NovelToon NovelToon
Residu Kulit Kacang

Residu Kulit Kacang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."

Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.

Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Di rumah Nenek

Pagi itu, suara deru mesin buldozer memecah keheningan desa yang biasanya hanya diisi oleh suara kokok ayam dan gesekan daun jati. Aku berdiri di bawah pohon jambu monyet yang sudah tua, mengenakan kemeja putih sederhana dan celana kain yang kokoh. Di sampingku, Mas Aris berdiri dengan tangan bersedekap, matanya menatap tajam ke arah rumah panggung yang sebentar lagi akan rata dengan tanah.

Proses pengusiran sepupu-sepupuku tidak berjalan mudah. Ada teriakan, caci maki, dan sumpah serapah yang dilemparkan kepadaku saat mereka terpaksa mengemasi barang-barang lusuh mereka.

Namun, aku tetap bergeming. Uang pelunasan utang sudah kubayarkan, dan sertifikat rumah panggung itu kini berada dalam genggamanku secara sah. Aku tidak merasakan kemenangan yang manis; yang kurasakan hanyalah sebuah keharusan untuk mengakhiri siklus penderitaan ini.

"Mbak Maya, sudah siap?" tanya mandor pembongkaran.

Aku mengangguk sekali. "Robohkan semuanya. Jangan sisakan satu kayu pun."

Hantaman pertama mengenai pilar utama rumah itu. Kayu nangka yang sudah menghitam itu berderit hebat, seolah-olah sedang menjerit melepaskan semua rahasia yang ia simpan selama puluhan tahun. Dinding-dinding bambu yang dulu sering kugunakan untuk mengintip dunia luar hancur berkeping-keping. Debu putih mengepul ke udara, menutupi pandangan kami sejenak.

Saat buldozer mulai mengais sisa-sisa lantai di bagian tengah rumah, tepat di bawah area yang dulu digunakan Nenek untuk menyimpan beras mesin itu mendadak berhenti. Mandor tersebut turun dari alat beratnya dan menghampiri sebuah lubang yang baru saja terbuka.

"Mbak, ada sesuatu di bawah sini. Sepertinya kotak besi tua yang tertanam cukup dalam," teriak mandor itu.

Aku dan Mas Aris segera mendekat. Sebuah kotak besi berkarat, sebesar kotak sepatu namun jauh lebih berat, berhasil diangkat ke permukaan. Gemboknya sudah hancur karena hantaman mesin tadi. Dengan tangan gemetar, aku membuka tutup kotak itu. Di dalamnya tidak ada emas atau permata, melainkan tumpukan dokumen tua yang dibungkus plastik tebal dan sebuah buku harian kecil milik Nenek.

Aku membaca lembar demi lembar dokumen itu dengan napas yang memburu. Ternyata, rumah panggung dan tanah luas di sekelilingnya ini bukanlah warisan yang seharusnya jatuh ke tangan Paman tertua. Ada surat wasiat resmi dari Kakek yang menyatakan bahwa seluruh aset di desa ini dihibahkan kepada Ayahku sebagai kompensasi atas jasanya merawat Nenek di masa-masa sulit, sementara Paman-paman yang lain sudah diberikan jatah uang tunai yang sangat besar saat mereka merantau dulu.

ternyata ini.... ini,.. Rahasia ini telah mereka sembunyi kan sejak lama ," bisikku. Suaraku bergetar karena amarah yang baru.

Paman tertua tahu tentang surat wasiat ini. Dia tahu bahwa secara hukum, kamilah pemilik tanah ini. Itulah sebabnya dia begitu benci pada kehadiran kami. Itulah sebabnya dia mengusir kami dengan cara yang begitu kejam saat Ayah sedang dalam titik terlemahnya. Dia takut jika kami tetap di sini, kebohongannya akan terbongkar. Dia ingin menjual tanah ini sedikit demi sedikit untuk menghidupi gaya hidupnya dan menutupi utang-utang anaknya.

Lebih mengejutkan lagi, di dalam buku harian Nenek, terdapat catatan yang menyayat hati. Nenek tahu tentang perilaku jahat tetangga pria itu. Nenek pernah mencoba menegur Paman untuk melindungi aku, namun Paman justru mengancam akan membuang Nenek ke panti jompo jika ia ikut campur. Paman membiarkan trauma itu terjadi padaku hanya agar posisinya sebagai "penguasa rumah" tidak terganggu. Aku terduduk di atas bongkahan kayu yang baru saja roboh. Kebenaran ini terasa jauh lebih berat daripada cicilan rumah yang baru kulunasi. Selama lima belas tahun, aku dan keluargaku hidup sebagai gelandangan yang merasa berutang budi atau merasa bersalah, padahal kamilah pemilik yang sah yang dirampok haknya oleh pertalian darah kami sendiri.

"Maya, tenanglah," Mas Aris memelukku. "Sekarang semuanya sudah jelas. Kamu tidak perlu lagi merasa bahwa kamu sombong atau jahat karena mengusir mereka. Kamu hanya mengambil kembali apa yang memang seharusnya menjadi milikmu."

Aku menatap puing-puing rumah panggung itu. Sekarang, rumah itu benar-benar harus musnah. Bukan hanya karena ia tua, tapi karena setiap serat kayunya telah menjadi saksi bisu dari pengkhianatan terbesar dalam hidupku.

"Mas, aku tidak ingin membangun rumah baru di sini," kataku sambil menatap Mas Aris. "Aku ingin tanah ini dijadikan taman bermain untuk anak-anak desa dan balai pengobatan gratis. Aku ingin tanah yang penuh luka ini menjadi tempat yang menyembuhkan orang lain." Mas Aris tersenyum, sebuah senyuman yang penuh rasa bangga. "Itu keputusan yang sangat mulia, Maya. Mari kita lunasinya dengan kebaikan."

Hari itu, saat matahari mulai tenggelam di cakrawala desa, aku meninggalkan puing-puing masa laluku.

Cicilan emosional yang selama ini menghimpitku akhirnya terasa lunas sepenuhnya. Aku pulang ke kota, ke rumah yang kubayar dengan keringatku sendiri, dengan satu kenyataan baru bahwa kekuatan yang sesungguhnya bukan terletak pada apa yang kita miliki, tapi pada keberanian kita untuk memaafkan diri sendiri atas penderitaan yang bukan kesalahan kita

1
orang cobacoba
🫂🫂 🫂
orang cobacoba
😓😞😞
orang cobacoba
keluarga ada karena liat uang😀
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..
Emily
beli rumah neneknya yg ada mengingatkan kenangan pahit masa kecil
Esti 523
ya alloh ceritanya super duper bagus bgt thor,tdk ada typonya reel bgt di kehidupan nyata
Sri Jumiati
maya wanita yg kuat
Esti 523
nyesek bgt dari bab kebab nya,bawangnya bertsburan
Ummu Shafira
/Cry//Cry//Cry/
Sri Jumiati
bagus may .enyahkan parasit
Ummu Shafira
recommended 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Ummu Shafira
kasihan Maya🥺🥺dan hal seperti ini mirisnya banyak terjadi didunia nyata🥺🥺
Sri Jumiati
wanita tangguh maya
Sri Jumiati
semangat thor .suka
Emily
kisah Maya merasa melihat diri sendiri ketika kita tidak punya apa apa kerabat memandang remeh diri kita beda saat kita punya finansial yg kuat kerabat merasa segan ..
Naomi Willem Tuasela
Semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗💚
Emily
Maya cenderung depresi x ya
Emily
mentang2 Maya kuat semua kesalahan harus Maya yg menanggung
Emily
akhirnya mYa pulih dari trauma walau tidak sepenuhnya
Emily
ayo Maya jgn biarkan parasit menggerogoti keluargamu
Emily
gak kebayang jadi maya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!