"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 13
Ke esokan harinya.
Halaman SMA Pelita Bangsa berubah menjadi lautan putih abu-abu yang penuh dengan coretan tanda tangan dan semprotan pilox berwarna-warni. Teriakan haru, tawa, dan tangis bahagia pecah di setiap sudut koridor. Di tengah kerumunan itu, Keyla berdiri tegak dengan selempang kain bertuliskan “Lulusan Terbaik Jurusan IPS”.
"Key! Sumpah, gue bangga banget punya temen pinter kayak lo!" Rena memeluk erat Keyla. Wajahnya penuh coretan lipstik hasil kegilaan teman sekelas mereka.
Keyla tertawa, namun matanya terus melirik ke arah gerbang sekolah. "Makasih, Re. Tapi gue lebih bangga kalau seseorang ada di sini buat liat hasil ini."
"Om Arlan? Mana mungkin dia ke sini, Key. Ini jam kantor, lagi pula... lo liat sekeliling, isinya bocah semua. Om-om model dia pasti ngerasa salah kostum kalau masuk ke sini," ujar Rena realistis.
Keyla merengut. Ia merogoh ponsel dari saku roknya yang sudah penuh coretan pesan semangat dari teman-temannya. Ia memotret sertifikat kelulusannya dan mengirimkannya ke Arlan.
Keyla: Om, aku lulus dan dapet peringkat 1 paralel. Om! Janji adalah hutang. Hutang harus dibayar. Sore ini ada pesta kecil di kafe deket sekolah, Om harus dateng ya? Please? Sekali ini aja...
Hening. Belum ada tanda-tanda pesan itu dibaca. Keyla menghela napas panjang. Kegembiraannya terasa sedikit hambar tanpa pengakuan dari pria itu.
Sore harinya, di sebuah kafe yang sudah disewa oleh kelas Keyla, terdengar musik EDM berdentum keras. Teman-temannya menari dan merayakan kebebasan mereka dari seragam. Keyla duduk di sudut balkon, menatap jalanan raya dari ketinggian.
"Key, kok malah bengong? Ayo sini, Gery mau nembak lo lagi tuh sebagai perpisahan!" ajak salah satu temannya.
"Bilang sama Gery, gue udah punya target yang lebih tinggi dari ring basket!" balas Keyla sambil tertawa hambar.
Tiba-tiba, seorang pelayan menghampiri Keyla.
"Maaf, Kak Keyla? Ada tamu di lantai bawah yang mencari Kakak. Katanya dia tidak bisa naik karena... ehem, tidak sesuai dengan tema acaranya."
Jantung Keyla melonjak. Ia segera berlari menuju lift, mengabaikan teriakan Rena. Saat pintu lift terbuka di lobi bawah, ia melihat sosok pria berdiri di dekat jendela besar.
Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi, celana kain berwarna gelap, dan kacamata yang membuatnya terlihat sangat berwibawa sekaligus asing di antara kerumunan anak muda yang berpakaian kasual dan berantakan.
"Om Arlan!" Keyla berlari dan nyaris menabrak dada pria itu.
Dengan cepat Arlan menahan bahu Keyla agar tidak terjatuh. "Jangan berlari, kamu masih pakai sepatu hak tinggi."
"Om dateng? Aku kira Om bakal sibuk meeting atau sengaja ngehindar karena takut aku tagih janjinya," Keyla mendongak, matanya berbinar-binar, mengabaikan beberapa pasang mata pengunjung kafe yang menatap mereka dengan penasaran.
Arlan menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna beludru biru tua. "Selamat atas kelulusanmu. Peringkat satu paralel... itu di luar ekspektasiku."
Keyla membuka kotak itu. Sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk bintang kecil yang berkilau. "Ini... buat aku?"
"Anggap saja apresiasi karena kamu tidak membuat aku malu setelah aku menjaminmu pada Papamu," ucap Arlan datar, namun ia tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
"Pasangin, Om!" Keyla membalikkan badannya, menyibakkan rambut panjangnya ke samping.
Arlan ragu sejenak. Jemarinya yang besar menyentuh kulit leher Keyla yang halus saat ia mengaitkan kalung itu, seolah ada sensasi panas yang menjalar di tangan Arlan.
"Sudah," ucap Arlan cepat sambil menarik tangannya kembali.
Keyla berbalik lagi, memegang liontin itu dengan senyum paling lebar yang pernah Arlan lihat. "Makasih, Om. Tapi... hadiah utamanya bukan ini, kan?"
Arlan menaikkan sebelah alisnya. "Oh ya? Apa lagi?"
"Makan malam. Dan... janji pegang tangan selama lima menit karena aku dapet peringkat satu," Keyla mengulurkan tangannya yang mungil di depan dada Arlan.
Arlan menatap tangan itu, lalu menatap sekeliling lobi yang mulai ramai oleh teman-teman Keyla yang turun ke bawah karena penasaran. "Keyla, lihat sekelilingmu. Aku sepuluh tahun lebih tua darimu. Di mata mereka, aku mungkin terlihat seperti pamanmu atau orang asing yang sedang mencoba menculikmu."
"Aku nggak peduli apa kata mereka, Om. Aku cuma peduli apa yang Om rasain sekarang," tantang Keyla. "Apa Om malu jalan sama aku?"
Arlan terdiam. Keberanian Keyla selalu berhasil memojokkan logikanya yang kaku. Tanpa berkata-kata, Arlan meraih tangan Keyla, lalu menggenggamnya erat dengan jemarinya.
"Lima menit. Dan setelah itu, aku antar kamu pulang," ucap Arlan tegas.
Keyla tertawa kecil, ia mengeratkan genggamannya. "Satu menit aja udah cukup buat bikin aku ngerasa jadi cewek paling beruntung se-Jakarta, Om."
Mereka berjalan menuju mobil Arlan di bawah tatapan iri dan bingung teman-teman sekolah Keyla. Gery, yang berdiri di pintu masuk kafe, hanya bisa menatap lesu. Ia sadar, lawannya memang bukan sekadar cowok keren, tapi seorang pria matang yang sudah memiliki segalanya—termasuk hati Keyla.
Di dalam mobil, Arlan tidak langsung menjalankan mesinnya. Ia masih menggenggam tangan Keyla, tepat di menit ketiga.
"Keyla, setelah ini kamu akan kuliah. Kamu akan bertemu banyak pria seusiamu yang lebih mengerti duniamu," ucap Arlan.
"Om takut aku berpaling?" Keyla memiringkan kepalanya. "Om Arlan, dengar ya. Mau ada seribu cowok kayak Gery atau siapa pun, nggak bakal ada yang bisa kasih aku ketoprak di pinggir jalan sambil dengerin aku nangis di halte. Om itu beda. Dan aku suka yang beda."
Arlan tersenyum kecil, ia akhirnya melepaskan genggaman itu tepat di menit kelima. "Waktunya habis. Sekarang, pakai sabuk pengamanmu. Kita temui Papamu."
"Hah? Ketemu Papa? Sekarang?!" Keyla panik.
"Ya. Dia meneleponku tadi siang. Dia bilang, dia ingin bicara dengan pria yang sudah mencuri perhatian putrinya belakangan ini."
Wajah Keyla mendadak pucat. "Mati aku... Papa pasti bakal interogasi Om kayak tersangka korupsi!"
"Biarkan saja," jawab Arlan tenang sambil menginjak gas. "Aku sudah biasa menghadapi dewan komisaris yang lebih galak dari Papamu."