NovelToon NovelToon
Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Herlina

Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang Pengkhianatan

“Aku sudah di dalam rumah kalian.”

Kalimat itu bukan sekadar teks digital. Bagi Sasha, kata-kata itu menggema di dinding-dinding tinggi rumah ini, terakumulasi masuk ke celah telinga seperti bisikan iblis. Tubuhnya gemetar hebat. Hawa dingin menjalar dari tengkuk, turun perlahan ke tulang punggung, meninggalkan rasa kaku yang menyakitkan.

Ini tidak dingin karena mesin pendingin ruangan. Ini adalah perasaan dinginnya yang menyelimuti mata yang tak terlihat.

“Gio…” suara Sasha tercekat, nyaris hilang di tenggorokan.

Gio tidak menjawab dengan kata-kata. Rahangnya mengusung, urat-urat di tangannya menonjol saat ia menggenggam jemari Sasha. Genggamannya begitu erat, hampir membuat Sasha meringis, namun ia tidak protes. Di tengah ketakutan ini, hanya kekuatan Gio yang bisa ia jadikan pegangan.

“Kita ke ruang tengah. Jangan berdiri di koridor ini,” perintah Gio cepat. Suaranya rendah, penuh otoritas yang tak terbantah.

Sasha mengekor dengan langkah gontai. Ia bisa merasakan ritme napas Gio yang berubah—berat dan waspada. Mereka melewati dapur yang luas, di mana lampu gantung kristal masih menyala terang. Namun, entah kenapa, cahaya itu tak lagi memberikan rasa hangat. Rumah ini, tempat yang seharusnya menjadi perlindungan terakhirnya setelah difitnah dan dipaksa menikah, kini berubah menjadi labirin maut.

“Sasha, dengarkan aku baik-baik,” Gio berhenti di tengah ruangan, memutar tubuh Sasha agar menatap tepat ke mata yang tajam. "Kalau terjadi apa-apa, kamu lari ke pintu depan. Jangan menoleh. Jangan tunggu aku. Mengerti?"

Air mata Sasha merebak. "Aku nggak mau pisah, Gio! Jangan suruh aku lari sendirian!"

Ada kilatan luka di mata Gio. Sebuah emosi yang sulit dibaca. Bukan hanya protektif, tapi ada rasa bersalah yang teramat di sana. Seolah-olah pria itu tahu, bahwa badai yang melanda mereka malam ini adalah bagian dari benang merah masa lalu yang belum usai.

REM!

Suara benda berat jatuh dari lantai atas memecah kesunyian. Suaranya begitu keras, sengaja, dan penuh rangsangan. Keduanya tersentak. Jantung Sasha berdentum pembohong, memukul-mukul rongga dada hingga terasa sesak.

“Dia di atas…” bisik Sasha dengan bibir pucat.

Gio menarik Sasha ke dalam pelukannya, satu tangannya melingkari bahu istrinya seperti tameng hidup. Mereka melangkah mendekati tangga. Setiap memesan sepatu di atas lantai granit terdengar seperti bel kematian.

Baru tiga anak tangga mereka daki, tiba-tiba—JLEP!

Kegelapan total menelan mereka. Lampu padam serentak. Sasha berteriak tertahan, jemarinya mencengkeram kemeja Gio hingga kainnya kusut.

"Gio! Aku takut!"

"Aku di sini, Sasha. Jangan lepas."

Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar di lantai dua yang memberi sedikit siluet. Dan dalam kegelapan yang pekat itu, terdengar suara langkah kaki. Bukan dari tangga di depan mereka, tapi dari lorong samping.

Ketuk... ketuk... ketuk...

Langkah itu santai. Teratur. Sangat tenang, seolah sang pemilik langkah sedang berjalan di rumahnya sendiri. Pemilik langkah itu tahu bertahan di mana mereka berada. Ia sedang menikmati setiap detik ketakutan yang terpancar dari tubuh Sasha.

Sasha merasa dunianya runtuh. Pikirannya melayang pada hari di mana ia difitnah melakukan hal keringat yang membuatnya harus menikah dengan Gio demi menutupi keluarga aib. Apakah ini semua ulah orang yang sama?

“Dia mainin kita, Gio...” tangis Sasha pecah dalam bisikan.

Gio menyalakan senter ponselnya. Cahaya putih membelah lorong samping. Kosong. Langkah itu berhenti tepat saat cahaya menyentuh ujung lorong. Seolah-olah sosok itu adalah bayangan yang bisa menghilang dalam sekejap.

Creeeeek....

Suara pintu kamar utama di lantai atas terbuka perlahan. Suara engsel tua yang merintih itu membuat bulu kuduk Sasha berdiri. Itu kamar mereka. Kamar tempat Sasha menghabiskan malam-malam penuh air mata karena merasa terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang berawal dari fitnah keji.

“Dia di kamar kita,” gumam Gio, suaranya kini terdengar berbahaya.

Gio tidak naik ke atas. Ia justru menarik Sasha berputar ke arah dapur belakang. “Kita pancing dia turun. Kita potong jalurnya!”

Mereka berlari melintasi kegelapan. Napas Sasha terengah-engah, kakinya lemas, tapi tarikan tangan Gio memaksanya untuk terus bergerak. Begitu sampai di pintu belakang yang terbuka lebar, angin malam yang kencang menyapu wajah mereka.

Di halaman yang basah karena embun, Gio berhenti. Pemandangan di tanah. Ada jejak sepatu di sana. Masih segar. Jejak itu mengarah ke pagar samping yang masih berderit pelan.

“Dia lolos lagi!” umpat Gio, menabrak kusen pintu.

Sasha berdiri mematung di belakang suaminya. Pikirannya kini berputar pada satu titik yang sangat mengganggu. Cara orang itu bergerak, cara dia mematikan lampu, cara dia tahu pintu mana yang tidak terkunci...

“Dia bukan orang asing, Gio,” ujar Sasha lirih. Air matanya menetes bebas. “Dia tahu sudut rumah ini. Dia tahu segalanya tentang kita.”

Gio menoleh, wajahnya tampak pucat di bawah sinar bulan. “Apa maksudmu?”

“Dimas…” nama itu keluar dari bibir Sasha seperti kutukan. "Dimas pernah datang ke sini dua tahun yang lalu, kan? Saat acara ayahmu. Dia yang selalu ada di saat aku difitnah, dia yang pura-pura jadi pahlawan tapi sebenarnya..."

Kalimat Sasha terhenti saat ponsel di tangan Gio bergetar hebat. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

"Aku tidak pernah benar-benar keluar dari rumah ini, Sasha. Kamu bahkan tidur di kamar yang pernah aku masuki sebelum kamu memasukinya malam ini."

Sasha terasa berhenti mengalir. Pesan itu bukan sekedar ancaman. Itu adalah pengakuan bahwa selama ini, setiap jengkal privasinya telah dirampas. Setiap tangisnya di dalam kamar, setiap saat ia merasa sendirian, ternyata ada mata yang mengawasi.

“Dia merasa memiliki tempat di sini,” gumam Gio, matanya menatap kosong ke kegelapan taman.

Sasha mendekat, menggenggam lengan Gio. "Kenapa, Gio? Kenapa dia melakukan ini padaku? Aku sudah menyerahkan semuanya karena fitnah itu, aku sudah menikahimu untuk menjaga nama baik keluarga, tapi kenapa dia tidak membiarkanku tenang?"

Gio memeluk Sasha erat. Sangat erat. "Karena dia sakit, Sasha. Dan aku... aku seharusnya lebih melindungimu sejak awal."

Tiba-tiba, ponsel itu berdering. Sebuah panggilan telepon. Gio mengangkatnya dan menyalakan loudspeaker.

Hening terdiam. Hanya suara nafas berat yang terdengar dari seberang sana. Lalu, sebuah suara yang sangat familiar terdengar—lembut namun mematikan.

"Halo, Sasha... apakah tempat tidur itu nyaman? Aku meninggalkan sedikit 'kenangan' di bawah bantalmu.”

Sasha menutup mulutnya, menahan mual. Itu suara Dimas. Sahabat yang dulu ia percayai, pria yang selalu ada saat ia menangis karena difitnah, ternyata adalah dalang di balik semua kehancuran hidupnya.

“Berhenti mengganggunya, bajingan!” teriak Gio murka.

Dimas tertawa pelan. Tawa yang membuat bulu kuduk berdiri. "Mengganggu? Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Kamu hanya pria yang menikahi 'sisa' rencanaku, Gio. Jangan merasa jadi pahlawan.”

Klik.

Sambungan terputus.

Sasha jatuh terduduk di lantai dapur yang dingin. Ia menangis tersedu-sedu, menyadari bahwa pernikahannya dengan Gio hanyalah bagian dari permainan besar Dimas. Ia dijebak, dihancurkan, dan kini diburu.

Gio berlutut di depan Sasha, menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan. “Lihat aku, Sasha. Tatap aku.”

Sasha mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

"Pernikahan ini mungkin berawal dari jebakan mereka. Tapi aku bersumpah, demi nyawaku, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu lagi. Kamu adalah istriku, dan malam ini, permainan ini akan berakhir dengan caranya sendiri."

Sasha menatap Gio. Di balik kemarahan pria itu, ada ketulusan yang selama ini tidak pernah ia sadari. Di tengah badai fitnah dan obsesi gila Dimas, mungkinkah Gio adalah satu-satunya kebenaran yang tersisa?

Namun, angin malam kembali berdesir, membawa pesan baru ke dalam pikiran Sasha. "Jika memang Dimas sudah ada di dalam rumah ini sejak lama, di mana lagi dia bersembunyi?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!