NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan yang Mulai Terbuka

Pagi setelah konfrontasi kedua di gudang nomor 47 terasa seperti napas yang tertahan terlalu lama akhirnya dilepas—tapi tidak sepenuhnya lega. Raito terbangun dengan tubuh yang terasa lebih ringan, tapi pikirannya masih berat. Luka di bahu sudah mulai mengering, tapi setiap gerakan mengingatkannya bahwa Eclipse Stone belum selesai dengan mereka. Batu itu tidak lagi hanya artefak—ia sudah “mengenal” Raito, dan Raito merasa batu itu juga sudah meninggalkan jejak di dalam dirinya.

Mira sudah bangun, duduk di meja kecil dengan secangkir kopi hitam dan catatan kecil dari Sera yang ditemukan di saku jaketnya semalam. Yuna masih tidur di tempat tidur kecil yang mereka tambahkan kemarin—gadis itu meringkuk seperti anak kucing, jaket kebesarannya menutupi hampir seluruh tubuhnya.

Raito bangun pelan, berjalan ke meja. “Kamu nggak tidur lama?”

Mira menggeleng tanpa menoleh. “Aku baca ulang catatan Sera. Ada satu hal yang dia sebutkan tapi nggak kita perhatikan kemarin.”

Raito duduk di seberangnya. “Apa?”

Mira mendorong catatan itu ke arah Raito. Tulisan tangan Sera rapi tapi kecil:

“Eclipse Stone bukan cuma buka portal ke dunia lain. Ia juga bisa ‘membuka’ bagian dalam diri pemakai. Retak emosional yang kamu rasakan sekarang mungkin bukan cuma efek overuse Nen. Bisa jadi batu itu mulai ‘membaca’ kamu sejak pertama disentuh. Kalau kamu pegang lagi, retak itu akan melebar. Bisa jadi kekuatanmu bertambah… atau kamu hilang kendali.”

Raito membaca ulang dua kali. Dadanya terasa sesak.

“Jadi… setiap kali aku dekat batu itu, retak di Nen-ku tambah dalam?”

Mira mengangguk. “Sera bilang batu itu seperti cermin yang retak. Semakin sering kamu lihat pantulanmu, semakin banyak retak yang muncul. Dan retak itu nggak cuma fisik. Ia bisa memengaruhi pikiran, emosi, bahkan niat.”

Yuna bergumam dalam tidur, membalikkan badan. Raito menoleh ke arahnya, lalu kembali ke Mira.

“Aku nggak mau retak itu tambah dalam kalau itu berarti aku jadi bahaya buat kalian.”

Mira menatapnya tajam. “Kamu nggak akan jadi bahaya. Karena kamu sadar. Orang yang bahaya adalah yang nggak sadar retaknya ada. Kamu sudah sadar. Itu langkah pertama.”

Raito diam. Lalu dia berdiri, berjalan ke jendela. “Aku mau coba sesuatu. Di luar. Sekarang.”

Mira mengangkat alis. “Sekarang? Jam lima pagi?”

“Ya. Aku mau coba bicara sama cahaya ini. Bukan paksa, bukan latih. Cuma… bicara.”

Mira mengangguk. “Aku ikut. Yuna biar tidur. Dia aman di sini.”

Mereka keluar ke lapangan kecil belakang. Pagi masih gelap, hanya lampu jalan jauh yang memberikan sedikit cahaya. Raito duduk bersila di tanah dingin, Mira berdiri di pinggir, memberi ruang.

Raito tutup mata. Dia tidak memanggil Dawn Pulse seperti biasa. Dia hanya bernapas—dalam, keluar, dalam, keluar. Lalu dia bicara dalam hati, pelan, seperti berbisik pada teman lama.

“Kamu sudah ada sejak aku terbangun di hutan itu. Kamu nggak pernah pergi meski aku ragu, meski aku takut. Aku nggak tahu kenapa kamu pilih aku. Aku nggak kuat seperti Gon, nggak dingin seperti Killua, nggak tegas seperti Mira. Aku cuma… orang biasa yang tersesat.”

Dia diam sejenak. Angin pagi menyapu wajahnya.

“Tapi kalau kamu bagian dari aku… tolong beri tahu. Apa yang harus aku lepaskan? Apa yang nggak boleh aku lepaskan? Aku nggak mau retak ini tambah dalam kalau itu berarti aku kehilangan mereka.”

Tidak ada suara. Tidak ada bisikan dramatis. Tapi tiba-tiba, hangat di dadanya bergerak—bukan meledak, bukan mengalir liar. Ia berdenyut pelan, seperti detak jantung yang menjawab detak jantungnya sendiri.

Raito merasa sesuatu: bukan kata-kata, tapi gambar samar di pikiran. Kilatan putih yang membawanya ke dunia ini. Hutan Zevil. Senyum Gon. Tawa Mira. Tangis Yuna. Dan di tengah semua itu, bayangan retak—bukan retak yang menghancurkan, tapi retak yang membiarkan cahaya masuk dari luar.

Dia membuka mata. Embun cahaya muncul lagi di sekitar tubuhnya—tapi kali ini berbeda. Ia tidak hanya melindungi. Ia seperti menembus kulitnya, menyatu dengan napasnya, dengan darahnya.

Mira mendekat. “Kamu… berubah.”

Raito berdiri pelan. Dia angkat tangan kanan. Embun cahaya mengalir ke telapak—bukan bola, bukan sinar tajam, bukan gelombang. Ia membentuk garis tipis yang melingkar, seperti cincin cahaya kecil di sekitar pergelangan tangan.

“Aku nggak tahu namanya apa,” kata Raito. “Tapi rasanya… seperti ikatan. Bukan senjata. Bukan perisai. Lebih seperti… janji.”

Mira memandang cincin itu. “Janji pada siapa?”

Raito tersenyum kecil. “Pada kalian. Pada aku sendiri. Bahwa retak ini nggak akan menghancurkan. Ia akan jadi tempat cahaya baru masuk.”

Mira mengangguk pelan. “Bagus. Itu artinya kamu sudah mulai paham. Nen bukan cuma kekuatan. Ia adalah cermin diri.”

Mereka kembali ke kamar. Yuna sudah bangun, duduk di tempat tidur dengan mata bengkak tapi tersenyum saat melihat mereka.

“Kalian latihan pagi-pagi? Aku mau ikut!”

Raito tertawa. “Nanti ya. Sekarang makan dulu.”

Mereka bertiga duduk di meja kecil, makan roti dan sup instan yang Mira buat. Yuna cerita tentang kakaknya—bagaimana kakaknya selalu nyalakan lentera kecil setiap malam supaya Yuna nggak takut gelap.

“Dia bilang, cahaya kecil cukup untuk bikin gelap nggak terlalu menakutkan,” kata Yuna.

Raito memandangnya. Lalu dia angkat tangan kanan. Cincin cahaya kecil muncul di pergelangan—kecil, hangat, berdenyut seperti lentera kecil.

Yuna mata berbinar. “Wah… seperti lentera kakak!”

Raito mengangguk. “Ya. Lentera kecil. Cukup untuk bikin gelap nggak terlalu menakutkan.”

Mira tersenyum dari seberang meja. “Kalian berdua cocok. Sama-sama keras kepala dan suka cahaya.”

Yuna tertawa. Raito ikut tertawa.

Di luar, Yorknew mulai bangun—suara klakson, deru mesin, teriakan pedagang pagi.

Tapi di kamar kecil itu, tiga orang duduk bersama, berbagi roti dan cerita.

Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di hutan itu, Raito merasa bukan hanya bertahan hidup.

Ia merasa hidup.

Retak di dalam dirinya masih ada. Tapi sekarang, cahaya masuk lewat retak itu—bukan menghancurkan, tapi menerangi.

Dan cahaya itu, meski kecil, sudah cukup untuk menerangi tiga hati di kamar sempit itu.

Malam berikutnya akan datang lagi—dengan Shadow Serpent, dengan batu, dengan pilihan.

Tapi pagi ini, mereka punya waktu untuk bernapas.

Dan itu sudah cukup.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!