Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Wakasa berdiri di atas dahan pohon besar, kakinya menapak kokoh di kulit pohon yang retak, napasnya teratur tapi matanya tajam menatap medan di bawah.
Angin membawa aroma racun yang pekat, membuat daun-daun hangus bergetar pelan. Tanah di bawah penuh retakan, sebagian gosong, seolah menunjukkan jejak kemarahan monster raksasa itu.
Dan di kejauhan… terdengar getaran berat, tanah berguncang perlahan.
Scorpion King muncul.
Tubuhnya besar, lapisan kitin hitam keunguan memantulkan cahaya matahari yang tembus kabut racun. Ekor panjangnya menyapu tanah, meninggalkan aliran cairan racun yang mendesis saat menempel. Capitnya terangkat, klik gesek kitin keras terdengar sampai ke telinga Wakasa.
Fannisa dan Silka berdiri di tanah, tubuh mereka diselimuti aura sihir yang sudah mulai menipis. Fannisa terengah, tangannya gemetar, namun matanya menatap monster itu dengan tekad membara. Silka berjuang menahan monster, sisa energi sihirnya hampir habis.
“Jangan… jangan sampai menyerah…” gumam Fannisa, meski bibirnya berdarah.
Scorpion King melesat ke arah mereka, ekornya menyapu tanah di antara Fannisa dan Silka. Ledakan pasir dan racun membuat keduanya terpental ke samping.
“Silka!!” teriak Fannisa, memaksa tubuhnya bangkit.
Wakasa mencondongkan badan di atas dahan pohon, matanya memindai gerakan monster itu.
“…Secepat itu… tapi ada pola.” gumamnya.
Tangannya bergerak halus, menyalurkan sedikit energi sihir untuk membaca alur serangan Scorpion King tanpa terjun langsung.
Fannisa mengumpulkan sisa energi, tangannya bergerak cepat. “Flare Bind!”
Rantai api merah membelit kaki Scorpion King, memaksanya berhenti sesaat. Tapi monster itu mengaum keras, mengibaskan capitnya hingga retakan di tanah melebar, mendekati Fannisa lagi.
Silka mengerang, tubuhnya hampir jatuh karena racun.
“Fannisa…!” suaranya parau.
Wakasa menahan napas, tubuhnya condong ke depan di atas dahan.
“…Ini saatnya.” gumamnya pelan.
Dia menatap tepat ke monster itu, matanya fokus, seluruh energi sihir dan fisiknya siap bergerak dalam satu gerakan.
Dan angin kecil yang menyelip di antara daun-daun pohon berdesir, seolah menandai bahwa pertarungan baru saja mulai, dan Wakasa sudah hadir di medan itu.
Getaran berat dari tanah kembali menyebar.
Scorpion King menggeram, ekornya menyapu ke arah Fannisa dan Silka, meninggalkan jejak racun yang mendesis di udara.
Fannisa menahan napas, tangan gemetar, menatap monster itu yang perlahan mendekat.
Silka, tubuhnya setengah roboh karena racun, berusaha bangkit tapi hampir kehilangan keseimbangan.
Dan tiba-tiba—di udara di depan mereka—Wakasa muncul.
Berdiri tegak, kaki menapak kokoh di tanah, matanya menatap tajam Scorpion King. Tubuhnya bersinar tipis oleh aura sihirnya.
Dalam sekejap, tujuh lapis pelindung muncul di sekeliling Fannisa dan Silka, bercahaya dengan warna berbeda-beda. Lapisan-lapisan itu berputar halus, memantulkan sinar dari permukaan tanah yang hangus.
Fannisa terengah, matanya melebar.
“…Wakasa-kun…?” bisiknya, hampir tidak percaya.
Silka menatap pelindung itu, mulutnya terbuka sedikit, ekspresi campur cemas dan kagum.
“…Ini… ini…!” suaranya serak, tapi matanya berbinar penuh harapan.
Monster itu berhenti sejenak, seolah merasakan kekuatan yang tiba-tiba muncul di hadapan Fannisa dan Silka.
Dan di situ, tujuh lapis pelindung itu bersinar stabil, menjadi perisai nyata yang menahan aura racun monster yang mematikan.
Fannisa menelan ludah, tangan gemetar memegang tongkat sihirnya, tapi matanya tak lepas dari Wakasa.
“…Aku… aku nggak perlu takut lagi, kan?” gumamnya pelan, setengah lega, setengah takjub.
Silka mengangguk, masih terpana, tubuhnya mulai menahan beban racun sedikit lebih ringan.
“…Dia… benar-benar datang tepat waktu.”
Scorpion King mengaum keras, matanya majemuk menyala merah.
Ekor dan capitnya bergerak bersamaan, menghantam ke arah tujuh lapis pelindung yang mengelilingi Fannisa dan Silka.
Brak!!
Gelombang energi menghantam pelindung, tanah bergetar hebat, serpihan racun beterbangan, tapi satu pun lapisan pelindung itu tidak retak.
Cahaya pelindung berputar stabil, menahan amukan makhluk raksasa itu.
Fannisa menelan ludah, tubuhnya gemetar.
“T-tidak… tidak hancur…?!” gumamnya, tak percaya.
Silka menunduk, napasnya tersengal.
“Kekuatan… ini…” suaranya hampir tak terdengar, matanya melebar kagum tapi juga cemas.
Wakasa, tetap berdiri tegap di depan mereka, satu tangan terangkat, memusatkan energi.
“…Aku tahu itu akan datang,” gumamnya, lalu matanya fokus ke tiap gerakan Scorpion King.
Dengan satu gerakan cepat, ia mengaktifkan
" Poison Immunity "
tubuhnya kini benar-benar kebal terhadap racun Scorpion King.
Tangannya bergerak halus, menyesuaikan lapisan pelindung dengan serangan monster itu. Setiap pantulan energi dari capit dan sengatan diprediksi, ditahan, diperkuat.
Fannisa menatap tangan Wakasa yang mengatur pelindung itu, rasa kagum bercampur lega.
“Dia… benar-benar mengendalikan semuanya…” bisiknya.
Silka, tubuhnya lemah, mencoba mengangkat tangan.
“Aku… aku ingin bantu…”
Tapi mata Fannisa menatapnya.
“Kita… sudah gak ada tenaga lagi…”
Silka menunduk, tubuhnya lemas.
“Ya… kita cuma bisa mengandalkan dia sekarang…”
Di sekeliling mereka, Scorpion King tetap menekan, tapi pelindung itu berputar stabil, menyerap semua hantaman.
Angin kencang, serpihan racun, dan debu beterbangan—tapi Fannisa dan Silka tetap aman di dalamnya.
Wakasa menarik napas, matanya menyapu medan.
“…Kau tidak akan bisa menghancurkan pelindung ini loh,” gumamnya pelan, penuh tekad.
Tujuh tombak api masih membara di tubuh Scorpion King, membuatnya meraung keras.
Namun monster itu tidak roboh. Kitin kerasnya retak di beberapa titik, tapi tubuh raksasa itu tetap kokoh, matanya berkilat lebih merah dan penuh kemarahan.
Wakasa menurunkan satu kaki, menahan keseimbangan di punggung monster, tangannya bergerak cepat.
“…Not enough yet,” gumamnya.
Sambil menggerakkan tangannya, sihirnya mulai menyatu dengan energi alam sekitar, menciptakan lingkaran aura yang memutar di udara.
“Seven Flaming Spears… Enhance!” bisiknya, dan api tombak itu berputar lebih cepat, memantul, lalu melesat lagi, menghantam Scorpion King dari berbagai arah.
Monster itu meraung, ekornya menghantam tanah dan pohon di sekeliling, serpihan tanah beterbangan. Racun yang menetes dari sengatnya menguap karena panas, tapi makhluk itu tetap berdiri tegak, setiap gerakannya menimbulkan getaran yang membuat tanah retak lebih dalam.
Fannisa menahan napas, matanya melebar, tubuhnya lemah tapi masih mencoba fokus.
“…Aku… aku gak percaya dia bisa… tapi monster itu masih bertahan…” gumamnya, menatap Wakasa dengan kagum dan lega.
Silka, tubuhnya gemetar, hampir roboh karena racun yang tersisa, menatap ke atas dengan mata berbinar.
“…Dia… benar-benar mengendalikan semuanya… tapi… monster itu kuat banget…”
Wakasa mencondongkan tubuh sedikit ke depan, matanya mengawasi gerakan monster dengan fokus.
“…Sate , Ini yang akan menjadi serangan terakhir?” gumamnya pelan sambil tersenyum lebar.
Wakasa menatap Scorpion King yang masih meraung dan menebarkan racun.
Dalam sekejap, tubuhnya melayang, meninggalkan pelindung di bawah Fannisa dan Silka.
Tanah bergetar, angin kencang berputar di sekelilingnya saat ia turun dari udara, menapak tepat di depan monster itu.
Fannisa menatapnya, bibirnya ternganga.
“…Wakasa-kun… itu… apa yang akan kau lakukan?”
Silka hampir tidak bisa berkata apa-apa, matanya melebar, tubuhnya gemetar.
“…Aku… belum pernah lihat sihir kayak gitu…”
Wakasa mengangkat kedua tangannya.
“…Fire Magic: The Embodiment of Giant Eagle!”
Sekejap kemudian, di atas kepala Wakasa, seekor elang raksasa dari api muncul. Sayapnya membentang luas, tubuhnya menyala merah keemasan, cakarnya mengeluarkan percikan api yang panasnya menusuk udara. Mata elang itu menyala, menatap Scorpion King dengan tajam dan penuh amarah.
Dengan satu ayunan tangan Wakasa, elang api itu menukik turun, menghantam Scorpion King.
KRAAAAKKK!!
Tubuh monster itu langsung terbakar hebat. Kitin kerasnya meledak satu per satu, racun yang menetes mendesis karena panas ekstrem, dan suara jeritan mengerikan terdengar.
Fannisa menutupi mulutnya, matanya berkaca-kaca, campuran kagum dan lega.
“…Dia… itu… s-sihirnya… luar biasa…”
Silka menunduk, hampir roboh tapi tetap terpana.
“…Elang api itu… dia… menghancurkan monster itu… hanya dengan satu gerakan…”
Scorpion King meraung keras, tapi api terus membakar tubuhnya. Dalam beberapa detik, raksasa itu jatuh ke tanah, hangus, dan mati, meninggalkan asap pekat dan sisa serpihan kitin yang berasap.
Wakasa menurunkan tangannya, napasnya masih tenang.
Api dari elang raksasa itu perlahan memudar, dan elang itu menghilang, meninggalkan udara yang panas dan berbau asap.
Fannisa dan Silka terdiam, tubuh mereka gemetar, tetapi lega luar biasa.
“…Wakasa-kun… kau… kau menyelamatkan kami…” bisik Fannisa, matanya berbinar.
Silka mengangguk, suaranya serak tapi jelas.
“…Aku nggak pernah… nggak pernah lihat sihir sekuat itu…”
Wakasa menatap keduanya sebentar, lalu akhirnya menurunkan pandangannya ke medan yang hancur.