Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Demam & Sup Ayam
"Air... haus..."
Suara Alea terdengar seperti cicitan tikus yang terjepit pintu. Tangannya yang gemetar meraba-raba nakas di samping tempat tidur raksasanya, mencari gelas air. Namun, jarinya yang lemas menyenggol gelas kaca itu hingga jatuh ke lantai marmer.
PRANG!
Bunyi pecahan kaca menggema di penthouse mewah yang sunyi itu.
Alea meringis, kepalanya berdenyut hebat seolah ada orkestra heavy metal yang sedang konser di dalam otaknya. Tubuhnya menggigil kedinginan di balik selimut tebal, padahal AC sudah dimatikan.
Hujan-hujanan di dalam mobil tua Rigel kemarin lusa ternyata membawa petaka. Imun tubuhnya yang sudah drop karena masalah lambung, kini dihajar flu berat.
"Sial... kenapa gue jadi lemah banget sih?" umpat Alea lirih, air matanya menetes karena frustasi. Dia ingin bangun mengambil minum, tapi kakinya terasa seperti jeli.
Di tengah keputusasaan itu, terdengar bunyi bip-bip-bip-bip-klik dari arah pintu utama apartemen. Bunyi kode kunci digital yang terbuka.
Jantung Alea mencelos. Dia tinggal sendirian. Arka lagi ujian, Zahra sedang cuti, Papa Gavin dan Mama Kiana sedang di luar kota, dan cleaning service baru datang besok.
Maling.
Pikiran paranoid Alea langsung bekerja. Dia menarik selimut sampai dagu, matanya menatap pintu kamar yang sedikit terbuka dengan waspada. Dia mencoba mencari ponselnya untuk menelepon sekuriti, tapi ponselnya entah ada di mana di balik tumpukan bantal.
Langkah kaki mendekat. Tegas. Berat. Bukan langkah maling yang mengendap-endap.
Pintu kamar didorong pelan.
"Siapa di sana?! Gue punya pistol!" teriak Alea dengan suara serak yang sama sekali tidak mengancam. Dia melempar bantal guling sekuat tenaga ke arah pintu.
Sosok pria tinggi di ambang pintu menangkap bantal guling itu dengan satu tangan, santai sekali.
"Pistol merek apa yang isinya kapuk?" tanya suara bariton yang sangat familiar.
Alea menyipitkan mata yang buram. "Rigel?"
Rigel Kalandra masuk ke dalam kamar, meletakkan bantal guling di kursi, lalu berjalan mendekat. Dia mengenakan kaos santai warna abu-abu dan celana training, membawa dua kantong belanjaan besar.
"Lo... lo kok bisa masuk? Lo nge-hack apartemen gue?" tuduh Alea lemah.
"Arka yang kasih kodenya. Katanya kakaknya lagi sekarat dan nggak bales chat dari pagi. Dia suruh saya ngobatin kamu," jawab Rigel tenang. Dia meletakkan punggung tangannya di kening Alea. "Panas banget. Tiga puluh sembilan derajat ini pasti."
"Jangan pegang-pegang! Tangan lo dingin!" Alea menepis lemah. "Ngapain lo kesini? Mau ngetawain gue?"
"Mau masak. Arka bilang di kulkas lo isinya cuma masker wajah sama air mineral mahal. Lo mau makan masker?"
Tanpa menunggu jawaban, Rigel berbalik keluar kamar. "Tunggu sebentar. Jangan banyak gerak. Awas kalau turun dari kasur, gue iket lo."
Alea mendengus, tapi tenaganya habis. Dia hanya bisa pasrah mendengar suara gaduh dari arah dapur. Suara pisau beradu dengan talenan, suara kompor dinyalakan, dan aroma bawang putih yang ditumis.
Tiga puluh menit kemudian, Rigel kembali membawa nampan berisi mangkuk uap yang mengepul dan segelas air hangat. Aroma jahe dan kaldu ayam langsung memenuhi kamar, membuat perut Alea berbunyi nyaring.
"Bangun. Makan dulu," perintah Rigel, membantu Alea duduk bersandar di headboard.
"Gue nggak nafsu. Pahit," tolak Alea, memalingkan muka.
"Ini bukan bubur rumah sakit. Ini resep rahasia keluarga Kalandra. Kalau nggak enak, gue kasih lo saham gue sepuluh lot," bujuk Rigel sambil meniup sendok berisi kuah sup.
Alea melirik mangkuk itu. Sup ayam bening dengan potongan wortel, kentang, dan ayam suwir yang banyak. Baunya... enak. Sangat enak.
"Aaa..." Rigel menyodorkan sendok.
Alea membuka mulutnya ragu. Kuah hangat itu meluncur di tenggorokannya yang sakit. Rasa gurih kaldu asli, pedas jahe, dan lada langsung menghangatkan tubuhnya dari dalam.
"Gimana?" tanya Rigel.
"Lumayan," gumam Alea gengsi. "Tapi kurang asin dikit."
"Orang sakit lidahnya emang kacau. Itu udah asin, Nona," Rigel menyuapkan sendok kedua, ketiga, dan seterusnya.
Alea makan dengan lahap sampai mangkuk itu kosong separuh. Keringat mulai keluar dari pori-porinya, membuat demamnya sedikit turun. Rigel membersihkan sudut bibir Alea dengan ibu jarinya—kebiasaan barunya yang selalu sukses membuat jantung Alea berantakan.
"Udah. Kenyang," Alea mendorong pelan tangan Rigel.
"Pinter," puji Rigel. Dia memberikan obat penurun panas. "Minum ini, terus tidur."
Setelah Alea minum obat, Rigel tidak langsung pergi. Dia mengambil handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat dari baskom yang dia bawa, lalu mengelap wajah dan leher Alea yang lengket karena keringat.
"Gue bisa sendiri..." protes Alea malu.
"Diem. Tangan lo gemeteran gitu," Rigel telaten menyeka leher jenjang Alea, lalu menempelkan plester kompres demam di kening wanita itu.
Perlakuan Rigel begitu lembut, kontras dengan mulut pedasnya. Matanya fokus, seolah merawat Alea adalah misi paling penting di dunia. Alea menatap wajah serius dokter itu.
Kenapa dia sebaik ini? Padahal gue sering judes sama dia, batin Alea.
Efek obat mulai bekerja. Mata Alea terasa berat. Kelopak matanya perlahan menutup, menariknya ke alam mimpi. Napasnya mulai teratur.
Rigel membereskan nampan makanan, lalu duduk di tepi ranjang, mengamati wajah tidur Alea. Tanpa makeup tebal dan lipstick merah, wanita ini terlihat seperti gadis kecil yang rapuh. Bukan Ratu Saham yang siap menerkam lawan bisnis.
Alea masih setengah sadar. Dia bisa merasakan pergerakan kasur saat Rigel bergerak. Dia ingin membuka mata, tapi kantuknya terlalu kuat. Dia memutuskan untuk pura-pura sudah tidur pulas.
Tangan besar Rigel terulur, menyusup ke sela-sela rambut Alea, mengelus kepalanya dengan gerakan konstan yang menenangkan. Jantung Alea berdesir hebat dalam diam.
Lalu, Alea merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menempel di keningnya, tepat di atas plester kompres.
Kecupan.
Rigel mencium keningnya. Cukup lama. Cukup dalam. Menyalurkan rasa sayang yang tak terucap.
Alea menahan napas, berusaha agar detak jantungnya yang menggila tidak terdengar sampai keluar.
Rigel menjauhkan wajahnya, tapi tangannya masih mengusap pipi Alea. Dia menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Alea.
"Cepat sembuh, Ratu Saham," bisik Rigel dengan suara serak yang penuh perasaan. "Sepi kalau nggak ada yang ngomel-ngomel nyuruh saya minggir."
Setelah membisikkan itu, Rigel berdiri, mematikan lampu utama, dan menyisakan lampu tidur yang remang. Dia berjalan keluar kamar, menutup pintu dengan sangat pelan.
Di balik selimut, mata Alea terbuka lebar dalam kegelapan. Tangannya menyentuh keningnya bekas ciuman Rigel. Pipinya panas luar biasa, bukan karena demam, tapi karena ledakan perasaan yang tidak bisa dia sangkal lagi.
"Sialan lo, Dokter Kulkas..." bisik Alea pada kesunyian kamar. "Lo bikin gue jantungan lebih parah daripada market crash."
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....