Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aurellia
Aurellia baru menyadari bahwa tangannya terasa dingin ketika pintu rumahnya tertutup.
Ia berhenti sejenak di depan pintu, masih memakai sepatu, dan tas menggantung di bahunya. Rumah kecil itu hening. Lampu ruang tamu padam. Jam dinding berdetak pelan.
Dan pikirannya… berisik.
Ia menarik napas dalam-dalam, melepas sepatu, kemudian melangkah masuk. Tasnya ditaruh di sofa, tetapi ia tidak langsung duduk. Ia mondar-mandir sebelumnya, tampak seperti tubuhnya belum sepakat untuk beristirahat.
Kenapa aku tiba-tiba jadi kayak gini?
Cuma ke galeri. Cuma ngobrol.
Namun wajah Alvaro kembali terbayang.
Cara dia berdiri kaku waktu tanya.
Nada suaranya yang hati-hati.
Dan tatapan matanya saat mengangkat kamera—tenang, tapi fokus.
Aurellia menekan pelipisnya.
“Ya ampun,” bisiknya. “Ayo stop Aurellia. ”
Ia menuju dapur, mengambil air untuk diminum, berdiri sambil melihat wastafel. Bayangannya di kaca terlihat… berbeda.
Lebih hidup.
Itu yang membuatnya merasa kesal.
“Kak Aurel? ”
Suara itu membuatnya terkejut.
Ia menoleh. Adiknya, Nara, berdiri di ambang pintu kamarnya, rambut diikat sembarangan, mengenakan kaos besar.
“Kak? ” Nara membuat ekspresi curiga. “Kakak kenapa cuma berdiri di situ? ”
“Enggak,” jawab Aurellia cepat. “Cuma capek. ”
Nara mendekat, memerhatikan wajah kakaknya dengan curiga. “Capek tapi senyum? ”
Aurellia secara refleks mengusap pipinya. “Aku senyum? ”
“Iya. ”
Aurellia mengalihkan pandangan. “Enggak juga. ”
Nara mendengus. “Kakak jarang pulang sambil senyum sendiri, loh. ”
“Aku nggak senyum sendiri. ”
“Baru aja iya. ”
Aurellia berjalan menuju kamar, berharap pembicaraan itu berakhir. Tapi tentu tidak.
Nara mengikutinya.
“Baru pulang dari mana? ” tanya Nara santai, dengan nada yang menyelidik.
“Keluar. ”
“Sama siapa? ”
“Teman. ”
Nara berhenti di pintu kamar. “Teman yang mana? ”
Aurellia membuka tasnya, berpura-pura sibuk. “Ya temen Dek. ”
“Cowok? ” tebak Nara.
Aurellia terdiam.
Nara bersiul pelan. “Ooooh. ”
“Jangan lebay gitu dah. ”
“Ini bukan lebay,” Nara mengucapkan sambil menyilangkan tangan. “Ini observasi. ”
Aurellia duduk di kasur. “Aku capek. ”
Nara duduk di sampingnya tanpa diundang. “Kakak enggak pernah capek sambil senyum. ”
Aurellia mendesah. “Naraaaa…”
“Oke, oke. ” Nara mengangkat tangan. “Aku bakal diem. Tapi nanti aku tanya lagi. ”
Aurellia mandi lebih lama daripada biasanya.
Air hangat mengalir, tetapi pikirannya melayang ke arah lain.
Ia teringat galeri. Lukisan-lukisan aneh. Bangku kayu. Cahaya lampu putih yang mengenai lantai.
Dan Alvaro.
Kenapa aku merasa nyaman ya?
Ia menempelkan dahi pada dinding kamar mandi.
Biasanya, ia memerlukan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan orang baru. Ia biasanya menjaga jarak. Biasanya, ia tidak suka ditatap terlalu lama.
Tetapi tadi?
Ia membiarkan Alvaro memotretnya.
Dan itu bukan hanya karena kamera.
Tetapi karena orang di baliknya.
Aurellia menutup matanya.
Bahaya, pikirnya.
Ini bahaya.
Makan malam terasa canggung.
Aurellia duduk di meja, menyendok nasi, tetapi pikirannya tidak fokus.
Nara memerhatikannya.
“Kak,” panggilnya.
“Hm? ”
“Sendoknya kosong. ”
Aurellia tersadar. “Oh. ”
Nara tersenyum lebar. “Kakak jatuh cinta, ya? ”
Aurellia hampir tersedak. “Apaan sih kamu Dek? ! ”
“Ih, reaksinya cepet banget,” kata Nara dengan puas. “Berarti iya. ”
“Enggak. ”
“Terus kenapa dari tadi bengong, senyum, terus bengong lagi? ”
Aurellia menatap piringnya. “Aku cuma… ketemu sama orang baik. ”
“Oh. ”
Nada Nara terdengar lebih lembut. “Baik kayak apa? ”
Aurellia berpikir sejenak.
“Dia nggak maksa,” ujarnya perlahan. “Nggak banyak bicara. Tapi… perhatian. ”
Nara tersenyum kecil. “Itu keliatan serius. ”
Aurellia langsung menggeleng. “Enggak. Jangan lebay deh. ”
“Tapi kakak mikirin dia? ”
Aurellia terdiam.
Dan keheningan itu sudah cukup menjawab.
Malam semakin larut.
Aurellia berbaring, memeluk bantal, menatap langit-langit kamarnya.
Ponselnya terletak di meja samping tempat tidur.
Sunyi.
Tidak ada pesan.
Dan yang aneh. . . ia tidak merasa kecewa.
Ia justru merasa tenang.
Ia berpikir bahwa tidak perlu ada pesan yang masuk.
Aku juga tidak merasa perlu.
Namun bayangan Alvaro tetap muncul di pikirannya.
Cara senyumnya yang kecil setelah mengambil foto.
Cara dia berkata, "Aku janji. "
Aurellia menghembuskan napas pelan.
"Aku baru kenal kamu nggak lama," bisiknya pada langit-langit. "Tapi kenapa rasanya. . . nyaman banget? "
Ia menutup matanya.
Bukan cinta yang tumbuh.
Belum.
Namun ada sesuatu yang berkembang perlahan.
Dan untuk pertama kalinya, Aurellia tidak ingin cepat-cepat memberi nama pada perasaannya.
Nara sangat yakin ada sesuatu yang tidak beres.
Bukan masalah serius, melainkan sesuatu yang membuat seseorang tersenyum sendirian sambil memandang dinding. Dan ini terjadi pada kakaknya—yang biasanya sangat tidak suka drama.
Sejak makan malam, Nara sudah waspada.
Ia duduk di sofa, berpura-pura scroll ponsel, tetapi matanya beberapa kali melirik ke Aurellia yang sedang membuat teh di dapur. Kakaknya tampak bergerak lebih lambat dari biasanya. Suara lirih keluar dari mulutnya—sesuatu yang jarang sekali terjadi.
“Oke,” bisik Nara pelan. “Ini jelas ada yang aneh. ”
Ia berdiri dan mendekati dapur. “Kak. ”
Aurellia menengok. “Ada apa? ”
“Kamu baru dari mana tadi? ”
Aurellia menuangkan air panas. “Kan aku sudah bilang. ”
“Jawaban kakak terlalu pasaran,” ucap Nara serius. “Sebagai adik, aku butuh informasi lebih. ”
Aurellia melihatnya tanpa ekspresi. “Kamu kenapa sih? ”
Nara menyilangkan tangan. “Kakak pulang sambil senyum. Ngelamun. Terus melamun lagi. Terus senyum lagi. Itu kan pola. ”
“Pola apa. ”
“Pola seseorang yang lagi jatuh cinta,” jawab Nara dengan tegas.
Aurellia mendengus. “Sok tau banget. ”
“Berdasarkan pengalaman,” balas Nara cepat.
Aurellia terkekeh pelan, lalu pergi ke ruang tamu sambil membawa cangkir. Nara mengikutinya, tidak ingin kalah.
Di sofa, Nara duduk berhadapan dengannya, sedikit membungkuk. “Aku cuma pengen tau. Siapa cowoknya. ”
“Enggak ada cowok. ”
Nara mendesah dramatis. “Penolakan tahap awal. ”
Bu Dewi muncul dari kamar, membawa kain yang dilipat.
“Kalian debat tentang apa? ” tanyanya.
Nara langsung berpaling. “Mah, kak Aurellia aneh. ”
Aurellia tersedak teh. “Nara! ”
Bu Dewi mengernyit. “Aneh kenapa? ”
“Dia senyum sendiri,” jawab Nara. “Terus pulang sore, keliatan ceria. ”
Bu Dewi menatap Aurellia lama sekali. Terlalu lama.
“Kamu baru ketemu sama siapa, Aurel? ” tanya Bu Dewi dengan lembut.
Aurellia membuang pandangannya. “Temen. ”
“Temen kerja? ”
“Bukan. ”
“Temen lama? ”
“Enggak juga. ”
Nara menunjuk kakaknya. “Kan, Mah. ”
Bu Dewi tersenyum tipis. “Ibu cuma tanya. ”
Aurellia berdiri. “Aku capek. Mau masuk kamar. ”
“Eh, belum jawab,” kata Nara.
Aurellia berhenti, menengok. “Kalo benar, kenapa? ”
Nara dan Bu Dewi saling bertukar pandang.
Bu Dewi tersenyum hangat. “Ya nggak ada masalah. Ibu senang liat kamu bahagia. ”
Nara cepat mengangguk. “Aku juga. Cuma mau tau aja. ”
Aurellia terdiam sejenak.
Kemudian ia menghela napas, tersenyum kecil. “Kalian penasaran banget. ”
“Kita peduli,” koreksi Bu Dewi.
Aurellia mendecak pelan, lalu melangkah ke kamar. “Selamat malam. ”
Di dalam kamar, Aurellia menutup pintu dan bersandar sejenak.
Ia menatap langit-langit, lalu tersenyum kecil.
Mereka tahu, pikirnya.
Atau setidaknya… peduli.
Dan meskipun ia berpura-pura biasa di depan mereka, ada rasa hangat yang perlahan menyelimuti dadanya.
Ini bukan hanya soal seseorang yang bernama Alvaro.
Tetapi karena ia merasa tidak sendirian menghadapi perasaan yang baru muncul itu.
Ia mematikan lampu.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aurellia tidur dengan perasaan ringan—dikelilingi rasa aman, dari luar dan dari dalam dirinya sendiri.