Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Suara desisan dari Max terdengar sangat jelas, pemuda itu terjungkal dan jatuh ke lantai. Untuk sesaat suasana menjadi hening, mereka menatap Max prihatin.
"Sialan, lo selalu kalah, Max. Kapan lo mau menang kalo cuma mental baco*?" ejek Raga geleng-geleng kepala.
Max memejamkan kedua matanya, dia merasakan perutnya berdenyut hebat.
Arthur mendekat, dia menunduk sembari menyipitkan mata seakan hendak memeriksa kondisi Max. "Cuma luka kecil."
"Nggak usah sok peduli!" sinis Max kesal.
"Ge'er, buat apa gue peduli sama lo? buang-buang waktu." Arthur tersenyum mengejek.
"Brengsek!" Max mengumpat marah, dia beranjak dari lantai dengan susah payah dan pergi meninggalkan mereka semua.
Galen terkekeh, dia melempar handuk kecil yang sedari tadi di bawanya ke arah Arthur. "Nanti malam ada balapan, lo mau ikut nggak?"
"Ikut, cewek gue bakal tanding." Jawab Arthur singkat.
Galen mengangguk, senyumnya semakin lebar. "Wah, serius Seyra tanding? seru juga, ya. Kira-kira siapa lawannya?"
Arthur mengangkat bahu, tampak sedikit ragu. "Gak tahu, tapi dia bilang ada beberapa pembalap baru yang mau coba-coba. Katanya, ada yang dari luar kota."
Raga mengerutkan dahi, rasa penasaran menyelimuti dirinya. "Kita harus datang lebih awal supaya bisa lihat pemanasan Seyra, udah lama kita nggak liat ada cewek ikut balapan. Siapa tahu ada yang menarik."
Arthur menatap Raga, "Kalian nanti pergi duluan aja, gue mau jemput Seyra dulu."
Ketiga sahabatnya mengangguk patuh, hingga pertanyaan Galen selanjutnya membuat suasana mendadak canggung.
"Ar, kalo Seyra tau lo cuma jadiin dia bahan taruhan karena lo main truth or dare, apa lo yakin dia nggak bakal marah?" tanya Galen.
Arthur terdiam sejenak, wajahnya berubah mendung. "Gue... gue nggak tahu. Tapi, dia pasti bakal ngerti kok. Lagi pula, itu kan cuma sekali sekarang gue beneran sayang sama dia."
Raga menyilangkan tangan, skeptis. "Tapi lo tahu kan, cewek kadang bisa sensitif. Mungkin dia bakal merasa lo cuma jadiin dia mainan."
"Bener tuh," timpal Jazi. "Ada baiknya lo jujur lebih cepat, Ar. Kalo lo emang beneran suka sama Seyra, jangan di tunda-tunda terus bisa-bisa dia cabut dari hidup lo."
Arthur menggelengkan kepala, berusaha meyakinkan diri sendiri. "Nggak mungkin, Seyra bukan tipe yang gampang marah. Dia nggak mungkin ninggalin gue gitu aja, dan gue sendiri belum yakin apa gue beneran mau lanjutin hubungan ini atau nggak."
Mendengar itu para sahabat Arthur melongo tak percaya, bagaimana bisa orang yang baru saja mengatakan bahwa dia menyayangi Seyra tapi detik berikutnya masih ragu tentang hubungan mereka.
Jazi mendecakan lidahnya kasar, "Terserah lo deh, asal nanti jangan nangis kalo Seyra beneran pergi. Kadang sesuatu yang lo anggap nggak terlalu penting justru bisa bikin hidup lo berantakan."
Galen menatap Arthur dengan ragu. "Lo harus hati-hati, bro. Kadang hal-hal kecil bisa jadi besar, terutama di antara hubungan yang masih ambigu kayak kalian."
Suasana di antara mereka terasa tegang. Raga berusaha meredakan ketegangan. "Ayo, masuk kelas. Jam pelajaran udah mau mulai bisa-bisa kita kena semprot sama wali kelas."
"Ayo." Ajak Jazi menimpali.
Sepanjang perjalanan menuju kelas, perasaan Arthur semakin buruk. Dia memikirkan ucapan para sahabatnya barusan, dia sendiri merasa tidak begitu menyukai Seyra hanya sebatas rasa sayang biasa. Selama ini dia sudah terbiasa dengan keberadaan gadis itu di sisinya, Arthur tak pernah berpikir jika Seyra akan kecewa namun sekarang perasaan itu muncul secara tiba-tiba dan membuatnya dilema.
Galen mendekat ke arah Arthur, dia merangkul bahu pemuda itu dan berkata. "Ar, gue sebagai teman lo cuma bisa kasih nasihat. Ada baiknya lo selesain dulu perasaan lo buat Seyra, dari pada kayak gini terus yang ada lo beneran bakal kehilangan cewek itu."
"Tapi, gimana kalo sebenarnya Seyra udah tahu?"
"A-apa?" Galen berkata gugup.
Menghela napas berat, Arthur memasukan sebelah tangannya ke dalam saku celana sekolah. "Gue nggak yakin, cuma perasaan gue dia udah tahu perihal taruhan itu."
"Jangan-jangan ada yang bocorin?" Galen terdiam sejenak. "Tapi nggak mungkin, Seyra aja nggak pernah kumpul bareng kita."
"Gue juga berpikir kayak gitu, kalo Seyra beneran tahu pasti dia langsung tanya sama gue tapi sampai sekarang dia masih diam aja."
Jazi yang sejak tadi mendengarkan, mulai mendekat dan ikut berbicara. "Gimana kalo misalnya, Seyra lagi nunggu waktu aja buat putusin lo?"
Arthur menoleh dan menatap tajam Jazi. "Mana mungkin! Lo jangan ngada-ngada, Seyra nggak bakal putusin gue."
Jazi terkekeh. "Ar, sekali-kali lo harus mikirin posisi Seyra. Gimana kalo lo yang ada di posisi itu sekarang, apa lo yakin nggak bakal mutusin dia?"
Mendengar itu, Arthur tak bisa menjawab. Dia hanya diam sambil memikirkan kemungkinan terburuknya. "Apa Seyra bakal ninggalin gue, ya?" gumamnya.