NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tiga

Pagi itu alia mendapat pukulan dan lemparan piring dari ibu tirinya yang semakin kejam, ia berdiri termangu di depan wastafel, menatap tumpukan piring kotor yang menjulang.

 Rutinitas yang selalu ia kerjakan di rumah ini selama 5 tahun terakhir, alia hidup seperti asisten rumah tangga.

Pukulan dan makian yang ia terima setiap hari telah membuat alia menjadi pribadi yang apatis, hatinya sedih namun tidak ada lagi air mata yang jatuh.

Kepergian papanya yang baru seminggu pun tak lagi mampu menguras air matanya, alia masih berdiri mematung di depan tumpukan piring kotor, mata dan pikirannya benar-benar tidak sinkron, ucapan kejam kakak tirinya tadi pagi masih terngiang-ngiang di pikirannya.

'Alia berpikirlah sedikit mulai sekarang, di rumah ini tidak ada lagi papa yang harus kamu urus, kamu harus mulai menghasilkan, jangan hanya berharap dari aku atau mama, cobalah untuk tidak menjadi benalu di rumah ini, kalau kamu tak sanggup mencari sedikit penghasilan untuk membantu kami, kenapa kamu gak ikut papa kamu aja'

Ucapan sahira tadi pagi benar-benar membuat alia bimbang, kesunyian yang dialami, kehampaan hidup setelah kepergian ayahnya, menghadirkan keinginan yang sudah lama alia pertimbangkan.

Beberapa adegan melintas di kepala alia saat ini, mengiris nadi di pergelangan tangannya, menenggak racun dan cairan pembasmi serangga atau terjun ke sungai, semua itu sedang ia pertimbangkan dengan baik di kepalanya.

Alia masih termangu di depan tumpukan piring kotor yang menjulang tinggi itu, benaknya yang di penuhi rencana-rencana dan cara-cara untuk mengakhiri hidupnya belum mampu menenangkan pikirannya yang berisik.

 Alia mulai menyentuh piring kotor itu, ia berpikir ada baiknya sebelum ia melaksanakan salah satu dari rencana-rencana itu, alia akan membersihkan seisi rumah terlebih dahulu, hal terakhir yang bisa ia lakukan untuk peninggalan ayahnya ini.

Alia mulai menyabuni piring kotor yang bertumpuk itu, tiba-tiba perutnya mendadak mual, beberapa kali ia berusaha menahan rasa mual yang menyerangnya, namun akhirnya alia tak mampu lagi.

Dengan setengah berlari alia menuju kamar mandi, ia memuntahkan semua isi perutnya, sarapan tadi pagi yang belum sempurna tercerna juga habis dimuntahkannya, rasa pahit terasa memenuhi rongga mulut, setelah cairan terakhir yang  berwarna kuning keluar.

Alia terduduk lemas di pintu kamar mandi, tangannya mengusap lemah mulutnya yang basah, keringat dingin terlihat memenuhi tubuh dan wajahnya yang mendadak pucat.

Alia merasa mungkin magh yang di idapnya mendadak kumat, pikirannya sibuk mencari-cari sebab kambuhnya. Matanya terlihat sibuk berpikir, alia menoleh dan terkejut,  sahira dan nurmala ibu tirinya berdiri di ambang pintu kamar mandi menatap alia penuh selidik.

"Kau kenapa?"

Tanya nurmala dengan raut wajah penasaran, alia menggeleng lemah, rasa mual kembali menyerangnya hebat. Alia mulai memuntahkan lagi isi perutnya, ia terkulai lemas bersandar di pintu kamar mandi, nurmala dan sahira saling memandang, kerutan di kening ibu dan anak itu menunjukkan rasa kecurigaan.

"Jangan..jangan.." ujar sahira menggantung ucapannya, matanya membelalak lebar.

"alia hamil.." seru nurmala dan sahira bersamaan mata mereka terlihat terperanjat kaget, terkejut dengan apa yang mereka ucapkan sendiri.

Alia yang masih lemas terkulai di pintu kamar mandi ikut terkejut dengan ucapan nurmala dan sahira, pikirannya mengembara ke malam kejadian 3 minggu yang lalu.

 Alia menggigit bibirnya, tubuhnya semakin terkulai lemas, setelah ia sadari ternyata dirinya sudah telat 5 hari dari jadwal periode bulanannya, matanya menatap nanar ke arah ibu tirinya yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi.

"Benarkah alia?, kamu hamil?"

Alia menggeleng lemah "aku gak tahu ma" jawabnya lemah rasa mual masih menguasai, perlahan alia berdiri tangannya memegang dinding.

Pandangan matanya kabur, alia meringis menahan pusing di kepalanya, serasa ada palu godam yang menghantam kepalanya, alia terhuyung-huyung dengan pandangan yang berkunang-kunang, untuk beberapa saat alia diam berdiri tak bergeming.

 Tubuhnya disandarkan ke dinding, ia memejamkan mata sekuat-kuatnya, rasa mual di perutnya kembali menuntut minta di tuntaskan.

"Hoeeekkk" tak tahan alia memuntahkan lagi isi perutnya dan yang keluar hanya cairan berwarna kuning, yang terasa pahit itu.

"iyuhhhhhhh" nurmala dan sahira yang berdiri di ambang pintu, menyingkir dengan raut wajah jijik, mata sahira memandangi alia dengan raut wajah curiga.

"Aku yakin sekali ma, kalau alia hamil" ujar sahira penuh keyakinan, mata nurmala menoleh penuh selidik menatap alia yang terduduk lemah.

"Aku yakin sekali ma"

 suara sahira terdengar begitu penuh provokasi,

 "aku yakin alia hamil anak langit"

 mata nurmala melotot menatap putrinya yang keceplosan, sahira menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Mata besar sahira membeliak kaget, menyadari mulutnya yang kelepasan. Alia tersenyum, namun senyuman itu terlihat sinis, dengan langkah gontai alia meninggalkan kamar mandi menuju ke dapur kembali.

Belum sempat alia melangkah bahunya di tarik sahira yang melotot ke arahnya,

"apa maksud senyumanmu itu? Hah" bentak sahira  garang.

Tangannya sudah terangkat tinggi ingin menampar wajah alia yang dengan cepat memalingkan wajahnya.

"sudahlah sahira" ujar nurmala melerai

"kau jelaskan ada apa denganmu pagi ini?" Perintahnya menatap tajam ke arah alia.

"Aku gak tahu ma, mendadak saja kepalaku tadi pusing dan rasa mual yang datang mendadak" jelas alia pelan, di sudut matanya masih terlihat sisa air mata akibat dari muntah-muntah tadi,

"mungkin hanya masuk angin saja ma" lanjutnya sembari melangkah menuju wastafel.

 Tangannya meraih spons cuci piring yang sudah mengering dan belum sempat alia beri cairan pencuci piring lagi, nurmala mengamati gerakan alia, tak ada yang aneh, jawaban alia pun singkat.

Mata nurmala menoleh ke arah sahira yang sudah duduk di kursi makan, mata sahira juga masih mengamati alia serius. Alia yang berdiri di depan wastafel, menyadari dua pasang mata milik sahira dan nurmala masih mengamatinya.

 Sejujurnya alia merasa risih, rasa penasaran ibu tiri dan kakak tirinya itu membuatnya berdiri kaku.

 Biasanya apapun yang terjadi dengan alia mereka tidak pernah perduli dan mau tahu, tapi saat ini dua pasang mata yang penasaran itu seakan menuntut jawaban yang jujur darinya.

 Mendengar ucapan sahira tadi, terus terang alia jadi kepikiran dan yakin, sebab memang sudah 5 hari tamu bulanannya tidak datang.

Belum lagi ia teringat pada malam jahanam itu, pria bajingan yang menggagahinya tidak memakai pengaman apapun, pikiran alia mendadak kusut.

Bagaimana ia akan mengeksekusi rencana-rencana yang sudah tersusun rapi di kepalanya, alia tidak memperkirakan sama sekali bahwa perbuatan pria bajingan itu memberikan akibat seperti ini.

Terus terang alia tidak mau, tidak siap, mengapa sesuatu yang tidak di perkirakan dan diharapkan seperti ini terjadi disaat dirinya sudah mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia dan hidup yang sangat kejam pada hidupnya yang malang ini.

Alia menghela nafasnya yang berat, jika hanya dirinya yang menenggak cairan pembasmi serangga atau mengiris urat nadi yang ada di pergelangan tangannya, hanya 1 nyawa yang perlu di pertanggung jawabkan nanti di hadapan sang maha pencipta.

Tapi ini dengan kehadiran makhluk lain dalam rahimnya membuat alia harus memikirkan lagi rencana apa yang bisa ia lakukan. Alia tak mungkin merenggut nyawa orang lain, ia tidak mau jadi pembunuh.

Walaupun yah, sebenarnya ia sudah bertekad untuk jadi pembunuh dirinya sendiri, namun alia tak pernah berpikir untuk menghilangkan nyawa lain demi keegoisannya.

 Pikiran alia sungguh berisik, walau tangannya masih telaten menyabuni piring-piring yang masih menggunung.

Alia mendengar suara langkah kaki yang menjauh dari dapur tempat ia sedang mengerjakan rutinitasnya itu, kepalanya menoleh, terlihat nurmala dan sahira meninggalkan alia sendirian di dapur.

Alia menghela nafasnya lega, rasa risih itu pun perlahan menghilang.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!