NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 15: PERTEMUAN DENGAN TEKONG

Tiga hari kemudian. Bayu duduk di sudut arena yang sepi. Pagi-pagi. Belum ada orang. Cuma bunyi angin yang masuk lewat celah dinding gudang tua.

Di tangannya, laptop. Layar menyala terang. Dia lagi edit video. Video kompilasi bukti kejahatan Valerie dan Raka. Transfer ilegal. Chat narkoba. Foto-foto mencurigakan.

Semuanya dijadiin satu. Durasi lima menit. Padat. Jelas. Nggak bisa dibantah.

Tinggal... upload. Sebar. Viral.

Tapi Bayu masih ragu.

Kalau gue upload sekarang... mereka pasti tau. Pasti cari gue. Dan gue... gue belum cukup kuat buat lawan mereka langsung.

Dia butuh lebih banyak waktu. Lebih banyak uang. Lebih banyak koneksi.

"Belum waktunya..."

Gumaman pelan keluar.

Bayu tutup laptop. Taruh di meja. Berdiri. Regangkan tubuh. Rusuknya udah hampir sembuh total. Regenerasi cepat bener-bener kerja.

Dia turun ke arena. Mau latihan. Mau jaga kondisi tubuh tetep prima buat pertandingan minggu depan.

Tapi pas sampe bawah...

Ada seseorang.

Berdiri di tengah ring. Sendirian.

Pria. Mungkin awal tiga puluhan. Tinggi sekitar seratus tujuh puluh sentimeter. Tubuh berotot tapi nggak terlalu besar. Lebih ke atletis. Rambut pendek klimis. Wajah tegas dengan bekas luka panjang di pipi kiri. Mata tajam. Tatapannya... berpengalaman.

Dia pakai kaos hitam polos dan celana training. Tangan kanannya diperban tebal dari pergelangan sampe siku.

Bayu berhenti di pinggir ring. "Lu siapa?"

Pria itu menoleh. Menatap Bayu dari atas ke bawah. Lalu tersenyum tipis.

"Andi. Orang-orang manggil gue Tekong."

Tekong.

Nama itu asing. Bayu nggak punya memori soal dia. Berarti bukan dari kehidupan Kenzo.

"Ngapain lu di sini? Arena masih tutup."

Tekong melompat turun dari ring. Gerakan ringan. Seperti kucing. "Gue dateng buat ketemu lu."

Bayu menyipitkan mata. "Buat apa?"

"Gue nonton pertandingan lu kemarin. Lu lawan Brutal Benny." Tekong berjalan mendekat. Perlahan. Nggak agresif. Tapi ada aura kuat dari dia. "Gue terkesan."

"Terkesan kenapa?"

"Cara lu bertarung. Bukan teknik standar. Brutal. Efisien. Tanpa ampun." Tekong berhenti beberapa meter di depan Bayu. "Lu punya naluri pembunuh. Tapi... lu masih belum maksimal."

Bayu menatapnya curiga. "Maksud lu?"

"Gue bisa bantu lu jadi lebih kuat. Lebih cepat. Lebih... mematikan."

Hening sebentar.

Bayu menatap Tekong lama. Mencari tanda-tanda bohong. Tapi wajah Tekong datar. Serius.

"Kenapa lu mau bantu gue? Apa untungnya buat lu?"

Tekong tersenyum pahit. "Karena gue liat diri gue di lu."

Dia angkat tangan kanannya yang diperban. "Gue dulu petarung. Arena underground kayak gini. Menang puluhan kali. Punya nama. Punya uang."

Dia buka perbannya pelan. Di bawahnya... tangan yang rusak. Jari-jarinya bengkok nggak natural. Bekas patah yang nggak sembuh sempurna.

"Sampai lawan gue patahkan tangan gue di ring. Dokter bilang gue nggak bisa tarung lagi. Karir selesai." Tekong menatap tangannya dengan tatapan kosong. "Gue kehilangan segalanya. Uang habis buat biaya rumah sakit. Nama gue dilupain. Sekarang gue cuma... penganggur."

Bayu merasakan sesuatu di dadanya. Empati. Atau mungkin... pengertian.

Kehilangan segalanya dalam sekejap.

Seperti Kenzo. Seperti Bayu Samudra yang asli.

"Lu mau jadi pelatih gue?" tanya Bayu pelan.

Tekong mengangguk. "Bukan cuma pelatih. Gue mau jadi tangan kanan lu. Bantu lu apapun yang lu butuhin. Latihan. Strategi. Koneksi. Apapun."

"Imbalan?"

"Sepuluh persen dari penghasilan lu. Dan... tempat buat gue tidur. Gue nggak punya rumah."

Bayu terdiam. Mikir cepat.

Dia butuh orang yang bisa dipercaya. Orang yang bisa bantu dia jadi lebih kuat. Tekong... kelihatannya punya pengalaman. Punya skill.

Tapi...

"Gue nggak percaya orang gampang," kata Bayu datar.

Tekong tersenyum. "Gue tau. Makanya gue siap ditest."

"Test?"

"Iya. Lu mau tes gue gimana aja, gue siap. Mau lu suruh tarung? Mau lu suruh buktiin loyalitas? Terserah."

Bayu menatapnya lama. Lalu tersenyum tipis. Senyum yang dingin.

"Oke. Naik ring."

Tekong mengernyit. "Sekarang?"

"Sekarang."

Tekong terdiam sebentar. Lalu tertawa pelan. "Oke. Gue suka."

Dia naik ke ring. Bayu ikut naik.

Mereka berdiri berhadapan. Jarak lima meter.

"Aturannya gampang," kata Bayu. "Bertahan sepuluh menit. Kalau lu bisa, gue terima lu."

Tekong meregangkan leher. Bunyi tulang retak terdengar. "Cuma bertahan? Nggak serang balik?"

"Terserah lu."

Tekong menyeringai. "Oke. Mulai kapan?"

"Sekarang."

Bayu langsung maju. Cepat. Tinju kanannya meluncur ke wajah Tekong.

Tapi Tekong lebih cepat. Kepalanya miring. Tinju meleset.

Lalu dia mundur. Cepat. Keluar jangkauan.

Bayu maju lagi. Kombinasi. Tinju kiri. Tinju kanan. Tendangan ke pinggang.

Tekong menghindar semua. Gerakannya ekonomis. Nggak buang tenaga. Seperti udah tau pola serangan Bayu.

"Lu... pernah tarung lawan banyak orang, ya?" kata Tekong sambil menghindar. "Gerakan lu kayak orang yang biasa diserang dari banyak arah."

Bayu nggak jawab. Dia terus serang. Lebih cepat. Lebih brutal.

Tapi Tekong tetap bisa menghindar. Bahkan dengan tangan kanannya yang rusak, dia masih bisa bergerak lincah.

Lima menit berlalu. Bayu mulai ngos-ngosan. Tekong masih stabil.

"Lu... kuat," gumam Bayu sambil napas tersengal.

Tekong tersenyum. "Lu juga. Tapi lu terlalu ngandelin kecepatan. Lawan yang lebih cepat dari lu... lu bakal kesulitan."

Bayu menyeringai. "Oke. Sekarang gue serius."

Dia tutup mata sebentar. Fokus.

**[AKTIFKAN MODE PEMBUNUH?]**

Bayu ragu. Ini cuma test. Nggak perlu sampe segitunya.

Tapi... dia penasaran. Seberapa bagus Tekong kalau dia all out?

**[YA]**

**[MODE PEMBUNUH: AKTIF]**

Sesuatu berubah. Mata Bayu jadi tajam. Aura di sekitarnya berubah. Dingin. Mematikan.

Tekong merasakan itu. Wajahnya berubah serius. "Lu... lu berubah lagi..."

Bayu maju. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Seperti bayangan.

Tinju meluncur. Tekong menghindar. Tapi Bayu udah prediksi. Kakinya nyapu kaki Tekong.

Tekong jatuh. Tapi dia guling cepat. Bangun lagi.

Bayu udah di depannya. Siku diluncurkan ke wajah.

Tekong angkat tangan kirinya. Blok. Tapi tenaga Bayu terlalu kuat. Tekong terdorong mundur. Punggungnya nyentuh tali ring.

Bayu nggak kasih waktu. Tangannya mencengkram leher Tekong. Angkat sedikit.

Tekong menatap mata Bayu. Mata yang dingin. Mata pembunuh.

Tapi... dia nggak takut.

Dia tersenyum.

"Gue... lolos?"

Bayu menatapnya lama. Lalu...

**[MODE PEMBUNUH: NONAKTIF]**

Dia lepas cengkraman. Tekong jatuh duduk. Napas ngos-ngosan.

Bayu mundur. Napas panjang keluar.

"Lu lolos."

Tekong tertawa. Tawa lelah tapi puas. "Gila... gue hampir mati tadi."

Bayu turun dari ring. "Istirahat. Besok lu mulai latih gue."

Tekong masih duduk di ring. Menatap punggung Bayu yang menjauh.

Lalu dia bisik pelan. "Lu bukan Kenzo yang asli, kan?"

Bayu berhenti. Beku.

Perlahan dia menoleh. "Apa maksud lu?"

Tekong berdiri. Menatap Bayu serius. "Gue kenal Kenzo. Pernah liat dia beberapa kali. Dia lemah. Penakut. Nggak berani lihat mata orang."

Dia berjalan mendekat. "Tapi lu... lu beda. Mata lu. Cara lu bergerak. Cara lu bicara. Bukan Kenzo."

Bayu mengepalkan tangan. "Kalau gue bukan Kenzo... terus lu mau ngapain?"

Tekong tersenyum. "Gue nggak peduli."

Bayu mengernyit.

"Gue nggak peduli lu siapa. Gue nggak peduli lu dari mana." Tekong ulurin tangan. "Yang gue peduli... lu butuh bantuan. Dan gue butuh tujuan."

Bayu menatap tangan itu lama.

Lalu... dia jabat.

"Deal."

Tekong tersenyum lebar. "Bagus. Mulai sekarang... gue tangan kanan lu."

Dan malam itu...

Bayu dapet sekutu pertama.

Seseorang yang tau dia bukan Kenzo asli.

Tapi tetap milih percaya.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!