Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA: JERATAN HALUS
"Di sini jauh lebih baik, bukan?" suara Orion memecah kesunyian yang sempat tercipta saat mereka melangkah menjauh dari hiruk-pikuk aula.
Orion menarik sebuah kursi marmer dengan gerakan yang begitu luwes, mempersilakan Seraphina duduk. Teras itu diterangi oleh cahaya bulan yang pucat dan lampu-lampu taman yang tersembunyi di balik rimbunnya tanaman hias, menciptakan suasana yang intim sekaligus misterius. Aroma bunga sedap malam yang mekar di kegelapan menambah kesan magis yang menyesakkan.
"Terima kasih, Orion," jawab Seraphina pelan, ia duduk dengan posisi tangan yang bertaut di atas pangkuan. Ia merasa sedikit kikuk. Di hadapannya, Orion duduk dengan gaya yang sangat santai namun tetap terlihat seperti seorang raja yang sedang mengawasi wilayah kekuasaannya. "Tempat ini sangat indah. Aku tidak menyangka ada sudut setenang ini di tengah pesta sebesar itu."
Orion menyesap minumannya, matanya tak pernah lepas dari wajah Seraphina yang tersapu cahaya rembulan. "Pesta itu hanya tentang topeng, Seraphina. Orang-orang di dalam sana lebih suka bicara tentang angka daripada tentang keindahan. Aku lebih suka di sini, bersamamu."
Seraphina merasakan panas menjalar di pipinya. "Kita baru saja bertemu, bagaimana Anda bisa tahu kalau mengobrol denganku lebih menyenangkan?"
"Sebut saja insting," Orion menyunggingkan senyum tipis yang tampak memikat namun menyembunyikan maksud lain. "Ada kejujuran di matamu yang tidak dimiliki oleh tamu-tamu lain di dalam sana. Kamu seperti embun di tengah padang pasir yang gersang."
Seraphina tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting lonceng di telinga Orion. "Wah, Anda puitis sekali. Padahal tadi aku sempat berpikir Anda adalah orang yang sangat kaku dan serius."
"Aku memang serius dalam banyak hal," Orion memajukan tubuhnya, memperkecil jarak di antara mereka hingga Seraphina bisa mencium aroma maskulin yang begitu kuat dari tubuh pria itu. "Terutama jika aku menemukan sesuatu yang benar-benar menarik perhatianku."
"Sesuatu seperti apa?" tanya Seraphina polos, matanya yang besar menatap Orion dengan rasa ingin tahu yang murni.
Orion terdiam sejenak, membiarkan keheningan malam memberi beban pada kata-katanya. "Seperti sebuah tantangan. Sesuatu yang terlihat rapuh namun memiliki jiwa yang kuat. Kamu tahu arti namaku, Seraphina?"
Seraphina menggeleng pelan. "Aku hanya tahu itu nama bintang yang sangat terang."
"Orion adalah Sang Pemburu dalam mitologi," ucap Orion dengan nada rendah yang bergetar. "Dia tidak pernah membiarkan mangsanya lolos. Begitu dia mengunci targetnya, maka seluruh alam semesta akan berkonspirasi untuk memberikannya pada sang pemburu."
"Itu terdengar... sedikit menyeramkan," gumam Seraphina sambil sedikit bergidik.
Orion tertawa pelan, sebuah tawa yang tidak mencapai matanya. "Mungkin. Tapi bukankah ada keindahan dalam sebuah pengejaran? Bagaimana menurutmu, apakah kamu tipe orang yang suka dikejar atau justru suka berlari?"
Seraphina tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, "Aku lebih suka kedamaian, Orion. Aku tidak ingin lari dari siapa pun, dan aku juga tidak ingin merasa terancam."
"Kedamaian adalah kemewahan yang mahal, cantik," bisik Orion. Dalam benaknya, ia sudah membayangkan bagaimana ia akan merenggut kedamaian itu dari hidup Seraphina, menggantinya dengan badai emosi yang hanya berpusat pada dirinya. Ia ingin menjadi satu-satunya alasan mengapa jantung Seraphina berdegup kencang—baik karena rasa takut maupun karena gairah yang akan ia ajarkan nanti.
"Lalu, apa yang dilakukan seorang gadis seperti Anda di tempat yang penuh dengan serigala berjas ini?" tanya Orion lagi, mencoba mengalihkan topik agar tidak membuat Seraphina terlalu waspada.
"Aku hanya menemani sahabatku, Cika. Dia bilang aku perlu keluar dan melihat dunia," Seraphina tersenyum tulus. "Aku biasanya hanya menghabiskan waktu di panti asuhan, membantu Bi Jena atau melukis di taman belakang. Pesta seperti ini terasa sangat... asing bagiku."
"Panti asuhan?" Orion mengangkat alisnya, berpura-pura terkejut padahal ia sudah mengetahui detail itu dari laporan bawahannya. "Sangat mulia. Jadi, kamu adalah seorang pelukis?"
"Hanya hobi," jawab Seraphina rendah hati. "Aku suka menangkap perasaan manusia melalui warna. Tapi terkadang, ada perasaan yang terlalu rumit untuk dituangkan ke dalam kanvas."
Orion mengamati bibir Seraphina yang bergerak saat berbicara. Ia membayangkan bagaimana rasanya membungkam bibir itu dengan ciuman yang kasar, mengklaim setiap napas yang keluar dari sana. "Mungkin aku bisa menjadi objek lukisanmu suatu saat nanti. Aku yakin kamu akan menemukan banyak warna gelap dalam diriku yang akan menantang kemampuanmu."
Seraphina menatap Orion lekat-lekat, mencoba mencari tahu apakah pria ini sedang bercanda atau tidak. "Anda penuh dengan teka-teki, Orion."
"Dan aku akan membiarkanmu memecahkan teka-teki itu, selapis demi selapis," sahut Orion dengan nada yang penuh janji tersembunyi.
Tiba-tiba, seorang pelayan mendekat dan membisikkan sesuatu pada Orion. Ekspresi Orion berubah dingin dalam sekejap, meski ia berusaha menutupinya dengan cepat saat kembali menatap Seraphina.
"Maafkan aku, ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan sebentar," Orion berdiri, namun sebelum ia pergi, ia meraih tangan Seraphina dan mengecup pergelangan tangannya. "Jangan pergi ke mana-mana. Tetaplah di sini, atau Jay akan menjagamu. Aku tidak ingin kelinci kecilku hilang di tengah kerumunan."
Seraphina hanya bisa terpaku saat Orion melangkah pergi dengan aura kekuasaan yang begitu pekat. Kata "kelinci kecil" itu terus terngiang di telinganya, memberikan sensasi aneh yang bercampur antara rasa dilindungi dan rasa terperangkap. Ia tidak menyadari bahwa Jay, sang pengawal bertubuh raksasa, sudah berdiri tidak jauh darinya, mengawasi setiap gerakannya seperti bayangan yang tak kasat mata.