NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Tidak Seharusnya Ada

Keheningan di dalam Ruang Arsip Terlarang itu terasa jauh lebih menekan daripada kegaduhan badai yang mungkin sedang mengamuk di luar sana. Udara di ruangan ini anehnya kering dan dingin, kontras dengan lorong Basement 4 yang sebelumnya mereka lewati yang penuh dengan uap air dan bau lumut busuk. Elara merasa seolah-olah dia baru saja melangkah masuk ke dalam sebuah kapsul waktu yang kedap udara, di mana debu pun enggan untuk menetap di atas permukaan mebel kayu jati tua yang berjejer rapi.

Senter di tangan Elara menyapu deretan rak besi yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit beton yang rendah. Ribuan map berwarna kusam tersusun dengan presisi militer, seolah-olah ada seseorang yang rajin merapikannya setiap hari, padahal ruangan ini dikabarkan telah terkunci sejak pemugaran besar tahun sembilan puluhan. Perasaan tidak nyaman mulai merambat naik dari punggungnya, sebuah insting purba yang memperingatkan bahwa keteraturan di tempat yang seharusnya ditinggalkan adalah tanda bahaya yang nyata.

"Jangan sentuh apa pun sembarangan, Neng Elara," bisik Pak Darto, suaranya terdengar parau dan memantul aneh di dinding-dinding ruangan yang kedap suara. Pria tua itu berdiri di dekat ambang pintu, matanya yang waspada terus mengawasi kegelapan lorong di belakang mereka, seakan menanti sesuatu yang mengerikan muncul dari sana.

Elara menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu seirama dengan kedipan lampu senternya yang mulai meredup. "Kita harus mencari data pasien tahun 1998, Pak. Tahun di mana rumor tentang 'perjanjian tanah' itu pertama kali muncul di koran lokal sebelum dibredel," jawabnya sambil melangkah hati-hati mendekati rak bertuliskan label 'Patologi & Anatomi'.

Jari-jari Elara menelusuri punggung map-map tebal itu, merasakan tekstur kertas yang kasar dan dingin di ujung kulitnya. Nama-nama yang tertulis di sana hanyalah deretan huruf tanpa wajah, namun bagi Elara, mereka adalah saksi bisu dari sejarah kelam RSU Cakra Buana yang selama ini terkubur di bawah fondasi beton modern. Ia berhenti pada sebuah buku besar bersampul kulit hitam tanpa label, yang diletakkan terpisah dari urutan alfabetis yang lain.

Dengan tangan gemetar, Elara menarik buku itu keluar, debu tipis mengepul saat sampulnya dibuka, melepaskan aroma bahan kimia pengawet yang menyengat hidung. Halaman pertama tidak berisi data medis biasa, melainkan sebuah denah arsitektur tua yang menunjukkan struktur bangunan rumah sakit ini sebelum dipugar oleh pemerintah kolonial. Di sana, tergambar jelas bahwa Basement 4 bukanlah lantai terbawah; ada tangga spiral sempit yang mengarah ke rongga tanah di bawahnya, diberi label dengan tulisan tangan corsive yang elegan: *Sanctum Somnium*.

"Pak Darto, Bapak pernah dengar tentang lantai di bawah basement ini?" tanya Elara tanpa mengalihkan pandangannya dari peta tua itu. Ia membalik halaman berikutnya dan menemukan daftar nama pasien dengan status 'Dipindahkan', namun tidak ada rujukan rumah sakit tujuan, hanya inisial 'SS' yang ditulis dengan tinta merah darah.

Pak Darto tidak segera menjawab, membuat Elara menoleh ke belakang dengan perasaan was-was. Penjaga kamar jenazah itu kini berdiri kaku, wajahnya pucat pasi di bawah sorotan senter yang ia arahkan ke wajahnya sendiri secara tidak sengaja. "Itu... itu cuma dongeng tukang gali kubur, Neng. Katanya ada ruang doa lama yang tertimbun longsor, tapi tidak ada yang pernah menemukannya," jawabnya dengan nada yang tidak meyakinkan.

Elara kembali fokus pada buku di tangannya, matanya membelalak ketika mengenali pola tulisan tangan pada catatan medis di halaman tengah. Tarikan garis pada huruf 'g' dan 'y' yang tajam dan miring ke kiri itu sangat familiar, identik dengan resep obat yang pernah ia lihat di meja kerja Dokter Arisandi kemarin siang. Namun, tanggal yang tertera di sudut kanan atas halaman itu adalah 12 Oktober 1985, masa di mana Arisandi seharusnya masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Ini tidak mungkin..." gumam Elara, napasnya tercekat saat menyadari implikasi dari temuannya. "Tulisan tangan ini milik Dokter Arisandi, tapi catatannya dibuat tiga puluh tahun yang lalu. Apakah ini ayahnya? Atau ada seseorang yang meniru tulisannya dengan sempurna?"

Suara langkah kaki yang berat dan berirama terdengar dari arah lorong, memecah keheningan dan membuat darah Elara membeku seketika. Langkah itu bukan langkah serampangan orang yang tersesat, melainkan langkah tegas seseorang yang tahu persis kemana ia menuju, diiringi bunyi *klik-klak* sepatu kulit mahal yang beradu dengan lantai semen yang lembap.

Pak Darto mematikan senternya dengan panik dan memberi isyarat pada Elara untuk bersembunyi di balik rak besi paling ujung. "Matikan lampumu, Neng! Cepat!" desisnya dengan suara yang nyaris tak terdengar, tubuh tuanya gemetar hebat seolah ia tahu persis siapa—atau apa—yang sedang mendekat.

Elara mematikan senternya, membiarkan kegelapan total menelan mereka bulat-bulat, hanya menyisakan deru napasnya sendiri yang terdengar seperti badai di telinganya. Dari celah sempit di antara tumpukan arsip, ia melihat seberkas cahaya kuning menyorot masuk dari pintu depan, memanjang dan memendek seiring dengan pergerakan si pembawa cahaya. Bayangan sosok tinggi tegap proyeksikan ke dinding, menciptakan siluet yang memanjang mengerikan seperti hantu penunggu yang terbangun dari tidur panjangnya.

Sosok itu melangkah masuk ke dalam Ruang Arsip, cahaya senternya menyapu ruangan dengan gerakan metodis yang tenang. Cahaya itu berhenti tepat di meja tempat Elara tadi meletakkan buku hitam yang terbuka, menyoroti denah *Sanctum Somnium* yang kini terekspos jelas. Elara menahan napasnya sekuat tenaga, tangannya membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun.

"Saya tahu kalian ada di sini," suara bariton yang halus namun dingin itu menggema, memantul di antara rak-rak besi. Itu adalah suara Dokter Arisandi, namun tanpa nada ramah yang biasa ia tunjukkan di depan para perawat di lantai atas. "Pak Darto, saya kecewa. Anda seharusnya tahu bahwa keingintahuan adalah penyakit yang paling mematikan di rumah sakit ini."

Pak Darto tidak bergerak dari persembunyiannya di sisi lain ruangan, namun Elara bisa mendengar isak tangis tertahan dari arah pria tua itu. Dokter Arisandi melangkah lebih dalam, kakinya menapak tanpa suara di atas lantai yang bersih, seolah ia melayang. Dia tidak tampak marah; ekspresinya datar, hampir seperti patung lilin yang hidup, dengan mata yang berkilat aneh dalam keremangan.

"Kalian pikir ruangan ini bersih karena jasa *cleaning service*?" lanjut Arisandi, tangannya menyentuh permukaan meja, mengusap debu imajiner. "Tempat ini bersih karena 'mereka' tidak suka kotoran. Mereka yang tinggal di bawah sana membutuhkan sterilitas, sama seperti ruang operasi. Dan kalian... kalian baru saja membawa masuk kontaminasi."

Elara merasakan kakinya lemas, namun otaknya berputar cepat mencari jalan keluar. Pintu keluar terhalang oleh posisi Arisandi, dan tidak ada jendela di ruangan bawah tanah ini. Satu-satunya senjata yang ia miliki hanyalah pengetahuan tentang buku hitam itu, bukti bahwa Arisandi terlibat dalam sesuatu yang jauh melampaui malpraktik medis biasa.

Dengan nekat, Elara menyalakan senternya dan mengarahkannya tepat ke wajah Dokter Arisandi, berharap efek kejut akan memberinya kesempatan lari. "Apa yang Anda lakukan pada pasien-pasien itu, Dokter?" teriaknya, suaranya bergetar namun lantang. "Siapa pasien berinisial SS yang Anda kirim ke bawah tanah?"

Arisandi tidak bergeming sedikit pun, matanya tidak menyipit terkena cahaya silau itu, seolah pupil matanya telah beradaptasi dengan kegelapan abadi. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Elara Senja. Penulis muda yang mencari sensasi," ucapnya pelan. "SS bukan inisial nama orang, Elara. Itu singkatan dari *Sacrificium Sanguinis*. Korban darah."

Sebelum Elara sempat memproses kata-kata itu, Arisandi menjentikkan jarinya. Lampu senter di tangan Elara tiba-tiba berkedip liar dan mati total, bukan karena baterai yang habis, tapi seolah energi di dalamnya disedot oleh sesuatu yang tak kasat mata. Kegelapan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini, kegelapan itu terasa hidup.

Dari sudut-sudut ruangan yang gelap, terdengar suara gesekan halus, seperti kain kafan yang diseret di atas lantai. Bau bahan pengawet mayat mendadak menjadi sangat kuat, bercampur dengan aroma amis darah segar yang entah datang dari mana. Elara mundur selangkah, punggungnya menabrak rak besi yang dingin.

"Kalian sudah melihat arsipnya," suara Arisandi terdengar lagi, kali ini tepat di samping telinga kiri Elara, meskipun sedetik lalu ia berada lima meter di depan. "Sekarang, kalian harus menjadi bagian dari arsip itu sendiri."

Elara menjerit dan mengayunkan senter matinya sebagai senjata tumpul, namun tangannya hanya memukul udara kosong. Ia berlari membabi buta ke arah di mana ia mengingat pintu keluar berada, menabrak Pak Darto yang juga sedang berusaha melarikan diri. Mereka berdua jatuh terjerembap di lantai yang kini terasa lengket, bukan lagi kering seperti sebelumnya.

"Lari, Neng! Lari!" teriak Pak Darto seraya menarik lengan Elara. Mereka bangkit dan menghambur keluar dari Ruang Arsip, meninggalkan Dokter Arisandi yang berdiri diam di tengah kegelapan, diiringi suara tawa rendah yang terdengar seperti derit pintu tua yang berkarat.

Mereka berlari menyusuri lorong Basement 4 yang panjang, namun anehnya, lorong itu terasa berbeda. Dinding-dindingnya tampak berdenyut, dan lukisan-lukisan pahlawan kesehatan yang terpajang di sana seolah melirik ke arah mereka dengan mata yang melotot. Di ujung lorong, pintu lift yang seharusnya menjadi penyelamat mereka tampak terbuka lebar, namun di dalamnya bukan kabin lift yang menunggu, melainkan kegelapan pekat yang mengarah lurus ke bawah—menuju *Sanctum Somnium*.

1
deepey
ayo elara cepat kabur, sebelum arisandi datang.
deepey
elara cepat cari jalan keluar💪
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!