"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Misi Menjadi Suami "Baru"
Konferensi pers itu menjadi titik balik besar. Meski dunia luar masih gaduh dengan berita saham 30% yang bombastis, di dalam kediaman Adiguna, Devan justru sedang menjalankan misi yang jauh lebih krusial: memenangkan kembali hati Shena dengan cara yang paling sederhana namun bermakna.
Setelah badai di depan media, Devan membawa Shena pulang ke rumah, namun bukan ke kamar mereka. Ia membimbing istrinya ke area paviliun belakang yang selama ini terbengkalai. Shena tertegun. Paviliun itu, yang dulu mengingatkannya pada masa-masa suram di rumah ayahnya, kini telah berubah.
"Mas... apa ini?" bisik Shena.
Tembok yang kusam kini telah dicat putih bersih. Jendela-jendela besar dipasang sehingga cahaya matahari masuk dengan leluasa. Di dalamnya terdapat studio kecil dengan kanvas-kanvas kosong dan perlengkapan melukis yang sangat lengkap.
"Aku ingat kau suka melukis diam-diam di paviliun lamamu," ujar Devan sambil berdiri di belakang Shena, menjaga jarak agar istrinya tidak merasa tertekan. "Dulu kau melukis untuk melarikan diri dari kenyataan. Sekarang, aku ingin kau melukis untuk merayakan kenyataanmu. Ini ruangmu, Shena. Tak ada yang boleh masuk ke sini tanpa izinmu, termasuk aku."
Shena menyentuh permukaan kanvas yang halus. Matanya berkaca-kaca. Devan tidak lagi membelikannya perhiasan yang menunjukkan kekuasaan, melainkan memberikannya ruang untuk bernapas sebagai manusia.
Malam harinya, Devan melakukan sesuatu yang lebih nekat. Ia meliburkan seluruh pelayan di rumah utama, termasuk Bi Inah.
Shena turun ke dapur dan menemukan Devan sedang bergelut dengan celemek yang terpasang miring di tubuh atletisnya. Di atas meja, bahan-bahan pasta berantakan. Tepung menempel di pipi Devan, dan aroma saus yang sedikit gosong tercium di udara.
"Mas? Kau sedang apa?" Shena hampir tertawa melihat CEO yang ditakuti seluruh pebisnis itu tampak bingung memegang pemarut keju.
"Aku ingin memasakkan sesuatu untukmu," jawab Devan dengan wajah serius namun kikuk. "Kau sudah merawatku dengan masakanmu selama berbulan-bulan.
Sekarang giliranku. Meskipun... sepertinya saus ini tidak setuju dengan resep di internet."
Shena mendekat, mengambil spatula dari tangan Devan. "Kau memasukkan bawang putihnya terlalu awal, Mas. Dia jadi gosong."
"Maaf," Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ternyata mengelola perusahaan jauh lebih mudah daripada mengelola saus tomat."
Tawa kecil akhirnya lepas dari bibir Shena. Itu adalah suara paling merdu yang pernah Devan dengar sejak pernikahan mereka.
Mereka akhirnya memasak bersama. Devan bertugas memotong sayuran (dengan arahan ketat dari Shena), sementara Shena memperbaiki rasa sausnya. Tidak ada obrolan berat soal saham atau Sarah. Hanya ada suara denting spatula dan tawa kecil saat Devan tidak sengaja menumpahkan lada.
Saat makan malam tiba, Devan tidak duduk di kursi kebesarannya di ujung meja panjang. Ia menarik kursi tepat di samping Shena.
"Shena," Devan memulai dengan nada lembut sambil menggenggam tangan istrinya yang kini sudah mulai halus kembali. "Misi pertamaku sebagai suami bukan untuk membuatmu kaya, karena kau sudah punya itu. Misiku adalah membuatmu merasa aman. Aman untuk marah padaku, aman untuk jujur, dan aman untuk tidak menjadi 'sempurna'."
Shena menatap mata Devan. "Kenapa kau berubah sejauh ini, Mas? Kadang aku takut ini hanya mimpi."
"Karena aku hampir kehilanganmu di gang sempit itu, dan aku menyadari bahwa seluruh hartaku tidak bisa membeli satu senyummu pun jika kau sudah mati rasa padaku," Devan mencium punggung tangan Shena dengan khidmat.
Namun, di tengah kemesraan yang mulai tumbuh, Devan tetaplah Devan yang waspada. Setelah Shena tertidur lelap di kamar utama (kali ini Devan tetap di sofa, menepati janjinya untuk tidak memaksa), Devan pergi ke ruang kerjanya.
Ia membuka laptopnya. Rian mengirimkan rekaman CCTV rahasia yang ia pasang di sekitar gedung pengadilan. Di sana, terlihat Sarah sedang bertemu dengan seorang pria di dalam mobil gelap.
Pria itu adalah Adrian.
"Tuan Adrian sudah mulai bergerak, Pak," suara Rian melalui sambungan telepon. "Dia sepertinya sakit hati karena Bapak merusak rencananya membawa Nyonya Shena ke Singapura. Sekarang, dia membantu Sarah untuk mencari celah hukum dalam status kelahiran Nyonya."
Devan menatap layar dengan dingin. "Biarkan mereka mencoba. Adrian mungkin pintar dalam bisnis, tapi dia tidak tahu seberapa jauh aku akan bertindak untuk melindungi istriku."
Tiba-tiba, ada ketukan di pintu kerja Devan. Itu Shena, berdiri dengan piyama sutranya, memegang bantal.
"Mas... aku tidak bisa tidur. Ada petir di luar," ucap Shena pelan.
Devan segera menutup laptopnya. Ia berdiri dan menghampiri Shena. "Mau aku temani?"
"Hanya... duduk di samping tempat tidur sampai aku tertidur, bisa?"
Devan tersenyum tulus. "Tentu. Sampai pagi pun aku akan di sana."
Misi menjadi suami baik terus berjalan. Ia belajar bahwa cinta bukan tentang penaklukan, tapi tentang kehadiran. Namun, aliansi Sarah dan Adrian adalah bom waktu yang siap meledak, menargetkan satu hal yang paling rapuh: masa lalu Ibu Ratna yang selama ini disembunyikan oleh Ayah Bram.
...****************...