NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi BEM

Udara di dalam ruang rapat utama BEM sore itu terasa begitu berat, seolah-olah gravitasi di ruangan tersebut baru saja berlipat ganda. Cahaya matahari senja yang masuk melalui jendela besar nampak berwarna merah darah, menyinari debu-debu yang menari di atas meja kayu jati panjang yang biasanya menjadi saksi bisu keputusan-keputusan besar kampus. Namun hari ini, meja itu terasa seperti sebuah garis depan pertempuran.

Kania duduk di sebelah kanan Genta, nampak tenang dan berwibawa seperti biasanya. Namun, sorot matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia sedang berada dalam mode perang penuh. Di hadapan mereka, sekitar dua puluh pengurus inti BEM duduk dengan wajah tegang, sesekali melirik satu sama lain dengan gelisah. Esai Rara yang viral telah menciptakan gelombang refleksi diri yang tidak terduga di kalangan mahasiswa, dan bagi Kania, itu adalah ancaman eksistensial terhadap stabilitas BEM.

"Kita tidak bisa membiarkan narasi ini terus berkembang." Suara Kania memecah keheningan, dingin dan penuh perhitungan. "Esai mahasiswi itu bukan sekadar tulisan jurnalisme. Itu adalah serangan terhadap institusi. Dia merusak kepercayaan massa terhadap kepemimpinan Genta, dan jika dibiarkan, ini akan memicu mosi tidak percaya di sidang umum."

Beberapa pengurus mengangguk ragu, sementara yang lain hanya menunduk. Genta sendiri duduk bersandar, kedua tangannya tersembunyi di bawah meja, mencengkeram kain celananya untuk menyembunyikan tremor yang kini kembali menyerangnya dengan ganas.

"Lalu, apa rencananya, Kan?" tanya ketua departemen luar negeri dengan nada was-was.

Kania tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak pernah mencapai matanya. "Kita akan melakukan serangan balik. Kita punya data mengenai keterlibatan beberapa aktivis senior yang tidak suka dengan kepemimpinan Genta. Kita akan membingkai esai Rara ini sebagai bagian dari agenda politik mereka untuk mengganti Genta dengan orang pilihan mereka. Kita akan menyebarkan draf 'bukti' bahwa Rara dibayar oleh pihak oposisi untuk menulis narasi pengasihan ini."

Genta tersentak di kursinya. Kepalanya mendadak terasa pening. Fitnah. Kania ingin menghancurkan integritas Rara sebagai jurnalis dengan fitnah yang murah namun efektif.

"Kita akan menyerang kredibilitas jurnalisnya, bukan esainya," lanjut Kania tanpa dosa. "Begitu orang-orang percaya bahwa Rara adalah 'pesanan' politik, maka semua kata-katanya tentang 'Tragedi Kesempurnaan' akan dianggap sampah. Genta, kamu cukup menandatangani surat tugas untuk tim siber kita agar mereka bisa bergerak malam ini."

Kania menyodorkan sebuah map merah ke hadapan Genta. "Lakukan ini, dan reputasimu akan pulih sepenuhnya besok pagi, Genta. Kamu akan kembali menjadi pemimpin yang tak bercela."

Genta menatap map merah itu seolah benda itu adalah bara api yang siap membakar seluruh hidupnya. Di dalam kepalanya, suara Rara kembali terngiang: "Kita lebih suka melihat robot yang sukses daripada manusia yang jujur."

Ia melihat sekeliling ruangan. Teman-temannya, orang-orang yang ia anggap sebagai rekan seperjuangan, nampak siap untuk menyetujui rencana kotor itu demi menjaga citra organisasi. Ia merasa mual. Ia merasa seperti sedang duduk di tengah-tengah sebuah pementasan sandiwara yang sudah terlalu lama berlangsung.

Cukup.

Satu kata itu meledak di benak Genta.

BRAAAKKK!

Genta menggebrak meja jati itu dengan kedua telapak tangannya sekuat tenaga. Suara benturan itu begitu keras hingga menggema di setiap sudut ruangan, membuat gelas-gelas di atas meja bergetar dan Kania tersentak kaget hingga kursinya sedikit mundur.

"CUKUP!" teriak Genta.

Seluruh ruangan mendadak sunyi senyap. Kania terbelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ini bukan suara bariton robotik Genta yang biasa. Ini bukan suara yang datar dan terkontrol. Suara Genta saat ini terdengar kasar, parau, bergetar, dan penuh dengan emosi yang mentah. Suara aslinya.

Genta berdiri dari kursinya, napasnya memburu. Ia tidak lagi peduli jika tangannya gemetar hebat di depan semua orang. Ia tidak lagi peduli jika kemejanya berantakan.

"Kalian sadar tidak apa yang baru saja kalian bicarakan?" Genta menatap satu per satu pengurusnya dengan mata yang menyala. "Kita bicara soal kepemimpinan, soal etika, soal integritas! Tapi sekarang kita mau menghancurkan hidup seseorang hanya karena dia mengatakan kebenaran yang tidak sanggup kita dengar?"

Kania mencoba berdiri, wajahnya mulai memerah karena malu dan marah. "Genta, tenanglah. Kita melakukan ini untuk melindungimu! Ayahmu, masa depanmu, Harvard—"

"Melindungiku?" potong Genta, suaranya naik satu oktav. Ia melangkah mendekati Kania hingga hanya dipisahkan oleh sudut meja. "Kamu selalu merasa berhak jadi pelindungku selama bertahun-tahun ini, Kan? Tidak. Kamu bukan melindungiku. Kamu melindungi dirimu sendiri! Kamu takut kalau aku jatuh, posisimu juga ikut jatuh. Kamu takut kalau pemimpin yang kamu ciptakan ini terlihat sebagai manusia, maka kamu tidak punya panggung lagi untuk bermain peran!"

Genta mengambil map merah di atas meja dan merobeknya menjadi dua bagian di depan wajah Kania. Potongan kertas itu jatuh berserakan di atas meja seperti salju yang kotor.

"Aku memang pengecut selama ini," ucap Genta, kini suaranya lebih rendah namun memiliki daya tekan yang jauh lebih mengerikan daripada teriakannya tadi. "Aku pengecut karena membiarkanmu dan Ayahku mendikte siapa aku seharusnya. Aku pengecut karena membiarkan Rara dihujat sendirian saat dia sedang mencoba menyelamatkanku."

Genta menatap seluruh anggota BEM yang nampak syok. "Kalian ingin pemimpin yang sempurna? Carilah orang lain. Karena aku lebih baik kehilangan jabatan ini, kehilangan beasiswa itu, bahkan kehilangan nama keluargaku, daripada aku harus kehilangan sedikit saja harga diri yang baru saja aku temukan kembali."

Kania mematung. Ia menatap Genta seolah pria di depannya adalah monster yang tidak ia kenali. "Genta... kamu akan menyesali ini. Kamu akan hancur tanpa BEM. Kamu tidak akan jadi apa-apa."

"Mungkin," sahut Genta pendek, sebuah senyum tipis yang tulus muncul di bibirnya. "Tapi setidaknya, aku akan hancur sebagai manusia, bukan sebagai robot rusak yang terus-menerus kalian perbaiki."

Genta merapikan kemejanya dengan gerakan yang tidak lagi kaku. Ia tidak lagi mencoba menyembunyikan tremornya. Ia membiarkan semua orang melihat tangannya yang bergetar saat ia membetulkan letak kacamatanya.

Tanpa sepatah kata lagi, Genta berbalik dan berjalan menuju pintu.

Setiap langkah yang ia ambil menjauhi meja rapat itu terasa sangat ringan. Rasanya seolah-olah beban berton-ton yang selama tiga tahun ini menekan pundaknya baru saja diangkat. Ia membuka pintu jati besar itu dan melangkah keluar, menutupnya dengan bunyi klik yang mantap.

Di koridor gedung pusat yang mulai gelap, Genta berdiri sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam. Oksigen yang masuk ke paru-parunya terasa begitu segar, begitu nyata. Ia tidak merasa pusing, tidak merasa mual, dan tidak merasa ingin sembunyi.

Ia mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia melihat daftar kontaknya, lalu mencari nama Rara. Tangannya masih bergetar, namun kali ini getaran itu bukan karena takut, melainkan karena kelegaan yang luar biasa.

Ia tidak akan masuk ke dalam game malam ini. Ia tidak perlu menjadi Paladin di dunia maya untuk merasa berani.

Genta berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang bebas. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak peduli siapa yang melihatnya. Ia tidak peduli jika besok ia harus mengundurkan diri. Di tengah kesunyian gedung rektorat, Genta Erlangga akhirnya merasa bebas. Ia telah menghancurkan zirahnya sendiri, dan di baliknya, ia menemukan seorang pria yang akhirnya berani untuk mulai hidup.

1
Hana Agustina
sabar ya genta.. menyakiti itu memang mudah banget.. tp utk pulih dr rasa sakit itu butuh waktu utk berdamai.. n rara butuh waktu itu
Hana Agustina
kamu hebat gentaa.... as a man.. real man...
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!