Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror di Medsos dan Jurus "I Don't Care" Nara
Dunia freelance itu emang keras, tapi ternyata lebih keras lagi kalau lo punya musuh seorang mantan tunangan dari pacar lo yang kaya raya. Sore itu, pas Nara lagi asyik rebahan sambil nunggu renderan desain kelar, tiba-tiba HP-nya bunyi notif bertubi-tubi.
Ting! Ting! Ting!
Nara mengernyit. "Perasaan gue nggak lagi giveaway, kok rame banget ya?"
Pas dibuka, jantung Nara hampir merosot ke lambung. Di akun Instagram portofolionya—tempat dia cari makan—mendadak penuh sama komentar negatif. Isinya seragam banget: akun-akun bodong yang bilang kalau karya Nara itu hasil plagiat, desainnya murahan, sampai ada yang nyerang personal bilang Nara itu "cewek pansos" yang cuma mau memoroti pengusaha muda.
"Hah?! Apa-apaan nih?!" Nara langsung duduk tegak. "Plagiat? Gue bikin ini sambil begadang sampai mata panda, dikatain plagiat?!"
Nara sadar ini bukan serangan biasa. Ini pasti ulah si Karin. Siapa lagi yang punya waktu dan dendam kesumat buat ngerusak reputasi orang selain cewek yang gagal move on itu?
Nggak pakai lama, pintu unit 401 digedor keras banget.
"Nara! Buka!" suaranya Rian, kedengeran panik banget.
Nara buka pintu dengan muka yang udah sembab dikit karena kesel. Begitu liat Rian, dia langsung mau tutup lagi pintunya. "Mas kalau mau bahas soal mantan Mas yang gila itu, mending nggak usah."
Rian nahan pintu pakai kakinya, terus dia masuk gitu aja. Wajahnya kelihatan tegang banget, kemejanya udah berantakan. "Nara, saya baru tahu soal serangan di Instagram kamu. Sarah yang kasih tahu. Saya minta maaf, ini pasti kerjaan Karin."
Nara balik badan, nyilangin tangan di dada. "Mas, desain itu segalanya buat saya. Kalau nama saya rusak, saya nggak bisa dapet klien lagi. Mas enak punya kantor gede, saya cuma punya laptop sama akun IG itu!"
Rian jalan mendekat, dia megang kedua pundak Nara. "Dengerin saya. Saya bakal urus ini. Tim IT kantor saya lagi lacak semua akun itu. Saya nggak bakal biarin dia ngerusak apa yang udah kamu bangun susah payah."
"Nggak usah, Mas," sahut Nara pelan tapi tegas.
Rian kaget. "Maksud kamu?"
Nara nengok ke Rian, kali ini matanya nggak nangis lagi, tapi penuh api semangat. "Gue—eh, saya—nggak mau Mas yang beresin. Nanti dia makin mikir kalau saya ini cewek lemah yang cuma bisa ngumpet di balik punggung Mas. Dia mau main kotor? Oke, saya tunjukin gimana cara main desainer jaman sekarang."
Rian ngeliatin Nara dengan tatapan nggak percaya tapi bangga. "Terus kamu mau ngapain?"
"Mas cukup diem aja, liatin dari jauh. Dan... kalau bisa, beliin saya martabak manis rasa keju paling mahal buat nemenin saya 'perang' malam ini," ucap Nara sambil nyengir licik.
Rian akhirnya bisa narik napas lega. Dia ngacak-ngacak rambut Nara. "Oke, deal. Martabak keju spesial segera meluncur. Tapi janji ya, jangan sampai stres."
Malam itu, Nara bener-bener jadi "Warior Medsos". Dia nggak balesin komentar jahat satu-satu—itu mah capek. Dia justru bikin konten reels yang isinya proses dia bikin desain dari nol, dari sketsa coret-coretan di kertas sampai jadi digital. Dia juga lampirin bukti tanggal pembuatan file-nya.
Di bagian caption-nya, Nara nulis gini:
"Desain itu soal hati, bukan soal siapa yang paling mahal merk bajunya. Kalau ada yang bilang plagiat, mungkin kalian kurang piknik. Anyway, makasih buat 'teror'-nya, malah jadi banyak yang mampir ke profil aku dan sekarang ada tiga klien baru yang masuk. Love you, haters! 🐉✨"
Nggak lupa, Nara juga nge-post foto tangan Rian yang lagi nyodorin martabak manis dengan caption: "Asupan dari support system nomor satu."
Efeknya? Meledak, Bro! Netizen malah banyak yang belain Nara. Banyak desainer lain yang ikutan kasih support. Strategi Karin buat ngerusak nama Nara malah jadi bumerang, karena akun Nara malah makin viral dan banyak dapet pujian.
Besok paginya, Rian dapet telepon dari Karin yang lagi nangis-nangis. Rian angkat teleponnya sambil santai minum kopi di balkon, bareng Nara yang lagi asyik ngunyah sisa martabak semalam.
"Ian... kamu liat kan apa yang cewek itu lakuin? Dia ngerendahin aku di depan publik!" keluh Karin di seberang sana.
Rian senyum tipis, dia narik Nara buat duduk di pangkuannya. "Karin, saya udah pernah bilang kan? Nara itu beda. Dia nggak butuh saya buat lawan kamu. Dia punya otaknya sendiri buat beresin masalah."
"Tapi Ian—"
"Satu lagi," potong Rian dengan suara dingin yang bikin merinding. "Jangan pernah coba-coba sentuh Nara lagi. Kalau sampai itu terjadi, saya sendiri yang bakal pastiin keluarga kamu kehilangan semua investasi mereka di perusahaan saya. Kamu tahu kan saya nggak pernah bercanda soal angka?"
KLIK.
Rian matiin teleponnya gitu aja. Dia nengok ke Nara yang lagi bengong liatin dia. "Mas... tadi itu serem banget."
"Serem mana sama wajan gosong kamu?" goda Rian.
Nara ketawa, terus dia meluk leher Rian erat-erat. "Makasih ya, Mas. Makasih udah percaya kalau saya bisa beresin sendiri."
"Sama-sama. Sekarang, ada satu hal lagi yang harus kita lakuin," ucap Rian sambil benerin posisi duduk Nara.
"Apa?"
"Mama saya minta kita ke rumah lagi hari Minggu ini. Katanya dia mau ngadain syukuran kecil karena anaknya udah nggak jadi robot lagi," kata Rian sambil nyium pipi Nara.
Nara ngerasa hidupnya sekarang bener-bener kayak naik roller coaster. Dari berantem sama tetangga kaku, bikin kontrak damai, sampai sekarang harus hadapi drama mantan dan camer. Tapi anehnya, Nara ngerasa sanggup hadapi semuanya asalkan Rian ada di sampingnya.
"Oky! Tapi kali ini saya mau bawa daster buah naga buat Tante Shinta! Biar kita bisa kembaran!" seru Nara.
Rian langsung tepuk jidat. "Nara... plis, jangan."
"Hahaha! Becanda, Mas!"
Tapi di dalam hati, Rian tahu, hidupnya sekarang jauh lebih berwarna. Kekacauan yang dibawa Nara ternyata adalah bumbu yang selama ini hilang dari resep hidupnya yang terlalu hambar. Dan Rian nggak bakal biarin siapa pun ngambil bumbu itu dari dia.