NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 Hina dan Kesal

Matahari mulai menunjukkan wajahnya dengan sengat di langit Bandung, menyinari kontrakan sempit yang kini terasa lebih sepi tanpa kehadiran Maya. Arga baru saja kembali dari malam bekerja sebagai pengamen jalanan di sekitar kawasan kota yang ramai. Tangannya masih membawa kantong plastik tipis yang berisi uang receh hasil jerih payahnya semalam – cukup untuk membeli bekal makan siang hari ini dan sedikit menambah tabungan untuk membayar sebagian utang yang masih tersisa.

Ia mendengar suara televisi yang nyaring dari dalam rumah dan suara ibunya yang sedang berbicara lewat telepon. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu, siap menghadapi segala kemarahan atau keluhan yang mungkin akan datang dari Ratna.

“Sudah pulang, Nak?” tanya Ratna tanpa melihat ke arahnya, matanya masih terpaku pada layar televisi yang sedang menayangkan acara hiburan. “Makan apa kamu malam ini? Aku sudah tidak punya uang untuk membeli makanan lagi.”

“Sudah ada uang, Bu,” ujar Arga dengan lembut sambil mengambil beberapa lembar uang dari kantongnya dan menaruhnya di atas meja yang lusuh. “Ini hasil dari malam kemarin. Cukup buat beli nasi dan lauk untuk hari ini. Aku juga sudah pesan mie instan untuk cadangan jika kurang.”

Ratna akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Arga. Namun, bukan rasa syukur yang muncul di wajahnya, melainkan tatapan penuh kekesalan. “Uang segitu saja? Darimana kamu dapatkan uang itu, Arga? Jangan bilang kamu mencuri atau melakukan hal-hal tercela lagi!”

“Tidak, Bu,” jawab Arga dengan nada rendah. “Aku bekerja sebagai pengamen jalanan. Aku menyanyi di sudut jalan dan orang-orang memberikan uang kepada aku.”

Kata-kata itu seperti mencambuk telinga Ratna. Ia berdiri dengan cepat, matanya memerah karena kemarahan. “PENGAMEN?! Kamu menjadi PENGAMEN?! Dasar anak tidak tahu diri!” teriak Ratna dengan suara yang begitu keras hingga Adi yang sedang tertidur di kamar kecil terbangun terkejut.

“Bu, apa salahnya menjadi pengamen? Aku bekerja dengan jujur untuk mendapatkan uang,” ucap Arga dengan suara yang sedikit bergetar. Ia mencoba tetap tenang meskipun hatinya sudah merasa sakit karena celaan ibunya.

“Salahnya? KAU MEMALUKAN KELUARGA KITA!” Ratna mendekat dan menepuk-nepuk dadanya dengan keras. “Dulu kita hidup mewah, aku sering mengikuti arisan dengan teman-teman kaya yang punya rumah besar dan anak-anak yang bekerja sebagai pegawai negeri atau wiraswasta sukses. Sekarang anakku menjadi pengamen jalanan yang dilihat orang-orang seperti sampah! Bagaimana nanti jika teman-teman arisan ku melihatmu seperti itu? Apa yang akan mereka pikirkan tentangku?!”

Arga menunduk, merasa hina dan tidak berharga. Ia tahu ibunya selalu mementingkan nama baik dan gengsi, namun ia tidak menyangka bahwa ibunya akan lebih mementingkan hal itu daripada kesusahan hidup mereka saat ini.

“Bu, aku hanya ingin membantu keluarga kita. Aku sudah mencoba melamar kerja ke banyak tempat, tapi tidak ada yang mau menerimaku. Jadi aku terpaksa mencari cara lain untuk mendapatkan uang dengan cara yang benar,” ujar Arga dengan suara yang hampir terdengar seperti bisikan.

“Cara yang benar katamu? Menjadi pengamen itu bukan pekerjaan yang terhormat, Arga!” Ratna terus memarahi. “Kamu seharusnya bisa mencari pekerjaan yang lebih baik, seperti dulu kamu bekerja di perusahaan besar. Kamu juga punya usaha rumah makan yang besar. Kenapa kamu tidak bisa seperti dulu lagi?!”

Arga merasa matanya mulai panas karena ingin menangis. “Sudah berlalu lama, Bu. Perusahaan itu milik Rania dan Rumah Makan itu hasil pemberian Rania, aku telah menyakitinya bukan hanya aku kita, jadi wajar dia mengambil semua itu dari kita. Aku sudah melakukan yang terbaik.”

“Yang terbaik katamu? Kalau ini yang terbaik, maka kamu sungguh anak yang tidak berguna!” Ratna mengambil bantal dari sofa dan melemparkannya ke arah Arga. “Aku malu punya anak seperti kamu! Lebih baik kamu tidak pulang saja daripada membuatku malu seperti ini!”

Adi yang sudah keluar dari kamar kecil melihat kejadian itu dengan wajah penuh ketakutan. Ia ingin membantu kakaknya, tapi takut akan kemarahan ibunya. Ia hanya bisa berdiri di pojok ruangan, menatap lantai dengan hati yang berat.

Arga menunduk menerima tuduhan ibunya. Ia mengambil bantal yang terjatuh di lantai dan menaruhnya kembali di sofa dengan hati-hati. “Maafkan aku, Bu. Aku akan mencoba mencari pekerjaan yang lebih baik. Biarkan aku saja yang keluar hari ini. Mungkin aku bisa menemukan kesempatan yang lebih baik.”

Tanpa menunggu jawaban dari Ratna, Arga berbalik dan pergi keluar dari kontrakan. Hatinya penuh dengan rasa sakit dan keputusasaan. Ia berjalan tanpa tujuan khusus, kaki nya secara otomatis mengarah ke kawasan kota yang pernah ia datangi sebagai pengamen malam sebelumnya.

Saat ia melewati sebuah mal mewah di pusat kota, ia tiba-tiba melihat sosok yang sangat akrab baginya – Maya. Wanita yang dulunya menjadi nyawanya kini sedang berdiri di depan pintu masuk mal tersebut bersama seorang laki-laki tua yang tampak kaya raya. Laki-laki itu mengenakan jas mahal dengan dasi yang rapi, dan di tangannya membawa tas tangan merek terkenal. Sedangkan Maya mengenakan gaun panjang yang elegan dengan perhiasan yang berkilauan di leher dan tangannya.

Arga merasa seperti terkena petir di tengah siang hari. Ia menyembunyikan diri di balik tiang lampu jalan, mata tidak bisa lepas dari sosok Maya dan laki-laki tua itu. Ia melihat bagaimana Maya tertawa ceria sambil memegang lengan laki-laki tua itu, wajahnya tampak bersinar dan bahagia – sesuatu yang sudah lama tidak ia lihat sejak mereka hidup dalam kemiskinan.

Laki-laki tua itu membuka pintu mobil mewah yang ada di depan mereka, lalu membantu Maya masuk ke dalam mobil dengan penuh perhatian. Sebelum masuk ke dalam mobil sendiri, laki-laki itu mencium pelan pipi Maya dan memberikan senyum yang penuh kasih sayang. Arga bisa melihat jelas ekspresi bahagia di wajah Maya saat itu.

Setelah mobil tersebut pergi meninggalkan mal, Arga masih berdiri di tempat itu seperti batu. Pikirannya penuh dengan pertanyaan dan perasaan yang saling bertabrakan – rasa sakit, kecewa, marah, namun juga sedikit lega karena melihat Maya tampak hidup lebih baik.

“Kenapa, Maya? Kenapa kamu memilih jalur seperti itu?” gumam Arga dengan suara yang bergetar. Ia tahu bahwa hidup yang Maya jalani sekarang jauh berbeda dari kehidupan mereka dulu di kontrakan sempit. Maya kini bisa mendapatkan barang-barang mewah dan hidup dengan nyaman, namun dengan cara yang membuat hati Arga merasa sakit dan terhina.

Arga ingat bagaimana dulu Maya selalu mengeluh tentang kehidupan yang susah, tentang keinginannya untuk memiliki barang-barang mewah dan pergi ke tempat-tempat mewah seperti teman-temannya dulu. Ia juga ingat bagaimana ia selalu berjanji akan memberikan semua itu untuk Maya, namun akhirnya tidak bisa memenuhi janjinya.

“Apakah aku terlalu lemah untuknya?” ucap Arga pada dirinya sendiri. Ia merenungkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan – dari masa lalunya yang sombong dan hanya bergantung pada kemampuan bersosialisasi hingga saat ini yang tidak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi orang yang dicintainya.

Saat ia ingin berjalan pergi, ia melihat sebuah kedai kopi mewah di sisi jalan. Tanpa sadar, kakinya bergerak menuju kedai itu. Ia masuk ke dalam dan melihat suasana yang sangat berbeda dengan kehidupan yang ia jalani sekarang – lampu-lampu yang indah, musik klasik yang lembut, dan orang-orang yang mengenakan pakaian mewah sedang duduk santai menikmati kopi mereka.

Ia memilih tempat duduk di sudut paling belakang yang tidak terlalu terlihat. Petugas pelayanan datang menghampirinya dengan senyum ramah, namun ekspresinya sedikit berubah ketika melihat penampilan Arga yang masih mengenakan baju lusuh dan sepatu yang sudah aus.

“Bisa saya bantu apa, Pak?” tanya petugas pelayanan dengan nada yang lebih formal.

“Sebuah gelas air putih saja, tolong,” jawab Arga dengan malu. Ia tahu uang yang ia miliki tidak cukup untuk membeli kopi atau makanan di tempat itu.

Setelah menerima gelas air putihnya, Arga duduk diam sambil merenungkan semua yang telah terjadi. Ia melihat melalui jendela kedai itu dan melihat orang-orang yang lewat dengan mobil mewah atau berjalan dengan penuh percaya diri mengenakan pakaian mahal. Ia merasa sangat kecil dan tidak berharga di tengah keramaian kota yang sibuk itu.

Tiba-tiba, matanya kembali melihat sosok Maya yang sedang keluar dari kedai kopi tersebut bersama laki-laki tua yang sama. Mereka memilih tempat duduk di teras luar kedai, dan Arga bisa mendengar sebagian percakapan mereka karena tidak terlalu jauh.

“Kamu ingin membeli tas baru yang kamu lihat di mal tadi, kan, Sayang?” ujar laki-laki tua itu dengan suara yang lembut. “Kita bisa kembali kesana besok dan membelikannya untukmu. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik.”

Maya tersenyum ceria dan memegang tangan laki-laki tua itu. “Terima kasih banyak, Pak Herman. Kamu selalu royal padaku. Aku merasa sangat senang dan tersanjung saat bersamamu.”

“Kamu boleh meminta apa saja Maya, tapi kamu harus tau tugasmu apa,,,,,memuaskanku,” jawab Pak Herman sedikit berbisik.“.

"Tentu saja, aku akan memberikan bapak kepuasan malam ini, sampai bapak tidak akan bisa melupakannya." ucap Maya sambil membelai pipi laki-laki tua tersebut

Arga merasa hati nya seperti ditusuk dengan jarum ketika mendengar percakapan itu. Ia tahu apa yang akan diperbuat oleh kedua orang tersebut setelah pergi dari tempat itu, tapi Arga tidak bisa berbuat apa-apa, Maya lebih memilih hidup mewah dengan caranya sendiri daripada bersama dia.

Setelah beberapa saat, Pak Herman membayar tagihan mereka dan mengajak Maya pergi. Arga tetap duduk di tempat itu hingga malam menjelang. Ia membayar gelas air putihnya dan pergi keluar dari kedai kopi dengan hati yang penuh dengan keputusasaan dan tekad baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!