"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kilas Balik Hidup Naina
Selama perjalanan menuju rumah baru, Naina hanya diam, pikirannya melayang sebelum ia akhirnya tiba di kota itu.
***
Naina tumbuh di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota. Rumahnya hanya sebuah gubuk reyot dengan dinding bambu yang mulai lapuk dan atap yang bocor di sana-sini. Ayahnya sudah lama meninggal dunia karena sakit, dan ibunya menyusul beberapa tahun kemudian. Naina yatim piatu.
Sejak kecil, Naina sudah terbiasa hidup susah. Ia membantu ibunya mencari kayu bakar di hutan dan menanam sayuran di kebun kecil mereka. Setiap hari, ia harus berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk sampai ke sekolah. Namun, semangatnya untuk belajar tidak pernah padam.
Setelah ibunya meninggal, Naina hidup sebatang kara. Ia bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kadang ia membantu tetangga mencuci pakaian, kadang juga menjadi buruh tani di sawah. Upahnya tidak seberapa, tapi cukup untuk membeli beras dan lauk seadanya. Tidak lupa Naina menabung untuk keperluan pendidikannya, hingga akhirnya ia bisa menyelesaikan sekolah menengah atas. Suatu pencapaian untuk Naina yang selama ini selalu berjuang sendirian.
Di tengah kesulitannya, Naina tidak pernah kehilangan harapan. Ia selalu berdoa kepada Tuhan agar diberikan jalan keluar dari setiap hal yang ia hadapi.
Seperti pepatah, asam manis kehidupan sudah biasa ia telan.
***
Hubungan antara Naina dan Sofia sebenarnya cukup jauh. Ibu Sofia adalah keponakan dari ibu Naina. Karena jarak kekerabatan yang cukup jauh dan kesibukan masing-masing, mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Sofia sendiri sudah lama tinggal di Kota dan jarang pulang ke desa.
Sofia hanya mendengar cerita tentang Naina dari ibunya yang seringkali mengkhawatirkan keadaan gadis yatim piatu itu. Ibunya selalu bercerita tentang bagaimana Naina harus berjuang sendirian untuk bertahan hidup setelah kedua orang tuanya meninggal. Sofia merasa iba dan ingin sekali membantu Naina, namun ia selalu terhalang oleh kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dan istri seorang karyawan swasta.
Setelah ibu Sofia meninggal dunia, ia merasa terpanggil untuk meneruskan amanah ibunya untuk membantu Naina. Ia merasa bersalah karena selama ini tidak pernah menjenguk atau memberikan bantuan kepada Naina. Ia berpikir bahwa inilah saatnya untuk berbuat sesuatu untuk gadis itu.
Suatu hari, Sofia menyempatkan diri untuk pulang ke desa asal orang tuanya. Di sana untuk pertama kali ia bertemu dengan Naina. Banyak hal yang mereka obrolkan.
Mendengar kisah hidup Naina, Sofia merasa sangat terharu. Ia membayangkan bagaimana sulitnya hidup yang dijalani oleh Naina. Ia mendengarkan cerita Naina hingga meneteskan air mata. Ia merasa kagum dengan ketegaran dan semangat Naina untuk terus berjuang meskipun dalam keadaan yang serba kekurangan. Ia juga meminta maaf karena baru sempat berkunjung sekarang ini.
Sofia memeluk Naina, dan ia menawarkan untuk membantunya. Ia tidak ingin Naina terus hidup dalam penderitaan dan kesulitan. Ia ingin Naina hidup lebih baik, meraih impiannya dan mengubah nasibnya. Ia merasa bertanggung jawab untuk membantu Naina karena ia adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh gadis itu sekarang.
"Kebetulan teman almarhumah Ibu ku membuka cabang baru toko bunganya, kamu bisa bekerja di sana, Nai." Ucap Sofia.
"Aku yakin kamu akan betah. Karena beliau orang yang sangat baik."
"Aku akan segera menyusul Mbak ke kota setelah aku menyelesaikan semua urusan ku disini ya, Mbak." Ucap Naina yang sebenarnya ia hanya mengulur waktu untuk keraguannya.
"Baik. Mbak tunggu, ya. Kabari saja kalau ada yang kamu perlukan. Mbak siap membantu." Balas Sofia.
"Terimakasih banyak ya, Mbak."
"Adakalanya kita harus mencoba hal baru Nai, sembari kita mencari pengalaman." Ucap Sofia yang seolah mengerti kegundahan hati Naina.
Naina hanya diam. Wajahnya terlihat sayu.
"Mbak gak bisa maksa kamu, Nai. Tapi, Mbak ingin yang terbaik buat kamu." Ucap Sofia lagi,
"Iya, Mbak. Aku sangat berterimakasih sama Mbak yang sudah jauh-jauh datang kesini untuk aku. Tapi, aku harus benar-benar memikirkan hal ini."
Beberapa jam berlalu, Sofia berpamitan pulang. karena ia tidak bisa berlama-lama disana. Ada anak dan suaminya yang menunggu di rumah.
Lambaian tangan memisahkan mereka. Naina hanya diam menatap mobil Sofia yang perlahan menjauh.
"Sampai jumpa ya, Nai. Mbak menunggu kabar baik dari kamu."
*
"Di satu sisi, aku ingin segera pergi dan mengubah nasib. Di sisi lain, aku merasa berat meninggalkan desa yang telah menjadi rumahku selama ini. Ini semua membuatku dilema."
"Kota itu seperti mimpi yang terlalu indah untuk digapai, tapi juga satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan yang mencengkeram. Mampukah aku bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota?"
"Rasanya tidak mudah untuk gadis desa sepertiku ini."
***
Dua minggu berlalu, setelah berperang dengan berbagai hal yang membuat keraguan, Naina memutuskan untuk berangkat ke kota menemui Sofia. Berbekal ongkos, alamat lengkap dan handphone yang sudah Sofia berikan.
Walau berat hati, namun ia mempunyai tekad dan mimpi. Hanya sebuah harapan yang saat ini bersemayam di hati, berharap semua akan berubah menjadi lebih baik.
"Niat baik, semoga berakhir baik."