"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 - Roti
Libra membuka pintu rumah Giselle yang tidak terkunci. Siang hari seperti ini biasanya hanya ada Giselle di rumah. Maklum, kedua orang tuanya sama-sama bekerja. Kakaknya juga pasti sedang sibuk berada di kampus. Biasa, mahasiswa kedokteran memang sibuk. Karena itulah Libra bisa bebas masuk ke dalam rumah tanpa izin.
Pemuda itu berjalan menaiki tangga menuju kamar Giselle dengan santai, seolah-olah ini adalah rumahnya sendiri. Sampai di depan kamar Giselle, ia segera mengetuk pintu tiga kali namun tak ada jawaban.
"Pen, lo gak pingsan, kan?" ujar Libra di depan pintu sembari terus mengetuknya. Meski sudah mengetuknya berkali-kali bahkan sampai menggedornya pun tetap tidak ada jawaban.
"Oyy, Cell?"
Masih tidak ada jawaban.
Mendadak Libra merasa khawatir. Bagaimana jika Giselle benar-benar pingsan? Tanpa basa-basi Libra mendorong pintu kamar Giselle yang ternyata tidak dikunci.
Kosong. Giselle tidak ada di kamarnya. Libra panik. Di mana gadis itu?
"Giselle! Lo denger gue?" teriak Libra sembari berjalan menuruni tangga dengan panik. Jangan-jangan Giselle diculik.
"Giselle, jangan becanda! Lo di mana?"
Meski berkali-kali Libra memanggil, tidak ada jawaban sama sekali.
Libra menenangkan dirinya sendiri. Tidak akan ada yang terjadi pada Giselle. Gadis itu pasti sedang bersembunyi. Pasti ia sedang mengerjainya sekarang.
"Pendek, lo di mana? Lo pasti mau balas dendam ngerjain gue, kan!"
Libra mengecek satu persatu ruangan di rumah itu. Mulai dari dapur, toilet, sampai ke ruangan-ruangan lainnya. Termasuk kamar.
"Aduh, maaf ya om tante, izin masuk kamarnya," gumam Libra.
Nihil. Giselle tidak ada di mana pun. Apa mungkin gadis itu sedang pergi ke luar rumah? Lalu mengapa pintunya tidak di kunci?
Ponsel. Libra mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi nomor Giselle. Beberapa detik kemudian terdengar lagu Imagination dari Shawn Mandes yang mengalun di tengah keheningan.
Itu nada dering ponsel Giselle.
Libra menatap sekeliling dengan panik. Ponsel Giselle ada di sini. Lalu di mana pemiliknya? Setelah mencari sumber suara, ternyata ponsel milik gadis itu tergeletak di atas meja dapur.
Libra menghela napas berat.
"Lo di mana, Pen?" gumam Libra.
Berdiri beberapa menit sambil berpikir di mana kira-kira Giselle berada, mendadak ada sebuah tangan yang memegang pundak Libra. Pemuda itu melotot menatap tangan pucat yang bertengger di pundaknya. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Bermacam-macam jenis makhluk bermunculan di kepalanya. Menambah kesan horor di tengah suasana hening rumah ini. Dengan jantung berdebar, Libra memutuskan untuk menoleh secara perlahan. Sedetik kemudian dia bernapas lega ketika mengetahui bahwa itu tangan Giselle.
"Anjir, Pendek! Lo ke mana aja sih? Gue kira lo di culik tau, nggak?" Libra memeluk erat tubuh mungil Giselle.
"Beli roti di warung depan," jawab Giselle, sedikit bingung dengan tingkah Libra yang sangat aneh. Merasa pemuda itu terlalu berlebihan sampai memeluknya seerat ini.
"Kenapa pintunya gak dikunci?" Libra mengurai pelukannya. Pemuda itu membawa Giselle duduk di sofa ruang tengah.
"Cuma ke warung depan, kok. Enggak jauh," jawab Giselle dengan dahi berkerut bingung. "Sebentar juga tadi, gak nyampe sejam, kan?"
"Kalau ada maling gimana?" Libra menatap tajam gadis yang duduk di sebelahnya itu. Sedari tadi, ia mengkhawatirkannya, tetapi lihatlah sekarang, gadis itu ternyata baik-baik saja. Malah bersikap sangat santai.
Giselle mendengus sebelum berdiri, "Liba malingnya!"
"Enak, aja! Mau ke mana, Pen?" teriak Libra ketika Giselle berjalan menjauh meninggalkannya sendirian.
"Kamar."
"Ngapain?"
"Urusan cewek."
Sedikit mengerutkan keningnya bingung, tetapi Libra tidak ingin berpikir panjang. Toh itu urusan cewek, bukan urusan cowok.
"Oh iya, katanya lo beli roti. Minta dong." Libra sangat lapar. Belum sempat makan siang karena setelah pulang dari sekolah dia langsung pergi ke rumah Giselle. Sebagai sahabat yang baik, bukankah ia harus menjenguk sahabatnya yang sedang sakit?
Giselle berhenti di anak tangga ke lima. Menatap Libra dengan senyuman lebar. Gadis itu mengambil sesuatu dari kantong plastik yang sedari tadi ia tenteng kemudian menyodorkannya ke arah Libra.
"Nih, roti jepang, mau?"
Libra melotot.
"Ogah!"
...***...
16 Januari 2026