Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Kecil di Sepanjang Jalan Pulang
Seiring detak jam yang terus berputar, dunia di sekitar kami perlahan mulai bersolek. Fasilitas di desa mulai sedikit membaik, dan teknologi perlahan merayap masuk ke kehidupan kami yang sederhana. Namun, bagi keluarga kami, kemajuan itu terasa seperti gerak siput, pelan, tapi pasti. Perubahan ekonomi yang sedikit itu menjadi pondasi bagi Ayah dan Ibu untuk terus melangkah, meski sisa-sisa keringat dan rasa lelah mereka masih nampak jelas di setiap kerutan wajah.
Saat itu, aku masih duduk di bangku TK. Aku punya sebuah rahasia besar yang hanya kusimpan sendiri dengan Tuhan. Rahasia tentang uang saku. Jumlahnya terbilang cukup jika aku hanya diam, tapi terasa sangat kurang jika dibandingkan dengan uang saku teman-temanku yang bisa membeli apa saja di kantin sekolah.
Aku tidak pernah mengeluh pada Ibu. Aku tidak mau menambah beban di pundak Ayah yang sudah penuh lecet. Alhasil, aku menciptakan "permainanku" sendiri setiap pulang sekolah.
Mataku selalu menunduk, menelisik setiap jengkal tanah dan kerikil di sepanjang jalanan desa yang kulalui bersama Shifa. Aku selalu berharap pada keberuntungan, sebuah uang koin yang terjatuh dari saku orang lain.
"Sssttt, kamu cari apa sih? Menunduk terus dari tadi," tanya Shifa suatu hari.
"Cari harta karun, Shif," jawabku sambil menyunggingkan senyum misterius.
Tak jarang, mataku menangkap kilatan bungkus plastik kecil di pinggir jalan. Bungkus Sarijus, serbuk minuman legendaris yang rasanya sangat segar khas nanas. Dengan cepat, aku memungut bungkus sisa itu. Aku merobek plastiknya lebih lebar, menelisik ke dalam rongga bungkusnya. Jika aku beruntung, masih ada sisa butiran-butiran serbuk yang menempel di sudut-sudut plastik.
Dengan rasa tidak sabar, aku menjilati sisa serbuk itu. Rasanya... oh, luar biasa enak! Perpaduan rasa manis dan asam buatan itu meledak di lidahku, memberikan kesenangan yang tak bisa dibeli dengan uang sakuku yang terbatas. Itu bukan karena orang tuaku tidak mampu membelikannya untukku, tapi karena ada sensasi "kemenangan" tersendiri saat menemukannya di jalan.
"Dapat lagi?" tanya Shifa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku.
"Dapat! Masih banyak sisa jeruknya. Mau?" tawarku polos, tapi Shifa hanya tertawa.
Keberuntungan paling besar adalah saat aku menemukan koin perak. Entah itu 100 perak yang sudah berlumut tanah atau 500 perak yang masih berkilau. Jika itu terjadi, aku akan langsung berlari menuju warung terdekat dengan perasaan gembira yang meluap-luap.
"Bu, beli permen karet dua!" kataku sambil meletakkan koin 200 perak yang masih kotor di atas meja kayu warung.
Pemilik warung seringkali menatapku dengan wajah yang sedikit kesal. Mungkin karena ia harus menghitung koin-koin kecil yang kotor, atau mungkin karena aku hanya membeli barang murah dengan koin yang baru kupungut dari debu.
"Hadeh, koin lagi? Jangan-jangan kamu habis gali tanah ya?" gerutu pemilik warung sambil menyapu koin itu masuk ke dalam laci.
Aku hanya tersenyum lebar, tidak peduli dengan kekesalannya. Di tanganku sudah ada permen atau jajan kecil yang sangat berharga. Bagiku, koin-koin itu bukan sekadar uang, tapi bukti bahwa Tuhan selalu punya cara untuk menghibur anak kecil yang tahu diri sepertiku.
Momen-momen memalukan itu kini menjadi kenangan yang paling manis. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, aku belajar menemukan cara untuk tetap bahagia tanpa harus merengek. Aku belajar bahwa rasa "enak" tidak selalu datang dari barang mahal, tapi bisa datang dari butiran serbuk di balik bungkus plastik dan koin keberuntungan di tengah jalan. Itu adalah masa-masa di mana aku merasa sangat kaya, bukan karena uang, tapi karena imajinasi dan rasa syukur yang sederhana.
Kini, ketika aku melihat kembali ke belakang, aku menyadari bahwa butiran serbuk Sarijus dan koin-koin berlumut itu adalah guru terbaik yang pernah kumiliki. Mereka mengajariku tentang sebuah seni yang tidak diajarkan di bangku sekolah mana pun, seni merasa cukup di tengah kekurangan.
Aku akan tetap belajar, aku akan tetap berlari menyusuri jalanan desa, dan aku akan tetap menghargai setiap koin yang kutemukan, baik itu koin di jalanan maupun koin hasil keringat orang tuaku. Karena dari mereka aku belajar, bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari apa yang kita miliki, tapi dari bagaimana kita mencintai apa yang ada di depan mata.
Hari esok akan tetap menjadi harapan baru, seperti yang selalu Ayah bisikkan pada dirinya sendiri di bawah cahaya bulan. Dan kali ini, aku akan berjalan di sampingnya, bukan lagi sebagai anak kecil yang mengekor, tapi sebagai kekuatan yang akan memastikan bahwa roda nasib kami, cepat atau lambat, pasti akan berputar menuju cahaya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰