NovelToon NovelToon
Benih Titipan Sang Milyarder

Benih Titipan Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Slice of Life / Single Mom / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Komedi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?

Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.

Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.

Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Set Perhiasan

Seorang pria muda muncul dari belakang membawa nampan berisi sebotol soda dan dua botol air. Dia membuka botol dengan cekatan dan menuangnya di dua gelas.

Sekar berdiri di kanan panggung. “Gaun pertama kami adalah brokat Jawa karya Avantie.”

Seorang perempuan tinggi berambut pirang muncul dari belakang. Rambutnya lebih pendek dari Maggie, tapi tingginya sama, dan tubuhnya tidak ramping seperti yang Maggie bayangkan.

Dia punya dada yang sama dan sedikit buncit. Gaunnya warna persik muda, dan benar-benar tanpa punggung.

“Cuacanya seperti apa nanti?” tanya Kael. “Panas seperti hari ini?”

Sekar siap dengan jawabannya. “Pada hari Sabtu, suhunya tiga puluh derajat Celsius.” Kali ini Maggie menangkap sedikit nada mengejek di suara Sekar. Mungkin Maggie terlalu terbawa perasaan.

Saat Maggie tidak menunjukkan minat, Sekar memberi isyarat agar model lanjut.

Model pirang lain masuk. Rambutnya lebih panjang dan perutnya lebih rata dari Maggie, tapi masih mendekati.

Bagaimana mereka bisa setepat ini?

Mungkin itu alasan diperlukannya konsultasi. Kael pasti sudah mengirim foto.

“Ini Avantie Lemieux,” kata Sekar.

Maggie duduk tegak. Gaun safir itu mencuri perhatian dengan belahan dada yang dalam dan bodice ketat.

Bisakah Maggie memakainya?

Maggie sebelum ada Biann, pasti akan memakainya tanpa ragu-ragu.

Model pun naik ke panggung dan berputar.

“Mungkin,” kata Maggie pada Sekar. “Aku perlu lihat lainnya.”

Sekar mengangguk.

Pria muda itu kembali dengan nampan lain. Isinya Snack dan beberapa potong bolu kukus.

Saat Maggie kembali mengangkat pandangan, model pertama sudah kembali, kali ini mengenakan gaun satin putih gading dengan garis leher kotak, lengan pendek, dan kelim tepat di bawah lutut. Terlihat seperti sesuatu yang akan dipakai perempuan tua di pernikahan keduanya.

“Enggak,” kata Maggie tegas.

Mereka melewati sepuluh gaun lagi, dan Maggie memilih tiga.

“Siap mencobanya?” tanya Sekar.

Maggie melirik Biann. Memilih gaun ternyata mudah saja baginya. Tapi bagian setelah ini, mungkin tidak.

“Aku yang pegang bayinya,” kata Kael. “Kalau dia ribut dan aku enggak bisa mengatasinya, baru aku panggil kamu.”

Maggie menyerahkan Biann, lengkap dengan sling-nya, pada Kael.

“Aku enggak akan lama.” Maggie teringat kekacauan di ranjang pesawat. “Jangan ganti popoknya. Biar aku aja.”

“Siap.”

Maggie bergegas mengikuti Sekar ke ruang lain dengan tirai merah. Tiga gaun itu tergantung di gantungan emas yang berkilau.

“Saya akan bantu,” kata Sekar. “Kayaknya waktu kita terbatas.”

Sekar membuka ritsleting di bagian belakang gaun Maggie sementara Maggie melepas sandal.

Niat Maggie sederhana, mencoba yang paling disuka dulu, kalau cocok, langsung ambil. Gaun safir jelas jadi yang pertama.

Gaun itu diselipkan lewat kepala, aroma kain mahalnya langsung tercium.

Tapi saat Sekar mengencangkan bagian belakangnya, Maggie tahu ini tidak akan berhasil.

Payudaranya berada di posisi yang salah. Terlalu besar dan terlalu rendah. Belum lagi, bagaimana kalau Biann perlu menyusu?

Gaunnya terlalu ketat sampai-sampai harus dilepas hampir seluruhnya.

Maggie pun menggeleng.

Gaun kedua, berwarna emas pucat dengan potongan pinggang empire dan detail manik-manik, pas sempurna. Tapi payetnya menggesek lengannya. Maggie tidak bisa membayangkan menggendong Biann dengan lingkaran tajam itu menempel di kulitnya.

“Enggak.”

Mulai muncul keraguan apakah akan ada yang cocok.

Maggie beralih ke yang terakhir. Bukan sesuatu yang biasanya dia pilih. Warnanya hijau zamrud, bergetar lembut dengan lapisan kain ringan yang membentuk kelim asimetris.

Dia masuk ke dalamnya dan Sekar menarik ritsletingnya. Gaun itu menyentuh tubuhnya dengan pas, tidak ketat, tidak longgar. Kain-kainnya menyentuh lutut dengan menggoda. Warnanya membuat rambut Maggie hampir tampak keemasan.

Maggie menyadari bagian depan gaun saling bertumpuk, membentuk belahan dada yang cukup dalam, tapi juga bisa ditarik ke samping. Ini bisa diatur. Pinggang yang pas membuatnya terlihat memiliki pinggang lagi.

“Aku suka ini,” katanya.

“Kita lanjut ke aksesori,” ujar Sekar.

Pria muda itu masuk lagi, mendorong troli kecil berlapis kain, penuh sepatu hijau berkilau.

Ada stiletto, satu dengan tumit emas, sepasang sandal terbuka, sepatu tertutup sederhana, dan sepatu transparan nyaris tak terlihat dengan detail berlian dan zamrud yang tampak melayang.

“Yang itu,” kata Maggie tanpa ragu, menunjuk pasangan terakhir. Tingginya pasti tidak praktis, tapi Maggie belum pernah melihat yang seperti ini dan harus mencobanya.

Pria itu menarik kursi dan memberi isyarat agar Maggie duduk. Dia berlutut di depan Maggie dan memasangkan sepatu pertama ke kaki telanjangnya seperti Cinderella.

"Oh, ini luar biasa."

Saat Maggie berdiri, dia sadar bisa berjalan dengan baik, langkah percaya dirinya kembali. Batu-batu berkilau di kakinya, seuntai kristal mengelilingi pergelangan kaki.

Dia jatuh cinta pada sepatu itu.

“Iya, yang ini,” katanya.

“Bagus.” Sekar mengangguk. Akhirnya, mereka deal.

Pria muda itu muncul lagi, menyerahkan nampan perhiasan pada Sekar.

“Dan ini, sentuhan spesial.” Sekar mengangkat sebuah kalung emas putih bertabur berlian. Di tengahnya ada segitiga zamrud yang sempurna.

Saat kalung itu dipasangkan di leher Maggie, sudutnya jatuh tepat di kulit, menegaskan garis gaun dengan sempurna. Indah luar biasa. Maggie tidak bisa menahan diri untuk menyentuh garis dingin perhiasan itu.

“Cantik,” kata Sekar. “Kami punya set lengkap dengan gelang, cincin elegan, dan anting yang serasi.”

“Entahlah,” kata Maggie, tanpa berani membayangkan harganya.

Ekspresi Sekar tidak berubah. “Mari kita perlihatkan tampilannya pada Tuan Brawangsa.”

Dia membawa Maggie kembali ke ruang utama. Kael kini berdiri, mengayun Biann di dada. Jantung Maggie mengencang.

“Dia sempat rewel, tapi enggak parah.”

Maggie hampir berlari menghampiri, tapi kemudian ia membayangkan muntahan Biann di seluruh gaun mahal ini. Kael terlihat bisa mengendalikan situasinya.

Sekar menggenggam tangan Maggie dan membimbingnya menaiki tangga kecil ke panggung.

Maggie menoleh ke Kael. Kael tampak lupa pada bayi itu, tangannya berhenti di punggung Biann. Dia memperhatikan setiap senti tubuh Maggie, berhenti di belahan dada yang dalam dan bagaimana gaun itu mengikuti lekuk pinggulnya.

“Putar,” katanya.

Maggie harus menelan ludah saat berputar perlahan, melihat pantulan mereka di cermin. Tatapan Kael tidak pernah lepas dari tubuhnya, dan dia ikut menelan ludah dalam-dalam, jakunnya bergerak naik turun.

“Kamu suka?” tanya Maggie.

“Kamu bikin aku susah napas.”

Maggie menekan tangan ke kalung dengan gugup. “Kita enggak harus ambil perhiasannya.”

“Tentu harus,” kata Kael. Dia menoleh ke Sekar. “Masih ada yang kurang, kan? Anting? Gelang?”

Sekar mengangguk. “Satu set lengkap.”

“Tolong selesaikan satu set lengkapnya.”

Sekar menunduk singkat. “Baik, tuan. Saya akan kemas gaunnya.”

“Kamu oke sama itu?” tanya Maggie.

Kael mengangguk. “Kita udah rencanain ini.”

Maggie menggeleng pelan. “Aku balik sebentar. Makasih.”

Sekar mengikutinya melewati tirai. “Lelaki yang mau menggendong bayi ... sementara kamu belanja,” kata Sekar saat mereka menggantung gaun kembali. Tidak ada nada menyindir. “Kamu beruntung.”

Maggie setuju.

Dia memang beruntung.

...𓂃✍︎...

...Berbahagialah, sampai kamu tidak pernah lagi mendengar kabarku....

...────୨ৎ────...

1
Cindy
lanjut
Nar Sih
asyikk ahir nya recana kael berhasil meggie ikut 👍
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Rainn Ziella
😭🤣
Karunia Disha
ehh,, aq ikut ngos"an🤣
Karunia Disha
maggie yg mau melahirkan tp aq yg deg"an😆
DityaR 🌾: 🤭🤭🤭🤭 wkwkwk
total 1 replies
Rainn Ziella
Cieeee
Rainn Ziella
Wkwkwk totalitas bngt 😭
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Rainn Ziella
Bahlil aja 😭🗿
Rainn Ziella
Langka ni orang
Rainn Ziella
Dikata bom apa 🗿
Rainn Ziella
Banyak nanya ihh kesel ya meg 😭🤣
Adellia❤
om ganteng udah nandain seseorang🥰🥰
Afrilho
Mampir👍
Rainn Ziella
Ga expect bgt meg 😭🤣
Azarah Jaimani Azarah
untung gk lahiran di mobil kayak aku .
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .
Rainn Ziella: Serius kak? Terus lahirannya sama siapa kak pas di mobil itu
total 1 replies
Adellia❤
untung enggak pake boxer rainbow🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!