Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
manja ke rea
Setelah memastikan Sonya tidak akan berani menyentuh Rea lagi, Galen kembali ke mansion. Namun, wajahnya masih tampak tegang. Di dunianya, musuh tidak pernah benar-benar mati sebelum klan mereka habis.
"Leon," panggil Galen saat turun dari mobil. "Perketat penjagaan di sektor utara. Aku merasa ada yang sedang mengincar jalur distribusi kita melalui aset-aset kecil."
"Siap, Tuan."
Galen melangkah masuk ke dalam rumah. Ia melihat Rea sedang duduk di sofa ruang tengah, tampak gelisah sambil memainkan ujung bajunya. Begitu melihat Galen, Rea langsung berdiri.
"Mas... Mas Galen sudah pulang?" tanya Rea canggung. Ia masih merasa sedikit malu setelah kejadian semalam.
Galen tidak menjawab, ia justru berjalan mendekat dan menarik Rea ke dalam pelukannya. Ia menghirup aroma rambut Rea yang menenangkan, seolah itu adalah obat dari segala kekacauan di kepalanya.
"Mas Galen... kenapa?" bisik Rea, tangannya menggantung kaku di udara, tidak berani membalas pelukan pria yang kini menjadi suaminya itu.
"Diamlah sebentar, Rea. Biarkan saya seperti ini," gumam Galen rendah.
Setelah beberapa saat, Galen melepaskan pelukannya dan menatap mata Rea. "Ikut ke ruangan kerja saya. Ada yang harus kita selesaikan."
Rea mengikutinya dengan patuh, meskipun hatinya berdebar tidak karuan. Di dalam ruang kerja yang mewah itu, Galen duduk di kursi besarnya dan menarik Rea untuk berdiri di antara kedua kakinya.
"Rea, dengar," Galen mengambil tangan kecil Rea dan mengusap cincin berlian yang melingkar di sana. "Mungkin hidupmu sekarang terasa berbeda. Tapi saya ingin kau tahu satu hal. Apa pun yang kau inginkan, kau tidak perlu meminta. Cukup katakan, dan saya akan memberikannya padamu."
Rea menunduk, wajahnya memerah. "Tapi Mas... Rea tidak butuh apa-apa. Rea cuma mau Mas Galen sehat saja."
Galen terkekeh sinis, namun matanya menatap Rea dengan lembut. "Kau terlalu polos untuk dunia ini, Bunny."
Tiba-tiba, ponsel Galen yang lain—ponsel khusus urusan gelap—bergetar. Sebuah pesan masuk: "Target berada di pelabuhan lama. Menunggumu."
Galen bangkit. Tatapannya berubah menjadi sangat tajam, aura predatornya muncul. "Leon! Siapkan tim. Kita berangkat sekarang."
Rea yang melihat perubahan drastis suaminya itu menjadi takut. "Mas mau ke mana? Ini sudah malam."
Galen mendekat, ia memegang rahang Rea dengan lembut namun posesif. Ia mengecup bibir Rea singkat. "Mas ada urusan 'hama' yang harus diselesaikan sampai akarnya, Rea. Kau tetaplah di sini. Jangan keluar kamar sebelum saya kembali."
"Mas Galen... hati-hati ya," ucap Rea canggung, ia ingin menahan Galen tapi ia merasa tidak punya hak.
"Doakan saya, Istriku," bisik Galen sebelum melangkah keluar dengan jas hitam yang berkibar, meninggalkan Rea yang terpaku dalam kesunyian mansion yang dingin.
Di Pelabuhan Lama...
Suara tembakan memecah keheningan malam. Galen berdiri di balik kontainer baja, memegang senjatanya dengan sangat tenang. Di seberangnya, sekelompok mafia saingan yang bekerja sama dengan Sonya sedang mencoba mencuri kiriman senjata miliknya.
"Kalian salah memilih lawan," desis Galen.
Dengan satu isyarat tangan, anak buah Galen mengepung tempat itu. Baku tembak terjadi sangat sengit. Galen bergerak maju tanpa rasa takut, setiap pelurunya tidak pernah meleset. Di tengah kekacauan itu, Galen hanya memikirkan satu hal: ia harus pulang dengan selamat karena ada seorang gadis kecil yang menunggunya di rumah.
Dini Hari di Mansion...
Rea tertidur di sofa ruang tamu karena bersikeras menunggu Galen pulang. Ia terbangun saat merasakan sentuhan dingin di pipinya. Begitu membuka mata, ia melihat Galen sudah berdiri di depannya. Ada sedikit noda darah di kemeja putihnya yang sudah acak-acakan.
"Mas Galen!" Rea langsung duduk tegak. "Itu... itu darah?"
Galen segera menyembunyikan lengannya. "Hanya getah pohon, Rea. Tadi ada sedikit kecelakaan saat menebang dahan," bohong Galen dengan wajah tanpa dosa.
Rea yang lugu langsung percaya. "Ya ampun, pasti sakit! Sini Rea obati," ucapnya tanpa diminta.
Rea menarik Galen duduk di sofa dan mulai membersihkan luka gores di lengan Galen dengan telaten. Galen hanya diam memperhatikan wajah serius Rea yang cemas. Ia merasa beruntung, di dunia yang penuh pengkhianatan ini, ia menemukan satu hati yang sangat tulus mencintainya, meskipun gadis itu hanya mengenalnya sebagai "Paman Tukang Kebun".
"Terima kasih, Rea," bisik Galen sambil menarik Rea ke dalam pangkuannya setelah luka itu dibalut.
"I-iya Mas... sudah tugas Rea," jawab Rea canggung, mencoba menyembunyikan wajahnya di dada bidang Galen yang hangat.