Kisah tentang Cahaya atau Aya (30) seorang pengusaha wanita muda yang sudah menjalin hubungan kasih selama lebih dari 10 tahun dengan kekasihnya yang bernama Rudi. Mereka sudah merencanakan acara lamaran namun tiba-tiba Rudi membatalkan dan memutuskan hubungan dengan Aya tanpa alasan yang jelas. Aya yang tidak ingin membuat ibunya bersedih karena kegagalan acara lamarannya berusaha untuk mencari pengganti Rudi.
Kemudian ia bertemu dengan Rizal (23) seorang OB berwajah tampan. Pertemuan karena salah paham itu membuat mereka semakin dekat. Aya dan Rizal akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan istimewa dengan perjanjian tertentu.
Pada akhirnya mereka saling jatuh cinta di dalam ikatan pernikahan istimewa tersebut. Apa yang membuat mereka saling jatuh cinta? Dan bagaimana mereka menyikapi konflik karena kehadiran orang ketiga yaitu orang-orang yang pernah hadir di masa lalu Aya dan Rizal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Gila
Menjelang zuhur, Aya memutuskan untuk pulang. Rizal meminta izin untuk ikut pulang bersama Aya, karena ia tidak membawa motor. Tadi pagi Rizal datang ke acara pernikahan ini ikut rombongan mempelai pria.
Rizal sudah duduk di atas motor milik Aya dan menyalakan motornya.
"Rizal, kita makan bakso dulu yuk ... kamu kan masih punya voucer traktiran di aku," ujar Aya.
"Boleh ... makan bakso di mana, Teh?"
"Yang enak di mana ya? Emmm ... bagaimana kalau bakso Mas Sugeng aja ... orang-orang bilang katanya baksonya enak."
"Yang di depan masjid agung ya Teh?" tanya Rizal.
"Iya," jawab Aya sambil mendudukkan bokongnya di atas jok motor dan motor pun melaju.
Mereka sampai di kedai bakso bertepatan dengan azan zuhur. Mereka memutuskan untuk salat Zuhur terlebih dahulu. Kedai bakso itu berada di depan area parkir masjid agung.
Selepas salat, Aya dan Rizal makan di kedai bakso Mas Sugeng.
"Memang kamu masih saudara dengan suaminya Iis?" tanya Aya membuka obrolan sembari menunggu pesanan baksonya datang.
"Iya Teh... saudara jauh... saya juga dulu pernah kerja di tempat Mas Sugi."
"Oya, kerja apa?"
"Mas Sugi punya peternakan unggas ... saya pernah bekerja di sana mengurus unggas, memberi makan unggas, membersihkan kotorannya dan sebagainya."
Mendengar cerita Rizal, sesungguhnya di dalam hati Aya timbul rasa kekaguman pada Rizal. Rizal lelaki yang tampan tapi dia mau bekerja apa saja. Aya juga punya beberapa teman pria yang berwajah tampan tapi kebanyakan dari mereka itu playboy suka gonta ganti pacar, kelakuan mereka justru membuat Aya tidak simpatik. Itulah sebabnya ketampanan tidak menjadi kriteria utama pria idaman Aya. Daripada tampan tapi playboy, lebih baik jelek tapi setia, begitu menurut pemikiran Aya. Tapi si Rudi sudah jelek, tidak setia pula.
"Rizal, apa keinginan terbesar dalam hidupmu yang kamu merasa sulit untuk mewujudkannya?" tanya Aya.
"Saya ingin mewujudkan mimpi almarhumah ibu saya ... ibu ingin ada anaknya yang bisa melanjutkan pendidikan minimal sampai S-1. Kakak perempuan saya hanya tamat SMP, saya ingin adik perempuan saya bisa kuliah ... tapi saya belum mampu untuk membiayai kuliahnya" tutur Rizal.
"Sekarang adik kamu bekerja ya?"
"Iya, karena saya belum bisa membiayai kuliah, maka terpaksa adik saya bekerja ... sebenarnya sih gak tega melihat dia bekerja."
"Adik kamu kerja di mana?"
"Dulu pernah kerja di pabrik sepatu, satu bulan doang saya suruh berhenti ... kasihan ... apalagi kerjanya di shift, kalau bagian kerja siang, pulang sampai rumah bisa sampai larut malam. Sekarang adik saya bekerja di minimarket, walaupun gajinya lebih kecil tidak apalah yang penting dia ada kegiatan."
Dua mangkok bakso dan dua gelas minuman teh dalam botol sudah disiapkan di atas meja. Pantas saja semangkok bakso Mas Sugeng ini harganya di atas rata-rata jika dibandingkan dengan harga bakso di kedai lainnya, ternyata memang rasanya sangat enak.
"Teh baksonya enak yah ... saya baru pertama kali ini makan bakso Mas Sugeng ... kalau beli bakso di sini sih sering tapi orderan punya orang, Hehehe, " ujar Rizal. Namun sepertinya Aya tidak menghiraukannya. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Aya tersedak, tenggorokannya terasa terbakar karena tadi ia menambahkan tiga sendok sambal di baksonya.
"Minum Teh!" Rizal menyodorkan minum untuk Aya.
"Iya terima kasih... Uhuk... Uhuk..."
"Teteh makan baksonya jangan sambil melamun dong ... kenapa Teh? Seperti ada yang dipikirkan." Sedari tadi Rizal memperhatikan Aya yang makan sambil melamun.
"Rizal setelah ini aku mau ngobrol penting sama kamu ya ... Bisa kan?" tanya Aya, sepertinya ada sesuatu yang muncul tiba-tiba dalam pikirannya.
"Iya Teh," jawab Rizal dengan menganggukkan kepala. Dan mereka melanjutkan menikmati kelezatan bakso Mas Sugeng.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aya dan Rizal sudah duduk di bangku alun-alun kota. Mereka memilih bangku di bawah pohon rindang agar terik matahari tidak menyengatnya. Ada hal penting yang ingin Aya bicarakan, tidak mungkin jika dibicarakan di tempat kedai bakso tadi karena khawatir ada yang mendengar.
"Rizal ... aku tadi sudah mendengar keinginan terbesar dalam hidup kamu. Kamu tahu tidak keinginan terbesarku saat ini?" tanya Aya dengan serius. Rizal hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Keinginan terbesarku saat ini juga sama, ingin membahagiakan ibuku ... aku tidak ingin menjadi beban pikiran ibu. Usiaku sudah tiga puluh tahun dan aku belum menikah"
"Ya kalau seperti itu ... Teteh menikah saja!" jawab Rizal.
"Masalahnya aku belum punya calonnya," sahut Aya. Rizal hanya diam menatap Aya dia bingung harus menjawab apa.
"Rizal ... kamu mau tidak menjadi suami aku?" Aya berkata dengan menatap mata Rizal.
"Su--suami?!"
"Iya ... begini ... tapi bukan suami sungguhan, hanya suami sandiwara ... kita menjalin hubungan saling menguntungkan seperti simbiosis mutualisme ... kamu jadi suami aku dan aku akan membiayai pendidikan adikmu hingga lulus S-1... aku mewujudkan cita-citamu dan kamu membantu masalahku." Aya berkata panjang lebar menjelaskan isi pikirannya, entah dari mana ide gila itu tiba-tiba saja muncul. Rizal hanya diam saja mendengarkan Aya berbicara.
"Ini semua demi ibu kita kan? Aku melakukan ini demi kebahagiaan ibuku ... dan kamu melakukan ini demi mewujudkan impian almarhumah ibumu."
"Ke--kenapa saya Teh? Kenapa saya yang Teteh pilih?! "
"Karena aku percaya kamu ... karena aku yakin kamu laki-laki yang baik." Tatapan mereka bertemu, berusaha menyelami apa yang ada di pikiran masing-masing.
"Bersama kamu tidak akan ada rasa khawatir ... aku tidak akan merasa terancam jiwa dan raga." Aya berkata dengan yakin.
Aya merasa buntu dengan masalahnya. Tidak mungkin ia bisa bertemu dengan lelaki impiannya dalam waktu singkat. Apalagi Aya tipe wanita yang tidak mudah jatuh cinta.
Menikah adalah sebuah jenjang dalam hubungan yang paling tinggi, membutuhkan komitmen dan dasar yang kuat. Untuk sebuah pernikahan sungguhan rasanya tidak mungkin bisa dilakukan dalam waktu cepat, perlu waktu yang relatif panjang untuk sekedar pengenalan dan saling memahami pasangan, dan yang paling sulit adalah harus adanya rasa saling mencintai.
Tiba-tiba saja ide itu muncul, pernikahan sandiwara. Tentu pernikahan sandiwara ini harus dilakukan bersama orang yang tepat. Jika sampai dilakukan dengan orang yang salah tentu sangat berbahaya, harta, jiwa dan raga menjadi taruhannya. Dan Rizal adalah orang yang tepat untuk mewujudkan ide gila itu. Aya percaya Rizal adalah laki-laki yang baik. Tidak mungkin Rizal akan berbuat jahat kepadanya.
"Rizal aku mohon..." Aya berkata dengan tatapan memohon.
"Aku mohon bantuanmu ... kamu adalah orang yang tepat untuk melakukan pernikahan sandiwara ini ... karena aku mempercayaimu."
Rizal hanya memandangi wajah Aya, menatap matanya lekat, tatapan mata memohon dari Aya menembus hingga jantungnya.
"A--aku tidak bisa memutuskannya sekarang ... berikan aku waktu untuk berpikir," ucap Rizal.
"Baiklah ... aku tunggu jawabannya tiga hari lagi ya."
.
.
.
.
.
Beberapa episode berikutnya mungkin adalah point of view (pov) atau sudut pandang Rizal ya. Penasaran kan apa yang ada di pikiran. Rizal... Tunggu kelanjutannya.
Jangan lupa Like dan Komen. Terima kasih