NovelToon NovelToon
Dicerai Saat Mengandung

Dicerai Saat Mengandung

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:38.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengapa harus bertemu denganmu?

Hana berdiri di depan podium kecil di ujung meja rapat. Suaranya terdengar stabil dan jernih, bergema di setiap sudut ruangan yang kedap suara itu.

"Selamat siang semuanya. Nama saya Hana Pradipta. Seperti yang telah disampaikan oleh Asisten Raka, saya akan memimpin Global Energi mulai hari ini. Fokus utama kita bukan sekadar profit, melainkan masa depan bumi melalui pengembangan panel surya yang mampu menjangkau pelosok negeri dengan biaya yang efisien."

Cakra dan Pak Ardiwinata duduk mematung. Dunia seolah berputar lebih lambat di mata mereka. Bagi Pak Ardi, fakta bahwa Hana adalah putri tunggal Pak Sutoyo seorang pensiunan Jenderal dengan pengaruh politik dan bisnis yang menggurita adalah sebuah tamparan keras sekaligus peluang yang tak terbayangkan.

Sedangkan bagi Cakra, hatinya terasa seperti diremas. Ia menatap Hana tanpa berkedip.

'Hana... akhirnya semesta mempertemukan kita kembali. Setelah enam tahun lamanya aku mencari mu, kini kau ada di depan mataku. Aku... aku ingin sekali memelukmu.'

batinnya bergejolak.

Namun, ia menyadari Hana yang berdiri di sana bukan lagi wanita yang dulu selalu menunggunya pulang dengan senyum bahagia. Hana yang ini memiliki tatapan setajam elang dan kecerdasan yang mematikan.

Hana mempresentasikan program Sustainable Solar Farm dengan sangat brilian. Ia menjawab setiap pertanyaan teknis dari investor dengan lugas, bahkan pertanyaan jebakan dari salah satu pemegang saham pun ia patahkan dengan argumen yang kuat.

"Program ini bukan hanya tentang memasang alat, tapi tentang membangun ekosistem energi mandiri," tegas Hana menutup presentasinya.

Ruangan itu meledak dengan tepuk tangan meriah. Para investor berdiri, memberikan standing ovation untuk sang CEO baru. Selesai bersalaman secara formal, Hana segera berbalik, memberi kode pada Sekretaris Indah untuk segera meninggalkan ruangan. Pak Sutoyo, yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik Cakra dengan mata elangnya, segera berdiri di samping Hana, bertindak sebagai tameng tak kasat mata bagi putrinya.

Begitu Hana keluar, Cakra segera bangkit dari kursinya. Ia hendak mengejar Hana, dorongan rindunya tak terbendung lagi. Ia ingin menanyakan tentang putra mereka yang selama ini ia cari.

"Hana! Tunggu!" seru Cakra pelan namun penuh penekanan.

Baru dua langkah ia berjalan, tangannya dicengkeram kuat oleh Pak Ardiwinata. "Cakra, tahan dulu sebentar!" bisik Papahnya dengan suara rendah namun tajam.

"Tapi Pah, itu Hana! Dia di depan mataku!" Cakra memberontak, matanya terus mengikuti punggung Hana yang kini dikelilingi oleh empat orang bodyguard berbadan tegap yang disiapkan Pak Sutoyo.

"Papah tahu kau merindukannya, tapi lihat situasinya! Hana sekarang bukan Hana yang dulu bisa kau remehkan. Pak Sutoyo bukan pria sembarangan, dia pasti sudah tahu apa yang terjadi di masa lalu. Kau lihat mereka? Satu gerakan salah darimu, mereka siap menerkam mu!" Pak Ardi menarik Cakra ke sudut koridor.

Cakra mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Amarah dan penyesalan bercampur menjadi satu. "Tapi Pah! Aku ingin bertanya soal putraku!"

"Tidak ada tapi-tapian, Cakra! Sekarang pikirkan perusahaan kita yang terus-menerus rugi. Kerja sama dengan Global Energi adalah satu-satunya cara agar kita tidak gulung tikar!" tegas Pak Ardi. "Setidaknya kau tidak perlu bersusah payah mencari mereka lagi. Kita pikirkan rencana yang lebih matang untuk bisa bicara baik-baik dengan Hana."

Cakra menghela napas kasar, menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi yang memuncak. Ia melihat pintu lift tertutup, membawa Hana pergi dari jangkauannya.

"Baiklah, Pah. Kali ini aku ikut saran Papah," ucap Cakra lirih, meskipun hatinya menolak keras.

"Bagus. Sekarang kita pulang dan susun strategi. Kita harus mendekatinya sebagai mitra bisnis dulu sebelum menyentuh masalah pribadi," ucap Pak Ardi sambil menepuk bahu putranya, sebelum akhirnya mereka melangkah pergi meninggalkan gedung tersebut dengan perasaan yang berkecamuk.

Ruangan CEO

Pintu ruangan CEO tertutup rapat, menyisakan Hana dalam keheningan yang menyesakkan. Keteguhan yang ia tunjukkan di ruang rapat tadi runtuh seketika. Tubuhnya luruh, ia menyandarkan punggungnya di balik pintu sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.

"Kenapa... Kenapa harus bertemu kembali dengan Mas Cakra?" gumamnya lirih. Luka yang ia jahit rapat selama enam tahun seolah robek kembali, menyisakan perih yang tak tertahankan.

Tak lama, Pak Sutoyo masuk dengan langkah terburu-buru. Ia melihat putrinya yang tampak rapuh, sangat jauh dari sosok CEO tangguh yang baru saja memukau para investor.

"Hana, putriku!" Pak Sutoyo mendekat, mengusap lembut punggung Hana.

"Papah!" Hana langsung menghambur ke pelukan ayahnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Bahunya bergetar hebat, tangisnya pecah menceritakan rasa sakit yang kembali bangkit.

Pak Sutoyo memeluknya erat, rahangnya mengeras. "Apakah pria yang bernama Cakra Ardiwinata di ruangan rapat tadi adalah mantan suamimu, Nak?"

"I... Iya, Pah. Dialah orangnya. Pria yang tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Pria yang lebih memilih kata-kata ibunya daripada mempercayai istrinya sendiri," ucap Hana di sela isaknya.

Mendengar itu, api kemarahan menyala di mata sang Jenderal. "Kalau begitu, Papah akan tolak semua kerja sama dengan Ardiwinata Group! Papah tidak sudi bekerja sama dengan orang yang telah membuang permata seperti kamu!"

Asisten Raka yang berdiri tak jauh dari mereka terpaksa menyela dengan nada menyesal. "Maaf sekali, Pak Sutoyo. Tapi Ardiwinata Group sudah menandatangani kontrak kerja sama jangka panjang dengan kita sebelum Ibu Hana menjabat."

"Aku tidak peduli dengan semua itu, Raka! Meskipun aku harus kehilangan perusahaan ini, yang terpenting putriku tidak tersakiti lagi!" tegas Pak Sutoyo dengan suara menggelegar.

Hana perlahan melepaskan pelukannya. Ia menghapus air matanya dan mencoba tegar. Ia ingat wajah Pak Ardiwinata, mantan mertuanya yang selalu baik padanya saat tinggal di mansion nya dulu.

"Jangan, Pah. Biarkan semuanya seperti ini. Semuanya sudah terlanjur," cegah Hana lembut. "Aku tidak mau mengaitkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Anggap saja aku tidak pernah mengenal mereka, selama Mas Cakra tidak mengganggu hidupku lagi."

Pak Sutoyo menatap dalam mata putrinya. "Apa kau yakin, Hana? Kau yakin dengan keputusanmu? Apakah kau tidak berniat untuk membalaskan dendam pada mereka?"

Hana menarik napas panjang, sorot matanya berubah menjadi dingin dan penuh rahasia. "Papah tenang saja. Aku punya cara lain untuk membuat Mas Cakra sadar akan kesalahannya tanpa harus menghancurkan bisnis Papah."

.

.

Sore berganti malam. Saat Hana tiba di mansion, rasa lelah luar biasa menghampirinya. Begitu pintu dibuka, El langsung berlari menyongsongnya.

"Akhirnya Bunda pulang juga! Kakek mana, Bun?" tanya El ceria.

"Kakek masih ada urusan dengan temannya, sayang. Nanti juga pulang," jawab Hana sambil mengusap kepala El, lalu melirik Tama yang berdiri gagah di belakang putranya.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini, Han?" tanya Tama serius. Ia menangkap gurat kelelahan dan kesedihan di mata Hana yang tidak bisa disembunyikan.

"Nanti akan aku ceritakan padamu, Mas. Aku mau mandi dulu. Oh iya, terima kasih ya sudah menjaga El dan antar-jemput sekolah hari ini."

"Sama-sama, Han. Kebetulan nanti jam sembilan malam aku ada tugas di Mabes, mungkin besok tidak bisa antar El ke sekolah."

"Tidak apa-apa, Mas. Nanti ada Mbak Pur yang jaga El."

Selesai makan malam, suasana mansion terasa hangat. El sedang asyik mengerjakan PR di ruang tengah ditemani Pak Sutoyo yang baru saja pulang. Sang Jenderal tampak sangat sabar membimbing cucunya.

Hana dan Tama memilih untuk berbicara di balkon belakang, menikmati semilir angin malam yang dingin. Di sinilah, Hana akhirnya menumpahkan semuanya. Ia menceritakan bagaimana Cakra dan ayahnya muncul di ruang rapat sebagai investor besar.

"Apa?!" Tama langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya yang biasanya tenang berubah menjadi tegang karena terkejut. "Jadi... investor yang kau maksud itu adalah Cakra? Pria itu... dia ada di kantormu hari ini?"

Tama mengepalkan tangannya. Ia teringat sosok pria yang mengintai kelas El tadi pagi. Sekarang semuanya terasa masuk akal. Pria yang ia lihat di sekolah, ia yakini adalah Cakra, ayah kandung El yang sedang mencari keberadaan anak dan mantan istrinya.

"Kenapa dunia sempit sekali, Han?" geram Tama pelan. "Lalu, apa yang akan kau lakukan jika dia tahu El adalah putranya?"

Bersambung...

1
neny
iya bener,,ini satu2 nya cara biar cakra tdk seenak nya sendiri,,itu bukan cinta,,tp obsesi,,klau cinta harus sabar menunggu maaf dr hana,,bkn mlaah melecehkan,,cinta dan benci beda nya tipis,,cakra berharap hana masih mencintai nya,tanpa sadar bahwa dia yg menorehkan luka yg paling dalam,,pengen tau apa yg dilakukan cakra klau hana menikah dng tama,,semangat akak💪😘
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul sekali kak, yang namanya cinta itu tidak akan pernah menyakiti dan memaksakan kehendak
total 1 replies
Teh Euis Tea
gara2 nenek lampir sm lasmini nih jd tambah kacau🤭
Darti abdullah
luar biasa
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
Patrick Khan
lah kan nikah jg..
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Aghitsna Agis
dengN pasal oekecehan bisa duadukan kepolisi dan el kasih tahu apa yg tetjafi sebenarnya kenapa bundanya membeci ayah cakra biar ngerti el dari oada trs jetemu secara betsrmbunyi dan jgn sampai hana marah keleoasan trs jam tangannya segera ganti
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siap kak 👍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Cakra kamu ini bodoh yah? Hana itu bukan istri kamu lagi, kamu sudah melecehkan Hana, kalau sudah seperti ini, jangan salahkan pak Sutoyo akan membalas kamu dengna keras. kok ga ada yang sadar sih, El-barack komunikasi tiap hari dengan Cakra lewat smart watch?
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: belum ketahuan kak
total 1 replies
neny
tuh kan,,cinta itu bs berubah menjadi kebencian yg sangat besar,,penasaran,,pembalasan sakit hati apa yg akan di berikan hana kpd cakra,,lanjut akak💪😘
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk 👍😊
total 1 replies
Dziyan
otak nya mak lampir bisa di keluarin aja ga sih thor, biar ga ada ide jahat melulu.. percuma punya otak klo isi nya unfaedah semua😒
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: nunggu insaf dulu kak 😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
harus dibinasakan duo nenek lampir ga tau diri itu
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak🤣
total 1 replies
Patrick Khan
nenek lampir itu mw nya opo se.. aneh bgt gk jelas😒😒🔥🔪🔪🔪🔪
Patrick Khan: hahahaah🤣
total 4 replies
Patrick Khan
😖😖😖😖😖😖😖el hanya ingin ortunya utuh .. pikiran masih bocah.. sedangkan ortu nya dgn egonya sendiri2 karna terluka.. dah lah manut kak othor aja
Teh Euis Tea
menjelang bulan suci romadhon maaf lahir bathin ya thor sy suka becanda klu komen
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: sama kak, mohon maaf lahir dan batin juga 🙏😊
total 1 replies
Patrick Khan
el masih ingat kak rose ya.. pasti kak Ros jg nunggu km tumben gk ke warnet😁
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: kejauhan warnetnya kak 🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
terlambat Cokro 🤣🤣Hana wes kaborrrrrrrr🤣
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betoolll 🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Nar Sih
dasar duo lampir gk ada capek,jdi org jht ,semagatt hana💪
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: semangat 💪💪
total 1 replies
Nar Sih
ngk usah berandai andai cakra penyesal mu sdh ngk berguna😂
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Yen
kalau situasinya begini jg bingung yah mau berpihak pada siapa smoga saja semuanya bisa baik baik saja kalau pun Tidka bisa bersama lagi setidaknya El bisa mendapatkan sosok ayah nya dan Hanna bisa hidup bahagia tanpa takut Cakra membawa El
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul sekali kak 👍
total 1 replies
Sunaryati
Berjuanglah Putramu sayang kamu kamu dulu terlalu bodoh, menurut kata ibumu. Tugaskan beberapa orang untuk mengawasi ibumu, jangan sampai mencelakai putramu. Ny yang sombong kau kira mudah membawa El dia cerdik dan di bawah pengawasan berlapis, cucu mantan Abdi negara tapi juga bodoh seperti putramu.
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Ayunda
suka sama visualnya
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!