NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BONUS*

Malam itu tidak membawa hujan. Langit bersih, bertabur bintang yang jarang terlihat dari kota.

Angin berembus pelan, menyusup lewat celah jendela yang terbuka setengah. Rumah Reynard tenggelam dalam ketenangan yang jarang muncul sejak hari-hari penuh tekanan belakangan ini.

Yurie duduk di teras belakang, memeluk cangkir teh hangat. Ia tidak sedang memikirkan apa pun secara khusus. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kepalanya tidak dipenuhi rencana, nama, atau bayangan masa lalu.

Ia hanya duduk. Bernapas. Ada jeda kecil di antara semua hal yang terasa rumit. Langkah kaki terdengar mendekat. Tidak tergesa. Tidak berisik.

“Tehnya keburu dingin kalau terus dipeluk,” suara Kaiden terdengar dari belakangnya.

Yurie menoleh dan tersenyum kecil. “Aku lupa meminumnya.”

Kaiden duduk di sebelahnya, jaraknya sopan. Ia membawa satu cangkir lain, aroma teh chamomile samar tercium.

“Kau jarang lupa hal kecil seperti ini,” katanya.

Yurie mengangkat bahu. “Mungkin karena aku sedang tidak ingin mengingat apa pun.”

Kaiden menyesap tehnya. “Itu terdengar seperti kemewahan.”

“Dan menakutkan,” tambah Yurie jujur. “Aku terbiasa tegang.”

Kaiden meliriknya. “Kau tidak harus selalu siap.”

Yurie tersenyum tipis. “Aku sedang belajar itu.”

Mereka terdiam. Tidak canggung. Keheningan yang hadir di antara mereka terasa nyaman—seperti ruang aman yang tidak perlu dijelaskan.

“Apa kau pernah,” Yurie membuka suara pelan, “merasa tenang di tengah situasi yang seharusnya membuatmu khawatir?”

Kaiden berpikir sejenak. “Sekarang.”

Yurie menoleh cepat. “Sekarang?”

Kaiden mengangguk. “Meski semua ini belum selesai, ada bagian dari diriku yang… tidak lagi gelisah.”

Yurie menatap ke depan. “Kenapa?”

“Karena aku tahu aku tidak sendirian menghadapinya,” jawab Kaiden tanpa ragu.

Kalimat itu membuat dada Yurie menghangat. Ia menunduk, jari-jarinya mencengkeram cangkir lebih erat. “Aku takut menjadi beban,” katanya lirih.

Kaiden menoleh sepenuhnya. “Kau bukan beban.”

Yurie mengangkat wajahnya. “Kau tidak perlu berkata begitu hanya karena—”

“Aku tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak aku yakini,” potong Kaiden lembut. “Kau hadir. Kau memilih bertahan. Itu bukan beban.”

Hening kembali menyelimuti mereka, kali ini lebih dalam.

Yurie menghembuskan napas panjang. “Aku sering berpikir… kalau aku tidak lahir dengan wajah dan warna mata ini, mungkin hidupku akan berbeda.”

Kaiden menatapnya. “Mungkin.”

“Tapi sekarang aku mulai berpikir,” lanjut Yurie,

“kalau semua ini memang membawaku ke titik ini.”

“Ke titik apa?” tanya Kaiden.

Yurie tersenyum samar. “Ke tempat di mana aku tidak lagi merasa kecil.”

Kaiden menatapnya lama, sorot matanya lembut. “Kau tidak pernah kecil.”

Yurie terkekeh pelan. “Kau selalu bilang hal-hal

seperti itu dengan nada yang terlalu serius.”

Kaiden ikut tersenyum tipis. “Karena aku serius.”

Angin berembus sedikit lebih kencang. Yurie menggigil ringan tanpa sadar. Kaiden melepaskan jasnya dan menyampirkannya ke bahu Yurie tanpa banyak bicara. Gerakannya alami, tidak dibuat-buat.

“Terima kasih,” ucap Yurie.

“Sama-sama.”

Jari-jari Yurie mencengkeram ujung jas itu. Kehangatannya tidak hanya datang dari kain, tapi dari gestur kecil yang terasa tulus.

“Aku tidak pernah menyangka,” Yurie berkata pelan, “akan merasa aman seperti ini.”

Kaiden tidak langsung menjawab. Ia menatap halaman yang sunyi.

“Aku juga tidak menyangka, akan menemukan ketenangan di tengah kekacauan.”

Yurie menoleh. “Apa aku bagian dari ketenangan itu?”

Kaiden tersenyum, kali ini lebih jelas. “Ya.”

Jantung Yurie berdegup lebih cepat, tapi bukan dengan panik. Hanya hangat. Mereka duduk berdampingan lebih lama. Tidak ada sentuhan yang melampaui batas. Tidak ada janji besar. Hanya dua orang yang berbagi ruang dan waktu tanpa tekanan.

“Kaiden,” Yurie memanggil pelan.

“Hm?”

“Kalau nanti semua ini selesai… apa yang akan kau lakukan?”

Kaiden berpikir sejenak. “Aku ingin hidup lebih jujur.”

“Jujur bagaimana?”

“Tidak terus bersembunyi di balik tanggung jawab,” jawabnya. “Dan kau?”

Yurie tersenyum. “Aku ingin bangun tanpa rasa takut.”

Kaiden menoleh, lalu berkata pelan, “Aku harap aku masih ada di hidupmu saat itu.”

Yurie tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, senyum lembut terukir di wajahnya.

“Kurasa,” katanya akhirnya, “aku juga berharap begitu.”

Di atas mereka, bintang tetap berpendar. Dunia masih penuh teka-teki. Ancaman belum benar-benar pergi. Namun di sela semua itu, ada satu malam yang tenang—cukup untuk menguatkan langkah sebelum badai berikutnya datang.

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!