NovelToon NovelToon
Hello Tenggara

Hello Tenggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

PERSIAPAN GIAT UNTUK PAMERAN BUDAYA

Hari Jum'at pagi, suasana di halaman Fakultas Sejarah Universitas Hasanuddin sangat ramai dan penuh semangat. Tenggara bersama teman-temannya – Andi, Siti, dan Rio – sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara pameran budaya yang akan digelar pada hari Minggu besok. Tenda-tenda besar sudah dipasang dengan rapi, dan beberapa mahasiswa lain juga turut membantu dalam penataan booth-booth yang akan menampilkan berbagai kebudayaan Sulawesi Selatan.

"Sudah siap untuk hari terakhir persiapan?" ucap Tenggara sambil membawa beberapa gulungan kain songket yang akan digunakan sebagai dekorasi.

"Sudah siap nih Mas Tenggara," jawab Siti yang sedang membantu memasang spanduk bertuliskan "PAMERAN BUDAYA SULAWESI SELATAN – JAGA WARGA, LESTARI BUDAYA". "Cuma kita perlu cepat-cepat karena beberapa pengrajin sudah akan datang membawa barang-barang pameran jam 10 pagi."

Andi sedang memasang rak-rak kayu yang akan digunakan untuk menampilkan kerajinan tangan seperti ukiran kayu dan anyaman bambu. "Tenggara, rak untuk booth kerajinan sudah hampir selesai dipasang. Cuma kita perlu mengecek lagi kekuatannya agar tidak ada yang jatuh nanti."

"Baik, aku akan cek sebentar" jawab Tenggara sambil mendekat ke arah rak tersebut. Setelah memastikan semua bagian sudah kuat dan aman, dia kembali ke tempat utama untuk membicarakan penataan area lain.

Rio yang baru saja datang dari kantin kampus membawa beberapa bungkus makanan dan minuman. "Mari kita istirahat sebentar dan makan dulu ya. Kalau tubuh tidak sehat, kerjaannya juga tidak maksimal."

Saat mereka makan bersama di bawah tenda yang sudah terpasang, Tenggara mulai menjelaskan rencana akhir untuk acara besok. "Nenek saya akan datang jam 8 pagi besok untuk menyiapkan alat tenun songketnya. Dia akan menunjukkan proses membuat songket secara langsung dan bahkan akan mengajak pengunjung untuk mencoba sedikit."

"Wah, itu pasti akan menjadi daya tarik utama acara kita!" ucap Siti dengan antusias. "Saya sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana nenekmu bekerja dengan tangan yang terampil itu."

"Andi, kamu sudah menghubungi kelompok tari Gandrung Bulo dari Parepare belum?" tanya Tenggara kepada temannya.

"Sudah mi, mereka bilang akan datang tepat jam 10 pagi dan siap tampil pada sesi pertama pukul 11 pagi," jawab Andi dengan penuh keyakinan. "Mereka juga akan membawa kostum tradisional yang sangat cantik untuk ditampilkan."

Setelah makan, mereka kembali bekerja dengan giat. Tenggara dan Rio menangani penataan area pameran foto sejarah, di mana akan dipajang gambar-gambar kerajaan Gowa-Tallo, Benteng Rotterdam, dan berbagai situs bersejarah lainnya di Sulawesi Selatan. Mereka juga memasang caption singkat di bawah setiap foto agar pengunjung bisa memahami makna di baliknya.

Sementara itu, Siti dan beberapa mahasiswi lain sedang menyiapkan area makanan khas daerah. Mereka akan menampilkan dan menjual makanan seperti coto Makassar, pallubasa, burasa, dan es pisang ijo. "Kita sudah menghubungi penjual makanan tradisional yang terpercaya ya Mas," jelas Siti. "Mereka akan menyediakan makanan dengan harga terjangkau agar banyak orang yang bisa mencicipinya."

Jam menunjukkan pukul 15.00 ketika nenek Tenggara, Hj. Fatimah Daeng Nara, datang ke lokasi bersama beberapa pengrajin lain. Dia melihat persiapan yang sudah dilakukan dengan senyum bangga.

"Bagus sekali Na, kamu dan teman-teman sudah bekerja dengan sangat giat. Pameran ini pasti akan sukses besar."

"Terima kasih Nenek," ucap Tenggara dengan rasa bangga. "Kita berharap acara ini bisa membantu lebih banyak orang mengenal dan mencintai budaya kita sendiri."

Nenek Fatimah kemudian menunjukkan kepada mereka bagaimana cara menata alat tenun songketnya agar aman dan mudah dilihat oleh pengunjung.

"Yang penting posisinya tidak terlalu jauh dari jalur pengunjung, namun juga tidak terlalu dekat agar tidak mengganggu proses tenunnya."

Sampai menjelang senja, semua booth sudah hampir siap. Tenda-tenda berwarna-warni menghiasi halaman kampus, dekorasi dengan kain songket memberikan sentuhan khas budaya lokal, dan semua perlengkapan sudah terpasang dengan rapi. Tenggara mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Khatulistiwa:

"Halo Khatulistiwa, persiapan pameran sudah hampir selesai. Semoga besok kondisimu sudah membaik dan bisa datang ya. Kita sudah menyiapkan tempat khusus untukmu agar kamu bisa menikmati acara dengan nyaman."

Dalam waktu singkat, balasan datang: "Halo Tenggara, aku sudah merasa jauh lebih baik! Dokter bilang boleh keluar sebentar asal tidak terlalu lama. Aku sudah tidak sabar untuk datang besok. Semoga acara kamu sukses besar!"

Tenggara tersenyum membaca pesannya. Dia melihat teman-temannya yang sedang membersihkan area kerja dan merapikan beberapa hal terakhir. Meskipun tubuhnya merasa sangat lelah setelah bekerja seharian penuh, hatinya merasa sangat bahagia dan penuh harapan.

"Teman-teman, besok adalah hari yang penting bagi kita semua," ucapnya dengan suara yang penuh semangat. "Mari kita beristirahat dengan baik malam ini agar besok kita bisa memberikan yang terbaik untuk semua pengunjung. Semoga acara ini bisa menjadi jembatan untuk memperkenalkan keindahan budaya Sulawesi Selatan kepada lebih banyak orang!"

Semua orang mengangguk dengan semangat yang sama besarnya. Mereka tahu bahwa semua kerja keras yang telah mereka lakukan selama beberapa minggu terakhir akan segera membuahkan hasil, dan mereka siap untuk menyambut hari Minggu dengan penuh kegembiraan dan kebanggaan akan budaya mereka sendiri

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!