NovelToon NovelToon
Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Ruang Ajaib
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author:

Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….

26

Langit di atas Desa Sukamaju perlahan berubah menjadi kelabu keunguan, menandakan senja telah tiba. Namun, di bawah pohon beringin dekat sumur umum, suasana justru memanas. Di sanalah Bu Sumi berdiri, memegang sebuah bakul cucian yang kosong, namun mulutnya penuh dengan desas-desus yang siap ia tumpahkan kepada siapa saja yang lewat.

"Kalian lihat sendiri kan, betapa anehnya keluarga itu?" Bu Sumi memulai pembicaraan dengan suara yang ditekan, namun cukup tajam untuk merobek keheningan sore. "Mana ada orang lumpuh dua tahun bisa jalan tegak dalam waktu sekejap hanya karena makan sayur? Logika kita di mana, Ibu-ibu?"

Beberapa wanita desa yang sedang mencuci kaki di sumur saling pandang. Bu Tejo, yang biasanya lebih bijak, mencoba menyela. "Tapi Bu Sumi, Anjeli itu anak rajin. Dia mengolah pupuknya sendiri. Saya saja yang pakai kangkungnya merasa badan lebih segar."

"Segar atau terhipnotis?!" bentak Bu Sumi sambil membelalakkan matanya. "Jangan-jangan sayur-sayur itu sudah diberi jampi-jampi. Kalian ingat kan, tempo hari mawar di pagarnya seperti bergerak sendiri waktu suamiku lewat? Pak Darmo sampai luka-luka lengannya! Itu bukan mawar biasa, itu tanaman peliharaan jin!"

Rayuan hasutan Bu Sumi mulai bekerja. Rasa takut adalah benih yang paling mudah tumbuh di tanah ketidaktahuan. Ia mulai mendekati satu per satu warga, membisikkan bahwa jika petugas pengadilan datang dan mendapati desa mereka dihuni oleh penganut aliran aneh, maka bantuan pemerintah atau citra desa akan rusak.

"Nanti kalau petugas itu datang tanya-tanya, bilang saja yang sejujurnya. Bilang kalau keluarga Burhan itu tertutup, kegiatannya mencurigakan, dan sering ada bau-bau aneh dari kebunnya pada malam hari. Kita harus menyelamatkan desa ini dari pengaruh buruk anak kecil yang sok pintar itu," pungkas Bu Sumi dengan senyum kemenangan yang tersungging di bibir tipisnya.

Di saat yang sama, Anjeli yang tidak mengetahui rencana busuk tetangganya, justru sedang berada di dalam Ruang Ajaib. Ia merasa bahwa kebersihan fisik rumah saja tidak cukup untuk menyambut petugas sosial. Ia membutuhkan sesuatu yang bisa meredam ketegangan emosional siapa pun yang masuk ke rumahnya.

Ia melangkah menuju lemari akar di dalam gubuk. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mencoba menarik laci ketiga yang selama ini terkunci rapat. Ajaibnya, kali ini laci itu terbuka dengan suara gesekan kayu yang halus.

Di dalamnya, terdapat sebuah kantong kain sutra kecil berisi benih yang sangat halus, hampir menyerupai serbuk emas. Di sampingnya, terdapat secarik kertas perkamen tua:

“Bunga Lavender Embun Surga. Tanamlah di ambang pintu. Aromanya adalah penawar amarah, kelopaknya adalah pembawa damai. Siapa pun yang menghirupnya, akan teringat pada rumah dan kasih sayang."

Anjeli merasa inilah jawaban untuk kunjungannya nanti. Ia segera mengambil segenggam tanah Ruang Ajaib, mencampurnya dengan benih tersebut, dan membawanya keluar ke dunia nyata.

Malam itu, di bawah temaram sinar bulan, Anjeli berjongkok di depan teras rumahnya. Ia menggali lubang-lubang kecil tepat di bawah jendela ruang tamu dan di sisi kanan-kiri pintu masuk.

"Kak, lagi tanam apa di malam-malam begini?" tanya Aris yang muncul dari balik pintu, mengucek matanya karena terbangun dari tidur singkatnya.

Anjeli menoleh dan tersenyum lembut. "Kakak tanam bunga kedamaian, Sayang. Supaya nanti kalau ada tamu yang datang dengan hati yang lelah atau marah, mereka jadi merasa tenang setelah sampai di rumah kita."

Aris ikut berjongkok, tangannya yang kecil membantu menutupi lubang tanam dengan tanah. "Seperti waktu Kakak kasih jahe ke Ayah? Biar Ayah tidak marah-marah lagi?"

"Iya, persis seperti itu. Sekarang Aris masuk lagi, tidur ya. Besok kita siram sama-sama," ucap Anjeli sambil mengecup kening adiknya.

Setelah Aris masuk, Pak Burhan keluar dengan langkah yang semakin mantap. Ia berdiri di teras, memperhatikan putrinya bekerja. "Nak, Ayah dengar di warung Mak Odah tadi, Bu Sumi mulai bicara yang tidak-tidak lagi. Dia bilang petugas sosial harus waspada sama kita."

Anjeli berhenti sejenak, menatap Ayahnya. "Biarkan saja, Ayah. Seperti nggk tau saja siapa buk Sumi. Kebohongan itu seperti tanaman tanpa akar, Yah. Sekali ditiup angin kebenaran, dia akan tumbang. Kita hanya perlu fokus pada apa yang kita bangun di sini."

Pak Burhan menarik napas panjang, menghirup udara malam yang entah mengapa terasa lebih manis sejak Anjeli menanam benih tadi. "Ayah percaya padamu. Ayah hanya tidak ingin kamu terluka oleh mulut orang desa."

Keesokan paginya, terjadilah sesuatu yang membuat Anjeli tertegun. Bunga Lavender Embun Surga yang ia tanam semalam telah tumbuh setinggi mata kaki, dengan kuncup-kuncup ungu pucat yang mulai terbuka.

Aromanya mulai menyebar. Itu bukan aroma parfum yang menyengat, melainkan aroma yang mengingatkan pada padang rumput setelah hujan, dicampur dengan wangi roti hangat dan pelukan ibu.

Saat Mak Odah lewat di depan rumah untuk pergi ke pasar, ia mendadak berhenti di depan pagar Anjeli. Mak Odah yang biasanya selalu terburu-buru dan berisik, tiba-tiba berdiri diam, menarik napas dalam-dalam, dan wajahnya yang penuh kerutan mendadak tampak sangat rileks.

"Duh, Njel... bunga apa ini? Kok rasanya hatiku mendadak adem benar. Tadinya aku mau marah-marah sama tukang ikan yang utangnya belum lunas, tapi sekarang rasanya... ya sudahlah, mungkin dia memang lagi susah," ucap Mak Odah sambil tersenyum lebar.

Anjeli yang sedang menyapu halaman tersenyum simpul. "Hanya bunga liar dari hutan, Mak. Senang kalau Mak Odah suka baunya."

Namun, di ujung jalan, Bu Sumi sedang memantau dengan wajah curiga. Ia melihat bagaimana Mak Odah yang biasanya menjadi teman menggosipnya kini justru tampak bersahabat dengan keluarga Anjeli.

"Lihat itu... dia mulai pakai dukun wangi-wangian," gumam Bu Sumi dengan dengki. "Awas saja, petugas sosial tidak akan mempan dengan bau-bauan sampah seperti itu. Aku akan pastikan mereka mendengar versi ceritaku."

———

Aduhhh…buk Sumi ini nggk ada habis-habisnya ngejulid, rasa iri nya kok mendarah daging bangettt…pen Author buang ke laut-_-

Okeyyy lanjut ceritanya……

Siang itu, keluarga kecil itu berkumpul untuk makan siang. Di atas meja tersedia sayur bening bayam dari kebun, sambal terasi, dan ikan asin goreng. Sederhana, namun nikmatnya melebihi restoran mewah manapun karena dimakan dalam suasana damai.

"Ayah," Anjeli memulai, "Tiga hari lagi petugas itu akan datang. Anjeli ingin Ayah nanti bercerita tentang bagaimana Ayah melatih kaki Ayah setiap pagi. Jangan ditutupi, ceritakan saja betapa sakitnya dulu dan betapa senangnya Ayah sekarang."

Pak Burhan mengangguk, menyuap nasinya dengan tenang. "Ayah akan cerita, Nak. Ayah juga akan tunjukkan buku catatan perkembangan jalan Ayah yang kamu buat itu. Biar mereka tahu kita tidak main-main."

Aris menyela sambil mengunyah buncis rebusnya. "Aris juga mau tunjukkan kebun tomat Aris! Tomatnya sudah ada yang merah kecil-kecil, Kak!"

Anjeli membelai rambut Aris. "Iya, Sayang. Tunjukkan saja semuanya. Kita tidak punya rahasia buruk di sini. Rahasia kita cuma satu yaitu kekuatan cinta dan kasih sayang kita”

Di tengah percakapan hangat itu, Anjeli meraba cincin di jarinya. Ia tahu tantangan terbesar bukan pada petugas sosial yang datang, melainkan pada bagaimana ia mempertahankan kedamaian ini dari gangguan luar yang mulai merongrong. Bu Sumi hanyalah awal, dan ia harus siap dengan taktik yang lebih cerdas untuk melindungi martabat Ayah dan masa depan Aris.

Malam harinya, Anjeli kembali ke Ruang Ajaib, menyiapkan pupuk terakhir untuk tanaman lavendernya agar saat petugas itu datang, seluruh rumah akan diselimuti oleh aura kedamaian yang tak tertandingi oleh harta manapun yang dimiliki Anita di kota.

1
Wanita Aries
mampir thorr
@Mita🥰
wah kasihan ya rumah Anjeli baru di bangun
Andira Rahmawati
lanjutttt makin seruuu💪💪💪
Lala Kusumah
semangat Anjeli, kamu pasti bisa 💪💪💪
Lala Kusumah
good job Anjeli 💪💪💪👍👍👍😍😍
@Mita🥰
semangat Anjeli
@Mita🥰
semoga sukses selalu thor
@Mita🥰
lanjut thor
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
mantaaap 👍👍👍
@Mita🥰
ini ruang ajaib nya bukan di cincin itu ya thor kok lewat pintu
@Mita🥰
bagus ceritanya
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
sukses selalu untuk Anjeli ya 🙏🙏🙏
Aretha Shanum
lanjut, suka ceritanya
Putri Hasan
suka ceritanya /Smile/
semangat updatenya 💪💪
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut
Evi Lusiana
sedih thor,cerita anjelibkin aku tertampar betapa sringny aku lalai tuk bersyukur atasa nikmat Tuhan
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Evi Lusiana
bagus thor,cm msih ad typo dikit²,ttp semangat thor
Lala lala
author pelan2 aja nulisnya dan hrs ingat alurnya..
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!