Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 bagian 2 Janji di Sajadah
#
Tengah malam. Jam menunjukkan pukul setengah dua. Zidan terbangun dengan sendirinya. Nggak ada alarm. Nggak ada yang bangunin. Tapi matanya langsung melek. Kayak ada yang nyuruh dia bangun.
Dia duduk pelan di kasur sambil ngeliatin Naura yang tidur pulas di sampingnya. Faris di boks juga tidur nyenyak. Napasnya teratur. Wajahnya damai.
Zidan turun dari kasur pelan biar nggak bikin suara. Dia ambil sajadah lusuh yang dilipat di sudut ruangan. Bentangkan di pojok yang biasa dia pake buat sholat.
Dia berwudhu di kamar mandi kecil dengan air yang dingin menusuk kulit. Tapi dia nggak peduli. Hatinya lagi penuh. Penuh dengan perasaan yang campur aduk.
Syukur.
Harap.
Dan... keinginan.
Keinginan yang besar.
Dia berdiri di sajadah sambil angkat tangan. Mulai sholat tahajud. Rakaat pertama. Bacaannya pelan tapi khusyuk. Di belakang, Naura terbangun dengerin suara bacaan suaminya. Dia diem aja. Dengerin.
Zidan sholat sampai delapan rakaat. Setiap sujud dia lama banget. Kayak nggak mau bangkit. Di sujud itu dia bisik bisik doa yang cuma Allah yang denger.
Setelah salam, dia duduk bersimpuh sambil angkat tangan tinggi tinggi. Matanya menutup. Air mata mulai mengalir dari sudut matanya.
"Ya Allah... Ya Allah yang Maha Kaya. Ya Allah yang Maha Pemberi Rezeki."
Suaranya bergetar di malam yang sunyi itu.
"Hamba bersyukur ya Allah. Sangat bersyukur. Engkau udah kasih hamba kerjaan yang baik. Gaji yang cukup. Atasan yang baik hati. Keluarga yang sehat. Hamba bersyukur ya Allah. Bersyukur banget."
Dia sujud lagi sambil terisak pelan.
"Tapi ya Allah... hamba masih punya hutang. Hutang yang besar. Sepuluh juta belum berkurang sama sekali. Hamba cuma bisa bayar bunganya. Belum pokoknya. Kalau kayak gini terus, kapan hamba bisa lunas?"
Naura yang dengerin dari kasur mulai ikut nangis. Dia bangkit pelan terus ambil mukenanya. Pake cepet. Terus duduk di samping suaminya. Ikut angkat tangan.
Zidan nggak sadar istrinya udah ada di sampingnya. Dia terus berdoa dengan mata tertutup.
"Ya Allah, hamba nggak minta yang muluk muluk. Hamba cuma minta bisa bayar hutang dengan cepat. Bisa kasih Faris kehidupan yang layak. Bisa beliin Naura baju yang bagus. Bisa punya rumah sendiri yang nggak sempit. Bisa..."
Suaranya terputus karena nangis.
"Ya Allah, kalau Engkau beri hamba kekayaan... kalau Engkau beri hamba rezeki yang berlimpah... hamba janji. Hamba bersumpah dengan nama Allah. Hamba akan lebih taat beribadah. Hamba akan sholat lima waktu nggak pernah bolong. Hamba akan puasa Senin Kamis. Hamba akan baca Quran setiap hari."
Dia angkat kepalanya sambil buka mata. Menatap langit langit kontrakan yang rendah kayak lagi menatap langit.
"Ya Allah, hamba akan bersedekah banyak banyak. Hamba akan bantu orang orang miskin. Hamba akan bangun masjid. Hamba akan sekolahkan anak yatim. Hamba nggak akan lupa sama orang orang yang susah. Karena hamba pernah jadi orang susah. Hamba tau rasanya."
Air matanya makin deras.
"Ya Allah, hamba nggak akan sombong. Nggak akan lupa diri. Nggak akan lupa sama Engkau. Hamba janji akan tetep rendah hati. Tetep takut sama Engkau. Tetep inget kematian. Hamba janji ya Allah. Hamba bersumpah."
Naura yang dengerin itu langsung ikut mengaminkan dengan suara bergetar.
"Aamiin ya Allah. Aamiin ya Rabbal alamin."
Zidan kaget dengerin suara istrinya. Dia noleh. Naura udah duduk di sampingnya sambil nangis.
"Naura... kamu udah bangun?"
"Iya Mas. Aku denger Mas sholat. Aku ikut."
Mereka saling tatap. Lalu Naura juga angkat tangannya. Mulai berdoa dengan suara yang pelan tapi jelas.
"Ya Allah, ini hamba Naura. Hamba istri dari Zidan. Hamba ibu dari Faris. Ya Allah, hamba ikut memohon. Memohon dengan sangat. Berikanlah kami kekayaan. Berikanlah kami rezeki yang berlimpah."
Suaranya mulai bergetar.
"Bukan buat foya foya ya Allah. Bukan buat pamer. Bukan buat sombong. Tapi buat hidup yang lebih layak. Buat bayar hutang. Buat sekolahin Faris nanti. Buat bantu orang orang yang membutuhkan."
Dia sujud sambil terisak.
"Ya Allah, hamba janji. Kalau Engkau kasih kami kekayaan, hamba nggak akan lupa sama tetangga tetangga yang udah bantuin kami waktu susah. Nggak akan lupa sama Bu Mariam yang udah kasih kami makan gratis. Nggak akan lupa sama Bu Siti yang sakit. Hamba akan bantuin mereka semua."
Dia duduk lagi sambil mengangkat tangan.
"Ya Allah, jadikan kami orang orang kaya yang bermanfaat. Yang dermawan. Yang nggak pelit. Yang suka berbagi. Seperti sahabat sahabat Nabi yang kaya tapi tetep taat. Yang hartanya digunakan untuk kebaikan."
Zidan megang tangan istrinya yang terangkat. Mereka berdoa bareng dengan tangan yang saling menggenggam.
"Ya Allah," suara mereka berbarengan. "Kabulkanlah doa kami. Berikan kami kekayaan. Tapi jangan biarkan kekayaan itu menjauhkan kami dari Engkau. Jangan biarkan kekayaan itu merusak hati kami. Jangan biarkan kekayaan itu membuat kami lupa siapa kami sebenarnya."
Mereka sujud bareng. Sujud yang panjang. Sangat panjang. Hampir sepuluh menit mereka nggak bangkit bangkit. Cuma kedengaran isak tangis pelan dari bawah sana.
Setelah lama, mereka duduk lagi. Wajah basah kuyup. Mata merah bengkak.
Zidan menatap istrinya dengan serius. "Naura, kalau nanti kita dikasih kekayaan sama Allah... kalau nanti kita jadi orang kaya... kamu ingetin aku ya. Ingetin aku buat tetep sholat. Tetep sedekah. Tetep rendah hati. Jangan biarkan aku berubah."
Naura ngangguk sambil pegang wajah suaminya dengan dua tangan. "Iya Mas. Aku janji akan ingetin Mas. Dan Mas juga harus ingetin aku. Jangan biarkan aku jadi istri yang sombong. Yang lupa sama asal. Yang lupa sama orang orang yang udah bantuin kita."
"Aku janji."
"Aku juga janji."
Mereka berpelukan di atas sajadah sambil nangis. Pelukan yang erat. Pelukan yang tulus. Pelukan dua insan yang lagi berdoa dengan sepenuh hati.
"Mas, aku takut."
"Takut kenapa?"
"Takut kalau... kalau nanti kita beneran dikasih kekayaan... kita malah jadi orang yang buruk. Kita malah lupa sama Allah. Kita malah..."
"Nggak akan. Kita nggak akan jadi kayak gitu. Kita udah janji sama Allah. Kita udah bersumpah. Allah pasti jaga kita."
"Tapi banyak orang yang awalnya baik. Pas udah kaya jadi berubah. Jadi sombong. Jadi lupa sama yang miskin."
Zidan melepas pelukan terus pegang pundak istrinya. Menatap dalam.
"Dengar ya. Kita beda dari mereka. Kita pernah ngerasain susah. Kita pernah tidur di masjid beralas kardus. Kita pernah makan nasi sama kecap berhari hari. Kita pernah dikejar debt collector. Kita pernah nggak punya apa apa. Pengalaman itu akan selalu inget di hati kita. Nggak akan pernah hilang."
"Tapi Mas..."
"Percaya sama aku. Percaya sama Allah. Kita nggak akan berubah. Kita akan tetep jadi Zidan dan Naura yang sekarang. Yang sederhana. Yang taat. Yang nggak lupa diri."
Naura mengangguk pelan meski di hatinya masih ada keraguan kecil. Keraguan yang dia nggak bisa jelasin. Kayak ada firasat yang nggak enak.
Tapi dia pendem aja. Nggak mau bikin suaminya khawatir.
Mereka sholat sunnah dua rakaat lagi. Setelah itu duduk sambil baca dzikir bareng. Suara tasbih mereka mengalun lembut di malam yang sunyi.
"Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar..."
Seratus kali. Suara mereka selaras. Damai.
Setelah selesai, mereka duduk diem sebentar. Nikmatin ketenangan malam.
"Naura, kalau nanti kita kaya... hal pertama yang mau kamu lakuin apa?"
Naura mikir sebentar. "Aku mau beliin Ibu kursi roda yang bagus. Biar Ibu bisa jalan jalan keluar rumah sakit. Nggak cuma terbaring di ranjang terus. Terus aku mau bayar semua biaya rumah sakit Ibu sampai lunas. Biar Ibu bisa pulang."
Zidan senyum. "Bagus. Terus?"
"Aku mau beliin Bu Mariam kulkas baru. Kulkas dia udah rusak dari kapan tau. Dia sering ngeluh makanan cepet basi. Terus aku mau kasih dia uang buat modal jualan yang lebih besar. Biar dia nggak susah lagi."
"Terus?"
"Aku mau sumbang ke panti asuhan. Aku mau bantu anak anak yatim yang nggak punya biaya sekolah. Aku mau... aku mau berbagi kebahagiaan ke orang lain. Biar mereka juga bisa ngerasain senengnya punya uang yang cukup."
Zidan peluk istrinya sambil cium kening. "Kamu istri yang baik. Istri yang punya hati mulia. Aku beruntung banget punya kamu."
"Mas juga. Kalau Mas mau lakuin apa?"
"Aku mau beli rumah. Rumah yang layak buat kita bertiga. Nggak perlu gede. Cukup yang ada dua kamar. Satu buat kita. Satu buat Faris. Ada ruang tamu yang agak luas. Ada dapur yang bener. Ada kamar mandi yang layak. Cuma itu aja."
"Terus?"
"Aku mau sekolahin Faris di sekolah yang bagus. Yang guru gurunya pinter. Yang fasilitasnya lengkap. Biar dia bisa jadi anak yang pinter. Yang bisa kuliah. Yang bisa jadi orang sukses."
"Terus?"
"Aku mau bangun masjid di kampung kita. Masjid yang udah tua itu kan perlu renovasi. Atapnya bocor. Karpetnya udah tipis. Toilet nya jorok. Aku mau renovasi semua. Biar jamaah nyaman."
Naura senyum lebar. "Semoga Allah kabulin semua rencana kita ya Mas."
"Aamiin."
Mereka duduk di sajadah sampai adzan subuh berkumandang. Begitu denger adzan, mereka langsung berdiri buat sholat subuh berjamaah.
Setelah sholat, Zidan duduk lagi sambil baca Quran. Naura masak air buat kopi. Faris bangun dan langsung nangis minta nyusu.
Hidup berjalan seperti biasa.
Tapi ada yang beda pagi ini.
Ada harapan yang lebih besar.
Ada doa yang lebih kuat.
Ada tekad yang lebih bulat.
Zidan berangkat kerja pagi itu dengan hati yang penuh semangat. Dia yakin. Yakin banget. Suatu hari nanti Allah akan kabulin doa mereka.
Dan dia akan jadi orang kaya.
Orang kaya yang tetep taat.
Yang tetep rendah hati.
Yang tetep inget sama orang susah.
Dia yakin banget.
Sangat yakin.
Tapi dia nggak tau.
Dia nggak tau bahwa doa dia akan dikabulkan.
Tapi nggak dengan cara yang dia bayangkan.
Dia nggak tau bahwa kekayaan itu akan datang.
Tapi datang dengan ujian yang sangat berat.
Ujian yang akan menguji setiap janji yang dia ucapkan malam ini.
Ujian yang akan menguji setiap sumpah yang dia lafadzkan di sajadah tadi.
Dan ujian itu akan dimulai.
Lebih cepat dari yang dia kira.
Dari arah yang nggak pernah dia duga.
Dengan cara yang akan mengubah dia.
Pelan.
Tapi pasti.
Sampai dia jadi orang yang sama sekali berbeda.
Orang yang akan melupakan semua janji janjinya.
Orang yang akan mengkhianati semua sumpahnya.
Orang yang akan menghancurkan keluarganya sendiri dengan tangannya sendiri.
Tapi untuk pagi ini, dia masih polos.
Masih tulus.
Masih murni.
Dan dia berjalan ke tempat kerja dengan senyum di wajah.
Senyum harapan.
Senyum yang nggak akan bertahan lama.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja