Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Gibran datang menjemput tepat waktu. Mobilnya berhenti perlahan di depan rumah Nadia, dan lelaki itu turun dengan senyum tipis yang selalu berhasil membuat jantung Nadia berdetak lebih cepat. Sepanjang perjalanan, suasana terasa canggung namun hangat. Mereka saling melempar obrolan ringan, tentang hari yang melelahkan, tentang kopi favorit, tentang hal-hal sepele yang justru membuat keduanya merasa nyaman.
Caffe itu bernuansa hangat, dengan lampu temaram dan aroma kopi yang menenangkan. Gibran memilih meja dekat jendela, tempat mereka bisa melihat kerlip lampu jalan dan lalu lalang kendaraan di luar. Nadia duduk berhadapan dengannya, jemarinya saling bertaut di atas meja, berusaha menyembunyikan kegugupan yang perlahan berubah menjadi rasa tenang.
Mereka duduk berhadapan. Ada jeda canggung yang menggantung, seperti benang tipis yang siap putus.
Gibran akhirnya memecah keheningan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Nadia dengan ekspresi tenang namun penuh selidik.
“Tumben sekali kamu yang mengajakku bertemu,” ucapnya pelan, bibirnya mengulas senyum tipis. “Ada apa, Nad?”
Pertanyaan itu membuat Nadia terdiam. Pandangannya turun ke permukaan meja, jemarinya memainkan sendok kecil di samping cangkir kopi yang masih hangat. Ia sudah menyiapkan banyak kalimat di kepalanya sejak tadi, namun semuanya terasa buyar saat harus diucapkan. Dadanya terasa sesak, antara takut dan ragu.
“Aku…” Nadia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Gibran lalu kembali mengalihkan pandangan ke arah jendela. Lampu-lampu kota di luar seolah ikut bergetar, sama gelisahnya dengan hatinya. “Aku bingung harus mulai dari mana.”
Gibran tak menyela. Ia hanya menunggu, memberinya ruang, sesuatu yang membuat Nadia sedikit lebih tenang. Nadia menarik napas dalam-dalam, lalu mengumpulkan keberanian yang tersisa.
“Akhir-akhir ini aku sering kepikiran,” lanjutnya lirih. “Tentang kamu. Tentang hidupmu. Rasanya… ada banyak hal yang belum aku tahu.”
Nadia kembali menatapnya, kali ini lebih lama. Tatapannya jujur, penuh rasa ingin tahu yang selama ini ia pendam sendiri.
“Aku ingin kamu jujur padaku, Gibran,” ucapnya akhirnya. “Tentang asal usulmu. Tentang siapa kamu sebenarnya. Kau menghilang begitu saja, kepergianmu yang tanpa alasan, membuatku sering bertanya-tanya sampai saat ini."
Udara di antara mereka seakan menegang. Senyum Gibran memudar perlahan, digantikan ekspresi yang sulit ditebak. Ia menatap Nadia dalam diam, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat.
Gibran menarik napas berat. Mau tak mau ia harus menjelaskan semuanya meskipun harus dengan kebohongan. Jika kebenarannya terungkap, maka keselamatan Nadia yang jadi taruhannya.
"Baiklah. Aku akan menjelaskannya dari awal," kata Gibran akhirnya. "Aku tinggal di sekitar kota ini. Aku punya keluarga. Dan... pekerjaanku cukup rumit."
Nadia menyimak tanpa menyela.
Ada hal-hal yang membuatku harus menjauh sementara,"katanya."Bukannya karna aku ingin. Tapi karna aku tak punya pilihan."
"Kamu bisa saja bilang," sahut Nadia lirih.
“Aku tahu,” Gibran tersenyum tipis, menyesal. “Tapi saat itu, aku pikir diam adalah cara terbaik agar tidak menyeretmu ke dalam masalahku.”
Nadia mengaduk kopinya perlahan.
“Sekarang?”
“Sekarang aku kembali,” jawabnya mantap. “Dan aku tidak ingin kau menyimpan tanda tanya.”
Nadia menatapnya lama.
“Kau bekerja di mana?” tanyanya akhirnya.
“Di sebuah kantor,” jawab Gibran tanpa ragu. “Sebagai karyawan. Biasa saja.”
Nadia tersenyum kecil, seolah lega mendengar kesederhanaan itu.
“Pantas saja kau selalu terlihat sibuk.”
Gibran membalas senyumnya. Ada kehangatan yang nyaris ia lupakan.
“Aku tidak ingin menyembunyikan diriku,” katanya pelan. “Hanya saja… belum semua hal bisa kuceritakan.”
Nadia mengangguk pelan, menerima batas itu.“Aku tidak butuh semua jawaban,” ucapnya. “Cukup tahu aku tidak salah.”
Gibran menatapnya penuh kesungguhan.
“Kau tidak pernah salah.”
“Jadi…” ucap Nadia kembali, “malam itu kamu pergi karena ingatanmu sudah kembali?”
Gibran mengangguk perlahan.
“Iya,” jawabnya jujur. “Aku sudah ingat. Tentang hidupku, keluargaku, dan semua yang sempat hilang dari kepalaku.”
Nadia menelan ludah.“Dan setelah itu… kamu langsung pergi.”
“Pulang,” koreksi Gibran lirih. “Begitu ingatan itu kembali, aku refleks pulang ke rumah.”Ia tersenyum tipis, getir.
“Sampai… aku melupakanmu.”
Kata-kata itu tidak diucapkan dengan ringan. Ada rasa bersalah yang jelas tergambar di wajahnya.
“Aku ingin menemuimu,” lanjut Gibran cepat, seolah takut disalahpahami. “Aku ingin menjelaskan semuanya sejak awal. Tapi ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dulu. Hal-hal yang tidak bisa kutunda.”
Nadia memalingkan wajah ke arah jendela. Lampu jalan memantul di kaca yang basah, membuat matanya berkaca-kaca.“Kamu tahu rasanya ditinggal tanpa penjelasan?” tanyanya pelan.
Gibran mengangguk.“Aku tahu,” katanya. “Dan aku benci diriku sendiri karena membuatmu merasakannya.
Nadia kembali menatapnya.
“Sekarang kamu di sini,” katanya lirih. “Apa semua itu sudah selesai?”
Gibran terdiam sejenak, lalu menjawab jujur.“Belum sepenuhnya. Tapi aku tidak ingin menghilang lagi tanpa berkata apa-apa.”
Nadia mengangguk pelan, seolah menerima potongan kebenaran itu, meski belum sepenuhnya utuh.
“Terima kasih sudah menjelaskan,” katanya akhirnya.“Setidaknya… sekarang aku mengerti.”
Gibran tersenyum kecil.
“Itu yang paling ingin kudengar.”
Mereka terdiam, menatap hujan yang menyisakan jejak di kaca jendela. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keheningan di antara mereka tidak terasa menyakitkan---melainkan menenangkan.
Gibran tidak pernah tahu---atau mungkin tidak ingin tahu---bahwa kebohongan kecil yang ia ucapkan malam itu akan tumbuh menjadi jarak yang tak kasat mata, namun perlahan memisahkan mereka. Bagi Gibran, menyembunyikan kebenaran adalah bentuk perlindungan.
Bagi Nadia, kejujuran adalah satu-satunya pegangan.
******
Malam itu, setelah pertemuan singkat di kafe, perasaan Gibran tak juga tenang. Senyum Nadia yang lembut terus terbayang di benaknya, cara gadis itu menunduk malu setiap kali tertangkap basah menatapnya. Ada sesuatu yang berbeda—hangat, sederhana, tapi justru membuatnya candu.
Sementara itu, Nadia berjalan dengan langkah ringan. Jantungnya berdetak tak beraturan, namun ia terus mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap tenang. Ia tak boleh terlalu berharap. Gibran hanyalah pria yang ia kenal… setidaknya itu yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.
Keesokan harinya, menjelang sore, ponsel Nadia bergetar.
“Kamu sibuk besok?”
Nadia menatap layar ponselnya cukup lama sebelum membalas. Ia menggigit bibirnya pelan, menahan senyum yang hampir saja lolos.
“Besok weekend. Harusnya nggak ada jadwal penting. Kenapa?”
Gibran menarik napas pendek, berusaha terdengar santai meski jantungnya berdetak lebih cepat. “Kalau begitu… mau quality time sebentar? Kita ke taman kota. Cuma jalan santai.”
Kalimat itu sederhana, namun bagi Nadia terdengar seperti undangan yang terlalu istimewa. Dadanya menghangat, matanya berbinar, namun cepat-cepat ia menegakkan wajahnya. Ia harus jaga image. Tidak boleh terlihat terlalu antusias.
“Taman kota? Boleh sih. Asal nggak lama.” Padahal dalam hatinya, ia ingin berkata ya, seharian pun tak apa.
Hari itu, taman kota dipenuhi cahaya matahari sore. Pepohonan rindang, anak-anak berlarian, dan angin sepoi-sepoi membawa aroma rumput basah. Gibran sudah menunggu di bangku taman ketika Nadia datang. Gadis itu mengenakan pakaian sederhana—tanpa riasan berlebihan—namun entah kenapa, justru itu yang membuat Gibran sulit mengalihkan pandangan.
“Kamu kelihatan… segar hari ini,"ujar Gibran.
Nadia berdeham pelan, menutupi rasa gugupnya.“Biasa aja. Mungkin karena nggak kerja.”
Mereka berjalan berdampingan, sesekali bahu mereka hampir bersentuhan. Setiap kali itu terjadi, Nadia menahan napas, sementara Gibran tersenyum kecil tanpa disadari.
“Kamu kelihatan suka tempat seperti ini.”
“Aku suka yang sederhana. Nggak ribet.”
Gibran meliriknya, matanya penuh arti.
“Mungkin itu yang bikin kamu beda.”
Nadia berhenti melangkah sejenak. Jantungnya kembali berdebar, namun ia memilih tersenyum tipis, menunduk agar Gibran tak melihat rona merah di pipinya.
“Kamu terlalu berlebihan menilainya.”
Gibran terkekeh pelan.“Kalau aku jujur, salah?”
Nadia terdiam. Dalam hati ia tersenyum lebar, merasa hangat oleh perhatian kecil itu. Namun ia tetap melangkah dengan tenang, menjaga sikap seolah semuanya biasa saja. Padahal, jauh di lubuk hatinya, ia tahu—quality time sederhana di taman kota itu perlahan menumbuhkan sesuatu yang tak lagi bisa ia sangkal.