NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 Terjebak di Antara Lantai

Sementara di tempat lain, Rania merasa kesal karena Saka seenaknya saja menyuruhnya untuk menjemputnya. “Pak Saka, mengapa saya yang diminta untuk menjemput anda? Bukankah lebih pantas jika Anda yang datang ke perusahaan saya?” tanya Rania dengan nada sedikit menegur saat mobilnya melaju dengan stabil menuju kawasan bisnis pusat di Bandung di mana kantor pusat PT Saka Perkasa berada. Pesan yang datang dari Sekar tiga hari yang lalu masih terngiang di benaknya – “Bu Rania, Pak Saka Pratama meminta Anda untuk menjemputnya karena ada klien yang akan mengajak bertemu bekerja sama Mr. Hiroshi Tanaka dari perusahaan Mitsui Foods Jepang. Bu Rania diminta datang pukul 10 pagi di kantor PT Saka Perkasa, kemudian bersama-sama pergi ke Hotel Grand Hyatt dimana Mr. Hiroshi menginap.”

Rania menghela napas perlahan sambil menyesuaikan posisi kursi mobilnya. Sudah seminggu sejak pertemuan mereka di Restoran Le Château di Bandung, dan seperti yang dijanjikan, Saka menghubungi Sekar untuk mengatur pertemuan berikutnya. Namun, yang tidak dia duga adalah permintaan untuk menjemputnya. Ngapain sih nyuruh aku jemput, harusnya dia yang menjemput aku – dia kan laki-laki, dasar manja, pikirnya dengan sedikit kesal, mengingat sikap sombong dan dingin yang selalu ditunjukkan oleh pria itu setiap kali mereka berkomunikasi.

Setelah sekitar tiga puluh menit berkendara dari kantor PT Wijaya Group, mobil Rania akhirnya memasuki area kompleks gedung pencakar langit yang menjadi markas PT Saka Perkasa. Langkah pertama kakinya menyentuh lantai luar gedung sudah membuatnya terpana. Taman depan yang dihiasi dengan tanaman langka dari berbagai belahan dunia, patung-patung abstrak karya seniman ternama, dan kolam air mancur yang mengeluarkan aliran air dengan pola yang teratur memberikan kesan kemewahan yang tak tertutupi. Material marmer putih yang digunakan untuk lantai dan tembok bagian luar gedung memantulkan sinar matahari dengan indah, membuat gedung tampak lebih megah dan anggun.

“Wah…” bisik Rania tanpa sadar saat dia memasuki lobinya. Ruang tunggu yang luas didekorasi dengan sofa-sofa kulit asli warna coklat tua yang mengkilap, meja tamu dari kayu jati berkualitas tinggi, dan lampu gantung kristal besar yang menjulang tinggi di tengah ruangan. Di dinding-dindingnya terpajang lukisan-lukisan berharga karya pelukis Indonesia dan internasional, serta beberapa pajangan keramik kuno yang jelas memiliki nilai sejarah tinggi. Setiap sudut ruangan terlihat terawat dengan sangat baik, dan aroma wewangian khas yang menyegarkan memenuhi setiap inci ruang udara.

“Bapak Saka Pratama berada di Lantai 15, Ruangannya, Bu,” ujar resepsionis dengan senyum ramah setelah Rania menyampaikan identitasnya. Dengan bantuan petugas, Rania menuju ke arah lift khusus yang diperuntukkan bagi eksekutif perusahaan. Saat lift perlahan naik, dia terus mengagumi desain interior gedung yang sangat memperhatikan detail. Setiap lantai memiliki tema dekorasi yang berbeda namun tetap konsisten dengan kesan mewah dan profesional yang ingin ditampilkan oleh PT Saka Perkasa.

Ketika pintu lift terbuka di Lantai 15, Rania langsung melihat petunjuk arah yang mengarah ke Ruangan CEO Saka Pratama. Koridor yang dilapisi dengan karpet tebal warna biru tua membuat langkah kakinya terasa sangat lembut. Di sepanjang koridor, terdapat beberapa ruang kerja dengan kaca tembus pandang yang memungkinkan orang di luar melihat aktivitas di dalamnya – semua karyawan terlihat sibuk bekerja dengan sangat fokus.

Setelah sampai di depan pintu Ruanganya Saka, Rania mengetuk lembut tiga kali. “Masuk!” suara keras dan tegas Saka terdengar dari dalam. Tanpa berlama-lama, Rania membuka pintu dan memasuki ruangan yang luas sekali. Ruang kerja Saka tidak hanya luas, tetapi juga dihiasi dengan berbagai barang berharga – mulai dari koleksi jam tangan mewah yang terpajang di dalam showcase khusus, hingga model kapal perang skala besar yang jelas merupakan hadiah dari mitra bisnis tertentu. Jendela besar yang menghadap ke arah selatan memberikan pemandangan kota Jakarta yang memukau, dengan gedung-gedung tinggi lainnya berdiri tegak seperti raksasa kecil di bawahnya.

“Saya sudah datang, Pak Saka,” ujar Rania dengan nada sopan namun tetap tegas. Dia berharap Saka akan menyuruhnya duduk terlebih dahulu atau setidaknya bertukar sapaan sebentar sebelum membicarakan urusan. Namun, harapannya langsung sirna ketika pria yang sedang berdiri di depan meja kerjanya mengenakan jas hitam yang rapi hanya mengangkat kepalanya sebentar dan berkata, “Baik. Kita harus segera pergi. Mr. Hiroshi sudah menunggu di Hotel Grand Hyatt, lantai 6. Jangan lama-lama, kita tidak boleh terlambat.”

Rania merasa darahnya mulai mendidih. Dasar menyebalkan! Duduk aja belum sudah langsung berangkat, nggak ada basa-basi sama sekali, geramnya dalam hati. Namun, dia tahu bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menunjukkan kemarahan. Dia hanya mengangguk dan mengikuti langkah cepat Saka yang sudah berjalan menuju pintu keluar.

Perjalanan menuju Hotel Grand Hyatt berlangsung cukup lancar, meskipun tidak ada percakapan sama sekali antara mereka di dalam mobil. Saka hanya fokus melihat keluar jendela atau melihat beberapa dokumen di ponselnya, sementara Rania memilih untuk menatap jalanan dengan wajah yang sedikit memerah karena masih merasa jengkel dengan sikap pria di sebelahnya.

Setelah tiba di hotel, mereka langsung memasuki lobinya yang sama sekali tidak kalah mewah dengan kantor PT Saka Perkasa. Saka mengambil kartu akses dari petugas dan mengajak Rania menuju lift yang akan membawa mereka ke Lantai 6. “Mr. Hiroshi sedang menunggu di Ruang Pertemuan Sakura,” katanya sambil menekan tombol angka 6 di panel lift.

Pintu lift mulai menutup perlahan dan lift mulai naik dengan stabil. Namun, baru saja mencapai sekitar setengah jalan antara Lantai 4 dan Lantai 5, tiba-tiba lift tersebut berhenti dengan suara “klik” yang cukup keras. Lampu di dalam lift juga mulai berkedip-kedip sebelum akhirnya padam total, hanya menyisakan sedikit cahaya dari lampu darurat yang berwarna merah muda pucat.

“Apa-apaan ini?!” teriak Saka dengan suara yang lebih keras dari biasanya. Rania bisa melihat bentuk tubuhnya yang tinggi besar mulai bergoyang-goyang di dalam kegelapan redup. Dia mencoba menekan berbagai tombol di panel lift, termasuk tombol darurat, namun tidak ada satu pun respons yang diberikan oleh mesin tersebut.

“Santai saja Pak Saka, pasti ada masalah kecil saja. Saya sudah menekan tombol darurat, petugas hotel pasti akan segera datang membantu kita,” ujar Rania dengan suara tenang, mencoba menenangkan keadaan. Namun, jawaban yang dia dapatkan jauh dari yang dia harapkan.

“Tidak! Aku tidak bisa berada di sini! Buka pintunya sekarang juga!” jerit Saka dengan suara yang mulai terdengar putus asa. Rania bisa merasakan getaran di dalam lift akibat gerakan tubuh pria tersebut yang mulai berjalan bolak-balik dengan cepat. Tak lama kemudian, keringat mulai menetes deras dari dahinya, wajahnya memucat seperti kain putih, dan bibirnya bergetar tidak terkendali.

“Pak Saka, tolong tenang…” kata Rania sebelum kalimatnya terhenti mendadak. Tanpa diduga, Saka yang tadinya sedang berteriak-teriak tiba-tiba mendekatinya dan memeluknya erat-erat. Tubuhnya yang tinggi gagah membeku kaku di dalam pelukan, dan Rania bisa merasakan getaran yang sangat kuat dari tubuhnya. Bahkan, dia bisa mendengar suara tangisan kecil yang keluar dari mulut pria tersebut.

“Aku takut… aku takut berada di tempat yang tertutup dan tinggi seperti ini…” bisik Saka dengan suara gemetar, kepalanya menyandar di bahu Rania. Rania awalnya ingin segera melepaskan pelukan tersebut, merasa sedikit terkejut dan tidak nyaman. Namun, ketika dia mendengar suara tangisan yang penuh ketakutan dari pria yang selalu tampak kuat dan sombong itu, rasa kasihan muncul dalam hatinya. Dia akhirnya memilih untuk tetap diam dan bahkan mulai mengelus punggung Saka perlahan-lahan.

“Tenang saja Pak Saka, kita tidak sendirian. Petugas pasti akan segera datang. Tidak apa-apa, saya ada di sini,” ujar Rania dengan nada yang lembut dan menenangkan. Saat dia mengelus punggung pria tersebut, dia tersenyum geli dalam hati. Aneh ya… badan tinggi, gagah, wajahnya tampak sangat dan galak, tapi ternyata takut ketinggian.

Setelah beberapa menit berlalu dengan penuh ketegangan, akhirnya mereka mendengar suara dari luar lift. “Mohon bersabar ya, pak bu! Kami sedang dalam proses membuka pintu lift. Mohon jangan melakukan gerakan yang berlebihan!” teriak salah satu petugas hotel. Saka yang masih memeluk Rania dengan erat mulai sedikit rileks, meskipun tubuhnya masih tetap menggigil.

Rania mengangkat tangannya dan menyapa pelukan pria tersebut dengan lebih lembut. “Dengar, tidak apa-apa. Kita akan segera keluar dari sini. Anda tidak sendirian,” ujarnya lagi, kali ini dengan lebih penuh perhatian. Saka sedikit mengangkat kepalanya, dan di dalam cahaya merah muda redup tersebut, Rania bisa melihat mata yang biasanya tajam dan penuh dominasi kini berkacqa-kaca karena tangisan.

“Saya… saya tidak suka berada di tempat yang tinggi dan tertutup seperti ini. Sejak kecil saya memiliki trauma karena pernah terjebak di dalam lift selama lebih dari dua jam ketika saya masih anak-anak,” jelas Saka dengan suara yang sangat lembut, seolah dia sedang membuka rahasia terdalammu. “Saya selalu menyembunyikannya karena tidak ingin dianggap lemah oleh orang lain, terutama di dunia bisnis yang sangat keras ini.”

Rania hanya mengangguk dengan penuh pengertian. Pada saat itu, dia menyadari bahwa di balik sosok pria yang sombong dan angkuh tersebut, terdapat sisi yang rentan dan lembut yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapapun. Sebelum dia bisa mengatakan sesuatu lagi, suara mesin yang bekerja terdengar jelas dan pintu lift akhirnya terbuka perlahan. Cahaya terang dari koridor hotel masuk ke dalam lift, membuat kedua mereka sedikit menyipitkan mata.

“Terima kasih Tuhan…” bisik Saka sebelum perlahan melepaskan pelukannya dari Rania. Dia segera menyisir rambutnya dengan jari-jarinya dan mencoba menata jasnya agar kembali terlihat rapi, seolah ingin menyembunyikan sisi lemah yang baru saja terungkap di depan Rania.

Petugas hotel dengan cepat datang menghampiri mereka dan meminta maaf secara sungguh-sungguh atas kejadian yang tidak diinginkan tersebut. Setelah memastikan bahwa kedua tamunya dalam kondisi baik, petugas tersebut mengantar mereka ke lift lain yang berfungsi normal untuk melanjutkan perjalanan ke Lantai 6.

Saat lift baru tersebut perlahan naik, tidak ada suara yang keluar dari kedua mereka. Rania masih tercengang dengan apa yang baru saja terjadi, sementara Saka memilih untuk menatap lantai dengan wajah yang kembali menunjukkan ekspresi dinginnya. Namun, ketika mereka sampai di Lantai 6 dan pintu lift terbuka, Saka berbalik sebentar dan melihat Rania dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya – ada rasa terima kasih yang tersembunyi di dalamnya.

“Terima kasih… tadi,” ujarnya dengan suara yang sangat pelan sebelum berjalan maju untuk menemui Mr. Hiroshi yang sudah menunggu di depan pintu Ruang Pertemuan Sakura. Rania hanya mengangguk dengan senyum lembut, menyadari bahwa mungkin saja dia baru saja melihat sisi sebenarnya dari pria yang selama ini dianggapnya sebagai orang yang sangat menyebalkan. Dan entah mengapa, dia merasa bahwa hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi setelah kejadian di lift tersebut.

1
Zellin
terlalu bertele-tele thor..banyak tulisan yang berulang itu2 aja cakap nya..setiap bab aq skip bacanya..jadi bosan terlalu d alur2kan kayak cerita ikan terbang
niadatin tiasmami: gitu ya kak makasih masukannya kak
total 1 replies
F.Room
korupsinya banyak banget si Arga..
niadatin tiasmami: karena keluarga nya juga matre
total 1 replies
F.Room
memang harus dimiskinkan sih itu Arga ga tau diri
Zanahhan226
wah, malah dimanfaatin sih itu..
Zanahhan226
kok aku malah curiga, ya..
F.Room
nyebelin nih harta gono gini..
F.Room
kok parah gini sih si Arga
niadatin tiasmami: tp nanti sadar kak
total 1 replies
F.Room
good, perempuan harus tegas
niadatin tiasmami: apalagi perempuan berduit
total 2 replies
F.Room
engga usah ditangisi temen seperti Maya..
F.Room
yg ga bener mayanya..
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Mampir dan dukung karyaku, yuk!

‎- TRUST ME

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
niadatin tiasmami: ok kak
total 1 replies
F.Room
dari awal aku udah curiga..
niadatin tiasmami: curiga gmn kak
total 1 replies
F.Room
hubungan tanpa uang juga delusi..
niadatin tiasmami: betul sih kak tp hubungan kalau hanya uang gk bagus jg
total 1 replies
F.Room
cowok ga guna
F.Room
kerja woi, jangan ngemis
niadatin tiasmami: gk diterima kerja kak
total 1 replies
F.Room
kena karma
F.Room
rasain dah si arga, cowok ga modal..
F.Room
memang ga tau diri nih
F.Room
ternyata arga memang seorang penjilat
F.Room
duh maya ga tau diri..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!