Darren adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh Jhon Meyer, Owner XpostOne. Prestasinya sangat gemilang sehingga dia sering di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk bertugas di daerah konflik.
Umurnya sudah dua puluh delapan tahun dan belum menikah. Ia berjanji sebelum bisa membalaskan sakit hatinya kepada keluarga Blossom, ia tak mau menikah. Dulu saat berumur sepuluh tahun orang tua dan kakaknya di bakar hidup-hidup oleh keluarga Blossom.
Suatu hari ia di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk menyelamatkan tiga orang gadis yang terperangkap didesa Beduwi. Dengan berat hati ia pergi ke Bali, tapi apa yang dia temukan di desa itu? Ilmu hitam atau Le-ak. Sangat mengerikan dan hampir saja ia menjadi tumbal.
Saat mengetahui salah satu dari ke tiga gadis itu adalah putri keluarga Blossom, ia pun membuat rencana jahat untuk menyiksa gadis itu.
Apakah yang direncanakan oleh Darren? silahkan baca sampai tamat.
Trimakasih, jangan lupa like, coment***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.19. PULANG KE JAKARTA
Aluna tidak mengerti darimana Intan mendapatkan mobil secara mendadak, bukankah tadi mereka mengatakan naik pesawat? Atau Intan membeli mobil seken supaya bisa mengajaknya balik ke Jakarta.
Ia bingung terhadap sikap dan tingkah laku Intan sekarang. Aneh dan terlihat sombong. Dari sudut matanya Aluna tahu bahwa Intan sering mencuri pandang. Dia terasa asing dan tidak seramah dulu, apa dia sakit hati gara-gara tak sempat menolongnya.
"Luna naik ke mobil kita segera berangkat supaya tidak keburu malam. Nanti Yudi akan menyetir. Kita pelan-pelan saja yang penting selamat di jalan."
"Siapa punya mobilnya?" tanya Aluna ingin tau.
"Aku terpaksa beli mobil seken supaya kamu bisa ke Jakarta. Sampai Jakarta urus kartu pengenalmu, nanti Yudi yang akan menemanimu."
"Ohh..kamu berbeda sekarang, terlihat..."
"Manusia perlu perubahan, aku memang kaya sekarang, sudah punya rumah dan mobil. Sebentar lagi aku akan punya hotel bintang lima."
"Hebat sekali, apa kamu sudah menikah?"
"Belum menikah, aku fokus dulu dengan karier. Tidak lama lagi aku akan bekerja di hotel Blossom menjadi dokter pribadi mereka." ucap Intan bangga.
"Apa mama merekomendasikan?"
"Tentu, apa sih yang tidak bisa aku gapai, semua keinginanku di luluskan oleh mama."
Tanpa terasa hulu hati Aluna terasa perih, ada yang menusuk, ia merasa sedih dan tercampakan. Mamanya mungkin punya pertimbangan lain sehingga mengangkat anak dan melupakan dirinya.
"Apa kamu sering ketemu mamaku?"
"Tiap hari ketemu mama, khan aku sudah katakan, aku sudah resmi di angkat anak. Sekarang mama sangat tergantung padaku pengobatanku. Aku merawatnya siang dan malam untuk mengontrol penyakit diabet dan kolesterol."
"Sekarang kamu tinggal di rumahku?" tanya Aluna kaget.
"Aku malah tidur di kamar mu. Semua itu perintah mama. Aku tidak mau durhaka, apapun perintah mama aku menurut."
Biasanya mama sangat selektif menerima orang, rasanya cerita Intan tidak benar. Bisa saja dia bohong... tapi untuk apa?"
"Kamu tau Lun, saat papa tau aku selamat dari desa Beduwi, tujuh pengawal datang menjemput ku di Bali, dan yang lebih istimewa aku di antar memakai privat jet ke Jakarta. Aku dan Yudi di sambut sangat meriah." cerita Intan bangga.
"Hebat sekali..."
"Mama menyiapkan kue besar dan banyak hadiah. Aku dan Yudi dikasi mobil BMW baru, uang sepuluh miliar dan Yudi lima belas miliar. Masing-masing dikasi satu unit rumah minimalis."
"Kamu sudah kasih tau mama kalau aku akan pulang?"
"Belum sempat, mama lagi sibuk dengan temannya." bohong Intan.
"Berarti mama belum tau aku pulang. Kalau begitu aku akan menelponnya."
Aluna membuka hapenya, Yudi langsung memandang Intan dari kaca spion mobil, ia takut dan berharap nyonya Yunita tidak mengangkat teleponnya.
"Mama memblokirku..." lirih suara Aluna.
Ia sangat kecewa kepada mamanya, kenapa mamanya tiba-tiba bisa berubah? Apa karena sudah ada Intan sebagai anak angkat? Pikiran itu berkecamuk di otaknya.
"Jangan bersedih, mama sering mengeluh kalau dia benci padamu. Gara-gara kamu keluarga Blossom menahan malu, karena keluarga Katrin datang marah-marah dan mereka minta tebusan satu triliun, papa dan mama merasa bersalah karena Katrin meninggal." bohong Intan.
"Kita semua sepakat pergi, aku tidak memaksa kalian. Aku tidak tau bencana itu akan terjadi, kalau tau tidak mungkin kita kesana. Kamu dan aku hampir m*ti, tapi Katrin duluan menin66al karena dia punya sesak nafas."
"Nona Aluna..sabar, mungkin mama nona lagi banyak masalah. Nanti kami berdua akan merayunya." ucap Yudi perhatian. Ia tidak tega melihat Aluna meneteskan air mata.
"Terimakasih atas perhatian kalian, aku selalu merepotkan."
"Tidak apa-apa kita saling bantu."
Matahari sudah condong ke barat, mobil masuk ke kapal menyeberang Gilimanuk Ketapang. Hati Aluna semakin sedih saat tau, kalau orang tuanya tidak peduli lagi. Sepanjang perjalanan ia menangis pilu, kini mamanya telah membuangnya.
Intan menyodorkan air mineral kepada Aluna, ia pura-pura perhatian, namun di balik sikapnya itu, ia merasa puas melihat Aluna menderita. Dia terus menghasut dan mengatakan bahwa mama, papanya tidak suka kalau Aluna kembali.ke rumah.
"Mama Yunita sering curhat padaku, ia kesal denganmu yang manja dan egois, tidak mau menurut..." ucap Intan lagi.
"Kalau mama tidak suka padaku, aku akan pergi sesuai keinginannya."
"Nona, pulang dulu temui orang tua..."
"Yudi, biarkan Luna pergi daripada terus berantem dengan orang tuanya. Lebih baik kita cariin dia kost dan pekerjaan untuk kelanjutkan hidupnya."
Yudi mendadak terdiam, ia tidak mau berdebat dengan Intan. Hati kecilnya menangis melihat perlakuan Intan kepada Aluna, Ia kasihan dan ingin melindungi gadis itu.
"Kalau nona mau, silahkan tinggal di rumah saya. Setiap hari saya sibuk, tidak bisa bersih-bersih rumah."
"Ide yang bagus, untuk sementara kamu tinggal di rumah Yudi, aku nanti akan berusaha membujuk mamamu supaya luluh hatinya. Siapa tau mereka mau menerimamu kembali."
"Trimakasih aku ucapkan kepada kalian berdua...." ucap Aluna sambil menghapus air matanya.
Di saat begini ia butuh Darren, tapi ia baru sadar tidak mungkin bisa menghubungi Darren, karena ia tak tau nomer hapenya. Alamat rumahnya juga. Ia betul-betul merasa bodoh.
Aluna begitu saja percaya, jangan-jangan Darren seorang buaya darat. Tanpa sadar ia mengelus perutnya, takut hamil.
Seharusnya dia tetap tinggal di Bali supaya Darren tidak bingung mencarinya. Nasi telah menjadi bubur, ia tak mungkin balik ke Bali dalam keadaan tidak punya uang.
"Kalau aku tahu sifat mama berubah padaku, mungkin aku tidak mau balik ke Jakarta. Bisakah kamu meminjamkan uang untuk aku balik ke Bali?"
"Luna jangan bodoh, kalau kamu balik pasti warga desa Beduwi akan mencari keberadaanmu. Aku saja tidak berani lama-lama tinggal di Bali."
"Tapi aku punya calon suami, aku lupa nomer teleponnya. Dia akan menikahiku bulan ini."
"Luna...Luna...cepat sekali kamu tergoda. Siapa laki-laki itu, kerja dimana dia?"
"Dia orang mis-kin yang tidak perlu di perhitungkan, kami saling mencintai dan berjanji sehidup semati."
"Kamu bertemu dimana, mau saja ditipu oleh laki-laki mokondo."
"Dia menolongku waktu berada di kuburan di desa Beduwi..."
"Jangan-jangan itu suruhan papamu. Tak mungkin... nanti aku mencari pacarmu, sekarang tinggal di rumah Yudi dulu." tegas Intan.
"Baiklah...." ucap Aluna pasrah.
Tidak ada tempat lain yang aman baginya sekarang ini. Jika ia kerumah salah satu adik papanya, takutnya mereka malah menjodohkannya.
Setelah hampir dua hari perjalanan, mereka sampai di Jakarta. Mereka menuju ke rumah Yudi. Rumah ini tidak begitu besar, minimalis modern, ada kolam renang mini juga.
"Ini rumahku, nona bisa tinggal di kamar sebelah atau di lantai atas." ucap Yudi ramah.
"Hei..jangan disitu tidak baik dilihat orang. Nanti jadi fitnah, lebih baik kamu tidur dibelakang.." ucap Intan menarik tangan Aluna ke kamar pembantu.
"Intan itu kamar pembantu..." teriak Yudi.
"Masalahnya apa, Aluna cocok disini!!" bentak Intan menarik Aluna ke kamar pembantu.
*****