Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Aluna terus memacu langkahnya, telinganya terasa panas seperti disiram air mendidih. Rasanya ingin sekali ia berbalik dan meneriaki mereka semua agar diam, tapi ia tahu itu hanya akan membuat keadaan makin runyam. Setiap pasang mata yang menatapnya seolah-olah sedang menghakimi, dan bisik-bisik itu terdengar makin nyaring saat ia melewati koridor utama.
"Gue nggak kegatelan, dasar mulut lemes!" umpat Aluna dalam hati. Dadanya sesak, perpaduan antara marah, malu, dan kesal karena harus menanggung beban sendirian, sementara si pelaku lainnya mungkin sedang sibuk dengan urusan OSIS.
Begitu sampai di depan pintu kelasnya, Aluna menarik napas panjang, mencoba mengatur raut wajahnya agar terlihat tetap galak dan tak terkalahkan. Begitu ia mendorong pintu kelas...
Sret!
Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap selama tiga detik. Semua mata tertuju padanya. Namun, keheningan itu pecah saat dua orang gadis menerjangnya seperti pemain rugby yang sedang mengejar bola. Sesya dan Belva, dua sahabatnya yang level energinya selalu di atas normal, langsung menarik tangan Aluna dan menyeretnya ke pojok kelas.
"ALUNAAA! Sumpah ya, lo beneran bikin grup angkatan hampir meledak tadi malem!" Sesya memulai dengan suara melengkingnya yang khas, tangannya memegang bahu Aluna kuat-kuat seolah takut Aluna bakal kabur.
"Na, lo jujur sama kita! Itu gosip di mading, di koridor, sampe di grup anak-anak julid... itu beneran?!" Belva menimpali dengan mata melotot. "Satu sekolah bilang lo sama Arlan si Ketos Kulkas yang mukanya rata kayak tembok itu kepergok di toilet cewek! Terus katanya lo sampe diseret ke ruang BK!"
Aluna menghela napas pasrah, meletakkan tasnya dengan bunyi buk yang cukup keras di atas meja. "Bisa nggak sih lo berdua nggak usah pake toa kalau ngomong? Kuping gue udah mau pecah dengerin ocehan orang dari depan gerbang tadi!"
"Gimana mau pelan-pelan, Na! Ini tuh berita besar!" Sesya menarik kursi dan duduk tepat di depan Aluna, badannya dicondongkan ke depan penuh rasa ingin tahu. "Kak Arlan itu kan robot, Al! Dia beneran punya nafsu sama manusia sampe berani masuk toilet cewek?! Apa lo yang sengaja nyeret dia ke dalem biar dapet perhatian?"
"Sesya! Jaga mulut lo!" Aluna melotot kearah sahabatnya itu, tangannya mengepal. "Nggak ada yang ngapa-ngapain ya! Itu murni kecelakaan! Gue kejebak di toilet karena pintunya macet, terus si Kulkas Formalin itu niatnya mau nolongin karena gue teriak-teriak kayak orang gila. Eh, sialnya malah ada guru lewat! Ya udah, tamat riwayat gue!"
Belva memicingkan mata, menatap Aluna dari ujung rambut sampai ujung kaki penuh selidik. "Masa sih cuma gara-gara pintu macet sampe orang tua dipanggil segala? Gosipnya nih ya, katanya bokap-nyokap lo sampe dateng ke sekolah dengan muka tegang. Masa urusan kunci toilet doang sampe segitunya?"
Aluna mendadak kaku. Ia hampir saja keceplosan kalau yang datang itu bukan cuma orang tuanya, tapi juga mertua dadakannya. "Ya... ya kan itu prosedur sekolah! Pak Kepsek kan emang sensitif banget soal disiplin, apalagi yang dibawa-bawa si Kak Arlan, anak emas kesayangan guru. Mereka pasti mikir yang nggak-nggak!"
"Terus, terus... gimana reaksi kak Arlan?" tanya Sesya makin antusias. "Dia ngebela lo nggak? Atau dia malah nyalahin lo biar nama baiknya tetep suci bersih?"
Aluna mendengus kasar, teringat kejadian di teras rumah tadi pagi. "Ngebela? Jangan ngarep! Dia tuh malah makin kaku kayak kanebo kering. Tadi di depan gerbang aja gue liat dia lagi meriksa atribut, eh... dia malah buang muka kayak nggak kenal. Najis banget! Padahal gara-gara dia juga gue jadi begini."
"Tapi Al, lo harus hati-hati," Belva tiba-tiba merendahkan suaranya, raut wajahnya berubah serius. "Gosip ini bukan cuma di kalangan murid. Belum lagi fans-fans berat kak Arlan, mereka pasti bakal ngincer lo."
Aluna terdiam sejenak. Ia menatap ke luar jendela kelas, tempat di mana Arlan biasanya berdiri memantau siswa dari lapangan. Rasa kesalnya makin memuncak. Di rumah dia harus berbagi kamar dengan robot itu, di meja makan dia harus sandiwara manis depan Nada, dan di sekolah dia harus jadi sasaran empuk fitnah satu sekolah.