"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Yue Chuntao, Si Gadis Tanpa Warna
Beberapa waktu berlalu, dan di Taman Herbal di sektor timur Puncak Terasing bukanlah tempat untuk bunga-bunga yang mekar mencolok. Di sini, tanaman obat tumbuh dalam keheningan yang lembap, daun-daunnya berwarna hijau gelap dan ungu tua, menyerap sedikit cahaya matahari yang berhasil menembus kabut abadi sekte.
Guiren menggerakkan sapu lidinya dengan ritme lambat. Tugasnya hari ini sederhana, yaitu membersihkan jalur setapak dari daun-daun Ginseng Roh kering yang berserakan. Aroma tanah basah dan pahitnya getah tanaman memenuhi udara. Baginya, aroma ini menenangkan, jauh lebih jujur daripada aroma dupa di aula utama yang berusaha menutupi bau ambisi.
"Mereka bilang tanaman ini gagal panen karena tanahnya terlalu dingin."
Suara itu datang dari arah bangku batu di bawah pohon Wisteria tua. Suara yang santai, tipis, seolah penuturnya kehabisan napas di tengah kalimat.
Guiren berhenti menyapu. Ia tidak merasakan kedatangan orang ini melalui getaran tanah, yang berarti langkah kakinya sangat ringan atau sangat lemah. Melalui Visi Qi, ia melihat siluet manusia yang nyaris transparan. Aliran Qi di dalam tubuh sosok itu tidak mengalir deras seperti sungai, melainkan terputus-putus seperti tetesan air di musim kemarau.
Seorang gadis duduk di sana. Jubahnya terbuat dari sutra putih polos tanpa sulaman lambang sekte, namun kualitas bahannya menandakan status yang jauh di atas murid biasa.
"Tanah ini tidak dingin," jawab Guiren, kembali menggerakkan sapunya. "Hanya saja, tanaman ini dipaksa tumbuh terlalu cepat."
Gadis itu tertawa pelan. Tawa yang kering. "Dipaksa tumbuh, lalu mati sebelum waktunya. Terdengar seperti separuh murid di sekte ini."
Gadis itu berdiri, berjalan mendekat dengan langkah pelan. Guiren bisa mendengar napasnya yang sedikit berat, seolah udara di Puncak Terasing terlalu tebal untuk paru-parunya.
"Namaku Yue Chuntao," ucapnya. Tidak ada nada angkuh. Ia memperkenalkan diri seperti seseorang yang meminta izin untuk ada di sana.
Guiren menghentikan gerakannya, menancapkan gagang sapu ke tanah, lalu membungkuk hormat sedikit kaku. "Yuen Guiren."
"Aku tahu," kata Yue Chuntao. "Si Pelukis Buta yang mengalahkan Bai Feng. Ayahku sering menyebut namamu dengan nada kesal, tapi juga sedikit penasaran."
Guiren tidak menjawab. Fakta bahwa ayah gadis ini adalah seorang Penatua menjelaskan mengapa ia bisa berada di sini tanpa gangguan. Namun, Visi Qi Guiren menangkap sesuatu yang tragis. Meridian gadis ini layu. Saluran energinya menyusut dan rapuh, seperti akar tanaman yang kekurangan air selama bertahun-tahun. Ia adalah wadah yang bocor, seberapa banyak pun Qi yang ia serap, semuanya akan merembes hilang, meninggalkan tubuh yang kian hari kian lemah.
"Kau sedang menilaiku," ucap Yue Chuntao, bukan sebagai tuduhan, tapi observasi. "Kau melihat betapa rusaknya aku, bukan? Bahkan tanpa mata."
"Aku melihat seseorang yang sedang bertahan," koreksi Guiren.
Yue Chuntao tersenyum tipis, menatap hamparan tanaman obat yang sebagian besar gagal tumbuh. "Aku sering datang ke sini. Melihat tanaman-tanaman cacat ini membuatku merasa punya teman. Semua orang di sekte ini bicara tentang 'menembus langit' atau 'abadi'. Mereka semua begitu bising." Ia menoleh pada Guiren. "Tapi kau tenang. Kau seperti batu di tengah arus deras. Itu sebabnya aku ingin bicara padamu."
Guiren tetap diam, membiarkan gadis itu bicara. Ia menyadari Yue Chuntao tidak mencari nasihat atau belas kasihan. Ia hanya mencari telinga yang tidak terburu-buru pergi.
"Bai Feng selalu membawakanku bunga dari puncak tertinggi," lanjut Yue Chuntao, pandangannya menerawang. "Dia membawa jubah bulu rubah api, pil penguat darah... dia pikir jika dia memberiku cukup banyak benda berharga, dan aku akan sembuh. Atau mungkin, dia pikir aku akan menjadi trofi yang pantas untuk dipajang di samping pedangnya."
Yue Chuntao menghela napas, uap putih keluar dari bibirnya yang pucat. "Dia tidak mengerti bahwa aku tidak butuh diselamatkan. Aku hanya butuh dimengerti."
Guiren merasakan kejujuran yang menyakitkan dalam kalimat itu. Di dunia di mana kelemahan adalah dosa, Yue Chuntao mengenakan kelemahannya sebagai identitas.
"Nona Yue, menurutku tinta yang tumpah tidak bisa kembali ke dalam botol," ujar Guiren perlahan. "Tapi itu bukan berarti lukisannya hancur. Kadang, noda itulah yang memberi karakter pada gambar."
Mata Yue Chuntao sedikit membelalak. Ia menatap Guiren lama, seolah baru saja menemukan sebuah buku langka di tumpukan sampah. Untuk pertama kalinya, bahunya yang tegang sedikit rileks.
"Noda yang memberi karakter... ." ulangnya lirih. "Akan kuingat itu."
Percakapan mereka tidak panjang. Hanya pertukaran kalimat-kalimat pendek di antara desau angin. Namun, di kejauhan, di balik pilar gerbang taman, atmosfer terasa jauh lebih panas.
Guiren merasakannya. Niat membunuh yang tajam, terarah, dan sangat spesifik.
Bai Feng berdiri di sana. Tangannya mencengkeram pinggiran batu pagar hingga retakan halus muncul di permukaannya.
Mata Bai Feng tidak lepas dari Yue Chuntao. Ia melihat bagaimana gadis yang biasanya hanya memberinya senyum sopan nan dingin, kini berbicara dengan tubuh condong ke arah si pengemis buta itu. Ia melihat kenyamanan di wajah Yue, ekspresi yang tidak pernah gadis itu berikan padanya meskipun ia telah mempersembahkan separuh isi dunia.
Rasa irinya bukan lagi api yang berkobar, melainkan racun dingin yang merayap di pembuluh darah. Bai Feng merasa dikhianati oleh takdir. Bagaimana mungkin seorang jenius sepertinya kalah menarik dibandingkan sampah yang bahkan tidak bisa melihat wajah gadis itu?
Guiren memiringkan kepalanya sedikit ke arah pilar tempat Bai Feng bersembunyi. Ia tahu Bai Feng ada di sana. Ia tahu kebencian itu kini telah berubah menjadi sesuatu yang pribadi.
"Sebaiknya Nona kembali," ujar Guiren, nada suaranya kembali formal dan berjarak. "Angin semakin dingin. Tubuh Nona tidak boleh terlalu lama di luar."
Yue Chuntao mengangguk, menyadari isyarat halus pengusiran itu, namun tidak tersinggung. "Terima kasih, Guiren. Kapan-kapan, bolehkah aku melihatmu melukis?"
"Lukisan saya membosankan, Nona."
"Biarkan aku yang menilai."
Yue Chuntao berbalik, berjalan meninggalkan taman dengan langkah pelan. Saat ia melewati pilar gerbang, ia tidak menoleh ke arah bayangan tempat Bai Feng berdiri, seolah ia tidak menyadari keberadaannya atau mungkin, karena ia memang tidak peduli.
Guiren kembali menyapu. Suara sapu lidi bergesekan dengan tanah batu mengisi kesunyian. Namun, punggungnya terasa panas. Ia tahu, mulai hari ini, ia bukan lagi sekadar lawan tanding bagi Bai Feng.
Ia telah menjadi pencuri di mata sang jenius. Dan hukuman bagi pencuri di sekte ini jauh lebih buruk daripada kematian dalam duel.