Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Tak lama kemudian, semua sudah berkumpul di mushola. Ayyan berdiri di depan sebagai imam. Saat Ayyan mulai melantunkan takbiratul ihram, suaranya yang merdu dan fasih seketika membuat suasana menjadi sangat sejuk.
Namira yang berdiri di saf wanita tepat di belakang Ayyan, terpaku sejenak. Suara suaminya saat mengaji ternyata jauh lebih indah daripada yang ia bayangkan. Tidak ada kesan galak atau dingin saat pria itu melafalkan ayat suci Al-Qur'an; yang ada hanyalah ketenangan yang menghanyutkan.
Setelah shalat selesai dan doa bersama, Ayyan memutar tubuhnya menghadap makmum. Matanya langsung tertuju pada sosok mungil istrinya yang masih mengenakan mukena putih, tampak sangat cantik dan imut.
Ayyan mendekat ke arah Namira yang sedang melipat sajadahnya. "Sudah selesai shalatnya. Sekarang, masuk ke kamar. Ada hal yang perlu saya bicarakan soal aturan di rumah nanti," ucap Ayyan dengan nada yang kembali tegas.
Namira langsung mendongak, matanya yang bulat mengerjap-ngerjap. "Aturan? Perasaan baru juga sah, udah ada aturan aja? Jangan bilang nggak boleh ngomong lebih dari sepuluh kata sehari ya?" ceplas-ceplos Namira kembali kumat.
Ayyan hanya menatapnya datar tanpa ekspresi. "Masuk saja dulu. Saya tunggu di dalam."
Namira menghempaskan tubuhnya di tepi kasur yang sudah dihias cantik dengan taburan kelopak bunga mawar. "Iya, iya, bentar napa! Sabar, Pak Ustadz. Ini kaki mungil Mira capek banget abis berdiri di depan penghulu tadi," gerutunya sambil mencoba melepaskan hiasan di kerudungnya.
Ayyan yang baru saja menutup pintu kamar, berbalik dan berdiri tegak di depan Namira. Tingginya yang 179 cm benar-benar membuat Namira harus mendongak jauh ke atas. Ayyan baru saja membuka mulut, hendak memulai pembicaraan serius soal kehidupan pernikahan mereka ke depan, tiba-tiba...
Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel Namira yang ada di tas kecil samping kasur berdering nyaring. Namira langsung menyambar ponselnya dengan cepat.
"Eh, bentar Pak Ustadz! Ini penting!" Namira mengangkat telepon tanpa melihat ekspresi Ayyan yang langsung datar.
"Halo, Bila?! Gimana? Udah sampai? Beneran?!" teriak Namira heboh, lupa kalau di depannya ada suaminya. "Wah, gila! Akhirnya dres Amira yang harganya setara jajan seblak setahun itu sampai juga! Kirim foto lewat WA sekarang ya, Bil! Gue mau lihat detail rendanya!"
Ayyan yang mendengar kata "gila" dan "seblak" disebut di dalam kamar pengantin mereka, hanya bisa menghela napas panjang sambil melipat tangannya di dada. Otot tangannya yang kekar terlihat jelas saat ia bersedekap, menunggu istrinya selesai bicara.
Namira menutup telepon dengan wajah sumringah. Ia mendongak menatap Ayyan yang masih mematung seperti patung es.
"Pak Ustadz, tau nggak? Dres impian saya akhirnya sampai! Wah, besok saya harus langsung coba sih, kalau perlu saya pake pas kita ke rumah Abah nanti!" ucap Namira dengan mata berbinar-binar.
Ayyan mendekat selangkah, membuat Namira otomatis menghentikan ocehannya. "Namira Salsabila," panggil Ayyan dengan suara rendah yang sangat mengintimidasi namun tenang.
"Eh, i-iya? Kenapa?" Namira mendadak gugup melihat wajah suaminya yang sangat dekat.
"Pertama, saat suami sedang bicara atau ingin bicara, ponsel itu diletakkan. Kedua, apa tadi? 'Gila'? Itu bukan kata yang pantas keluar dari mulut seorang istri ustadz," ucap Ayyan sambil menatap mata lentik Namira. "Dan ketiga... soal dres itu, nanti kita bicarakan. Sekarang, dengarkan saya dulu. Paham?"
Namira menelan ludah. Wajah ganteng Ayyan yang mirip orang Arab itu kalau lagi mode serius ternyata makin menyeramkan sekaligus... bikin deg-degan.
"I-iya, paham. Galak banget sih, baru juga dapet paket..." gumam Namira pelan, nyaris tak terdengar, sambil meletakkan ponselnya dengan lesu.
Ayyan baru saja menarik napas, hendak memulai kalimat pertamanya kembali, ketika tiba-tiba...
Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel di samping paha Namira kembali bergetar hebat. Nama "Bila" kembali muncul di layar. Namira melirik ponselnya, lalu melirik suaminya yang kini sudah memejamkan mata rapat-rapat sambil mengusap wajahnya kasar.
"Astagfirullahaladzim..." gumam Ayyan pelan, suaranya terdengar seperti sedang menahan gunung meletus.
Namira meringis, menunjukkan deretan giginya yang rapi. Dengan gerakan sangat cepat, ia menyambar ponsel itu sebelum Ayyan sempat melarang.
"Hehehe... Maaf, Pak Ustadz. Aduh, beneran deh, ini teman saya nelfon lagi. Kayaknya ada yang ketinggalan soal ukuran dresnya tadi," ucap Namira sambil memberikan gestur 'dua jari' tanda damai.
Ayyan akhirnya duduk di kursi kayu dekat meja rias, ia bersandar sambil memperhatikan istri mungilnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Angkat. Selesaikan urusan dres itu dalam satu menit. Lewat dari itu, ponselnya saya sita sampai besok subuh."
"Eh?! Satu menit?!" Namira panik. Ia langsung menggeser tombol hijau. "Halo, Bil! Cepetan, jangan lama-lama! Gue lagi di sidang sama Kulkas Dua Pin—eh, maksudnya sama suami gue! Ukurannya kenapa? Oke, oke, aman! Sip! Udah ya, bye!"
Klik.
Namira mematikan ponselnya dengan gerakan dramatis dan langsung menaruhnya dengan posisi layar menghadap bawah di atas kasur. Ia kembali menatap Ayyan yang masih menunggunya dengan wajah datar bin dingin.
"Udah! Tuh, nggak sampai satu menit kan?" ucap Namira bangga, sambil merapikan daster batik yang baru saja ia ganti sebelum masuk kamar (karena ia tidak betah memakai kebaya lama-lama).
Ayyan berdiri dari kursinya, berjalan mendekati kasur, lalu berdiri tepat di hadapan Namira. Karena perbedaan tinggi badan mereka yang mencapai 40 cm, Namira benar-benar harus mendongak maksimal sampai lehernya terasa pegal hanya untuk melihat dagu Ayyan.
"Namira," panggil Ayyan.
"I-iya, Pak Ustadz?"
"Nama saya Ayyan. Panggil 'Mas' atau 'Abang'. Jangan panggil Pak Ustadz seolah saya sedang mengajar kamu di kelas," ucap Ayyan tegas. "Dan aturan pertama di kamar ini: saat saya masuk, duniamu hanya ada di sini. Bukan di ponsel, bukan di dres, apalagi di tukang seblak. Mengerti?"
Namira mengerjapkan matanya yang lentik. "Dunia cuma di sini? Wah, sempit banget dong, Mas?" jawab Namira ceplas-ceplos, tanpa sadar sudah memanggilnya 'Mas'.
Ayyan sedikit tertegun mendengar panggilan itu keluar dari bibir Namira yang imut, tapi ia cepat-cepat menguasai diri. "Bukan tempatnya yang sempit, tapi perhatianmu yang harus fokus. Sekarang, ambil wudhu lagi. Kita shalat sunnah dua rakaat sebelum tidur."
"Hah? Shalat lagi? Tadi kan udah Isya?"
"Ini shalat sunnah ba'da nikah. Cepat, atau saya tambah aturannya jadi sepuluh?" ancam Ayyan sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
"Iya, iya! Galak banget sih, kayak macan!" dumel Namira sambil lari kecil menuju kamar mandi, membuat Ayyan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil itu.
Namira keluar dari kamar mandi dengan wajah segar setelah berwudu. Ia segera meraih mukena pink favoritnya—warna yang sangat kontras dengan kepribadiannya yang ceria. Ia mengambil posisi di belakang Ayyan, menjadi makmum untuk kedua kalinya malam itu.
Shalat sunnah dua rakaat itu berlangsung sangat khusyuk. Suara Ayyan yang rendah dan tenang saat membaca surat-surat pendek seolah menyihir ruangan yang tadinya penuh celoteh Namira menjadi begitu damai.
Setelah salam, Ayyan tidak langsung beranjak. Ia berbalik, menatap Namira yang masih duduk rapi di atas sajadahnya.
"Ambil Al-Qur'an kamu," perintah Ayyan singkat.
Namira mengerutkan kening.
"Hah? Sekarang, Mas? Ini kan udah malem, masa mau setoran hafalan kayak santri?"
"Saya ingin dengar bacaan istri saya. Seorang istri ustadz harus benar makhraj dan tajwidnya. Ayo, baca surat Ar-Rahman," ucap Ayyan sambil menyodorkan mushaf kecil miliknya.
Namira mendengus pelan, "Iya, iya. Jangan kaget ya kalau denger suara emas Mira."
Namira pun mulai melantunkan ayat demi ayat. Di luar dugaan Ayyan, suara yang biasanya digunakan untuk mengomel dan membahas seblak itu berubah menjadi sangat merdu dan jernih.
Namira mengaji dengan sangat lancar, tajwidnya presisi, dan iramanya sangat tertata. Ternyata, di balik sifatnya yang super ceriwis, Namira adalah gadis yang sangat menjaga interaksinya dengan Al-Qur'an.
Ayyan terdiam menyimak. Matanya yang tajam perlahan melembut. Ada rasa bangga dan syukur yang menyelinap di hatinya.Ternyata pilihan Abah tidak salah, batinnya.
Setelah sampai di ayat terakhir, Namira menutup mushafnya dan menatap Ayyan dengan bangga. "Gimana, Mas? Lulus nggak? Apa perlu saya ulang pake nada yang lain?" tanya Namira kembali ke mode sombongnya yang imut.
Ayyan berusaha menahan senyumnya agar tetap terlihat berwibawa. Ia berdehem pelan. "Bacaannya bagus. Lancar. Tapi..."
"Tuh kan, pasti ada tapinya!" potong Namira cepat.
"Tapi... jangan cuma pintar baca Qur'an, diamnya juga harus dipelajari. Al-Qur'an itu menenangkan hati, masa pembacanya nggak bisa tenang sebentar saja kalau nggak ada paket dres?" goda Ayyan dengan nada datar namun ada sedikit nada bercanda di sana.
Namira langsung cemberut, bibirnya yang unik itu mengerucut tajam. "Ih! Mas Ayyan mah gitu! Orang udah serius juga, malah dibahas lagi dresnya. Itu kan dres buat nyenengin suami juga nanti pas dipake!"
Ayyan tertegun sejenak mendengar ucapan "nyenengin suami". Ia segera membuang muka untuk menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
"Sudah, simpan mukenanya. Sekarang tidur. Besok kita harus bangun jam tiga untuk tahajud. Jangan sampai saya harus nyiram kamu pake air doa biar bangun," ucap Ayyan sambil berdiri.
"Jam tiga?! Mas, itu mah masih jamnya mimpi ketemu pangeran berkuda putih!" teriak Namira syok.
"Pangerannya sudah di depan kamu, dan dia nggak naik kuda, tapi naik jadwal shalat tahajud. Cepat tidur, Namira," balas Ayyan tegas sambil mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang temaram.