.
Estevan teringat akan kejadian itu—ketika ia mengantar ayahnya ke kuil untuk berdoa kepada Dewa Kehidupan. Setelah selesai, saat ia hendak pergi, seorang pria berjubah putih mendatanginya.
"Grand Duke, apakah Anda percaya dengan adanya kehidupan setelah kematian?" tanya pria itu dengan suara yang dalam dan penuh makna.
Estevan berhenti sejenak, merasa heran. "Apa maksudmu?"
"Artinya." Pria itu melanjutkan dengan senyuman misterius. " Ketika kamu mati, kamu akan hidup lagi di waktu yang berbeda."
Estevan tidak senang dengan pertanyaan itu. "Kenapa kamu bertanya padaku?" jawabnya, suara sedikit tersinggung.
Pria itu tersenyum dengan sangat sopan. "Karena orang itu akan kembali untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya. Dengan izin Dewa, dia pasti akan datang padamu."
Estevan tidak memedulikan pria itu lagi setelahnya. Namun kini, setelah mendengar pertanyaan Beatrice, kenangan itu kembali muncul. Meski demikian, dia masih tidak mengerti apa maksud sebenarnya dari apa yang pria itu katakan.
Beatrice menyentuh wajah Estevan dengan lembut, menariknya keluar dari lamunannya. "Evan? Evan ...?" tanyanya dengan suara lembut.
Estevan tersadar dari pikirannya yang mendalam. "Ya ..." jawabnya, matanya kini fokus pada Beatrice.
"Kamu tidak apa-apa?" Beatrice bertanya, wajahnya dipenuhi keprihatinan.
Estevan memeluknya dengan lembut, berusaha menghilangkan segala kecemasannya. "Aku baik-baik saja."
Beatrice tetap penasaran, meskipun ia bisa melihat bahwa Estevan tampaknya tidak ingin membahas hal itu lebih jauh. "Kamu tahu tentang pria itu atau tidak?"
Estevan menghela napas pelan, tak ingin terlalu memikirkan pria yang baru saja disebutkan. "Seharusnya dia adalah Othelo, seorang Saint dari Kuil Matahari. Kuil itu ada di ibu kota kekaisaran. Pernahkah kamu bertemu dia sebelumnya?"
Beatrice menggelengkan kepala, tidak merasa kenal dengan pria itu. "Tidak. Jangankan bertemu, tahu namanya saja tidak."
Beatrice merasa bahwa nada bicara Estevan saat menyebut nama Othelo tidak senang. Mungkin pria itu tidak baik, pikirnya.
"Bukankah kamu bilang bahwa kuil itu dipimpin oleh Holy Priest? Lalu apa tugas Saint di sana?" Beatrice bertanya lagi, semakin penasaran.
Estevan menatap Beatrice sejenak, lalu menghela napas. "Saint di sana memiliki peran yang lebih tinggi. Mereka dipercaya untuk menerima wahyu dari Dewa dan menjaga keseimbangan di kuil. Namun, sepertinya Othelo ... memiliki cara yang berbeda dalam menjalankan perannya."
"Apakah ada banyak dari mereka?" tanya Beatrice, masih merasa penasaran.
Jika tidak, kenapa dia harus memimpikan pria bernama Othelo ini?
"Sayangnya, hanya ada satu Saint di Kekaisaran Carlos saat ini. Dan itu hanya Othelo. Dia sangat dihormati oleh semua pihak. Bahkan dia tidak perlu membungkuk pada siapa pun, termasuk Kaisar," jawab Estevan dengan nada serius.
"Hah? Sungguh? Sangat dihormati?" Beatrice terkejut, tidak menduga bahwa seorang saint bisa memperoleh tingkat penghormatan yang begitu tinggi.
"Seorang Saint tidak lahir begitu saja. Tidak ada yang tahu persis bagaimana seseorang bisa menjadi seorang Saint. Tampaknya itu adalah anugerah dari dewa, sebuah berkat yang diberikan." Estevan melanjutkan, matanya tampak menerawang, seakan mengingat sesuatu yang jauh di masa lalu.
"Sungguh menakjubkan." Beatrice berkomentar, tidak bisa membayangkan kekuatan seperti itu.
"Bisakah kita tidak membicarakan ini lebih lanjut? Mengapa tidak melakukan hal lain sebelum tidur?"
Beatrice memberikan kecupan lembut di pipi Estevan. "Apakah kamu cemburu?"
Estevan tersenyum tipis, meskipun ada sedikit kerutan di dahinya. "Dia hanya pria yang menyebalkan," jawabnya.
Tanpa memberikan waktu bagi Beatrice untuk merespons, Estevan menarik wajahnya mendekat dan mencium bibir gadis itu. Ciuman mereka berkembang, semakin dalam dan penuh gairah, seolah menyingkirkan segala pikiran yang mengganggu. Namun, meski gairah itu meluap, Estevan tidak melangkah lebih jauh. Setelah ciuman itu berakhir, ia menarik diri sedikit, menatap Beatrice dengan lembut.
"Tidurlah," katanya dengan suara rendah. "Besok aku akan mengajakmu berkeliling tempat ini."
Beatrice berbaring di tempat tidur, menarik selimut ke tubuhnya. "Selamat malam, Evan."
"Selamat malam," jawab Estevan, senyum tipis menghiasi wajahnya.
Estevan berjalan menuju lilin yang terpasang di kandil di atas meja nakas. Ia meniupnya dan sekejap kamar itu terbenam dalam kegelapan malam yang tenang. Dengan langkah ringan, ia keluar dari kamar dan menutup pintu di belakangnya.
Estevan tahu bahwa Beatrice menyimpan rahasia. Bahkan jika orang yang dimaksud Othelo adalah Beatrice, ia tidak peduli. Gadis itu sudah ada di sini bersamanya. Dia akan menjaga Beatrice, apapun yang terjadi. Karena dia adalah miliknya dan itu tak akan pernah berubah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...